[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fqVDOPn4qsHawmSp_d2dram9rFNMTDtoHOnV6ouTK5bM":3},{"post":4,"html":9},{"title":5,"author":6,"excerpt":7,"publishedAt":8},"Kita Pikir Kita Sudah Berpikir","Redaksi Indokorpus","Bersama Abigail Limuria, penulis “Makanya Mikir”, The Reading Chamber membahas kebiasaan yang jarang kita lakukan: berpikir tentang cara kita berpikir — dari memisahkan realitas dan preferensi, keterbukaan yang berani diuji, sampai mitos “teori doang”.","2026-07-11T00:23:24.223Z","\u003Cp>Ada satu pengamatan yang muncul di tengah percakapan ini dan justru paling menempel: kita nyaris tidak pernah \u003Cem>berpikir tentang cara kita berpikir\u003C\u002Fem>. Kita berpikir soal pekerjaan, pilihan politik, harga beras — tetapi hampir tidak pernah soal mesinnya sendiri: bagaimana kita menimbang bukti, memisahkan selera dari fakta, dan memutuskan kapan kita layak yakin. &quot;Berpikir soal berpikir,&quot; kata kedua pembicara di episode ini, masih jarang sekali jadi bahan percakapan publik di Indonesia — dan kebanyakan orang mengartikan &quot;pintar&quot; sebagai hafal banyak pengetahuan, bukan punya perkakas untuk mengolahnya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Dalam episode ke-31 kanal The Reading Chamber, tamunya adalah Abigail Limuria — salah satu pendiri media What Is Up, Indonesia? dan penerbit Malaka Books — yang datang membawa bukunya, \u003Cem>Makanya Mikir\u003C\u002Fem>, ditulis berdua dengan Cania Citta. Buku itu sudah terjual sekitar 45.000 eksemplar, angka yang menurut standar toko buku besar sudah masuk kategori \u003Cem>mega bestseller\u003C\u002Fem>; capaian yang tidak biasa untuk sebuah buku tentang, dari semua topik yang mungkin laku, cara berpikir.\u003C\u002Fp>\n\u003Cdiv style=\"position:relative;padding-bottom:56.25%;height:0;overflow:hidden;margin:2rem 0;border-radius:8px;\">\n\u003Ciframe style=\"position:absolute;top:0;left:0;width:100%;height:100%;border:0;\" src=\"https:\u002F\u002Fwww.youtube.com\u002Fembed\u002FVJWAQbMrMK8\" title=\"Ep. 31 - You Think You Think | with Abigail Limuria\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" allowfullscreen>\u003C\u002Fiframe>\n\u003C\u002Fdiv>\n\n\u003Ch2>Lahir dari salah paham\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Asal-usul buku ini bukan dari menara gading, melainkan dari kolom komentar. Bertahun-tahun membuat konten sosial-politik, Abigail menyadari pola yang mengganggu: banyak penontonnya salah memahami apa yang ia sampaikan — bukan karena tidak peduli, melainkan karena perkakas dasarnya belum terpasang. Salah satu contohnya sederhana: ketika ia membahas wacana aturan tentang seks di luar nikah, sebagian besar orang berdebat dengan asumsi larangan eksplisitnya sudah ada — padahal belum. Debat panjang, premisnya keliru.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kesimpulannya pahit tapi jernih: percuma memproduksi konten sosial-politik kalau fondasi berpikir audiensnya belum dibereskan lebih dulu. Maka alih-alih menulis buku tentang isu, ia dan Cania menulis buku tentang \u003Cem>mesin\u003C\u002Fem> — kumpulan model berpikir paling dasar, dengan satu kegelisahan tambahan: buku-buku \u003Cem>mental models\u003C\u002Fem> hampir selalu berbahasa Inggris dengan contoh yang jauh dari keseharian orang Indonesia. \u003Cem>Makanya Mikir\u003C\u002Fem> menempuh jalan sebaliknya: perkakasnya universal, contohnya diambil dari pengalaman yang benar-benar akrab di sini — dari urusan meminjamkan uang ke teman sampai perdebatan anime.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Di balik itu ada paradoks yang diakui kedua pembicara: informasi tidak pernah semelimpah sekarang, tetapi melimpahnya informasi tidak otomatis membuat orang lebih jernih. Tanpa filter untuk menyaring dan menyintesisnya, pengetahuan baru justru menumpuk sebagai kesalahpahaman. Kita semua kenal orangnya — rajin membaca, fasih mengutip, keliru memahami hampir semuanya. Dua orang bisa membaca buku yang sama dan pulang dengan pemahaman yang bertolak belakang; yang membedakan bukan jumlah bacaan, melainkan alat yang dipakai mencernanya.