[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fzKHOyQPY4vjPKnHGtPK_UnuLmEqREv4PoBx1DlC1NcE":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"door-duisternis-tot-licht-gedachten-over-en-voor-het-javaansche-volk","Door duisternis tot licht: Gedachten over en voor het Javaansche volk","ringkasan","van-ophuijsen",{"ordinal":10,"title":11},11,"GEEF DEN JAVAAN OPVOEDING!",null,true,"asli",{"ordinal":16,"title":17},10,"AAN ONZE VRIENDEN.",{"ordinal":19,"title":20},12,"ALPHABETISCH INGERICHT).","\u003Cp>Bab ini, berjudul &quot;Berilah Orang Jawa Pendidikan!&quot;, bertanggal Januari 1903 dari Jepara, mengajukan argumen tentang pentingnya pendidikan moral dan intelektual bagi rakyat Jawa, dengan fokus utama pada kaum bangsawan dan perempuan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Meskipun mustahil mendidik 27 juta jiwa sekaligus, mendidik lapisan atas masyarakat terlebih dahulu akan membuat mereka menjadi berkat bagi rakyat bawah. Pemerintah harus memanfaatkan keterikatan rakyat pada bangsawan dengan memberikan pendidikan yang layak, yang tidak hanya mengutamakan perkembangan intelektual, tetapi juga pembentukan karakter. Di sinilah perempuan memiliki peran penting. &quot;Sangat dibutuhkan dasar moral yang lebih baik dalam masyarakat Pribumi... Perbaikilah dasar-dasar moral masyarakat Pribumi.&quot; Perempuan, sebagai ibu dan pendidik pertama, adalah kunci untuk meningkatkan standar moral. &quot;Kembangkan perempuan Jawa dalam \u003Cem>hati\u003C\u002Fem> dan \u003Cem>pikiran\u003C\u002Fem>, dan kalian akan menemukan rekan kerja yang tangguh untuk pekerjaan raksasa yang indah: peradaban suatu bangsa yang berjumlah jutaan!&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Oleh karena itu, didiklah putri-putri bangsawan agar mereka menjadi ibu yang cakap, berakal, dan dapat menyebarkan peradaban kepada rakyat. Meskipun Direktur Pendidikan saat itu telah memperhatikan hal ini, usahanya kandas karena para Bupati berpendapat waktunya belum tepat untuk mendirikan sekolah bagi anak perempuan pejabat. Ironisnya, para bupati itu sendiri menginginkan pendidikan modern untuk putri mereka, tetapi enggan memberikannya kepada orang lain. Seorang kepala pribumi terkemuka berkata, &quot;orang Jawa, khususnya kaum aristokrat, sangat ingin memiliki \u003Cem>nasi putih\u003C\u002Fem> di mejanya sendiri, yang \u003Cem>tidak\u003C\u002Fem> ia berikan kepada orang lain; bagi orang lain, \u003Cem>nasi merah\u003C\u002Fem> sudah cukup baik.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Argumen berlanjut bahwa untuk mewujudkan pendidikan ini, harus didirikan setidaknya satu sekolah berasrama untuk putri bangsawan. Di sana, bahasa Belanda harus menjadi bahasa pengantar, karena pengetahuan tentang bahasa Eropa akan membawa perkembangan menuju kebebasan spiritual, tanpa mengabaikan bahasa sendiri. Sekolah saja tidak cukup, keluarga juga harus mendidik, dan perempuan yang terdidik adalah elemen kuncinya. Pemerintah harus menunjukkan dukungan nyata terhadap kemajuan perempuan Jawa.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Selain itu, bacaan yang mendidik dalam bahasa Jawa yang mudah dipahami harus disediakan sebagai &quot;rekan pendidik&quot; untuk hati dan pikiran, dengan dasar moral yang kuat. Pengetahuan populer tentang Hindia juga harus disebarkan di Belanda untuk menghapus prasangka dan menumbuhkan saling pengertian. Hubungan yang lebih baik antara pejabat Eropa dan Pribumi sangat dibutuhkan, di mana kemanusiaan adalah cara terbaik untuk mengikat Jawa dengan Belanda. Wanita Eropa juga dapat memberikan pengaruh yang memberkati melalui interaksi pribadi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Penulis mendukung usulan Bupati Ngawi, Raden Mas Toemenggoeng Oetoyo, terkait pendidikan rakyat dan meminta studi mendalam tentang lembaga seperti di Modjowarno, selama bersikap netral terhadap agama. Lebih banyak sekolah untuk para kepala (bangsawan) harus didirikan di Batavia, Semarang, dan Surabaya, dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar, untuk merekrut pejabat dari lulusan terdidik, bukan dari sistem magang yang tidak memadai.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Terakhir, anak-anak muda Jawa yang energik dan cerdas harus diberi kesempatan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Eropa. Mereka dapat menjadi ahli hukum yang mempelajari hukum adat, dokter yang meneliti pengobatan pribumi secara ilmiah, insinyur, atau rimbawan, sehingga dapat memberikan jasa yang luar biasa bagi pemerintah dan rakyat. &quot;Biarlah Belanda memberi kesempatan kepada putra-putri Jawa untuk memperoleh keterampilan yang memampukan mereka membawa tanah dan bangsanya menuju perkembangan spiritual dan kemakmuran besar—menjadi perhiasan dan kehormatan bagi Negeri Belanda!&quot;\u003C\u002Fp>\n"]