[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fSqc4RRDzD3b56a7YFSR5UzrHYp_s2DiSLnIFC51kdCw":3},{"post":4,"html":9},{"title":5,"author":6,"excerpt":7,"publishedAt":8},"Kecerdasan Murah Sudah Tiba, Sistemnya yang Belum",null,"Dua tahun setelah menulis buku yang mengumumkan revolusi AI dalam kedokteran, Peter Lee menagih janji itu bersama Bill Gates dan Sébastien Bubeck: scribe klinis sudah jalan, GPT-4 mengalahkan dokter dalam uji diagnosis JAMA (92 vs 74) — tapi dokter+AI cuma 76. Kecerdasan medis hampir gratis; yang belum ada adalah sistem yang tahu memakainya — dari 1.000 klinik Afrika sampai 10.000 puskesmas Indonesia.","2026-07-16T04:05:02.095Z","\u003Cp>Pada sebuah jamuan makan malam di rumah Bill Gates, sekelompok orang dari OpenAI membawa sesuatu yang belum pernah dilihat dunia. Beberapa bulan sebelumnya Gates memberi mereka tantangan yang ia kira butuh bertahun-tahun: kalau model bahasa kalian bisa lulus ujian biologi \u003Cem>Advanced Placement\u003C\u002Fem> dengan nilai sempurna, barulah aku percaya ia benar-benar \u003Cem>memahami\u003C\u002Fem> — bukan sekadar menghafal. Malam itu, versi awal GPT-4 menjawab hampir semua pertanyaan dengan benar. Satu-satunya yang keliru total justru soal matematika — kelemahan aneh model-model awal. Kesimpulan Gates malam itu sederhana dan menakutkan: \u003Cem>&quot;era kecerdasan murah telah dimulai.&quot;\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Dua tahun kemudian, Gates duduk bersama Sébastien Bubeck — peneliti OpenAI, dulu Microsoft Research — dalam podcast \u003Cem>The AI Revolution in Medicine, Revisited\u003C\u002Fem> yang dipandu Peter Lee, Presiden Microsoft Science. Pertanyaannya kini bukan lagi &quot;apakah AI akan masuk ke dunia kedokteran,&quot; melainkan: dua tahun setelah revolusi itu diumumkan, apa yang benar-benar terjadi di ruang praktik?\u003C\u002Fp>\n\u003Cdiv style=\"position:relative;padding-bottom:56.25%;height:0;overflow:hidden;margin:2rem 0;border-radius:8px;\">\n\u003Ciframe style=\"position:absolute;top:0;left:0;width:100%;height:100%;border:0;\" src=\"https:\u002F\u002Fwww.youtube.com\u002Fembed\u002FN0w9uO7kH80\" title=\"How AI is reshaping the future of healthcare and medical research\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" allowfullscreen>\u003C\u002Fiframe>\n\u003C\u002Fdiv>\n\n\u003Ch2>Dari mustahil menjadi biasa dalam dua tahun\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Kisah Bubeck adalah cermin yang lebih tajam lagi. Sebagai matematikawan, ia menghabiskan satu tahun penuh mencoba \u003Cstrong>membuktikan\u003C\u002Fstrong> bahwa \u003Cem>autoregressive transformer\u003C\u002Fem> mustahil bernalar. Ketika ia mempresentasikan temuannya kepada Lee dan Gates, Gates menyela: tim OpenAI baru saja menunjukkan model baru di rumahku — kenapa tidak kita tanyakan saja? Model itu menjawab benar seketika. &quot;Momen itu mengubah hidup saya,&quot; kata Bubeck, yang kemudian menulis makalah \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Farxiv.org\u002Fabs\u002F2303.12712\">\u003Cem>Sparks of Artificial General Intelligence\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa> — laporan eksperimen awal Microsoft Research terhadap GPT-4 yang memicu perdebatan panjang.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Perhatikan polanya: dua orang yang paling dekat dengan teknologi ini sama-sama mulai dari skeptisisme, dan sama-sama dikalahkan oleh bukti. Itu nada dasar seluruh percakapan ini — bukan \u003Cem>hype\u003C\u002Fem>, melainkan orang-orang yang sudah dua kali salah menebak \u003Cem>ke bawah\u003C\u002Fem> dan belajar untuk tidak mengulanginya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kini keduanya melihat gejala yang sama di lapangan. \u003Cem>Clinical scribe\u003C\u002Fem> — AI yang mendengarkan konsultasi dokter-pasien lalu menuliskan catatannya — dua tahun lalu terdengar berbahaya karena risiko halusinasi. Hari ini ia berjalan di produksi, di banyak tempat sekaligus. Survei American Medical Association mencatat \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.ama-assn.org\u002Fpractice-management\u002Fdigital-health\u002F2-3-physicians-are-using-health-ai-78-2023\">66% dokter di AS memakai AI pada 2024, melonjak dari 38% setahun sebelumnya\u003C\u002Fa> — dan \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fascopost.com\u002Fnews\u002Fmarch-2026\u002Fama-survey-finds-rapid-growth-in-physician-ai-adoption\u002F\">laporan lanjutannya pada awal 2026 sudah menyebut empat dari lima dokter\u003C\u002Fa>. Prediksi paling dasar buku Lee, Goldberg, dan Kohane — bahwa AI akan benar-benar masuk ke praktik kedokteran — sudah terbukti.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Namun Gates justru heran adopsinya \u003Cem>selambat ini\u003C\u002Fem>: \u003Cem>&quot;Seharusnya tidak ada lagi pertemuan pasien-dokter tanpa AI yang ikut duduk di dalamnya&quot;\u003C\u002Fem> — mentranskrip, membereskan dokumen, menawarkan saran, sementara keputusan akhir tetap di tangan dokter. Paradigma \u003Cem>copilot\u003C\u002Fem> dengan manusia dalam kendali itu, katanya, \u003Cem>&quot;sudah siap untuk prime time.&quot;\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Paradoks 90-76: kecerdasan saja tidak cukup\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Bagian paling menohok dari percakapan ini adalah sebuah angka yang dikutip Bubeck. Dalam uji klinis acak yang dipimpin Ethan Goh dan dipublikasikan di \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fjamanetwork.com\u002Fjournals\u002Fjamanetworkopen\u002Ffullarticle\u002F2825395\">JAMA Network Open (2024)\u003C\u002Fa>, dokter yang mendiagnosis kasus-kasus sulit dengan sumber daya konvensional mencapai skor penalaran diagnostik sekitar 74%. GPT-4 \u003Cem>sendirian\u003C\u002Fem> mencapai 92%. Dan dokter yang \u003Cem>diberi akses\u003C\u002Fem> ke GPT-4? Hanya 76% — nyaris tak beranjak.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Mesin lebih akurat dari manusia, tetapi manusia plus mesin nyaris tidak lebih baik dari manusia sendirian. \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fhai.stanford.edu\u002Fnews\u002Fcan-ai-improve-medical-diagnostic-accuracy\">Analisis Stanford HAI\u003C\u002Fa> menunjukkan penyebabnya: dokter cenderung berpegang pada diagnosis awal mereka meski AI menyarankan alternatif yang lebih tepat, dan sebagian besar tidak tahu cara memanfaatkan kemampuan penuh model — mereka memperlakukannya seperti mesin pencari, bukan mitra berpikir.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kesimpulan Bubeck: \u003Cem>&quot;Intelligence alone is not enough.&quot;\u003C\u002Fem> Yang menentukan adalah desain interaksinya — AI semestinya berjalan terus-menerus di latar belakang, mengirim notifikasi dengan takaran yang pas. Terlalu sering, dokter belajar mengabaikannya; terlalu jarang, nilainya hilang. Ergonomi kognitif, bukan kecerdasan mentah, adalah medan pertempuran sesungguhnya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Ada sisi gelap dari persoalan interaksi ini yang dibahas dengan sangat jujur. Lee punya tes pribadi untuk setiap model baru: ia menyodorkan pasien fiktif dengan \u003Cem>differential diagnosis\u003C\u002Fem> yang sengaja memuat dua kesalahan, lalu melihat apakah model berani menyatakan ia keliru. Model-model terbaik kini bisa menemukan kesalahannya — tetapi \u003Cem>keberanian mengoreksi\u003C\u002Fem> justru yang paling rapuh. Versi GPT-4o yang dirilis sesaat sebelum rekaman malah memuji &quot;kreativitas&quot; diagnosis Lee yang salah. OpenAI \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fopenai.com\u002Findex\u002Fsycophancy-in-gpt-4o\u002F\">menarik kembali versi itu\u003C\u002Fa> dan mengakui akar masalahnya: optimasi berlebihan pada \u003Cem>reward model\u003C\u002Fem> dalam RLHF menghasilkan model penjilat (\u003Cem>sycophant\u003C\u002Fem>). Kata Bubeck, &quot;kami menjadi terlalu mahir pada apa yang kami kerjakan — dan terjebak oleh \u003Cem>reward model\u003C\u002Fem> itu sendiri.