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Perkakas dasarnya: tujuan, realitas, probabilitas\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Isi bukunya disusun dari model-model yang sengaja dipilih paling fundamental. Yang pertama adalah \u003Cem>objective-oriented principle\u003C\u002Fem>: sebuah keputusan tidak bisa dinilai baik atau buruk tanpa tahu tujuannya. Pertanyaan klasik seperti &quot;habis lulus sebaiknya langsung kerja atau lanjut S2?&quot; tidak punya jawaban benar-salah — ia baru bisa dijawab setelah tujuannya didefinisikan. Terdengar sepele, tetapi sebagian besar perdebatan sehari-hari macet justru karena para pihak tidak pernah menyepakati sedang mengejar apa.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Yang kedua — dan yang paling sering dikutip pembaca — adalah pemisahan \u003Cstrong>realitas dari preferensi\u003C\u002Fstrong>. Realitas bersifat faktual dan bisa diverifikasi: di luar sedang hujan atau tidak. Preferensi bersifat subjektif dan tidak bisa diadili secara ilmiah: mana yang lebih bagus, \u003Cem>My Hero Academia\u003C\u002Fem> atau \u003Cem>Jujutsu Kaisen\u003C\u002Fem>. Kekacauan dimulai ketika keduanya dicampur — ketika klaim faktual diperlakukan seperti selera (&quot;agree to disagree aja&quot;) atau selera diperjuangkan seperti fakta. Ada juga kehati-hatian berbahasa yang menarik di sini: Abigail sengaja memilih kata &quot;preferensi&quot; ketimbang &quot;relatif&quot;, karena &quot;relativisme&quot; — apalagi &quot;relativisme moral&quot; — punya konotasi yang langsung memicu penolakan di Indonesia. Puluhan ribu eksemplar kemudian, pilihan kata itu terbukti tepat: substansinya sampai, tanpa perang istilah.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Perkakas ketiga adalah probabilitas dan analisis untung-rugi yang jujur. Buku ini membedakan risiko \u003Cstrong>fatal\u003C\u002Fstrong> — yang tidak bisa dipulihkan — dari risiko \u003Cstrong>non-fatal\u003C\u002Fstrong> yang masih bisa ditebus; keduanya tidak boleh diberi bobot yang sama dalam keputusan. Dan ongkos tidak selalu terlihat: meminjamkan uang ke teman yang berubah galak saat ditagih adalah pelajaran kecil tentang disinsentif yang tidak tercatat di kalkulasi awal. Semua contohnya sengaja dijaga tetap membumi, karena sasaran bukunya bukan pembaca buku teks, melainkan orang yang belum pernah diajak memikirkan hal semacam ini.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Keterbukaan yang berani diuji\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Bagian paling tajam dari percakapan ini menyoal \u003Cem>open-mindedness\u003C\u002Fem>. Keterbukaan sering dibayangkan sebagai kesediaan menampung semua pandangan — dan sebagian orang justru takut terlalu terbuka membuat kehilangan pendirian. Abigail membaliknya: keterbukaan sejati justru menuntut kerangka berpikir yang solid, karena tanpa filter, &quot;terbuka&quot; hanya berarti menyerap apa saja mentah-mentah. Lalu bagaimana membedakan yang asli dari yang pura-pura?\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote class=\"quote\">\u003Cp>Truth. Tapi buat gua, no, it's not like that. Oke, pertanyaannya gini. [musik] How do you differentiate between true open-mindedness sama pretend open-mindedness? Soalnya banyak orang tuh yang kayak gini: \"Kan gua open, kok. Gua consider, gua mau baca buku, gua open untuk baca semua buku. Gua open untuk berdialog sama semua orang. Tapi ya, tapi kan saya tidak harus percaya semuanya, dong.