[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fkp22mxLDyIuVDgaIAsbS-WBQYOWx96fAZjzy5DJ6sgw":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"how-we-think","How We Think","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},10,"CHAPTER FIVE",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},9,"SCHOOL CONDITIONS AND THE TRAINING OF THOUGHT",{"ordinal":19,"title":20},11,"THE ANALYSIS OF A COMPLETE ACT OF THOUGHT","\u003Ch2>RINGKASAN BAB LIMA: SARANA DAN TUJUAN PELATIHAN MENTAL: ASPEK PSIKOLOGIS DAN LOGIS\u003C\u002Fh2>\n\u003Ch2>Bagian 1: Pendahuluan – Makna Logis\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Bab ini membahas hubungan antara logika dan tujuan pelatihan mental. Kata &quot;logis&quot; memiliki tiga pengertian. Pertama, dalam arti luas, setiap pemikiran yang sampai pada kesimpulan disebut logis, entah kesimpulannya benar maupun salah. Kedua, dalam arti paling sempit, logis hanya merujuk pada hal-hal yang terbukti secara pasti mengikuti dari premis yang jelas maknanya dan sudah terbukti kebenarannya—seperti dalam matematika dan logika formal. Ketiga, dalam arti yang lebih vital dan praktis, logis berarti perawatan sistematis yang dilakukan untuk memastikan refleksi menghasilkan hasil terbaik dalam kondisi yang ada. Dalam arti ini, &quot;logis&quot; sama artinya dengan pemikiran yang waspada, teliti, dan hati-hati.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Refleksi adalah membolak-balik suatu topok dari berbagai sudut agar tidak ada hal penting yang terlewatkan—seperti seseorang membalik batu untuk melihat sisi tersembunyinya. Berpikir berarti menghubungkan hal-hal secara pasti, &quot;menggabungkan dua dan dua&quot;. Sifat-sifat seperti kehati-hatian, ketelitian, kepastian, keteraturan, dan metode yang sistematis adalah ciri yang membedakan yang logis dari yang acak dan kebetulan di satu sisi, dan dari yang akademis dan formal di sisi lain.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Tidak perlu diperdebatkan bahwa pendidik berkepentingan dengan logis dalam arti praktis dan vital. Namun, perlu dijelaskan bahwa \u003Cstrong>tujuan intelektual pendidikan sepenuhnya dan hanya adalah logis dalam arti ini, yaitu pembentukan kebiasaan berpikir yang hati-hati, waspada, dan mendalam.\u003C\u002Fstrong> Kesulitan utama dalam mengakui prinsip ini adalah anggapan keliru tentang hubungan antara kecenderungan psikologis seseorang dan pencapaian logisnya. Jika keduanya dianggap tidak saling terkait secara intrinsik, maka pelatihan logis otomatis dipandang sebagai sesuatu yang asing dan dipaksakan dari luar.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Bayangkan dua orang guru yang memegang pandangan berbeda. Guru pertama percaya bahwa anak-anak harus dibiarkan bebas mengembangkan bakat alaminya tanpa banyak campur tangan. Ia menyediakan banyak bahan menarik dan membiarkan anak bermain sebebasnya, tetapi jarang mengarahkan pemikiran mereka. Guru kedua percaya bahwa anak-anak pada dasarnya malas dan perlu dipaksa belajar. Ia menyusun pelajaran dalam urutan logis yang ketat, dimulai dari definisi-definisi abstrak, lalu menghafalkannya satu per satu. Kedua pendekatan ini sama-sama keliru menurut Dewey.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Yang menarik, dua aliran pendidikan yang berlawanan sama-sama menganut pandangan keliru ini. Aliran pertama menganggap yang &quot;alamiah&quot; sebagai hal utama dan mendasar. Mottonya adalah kebebasan, ekspresi diri, spontanitas, bermain, minat, dan perkembangan alami. Aliran ini meremehkan bahan pelajaran yang terorganisir dan menganggap metode sebagai berbagai cara untuk merangsang potensi bawaan individu. Aliran kedua sangat menghargai nilai logis, tetapi menganggap kecenderungan alami individu enggan atau acuh tak acuh terhadap pencapaian logis. Aliran ini mengandalkan bahan pelajaran yang sudah didefinisikan dan diklasifikasikan. Metode bagi mereka adalah cara-cara untuk memasukkan sifat-sifat logis ini ke dalam pikiran yang pada dasarnya enggan dan memberontak. Mottonya adalah disiplin, instruksi, pengendalian, usaha sadar, keharusan tugas.