&quot; Untuk kedokteran, di mana nilai terbesar AI justru sebagai lapis pengaman yang berani menyanggah, ini bukan soal kosmetik.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Delivery vs discovery: dua kecepatan revolusi\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Kerangka paling berguna dari episode ini datang dari Gates: pisahkan \u003Cem>healthcare delivery\u003C\u002Fem> (layanan) dari \u003Cem>healthcare discovery\u003C\u002Fem> (penemuan). Keduanya akan berubah dengan kecepatan — dan logika — yang berbeda.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Di ranah \u003Cem>discovery\u003C\u002Fem>, output bisa diverifikasi: protokol dijalankan di \u003Cem>wet lab\u003C\u002Fem>, senyawa diuji, hasilnya benar atau salah. Karena itulah, kata Gates, AI akan menggantikan peran &quot;kimiawan organik&quot; atau &quot;penjalan asai&quot; jauh sebelum menggantikan dokter — sama seperti pemrograman, yang punya kebenaran matematis yang bisa diperiksa mesin. Bubeck menambahkan bukti bahwa ini bukan ramalan: baru-baru ini model penalaran o3-mini ikut menghasilkan temuan ilmiah sungguhan pada \u003Cem>frustrated Potts model\u003C\u002Fem> dalam fisika statistik — mereduksi kasus tiga warna yang lama terbuka ke kasus dua warna. &quot;Ini terjadi \u003Cem>sekarang\u003C\u002Fem>,&quot; katanya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Lee melangkah lebih jauh dengan prediksi yang layak direnungkan: dalam lima tahun, AI akan menghasilkan bukti matematis yang tervalidasi mesin (lewat bahasa seperti Lean) namun terlalu rumit untuk dipahami matematikawan mana pun — dan biologi seluler bisa menyusul: \u003Cem>&quot;di wet lab kita melihat &#39;oh, ini berhasil&#39; — tapi tak seorang pun mengerti mengapa.&quot;\u003C\u002Fem> Pengetahuan yang bekerja tanpa bisa dipahami: itu wilayah epistemologis yang benar-benar baru.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Di ranah \u003Cem>delivery\u003C\u002Fem>, penghambatnya justru bukan kecerdasan. Bubeck menyebutnya \u003Cem>capability overhang\u003C\u002Fem>:\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote class=\"quote\">\u003Cp>BUBECK: Yeah, I think the deployment is going to accelerate soon. Like, we’re really not missing very much. There is this enormous capability overhang. Like, even if progress completely stopped, with current systems, we can do a lot more than what we’re doing right now. So I think this will… this has to be realized, you know, sooner rather than later. And I think it’s probably dependent on these benchmarks and proper evaluation and tying this with regulation. So these are things that take time in human society and for good reason. But now we already are at two years; you know, give it another two years and it should be really…\u003C\u002Fp>\u003Ccite>\u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.youtube.com\u002Fwatch?v=N0w9uO7kH80&amp;t=1993s\">How AI is reshaping the future of healthcare and medical research (33:13)\u003C\u002Fa>\u003C\u002Fcite>\u003C\u002Fblockquote>\n\n\n\n\u003Cp>Mengapa tertahan? Karena kita belum bisa menjamin bagaimana model \u003Cem>menggeneralisasi\u003C\u002Fem> ke situasi yang benar-benar baru. Dua dokter lulusan pendidikan serupa bisa saling menduga batas kemampuan sejawatnya; pada AI, &quot;kontrak generalisasi&quot; semacam itu belum ada. Dan karena itu pula evaluasi menjadi genting: USMLE bagus untuk menguji manusia, tapi bukan pertanyaan yang tepat untuk mesin. Sejak rekaman, dua jawaban mulai muncul: \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fopenai.com\u002Findex\u002Fhealthbench\u002F\">HealthBench\u003C\u002Fa> dari OpenAI — 5.000 percakapan klinis multi-giliran yang dinilai dengan 48.562 rubrik buatan 262 dokter dari 60 negara — dan ADeLe dari Microsoft Research, yang menguji AI pada tugas nyata sehari-hari, bukan pilihan ganda.