[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$f5FqA1uYK7Uett1VaDXF5eS0ULGs6a0Hu_i7QHWO9HQs":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"how-we-think","How We Think","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},19,"ACTIVITY AND THE TRAINING OF THOUGHT",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},18,"EMPIRICAL AND SCIENTIFIC THINKING",{"ordinal":19,"title":20},20,"LANGUAGE AND THE TRAINING OF THOUGHT","\u003Ch2>RINGKASAN BAB: ACTIVITY AND THE TRAINING OF THOUGHT\u003C\u002Fh2>\n\u003Ch2>Bagian 1: Tahap Awal Aktivitas\u003C\u002Fh2>\n\u003Ch3>1. Masalah utama bayi menentukan pemikirannya\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Saat melihat bayi, orang sering bertanya: &quot;Kira-kira apa yang sedang dipikirkannya?&quot; Meskipun jawaban detail tidak mungkin diberikan, kita bisa yakin tentang minat utama bayi. \u003Cstrong>Masalah pertamanya adalah menguasai tubuhnya sebagai alat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik fisik maupun sosial.\u003C\u002Fstrong> Anak harus belajar melakukan hampir segala sesuatu: melihat, mendengar, meraih, memegang, menyeimbangkan tubuh, merangkak, berjalan, dan seterusnya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Meskipun manusia mungkin memiliki lebih banyak reaksi naluriah dibandingkan hewan rendah, naluri manusia jauh kurang sempurna dan sebagian besar tidak berguna sampai digabungkan serta diarahkan secara cerdas. Contoh: Anak ayam yang baru menetas setelah beberapa kali percobaan sudah bisa mematuk dan menggenggam butir makanan dengan paruhnya sebagus ayam dewasa. Ini melibatkan koordinasi rumit antara mata dan kepala. Sementara itu, bayi bahkan tidak mulai meraih benda yang dilihatnya sampai usia beberapa bulan, dan butuh latihan berminggu-minggu untuk belajar menyesuaikan gerakan agar tidak meraih terlalu jauh atau terlalu pendek.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>&quot;Operasi seleksi dan pengaturan secara sadar ini merupakan pemikiran, meskipun dalam tipe yang masih dasar.&quot;\u003C\u002Fstrong> Penguasaan organ tubuh diperlukan untuk semua perkembangan selanjutnya, sehingga masalah-masalah ini menarik dan penting, serta pemecahannya memberikan latihan berpikir yang sangat genuine. Kegembiraan anak saat belajar menggunakan anggota tubuhnya, menerjemahkan apa yang dilihat menjadi apa yang dipegang, menghubungkan suara dengan pemandangan, pemandangan dengan rasa dan sentuhan—serta kecepatan pertumbuhan kecerdasan dalam satu setengah tahun pertama kehidupan—adalah bukti bahwa pengembangan kontrol fisik bukanlah pencapaian fisik melainkan \u003Cstrong>pencapaian intelektual\u003C\u002Fstrong>.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>2. Masalah penyesuaian dan pergaulan sosial\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Meskipun pada bulan-bulan awal anak sibuk belajar menggunakan tubuhnya untuk menyesuaikan diri dengan kondisi fisik, penyesuaian sosial juga sangat penting. Dalam hubungan dengan orang tua, pengasuh, saudara, anak belajar tanda-tanda kepuasan lapar, hilangnya ketidaknyamanan, kedatangan cahaya, warna, suara yang menyenangkan. Kontaknya dengan benda fisik diatur oleh orang-orang, dan ia segera membedakan manusia sebagai objek paling penting dan menarik.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Bahasa—penyesuaian akurat antara suara yang didengar dengan gerakan lidah dan bibir—adalah alat besar penyesuaian sosial.\u003C\u002Fstrong> Dengan perkembangan bahasa (biasanya di tahun kedua), penyesuaian aktivitas bayi dengan aktivitas orang lain menjadi kunci kehidupan mental. Rentang aktivitasnya meluas tak terbatas saat ia mengamati apa yang dilakukan orang lain dan mencoba memahami serta melakukan apa yang mereka dorong. Pola dasar kehidupan mental terbentuk dalam empat atau lima tahun pertama.