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Dewey memberikan contoh dari pelajaran geografi. Metode yang keliru akan memulai dengan mendefinisikan geografi, lalu mendefinisikan istilah-istilah abstrak seperti kutub, khatulistiwa, ekliptika, zona, lalu mengambil unsur-unsur yang lebih konkret seperti benua, pulau, pantai, semenanjung, samudra, teluk. Pikiran diharapkan menjadi logis dengan menyesuaikan diri pada definisi, generalisasi, dan klasifikasi yang sudah jadi. Contoh lain dari pelajaran menggambar: karena semua gambar terdiri dari garis lurus dan lengkung, maka prosedur paling sederhana dianggap mengajarkan siswa menggambar garis lurus dalam berbagai posisi, lalu garis lengkung, lalu menggabungkannya. Metode ini disebut &quot;logis&quot; karena dimulai dari analisis unsur lalu sintesis.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Bahkan ketika metode ekstrem ini tidak diikuti, banyak sekolah masih terlalu memperhatikan bentuk-bentuk yang seharusnya digunakan siswa jika ia bernalar secara logis. Ada anggapan bahwa ada langkah-langkah tertentu yang menunjukkan pemahaman, dan siswa dipaksa &quot;menganalisis&quot; prosedurnya ke dalam langkah-langkah itu. Hal ini terutama terjadi di pelajaran tata bahasa dan aritmetika, tetapi juga merambah sejarah dan sastra yang direduksi menjadi &quot;garis besar&quot;, diagram, dan skema pembagian. Dalam menghafal tiruan logika orang dewasa yang kaku ini, anak sering menjadi tumpul gerakan logisnya sendiri yang halus dan hidup.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Reaksi terhadap metode ini tidak bisa dihindari. Kurangnya minat belajar, kebiasaan tidak memperhatikan dan menunda-nunda, keengganan terhadap penerapan intelektual, ketergantungan pada hafalan dan rutinitas mekanis, menunjukkan bahwa teori definisi, pembagian, gradasi, dan sistem logis tidak bekerja secara praktis. Akibatnya, timbul kecenderungan untuk pergi ke ekstrem sebaliknya: menganggap &quot;logis&quot; sepenuhnya buatan dan asing, sehingga guru dan siswa harus membuangnya dan bekerja menuju ekspresi bakat dan minat yang ada.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Logika Bahan Pelajaran vs Logika Pikiran yang Belum Matang\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Apa yang secara konvensional disebut logis (dari sudut pandang bahan pelajaran) sebenarnya mewakili logika pikiran dewasa yang terlatih. Kemampuan membagi suatu subjek, mendefinisikan unsur-unsurnya, dan mengelompokkannya ke dalam kelas-kelas menurut prinsip umum, mewakili kapasitas logis pada titik terbaik yang dicapai \u003Cem>setelah\u003C\u002Fem> pelatihan menyeluruh. Tidak masuk akal menganggap bahwa pikiran yang perlu dilatih karena belum bisa melakukan operasi-operasi ini bisa memulai dari tempat pikiran ahli berhenti. \u003Cstrong>Logis dari sudut pandang bahan pelajaran mewakili tujuan, tahap akhir pelatihan, bukan titik awal.\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Sebenarnya, pikiran pada setiap tahap perkembangan memiliki logikanya sendiri. Kesalahan dari pandangan yang menganggap kita bisa mengabaikan pertimbangan logis sepenuhnya dengan mengandalkan kecenderungan spontan dan menyediakan banyak bahan, terletak pada mengabaikan betapa besarnya peran keingintahuan, inferensi, eksperimen, dan pengujian dalam kehidupan siswa. Pandangan ini meremehkan faktor intelektual dalam permainan dan pekerjaan spontan individu—faktor yang benar-benar mendidik.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Seorang guru yang peka terhadap cara berpikir yang secara alami beroperasi dalam pengalaman anak normal tidak akan kesulitan menghindari identifikasi logis dengan organisasi bahan pelajaran yang sudah jadi, maupun anggapan bahwa satu-satunya cara menghindari kesalahan ini adalah dengan tidak memperhatikan pertimbangan logis sama sekali. Guru seperti itu akan melihat bahwa \u003Cstrong>masalah sebenarnya dari pendidikan intelektual adalah transformasi kemampuan alami menjadi kemampuan yang teruji dan ahli: transformasi keingintahuan yang agak acak dan gagasan sporadis menjadi sikap penyelidikan yang waspada, hati-hati, dan mendalam.\u003C\u002Fstrong> Ia akan melihat bahwa yang psikologis dan yang logis, bukannya berlawanan, melainkan terhubung sebagai tahap awal dan tahap akhir dalam satu proses pertumbuhan normal yang berkelanjutan.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Bagian 2: Disiplin dan Kebebasan\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Disiplin pikiran sebenarnya adalah hasil, bukan penyebab. Pikiran disebut disiplin dalam suatu subjek jika inisiatif intelektual dan kendali mandiri telah tercapai. Disiplin mewakili bakat bawaan yang, melalui latihan bertahap, berubah menjadi kekuatan efektif. Sejauh pikiran disiplin, kendali metode dalam suatu subjek telah dicapai sehingga pikiran mampu mengelola dirinya sendiri tanpa bimbingan eksternal. Tujuan pendidikan adalah mengembangkan kecerdasan tipe mandiri dan efektif ini—yaitu \u003Cem>pikiran yang disiplin\u003C\u002Fem>. Disiplin bersifat positif dan konstruktif.