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>&quot;Kecerdasan gratis&quot; dan mereka yang tak pernah bertemu dokter\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Bagi Gates, taruhan terbesarnya bukan di rumah sakit Boston atau Seattle, melainkan di tempat yang tak punya apa-apa untuk dibandingkan:\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote class=\"quote\">\u003Cp>GATES: We’re not there yet. But over the next two or three years, you know, particularly given the worsening financial constraints against African health systems, where the withdrawal of money has been dramatic, you know, figuring out how to take this—what I sometimes call “free intelligence”—and build a quality health system around that, we will have to be more radical in low-income countries than any rich country is ever going to be.\u003C\u002Fp>\u003Ccite>\u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.youtube.com\u002Fwatch?v=N0w9uO7kH80&amp;t=1105s\">How AI is reshaping the future of healthcare and medical research (18:25)\u003C\u002Fa>\u003C\u002Fcite>\u003C\u002Fblockquote>\n\n\n\n\u003Cp>Logikanya tak nyaman tapi sulit dibantah: di banyak wilayah Afrika, kebanyakan orang tak pernah bertemu dokter seumur hidupnya. Perdebatan &quot;AI vs dokter&quot; adalah kemewahan negara kaya; di sana perbandingannya adalah &quot;AI vs tidak ada siapa-siapa.&quot; Justru karena tekanan fiskal terhadap sistem kesehatan Afrika memburuk, kata Gates, negara miskin akan — dan harus — lebih radikal mengadopsi \u003Cem>free intelligence\u003C\u002Fem> ini daripada negara kaya mana pun.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Ini bukan lagi wacana. Tujuh bulan setelah episode ini tayang, Gates Foundation dan OpenAI mengumumkan \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fopenai.com\u002Findex\u002Fhorizon-1000\u002F\">Horizon 1000\u003C\u002Fa> di Davos: komitmen \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.gatesnotes.com\u002Fexpanding-access-to-health-care-through-ai\">$50 juta untuk membawa AI ke 1.000 klinik layanan primer di Afrika hingga 2028\u003C\u002Fa>, dimulai dari Rwanda — triase, dukungan keputusan klinis, administrasi — di kawasan yang \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.mobihealthnews.com\u002Fnews\u002Fgates-foundation-openai-launch-ai-healthcare-initiative-africa\">kekurangan sekitar 5,6 juta tenaga kesehatan\u003C\u002Fa>.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Membaca percakapan ini dari Indonesia\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Bagi pembaca Indonesia, bagian Afrika itu terasa dekat. Rasio dokter kita \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.liputan6.com\u002Fhealth\u002Fread\u002F5195130\u002Frasio-dokter-ri-hanya-047-per-1000-penduduk-lebih-rendah-dari-timor-leste-dan-filipina\">0,47 per 1.000 penduduk menurut data WHO 2019 — di bawah Timor Leste dan Filipina\u003C\u002Fa>; hitungan 2024 memperbaikinya ke \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.cnbcindonesia.com\u002Fresearch\u002F20240503134537-128-535541\u002Fkrisis-dokter-semengerikan-apa-sektor-kesehatan-ri\">sekitar 0,72 per 1.000\u003C\u002Fa>, tetap di bawah rasio minimal 1:1.000 yang dipakai Kemenkes. Yang lebih parah adalah distribusinya: \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Ftheconversation.com\u002Fcek-fakta-benarkah-indonesia-kekurangan-dokter-dan-distribusinya-tak-rata-221580\">Jakarta punya 1,97 dokter per 1.000 penduduk; Jawa Barat — dengan penduduk hampir lima kali lipat — hanya 0,50\u003C\u002Fa>. Untuk jutaan orang di luar Jawa, &quot;AI vs tidak ada siapa-siapa&quot; bukan retorika Afrika; itu deskripsi puskesmas terdekat.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Dan gerakannya sudah dimulai. Kemenkes \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fsehatnegeriku.kemkes.go.id\u002Fbaca\u002Frilis-media\u002F20250226\u002F0147404\u002Fkemenkes-dan-qure-ai-jalin-kerja-sama-pemanfaatan-kecerdasan-buatan-dalam-deteksi-tb\u002F\">menandatangani kerja sama dengan Qure.ai untuk deteksi dini TBC lewat AI pada citra rontgen dada\u003C\u002Fa>, dengan pilot di RS Fatmawati dan RSPON, serta menggenjot \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.tribunnews.com\u002Fkesehatan\u002F7854591\u002F80-persen-pasien-di-indonesia-telat-tahu-kena-kanker-menkes-genjot-skrining-ai-di-10000-puskesmas\">skrining kanker berbasis AI — X-ray digital dan USG — di 10.000 puskesmas\u003C\u002Fa>.