[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$f55g_8LXs4SExBgYDH7PdADDsBRNZA-l4fHRYMc__FAQ":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"door-duisternis-tot-licht-gedachten-over-en-voor-het-javaansche-volk","Door duisternis tot licht: Gedachten over en voor het Javaansche volk","ringkasan","van-ophuijsen",{"ordinal":10,"title":11},3,"INLEIDING.",null,true,"asli",{"ordinal":16,"title":17},2,"INHOUD.",{"ordinal":19,"title":20},4,"VOORWOORD BIJ DEN TWEEDEN DRUK.","\u003Cp>Pada 8 Agustus 1900, dalam perjalanan dinas sebagai Kepala Departemen Pendidikan, Ibadah, dan Kerajinan, saya bersama istri mengunjungi Jepara untuk bertemu dengan Bupati Jepara saat itu, almarhum Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, beserta Raden Ayu dan putri-putrinya, guna membahas pendidikan bagi gadis-gadis pribumi dari kalangan atas maupun bawah serta kepentingan mereka.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Hari itu menjadi salah satu hari paling berkesan dalam hidup kami, terutama karena pertemuan dengan ketiga putri sulung yang sangat akrab bagaikan &quot;daun semanggi&quot;. Sebulan kemudian, Bupati sekeluarga mengunjungi kami di Batavia dan semakin mempererat hubungan lewat surat-menyurat, khususnya dengan putri tertua, Raden Adjeng Kartini. Surat-suratnya sangat mengesankan karena kedalaman pikiran dan perasaan, serta tekad kuat untuk memajukan rakyat Jawa, terutama kaum perempuan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Namun, kami juga merasa bertanggung jawab besar saat membalas surat-surat itu. Kami sering terpaksa berhati-hati karena menyadari kesulitan sosial yang hampir tak teratasi dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Kami khawatir akan konsekuensi menyakitkan yang mungkin timbul jika melawan arus terlalu keras. Kartini sendiri merasakan tanggung jawab terhadap adik-adiknya, bertanya apakah ia boleh membiarkan mereka mengikuti jalannya yang sulit, penuh duri, dan belum terjejaki. Adik-adiknya menenangkan dengan berkata, &quot;Kita bersama masuk surga atau neraka.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kartini ingin memperoleh lebih banyak pengetahuan agar lebih siap menjalankan tugasnya: mengembangkan pikiran dan jiwa perempuan Jawa agar mampu mendidik anak-anak mereka. Selain itu, ia juga menginginkan kebebasan bagi gadis Jawa dari paksaan pernikahan serta kebebasan bergerak di masyarakat, sehingga perempuan dapat menjadi pendamping yang layak bagi laki-laki yang semakin maju.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Meskipun dorongan batinnya kuat, Kartini tidak ingin menyakiti hati ayah tercintanya. Hubungan ayah dan anak ini mengharukan, meskipun mereka tidak sepakat dalam hal pembebasan penuh dari adat lama. Hal ini wajar karena Kartini berada satu generasi lebih jauh dari masa lalu dibanding ayahnya, yang dididik dalam semangat Belanda namun tetap terikat tradisi. Namun, Kartini akhirnya berhasil meyakinkan kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya, bahkan ibunya kemudian lebih bersimpati pada gagasan maju anak-anaknya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kartini segera tertarik pada dunia Eropa dan memulai korespondensi dengan Nyonya Estelle H. Zeehandelaar (kini Nyonya Hartshalt) melalui undangan di majalah wanita. Ia juga berkorespondensi dengan banyak orang lain, termasuk kami sekeluarga. Surat-surat itu kini diterbitkan menurut urutan waktu, dengan kode angka Romawi untuk menjaga kerahasiaan nama.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Penerbitan surat-surat ini dilakukan dengan izin penuh dari suami Kartini, Bupati Rembang Raden Adipati Ario Djojo Adi Ningrat, serta ibunya, dan saya yakin penerbitan ini dapat berkontribusi pada terwujudnya cita-cita Kartini. Tidak semua surat atau bagian surat diterbitkan; hanya yang dianggap layak oleh penulis. Surat-surat terakhir hampir seluruhnya dimuat sebagai semacam salam perpisahan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Buku ini juga dilengkapi foto-foto, seperti kediaman Bupati di Jepara dan Rembang, makam Kartini, serta potretnya bersama adik-adiknya. Prasasti makamnya dalam aksara Jawa beserta terjemahannya turut disertakan. Ilustrasi dalam buku dibuat oleh &quot;Moedertje&quot; dan &quot;broer Edie&quot;, serta karya tangan Kartini sendiri berupa lukisan dan kain sarung.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Tujuan penerbitan ini adalah menggalang simpati dan dukungan untuk mendirikan sekolah asrama dan harian bagi putri kepala-kepala daerah pribumi, sesuai gagasan Kartini, dimulai dari skala kecil dan berkembang secara mandiri. Sekolah itu akan dinamakan Sekolah Raden Adjeng Kartini, dan seluruh hasil penerbitan akan disumbangkan untuk pendiriannya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kepergian Kartini yang mendadak pada 17 September 1904 meninggalkan duka mendalam. Banyak kenangan dan penghormatan ditulis tentangnya. Harapan banyak pihak adalah agar putranya, Raden Mas Sienggih, tumbuh menjadi manusia mulia seperti ibunya. Semoga nama Kartini tetap diberkati, sebagai pembawa fajar yang menunjuk dari kegelapan menuju cahaya kemajuan melalui peningkatan budi dan jiwa.\u003C\u002Fp>\n"]