\" Gitu kan. Nah, tapi di otaknya, kan, dia udah punya itu, kayak ideologinya dia nih yang dia pegang. Dia consider dia open to consider potential other information, tapi dia enggak akan ngelihat karena jawabannya udah ada untuk dia. Gitu. Versus orang yang emang mau consider dan truly open. Nah, ini kan, tapi kan? Dua-duanya sama-sama kita — in the end — akan men-filter lewat lensa kita sendiri. Jadi, what is differentiating between true open-mindedness sama enggak? True open-mindedness itu bahkan dengan sepenuh hati menerima kalau misalnya suatu hari dia dibuktikan salah. Oke. Karena sense has to be falsified. Ah, oke. Berarti itu — dan itu gua tulis disertasi gua. Gua bilang, kalau ada orang mau membuktikan gua salah bahwa teori gua, hukum itu bisa berubah — gua kasih, nih, nih, ini lu harus buktikan sebaliknya. Kalau lu bisa memberikan sebaliknya, gua akan bilang, \"Saudara yang benar.\" Dan gua enggak takut, karena gua yakin gua benar.\u003C\u002Fp>\u003Ccite>\u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.youtube.com\u002Fwatch?v=VJWAQbMrMK8&amp;t=2030s\">Ep. 31 - You Think You Think | with Abigail Limuria (What is Up, Indonesia? | Malaka Books) (33:50)\u003C\u002Fa>\u003C\u002Fcite>\u003C\u002Fblockquote>\n\n\n\n\u003Cp>Jawabannya, dalam percakapan ini, bermuara pada satu kriteria: \u003Cstrong>falsifiabilitas\u003C\u002Fstrong> — kesediaan menetapkan syarat yang, bila terpenuhi, membuat kita mengaku salah. Orang yang benar-benar terbuka tidak takut dibuktikan keliru; koreksi justru kabar baik, karena artinya ada informasi baru yang masuk. Sebaliknya, keterbukaan yang pura-pura mengaku siap mendengar apa pun, tetapi jawabannya sudah dikunci ideologi dan tidak ada bukti apa pun yang bisa menggesernya. Tanpa kriteria untuk salah, sebuah keyakinan sudah pindah ranah — dari pemikiran ke iman. Sikap ini terdengar sederhana di atas kertas, tetapi mahal dalam praktik: ia menuntut memisahkan harga diri dari pendapat.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>&quot;Teori doang&quot; adalah gejala, bukan argumen\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Dikotomi favorit percakapan Indonesia — teori versus praktik, kampus versus lapangan, &quot;udah, jalan aja&quot; — juga dibedah, dan keduanya sepakat menyebutnya dikotomi palsu. Dalam istilah mereka: \u003Cem>skill issue\u003C\u002Fem>. Orang yang meremehkan teori biasanya bukan sedang membela praktik; ia sedang menutupi ketidaksanggupan memakai kerangka.\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote class=\"quote\">\u003Cp>Dari berjuta, beratus-ratus, ribuan atau bahkan berjuta-juta pengalaman lapangan, harusnya tidak ada dikotomi dari situ. Lu mau bandingin teori yang dikomposisikan dari ribuan pengalaman real sama satu pengalaman subjective real-nya, ya udah pasti kalah lah. Dan ini memang benar, mungkin kadang harus kontekstualisasi. Mungkin karena teori ini dibentuk dari pengalaman atau riset dari certain konteks di certain time period yang harus dikontekstualisasi ke this time period sama cultural konteksnya sekarang. Tapi gua tuh kayak interestingnya itu one of the very common argument yang sering dilempar sama orang soal enggak usah jauh-jauh, mari kita bahas komik deh. Sebagai contoh nih, komik ini kan mungkin enggak—komik ini dibangun tanpa *planning*? Enggak mungkin, enggak. Sangat tidak mungkin. Kayak *One Piece* sebagai contoh. Tapi gini, atau ya komik-komik ini, *Jujutsu Kaisen* sama apa nih, *Attack on Titan*, apa? Mungkin lu ngebangun sesuatu seperti ini. Tapi kayaknya, Mas, ketika mereka bilang teori itu bukan *planning*, sih. Maksudnya mereka, tapi itu maksudnya kayak misalnya, ya tadi misalnya *The Theory of Virality* gitu misalnya, yang kayak, \"Oh, kalau lu mau bikin sesuatu viral, lu harus lakuin A, B, C,\" misalnya gitu. Nah, dia bilang itu mah teori doang, di lapangan beda gitu. Jadi lu jangan terlalu teori banget gitu. Tapi lu tetap harus *planning*, enggak?