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Tetapi di sinilah paradoks 90-76 dari JAMA harus dibaca ulang sebagai peringatan: membeli kecerdasan itu bagian mudahnya. Studi Goh menunjukkan bahwa menaruh AI terbaik dunia di sebelah tenaga medis yang tidak dilatih berinteraksi dengannya nyaris tidak mengubah apa pun. Kalau Indonesia hanya mengimpor mesinnya tanpa mendesain alur kerja, pelatihan, dan takaran notifikasinya — kita akan mendapatkan angka 76, bukan 92. Sebaliknya, justru karena sistem kita belum sepadat negara kaya, ruang untuk &quot;lebih radikal&quot; ala Gates — merancang layanan primer \u003Cem>di sekitar\u003C\u002Fem> kecerdasan murah, bukan menempelkannya belakangan — terbuka lebih lebar di sini.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Dokter tidak hilang; kelangkaannya yang hilang\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Apakah lima tahun lagi AI menggantikan dokter? Jawaban keduanya: tidak — tapi bukan karena mesinnya kurang pintar. Gates menaruh empati, dialog panjang, dan pemahaman kondisi manusia (terutama kesehatan jiwa) sebagai benteng terakhir profesi; Bubeck menaruh persoalan generalisasi yang belum terpecahkan. Prediksi konkret mereka lebih menarik daripada perdebatan filosofisnya: Bubeck yakin dua tahun lagi AI akan (boleh) menulis resep; Gates membayangkan jutaan kunjungan pasien dalam mode \u003Cem>copilot\u003C\u002Fem> — termasuk AI yang menemanimu saat panik tengah malam soal kesehatan jiwamu, dengan kemampuan eskalasi ke dokter sungguhan. Ia bahkan setengah bercanda menawarkan platform politik: politisi yang membereskan sistem kesehatan yang kelebihan beban dengan AI \u003Cem>&quot;bisa terpilih kembali hanya dari satu hal ini.&quot;\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Penutup Lee mengikat semuanya pada satu paradigma: \u003Cem>patients like me\u003C\u002Fem> — saat dokter bisa bertanya, &quot;berdasarkan semua pasien lain dengan data serupa, bagaimana mereka didiagnosis, diobati, dan apa hasilnya?&quot; — dan mendapat jawaban dari kecerdasan yang membaca seluruh pengalaman medis umat manusia. Dari tantangan ujian biologi di meja makan sampai 1.000 klinik di Rwanda, benang merahnya satu: kecerdasan medis sedang berubah dari barang paling langka di dunia menjadi barang yang hampir gratis. Yang belum berubah — dan tidak akan berubah dengan sendirinya — adalah sistem, pelatihan, dan keberanian institusi untuk memakainya. \u003Cem>Capability overhang\u003C\u002Fem> itu kini utang kita, bukan utang mesinnya.\u003C\u002Fp>\n\u003Chr>\n\u003Ch2>Sumber\u003C\u002Fh2>\n\u003Cul>\n\u003Cli>Microsoft Research, \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.microsoft.com\u002Fen-us\u002Fresearch\u002Fpodcast\u002Fhow-ai-is-reshaping-the-future-of-healthcare-and-medical-research\u002F\">\u003Cem>How AI is reshaping the future of healthcare and medical research\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa> — episode podcast \u003Cem>The AI Revolution in Medicine, Revisited\u003C\u002Fem> (Peter Lee bersama Bill Gates &amp; Sébastien Bubeck, 12 Juni 2025); \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.youtube.com\u002Fwatch?v=N0w9uO7kH80\">video di YouTube\u003C\u002Fa>. Kutipan langsung diterjemahkan dari transkrip resmi episode.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Goh, E., dkk., \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fjamanetwork.com\u002Fjournals\u002Fjamanetworkopen\u002Ffullarticle\u002F2825395\">\u003Cem>Large Language Model Influence on Diagnostic Reasoning: A Randomized Clinical Trial\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa>, JAMA Network Open, 2024; ulasan \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fhai.stanford.edu\u002Fnews\u002Fcan-ai-improve-medical-diagnostic-accuracy\">Stanford HAI\u003C\u002Fa>.