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Namun, disiplin sering dianggap sebagai sesuatu yang negatif—sebagai proses memaksa pikiran menjauh dari saluran yang sesuai baginya ke saluran paksaan, suatu proses yang menyakitkan tetapi perlu sebagai persiapan untuk masa depan yang agak jauh. Disiplin umumnya disamakan dengan latihan mekanis, yang dibayangkan seperti memasukkan zat asing ke dalam bahan yang keras dengan pukulan terus-menerus, atau seperti latihan militer yang membentuk kebiasaan yang sama sekali asing bagi pemiliknya. Pelatihan semacam ini, apakah disebut disiplin atau tidak, bukanlah disiplin mental. Tujuan dan hasilnya bukanlah \u003Cem>kebiasaan berpikir\u003C\u002Fem>, melainkan \u003Cem>pola tindakan eksternal yang seragam\u003C\u002Fem>. Banyak guru terkecoh karena tidak bertanya apa arti disiplin, sehingga mereka mengira sedang mengembangkan kekuatan dan efisiensi mental dengan metode yang sebenarnya membatasi dan mematikan aktivitas intelektual, dan cenderung menciptakan rutinitas mekanis atau kepasifan dan kehambaan mental.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Ketika disiplin dipahami dalam istilah intelektual (sebagai kekuatan kebiasaan untuk melakukan serangan mental yang efektif), ia identik dengan kebebasan dalam arti sebenarnya. Sebab \u003Cstrong>kebebasan pikiran berarti kekuatan mental yang mampu menjalankan diri secara mandiri, terbebas dari kendali orang lain, bukan sekadar operasi eksternal yang tidak terhalang.\u003C\u002Fstrong> Ketika spontanitas atau kealamiahan disamakan dengan pelepasan impuls sementara yang agak acak, kecenderungan pendidik adalah menyediakan banyak rangsangan agar aktivitas spontan terus berlangsung. Segala macam bahan menarik, peralatan, alat, mode aktivitas disediakan agar ekspresi diri yang bebas tidak kendor. Metode ini mengabaikan beberapa kondisi penting untuk mencapai kebebasan sejati.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Tiga hal penting perlu diperhatikan:\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cem>Pertama\u003C\u002Fem>, pelepasan langsung atau ekspresi langsung dari kecenderungan impulsif berakibat fatal bagi pemikiran. Hanya ketika impuls sedikit terhambat dan dipantulkan kembali ke dirinya sendiri, barulah refleksi terjadi. Adalah kesalahan besar menganggap bahwa tugas-tugas sewenang-wenang harus dipaksakan dari luar untuk memberikan faktor kebingungan dan kesulitan yang merupakan isyarat penting bagi pemikiran. Setiap aktivitas vital yang mendalam dan luas pasti menemui hambatan dalam usahanya mewujudkan dirinya—fakta yang membuat pencarian masalah buatan atau eksternal menjadi tidak perlu. Kesulitan yang muncul dalam perkembangan suatu pengalaman justru harus dihargai oleh pendidik, bukan diminimalkan, karena kesulitan itu adalah rangsangan alami untuk penyelidikan reflektif. Kebebasan tidak terdiri dari menjaga aktivitas eksternal yang tidak terputus dan tidak terhalang, melainkan sesuatu yang dicapai melalui penaklukan, dengan refleksi pribadi, jalan keluar dari kesulitan yang mencegah luapan langsung dan kesuksesan spontan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cem>Kedua\u003C\u002Fem>, metode yang menekankan psikologis dan alamiah, tetapi gagal melihat betapa pentingnya bagian dari kecenderungan alami yang terdiri dari keingintahuan, inferensi, dan keinginan untuk menguji pada setiap periode pertumbuhan, tidak dapat menjamin perkembangan yang alami. Dalam pertumbuhan alami, setiap tahap aktivitas berurutan mempersiapkan secara tidak sadar tetapi menyeluruh kondisi untuk manifestasi tahap berikutnya—seperti dalam siklus pertumbuhan tanaman. Tidak ada dasar untuk menganggap bahwa &quot;berpikir&quot; adalah kecenderungan alami khusus yang terisolasi yang akan mekar dengan sendirinya pada waktunya hanya karena berbagai aktivitas sensorik dan motorik telah ditampilkan secara bebas sebelumnya. Hanya ketika berpikir terus digunakan dalam menggunakan indera dan otot untuk membimbing dan menerapkan pengamatan dan gerakan, barulah jalan disiapkan untuk jenis pemikiran yang lebih tinggi berikutnya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Saat ini beredar anggapan bahwa masa kanak-kanak hampir sepenuhnya tidak reflektif—hanya periode perkembangan sensorik, motorik, dan memori—sementara masa remaja tiba-tiba membawa manifestasi pemik\u003C\u002Fp>\n"]