\u003C\u002Fp>\u003Ccite>\u003Ca href=\"https:\u002F\u002Fwww.youtube.com\u002Fwatch?v=VJWAQbMrMK8&amp;t=2977s\">Ep. 31 - You Think You Think | with Abigail Limuria (What is Up, Indonesia? | Malaka Books) (49:37)\u003C\u002Fa>\u003C\u002Fcite>\u003C\u002Fblockquote>\n\n\n\n\u003Cp>Teori yang baik justru disarikan dari ribuan pengalaman nyata; mengadu teori dengan satu pengalaman subjektif jelas bukan pertandingan yang adil. Dari dunia hukum — tempat sang pembawa acara bekerja — tidak ada pengacara yang bisa berpraktik tanpa fondasi undang-undang; satu kesalahan yang tidak terpikirkan sejak awal bisa mengganggu bertahun-tahun. Dari dunia konstruksi, ada cerita membangun rumah: anggaran yang dihitung ulang pelan-pelan sejak awal justru menyelamatkan proyek dari pembengkakan biaya. Prinsip yang sama, \u003Cem>think slow, act fast\u003C\u002Fem>, dibahas dalam buku Bent Flyvbjerg tentang proyek-proyek raksasa: gedung Empire State selesai lebih cepat dan lebih murah dari rencana justru karena perencanaannya matang — sementara mayoritas proyek besar dunia molor atau bengkak biayanya karena buru-buru &quot;jalan aja&quot;.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Dua kepala, satu buku\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Cerita di balik penulisannya sendiri adalah studi kasus kolaborasi. Abigail dan Cania berkenalan lewat media sosial di masa pandemi, dari undangan menjadi pembicara, berlanjut ke obrolan dan panggilan Zoom, sampai keduanya sadar sedang ingin menulis buku yang sama. Mereka memutuskan menulis berdua justru karena kekuatannya bertolak belakang: Cania sangat logis dan perfeksionis — sanggup menulis sepanjang disertasi asal sempurna logikanya — sementara Abigail memikirkan penyampaian, contoh, dan cara berkomunikasi dengan pembaca awam. Prosesnya lebih dari dua tahun, disambi kesibukan masing-masing. Hasilnya dilepas ke publik dengan peluncuran yang dihadiri Anies Baswedan dan Ahok — yang sempat berpelukan di panggung, pemandangan yang nyaris mustahil di musim pemilu.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Yang terjadi setelah buku sampai di tangan pembaca\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Taruhan buku semacam ini baru terlihat dari apa yang dilakukan pembacanya. Testimoni yang sampai ke Abigail beragam: ada yang merasa kerangka bukunya membantu mendapatkan pekerjaan; ada yang memakai bab terakhir tentang relasi untuk memutuskan mengakhiri hubungan yang tidak kompatibel — keputusan besar yang diambil dengan kerangka, bukan impuls. Pembacanya juga tidak seperti yang dibayangkan: sampai ada nelayan yang membacanya sambil menunggu pancingan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kritiknya pun dibahas terbuka. Untuk pembaca yang menganggap bukunya terlalu sederhana, jawabannya lugas: memang bukan untuk mereka — ini kuliah pengantar, bukan kuliah lanjutan. Kritik yang lebih substansial menyoal asumsi bahwa manusia bisa rasional, padahal riset perilaku menunjukkan sebaliknya. Jawaban Abigail menarik: buku ini justru membahas bias dan &quot;bug&quot; bawaan otak — dan justru karena bug itulah berpikir perlu dilatih. \u003Cem>Makanya Mikir\u003C\u002Fem> tidak menjanjikan pembacanya menjadi makhluk rasional; ia menawarkan sesuatu yang lebih masuk akal: mengenal diri sendiri, lalu mendefinisikan rasionalitas dari tujuan pribadi masing-masing.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Bagi yang ingin melangkah lebih jauh, episode ini juga menyinggung bacaan lanjutan — dari \u003Cem>Intuition Pumps and Other Tools for Thinking\u003C\u002Fem> karya filsuf Daniel Dennett, \u003Cem>Maxims for Thinking Analytically\u003C\u002Fem> karya Dan Levy, sampai \u003Cem>The Six Disciplines of Strategic Thinking\u003C\u002Fem> — dengan catatan yang konsisten dengan seluruh percakapan: tidak ada satu cara berpikir yang cocok untuk semua masalah, dan justru karena itu perkakasnya perlu banyak.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Frasa &quot;mencerdaskan kehidupan bangsa&quot; dikutip dalam percakapan ini bukan sebagai jargon konstitusi, melainkan sebagai arah: alasan kenapa buku pengantar berpikir perlu ada dalam bahasa Indonesia, dengan contoh Indonesia, di harga yang terjangkau — dan kenapa percakapan tentang cara berpikir harus jadi percakapan biasa, bukan barang mewah. Episode selengkapnya bisa ditonton lewat tautan di atas; kutipan di halaman ini menaut langsung ke menitnya di YouTube.\u003C\u002Fp>\n"]