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>American Medical Association, \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.ama-assn.org\u002Fpractice-management\u002Fdigital-health\u002F2-3-physicians-are-using-health-ai-78-2023\">\u003Cem>2 in 3 physicians are using health AI — up 78% from 2023\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa> (Februari 2025); \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fascopost.com\u002Fnews\u002Fmarch-2026\u002Fama-survey-finds-rapid-growth-in-physician-ai-adoption\u002F\">ASCO Post — laporan AMA 2026\u003C\u002Fa>.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>OpenAI, \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fopenai.com\u002Findex\u002Fhealthbench\u002F\">\u003Cem>Introducing HealthBench\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa> (Mei 2025); OpenAI, \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fopenai.com\u002Findex\u002Fsycophancy-in-gpt-4o\u002F\">\u003Cem>Sycophancy in GPT-4o\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa> (April 2025).\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Bubeck, S., dkk., \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Farxiv.org\u002Fabs\u002F2303.12712\">\u003Cem>Sparks of Artificial General Intelligence: Early experiments with GPT-4\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa>, arXiv, 2023.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>OpenAI, \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fopenai.com\u002Findex\u002Fhorizon-1000\u002F\">\u003Cem>Horizon 1000: Advancing AI for primary healthcare\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa> (Januari 2026); Bill Gates, \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.gatesnotes.com\u002Fexpanding-access-to-health-care-through-ai\">\u003Cem>A big announcement on AI in Africa\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa>; \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.mobihealthnews.com\u002Fnews\u002Fgates-foundation-openai-launch-ai-healthcare-initiative-africa\">MobiHealthNews\u003C\u002Fa>.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Liputan6, \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.liputan6.com\u002Fhealth\u002Fread\u002F5195130\u002Frasio-dokter-ri-hanya-047-per-1000-penduduk-lebih-rendah-dari-timor-leste-dan-filipina\">\u003Cem>Rasio Dokter RI Hanya 0,47 per 1.000 Penduduk\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa> (2023); CNBC Indonesia, \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.cnbcindonesia.com\u002Fresearch\u002F20240503134537-128-535541\u002Fkrisis-dokter-semengerikan-apa-sektor-kesehatan-ri\">\u003Cem>Krisis Dokter! Semengerikan Apa Sektor Kesehatan RI?\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa> (2024); The Conversation, \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Ftheconversation.com\u002Fcek-fakta-benarkah-indonesia-kekurangan-dokter-dan-distribusinya-tak-rata-221580\">\u003Cem>Cek fakta: benarkah Indonesia kekurangan dokter dan distribusinya tak rata?\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa> (2024).\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sehat Negeriku (Kemenkes RI), \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fsehatnegeriku.kemkes.go.id\u002Fbaca\u002Frilis-media\u002F20250226\u002F0147404\u002Fkemenkes-dan-qure-ai-jalin-kerja-sama-pemanfaatan-kecerdasan-buatan-dalam-deteksi-tb\u002F\">\u003Cem>Kemenkes dan Qure.ai Jalin Kerja Sama Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Deteksi TB\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa> (Februari 2025); Tribunnews, \u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.tribunnews.com\u002Fkesehatan\u002F7854591\u002F80-persen-pasien-di-indonesia-telat-tahu-kena-kanker-menkes-genjot-skrining-ai-di-10000-puskesmas\">\u003Cem>Menkes Genjot Skrining AI di 10.000 Puskesmas\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fa>.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n"]