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Bayangkan: Berabad-abad, bergenerasi-generasi penemuan dan perencanaan mungkin telah menghasilkan aktivitas dan pekerjaan orang dewasa di sekitar anak. Namun bagi anak, aktivitas itu adalah rangsangan langsung, bagian dari lingkungan alaminya. Ia tidak bisa langsung memahami maknanya melalui indra, tetapi rangsangan itu memfokuskan perhatiannya pada materi dan masalah yang lebih tinggi. Tanpa proses ini—di mana pencapaian satu generasi menjadi rangsangan yang mengarahkan aktivitas generasi berikutnya—setiap generasi harus bekerja keras sendirian untuk keluar dari kebiadaban.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Tentang imitasi:\u003C\u002Fstrong> Imitasi hanyalah salah satu cara aktivitas orang dewasa menyediakan rangsangan. Namun imitasi belaka tidak akan menimbulkan pemikiran. Jika kita bisa belajar seperti burung beo dengan sekadar meniru tindakan lahiriah orang lain, kita tidak perlu berpikir. Anak jarang belajar melalui imitasi sadar; mengatakan imitasinya tidak sadar berarti itu bukan imitasi dari sudut pandangnya. Kata, gerakan, tindakan orang lain \u003Cstrong>sejalan dengan dorongan yang sudah aktif\u003C\u002Fstrong> dan menyarankan cara ekspresi yang memuaskan. Setelah memiliki tujuannya sendiri, anak lalu memperhatikan orang lain—seperti ia memperhatikan peristiwa alam—untuk mendapatkan saran lebih lanjut tentang cara mewujudkannya. Ia memilih beberapa cara yang diamati, mencobanya, menemukan berhasil atau tidak, dan terus memilih, mengatur, menyesuaikan, menguji sampai ia bisa mencapai apa yang diinginkannya. \u003Cstrong>Hanya karena metode ini digunakan, barulah ada disiplin intelektual dan hasil edukatif.\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Bagian 2: Bermain, Bekerja, dan Bentuk Aktivitas Terkait\u003C\u002Fh2>\n\u003Ch3>Bermain menunjukkan dominasi aktivitas oleh makna atau ide\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Ketika benda menjadi tanda—mewakili benda lain—bermain berubah dari kegembiraan fisik semata menjadi aktivitas yang melibatkan faktor mental. Contoh: Seorang gadis kecil yang bonekanya rusak terlihat melakukan semua operasi mencuci, menidurkan, dan membelai dengan kaki boneka itu, seperti yang biasa dilakukannya dengan boneka utuh. Bagian mewakili keseluruhan; ia bereaksi bukan terhadap rangsangan indrawi yang ada, tetapi terhadap makna yang disarankan oleh objek indra. Demikian pula anak menggunakan batu sebagai meja, daun sebagai piring, biji pohon ek sebagai cangkir. Saat memanipulasi benda-benda ini, mereka hidup bukan dengan benda fisik, tetapi di dunia makna yang luas, alami dan sosial, yang dibangkitkan oleh benda-benda itu.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>&quot;Dengan cara ini, dunia makna, gudang konsep—yang begitu fundamental bagi semua pencapaian intelektual—didefinisikan dan dibangun.&quot;\u003C\u002Fstrong> Selain itu, makna-makna tidak hanya menjadi akrab, tetapi juga diorganisir, dikelompokkan, dan dihubungkan secara koheren. Permainan dan cerita menyatu tanpa terasa. Permainan paling &quot;bebas&quot; sekalipun tetap memperhatikan prinsip koherensi dan penyatuan: ada awal, tengah, dan akhir. Dalam permainan, aturan mengikat berbagai tindakan kecil menjadi satu kesatuan yang terhubung. Irama, kompetisi, dan kerja sama dalam sebagian besar permainan juga memperkenalkan organisasi. Tidak mengherankan bahwa Plato dan Froebel menemukan bahwa bermain adalah mode pendidikan utama, hampir satu-satunya, untuk anak-anak pada tahun-tahun akhir masa bayi.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Sikap bermain vs. sikap bekerja\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Keceriaan (playfulness)\u003C\u002Fstrong> lebih penting daripada bermain itu sendiri. Yang pertama adalah sikap mental; yang kedua adalah manifestasi lahiriah sesaat dari sikap itu. Ketika benda diperlakukan semata-mata sebagai kendaraan sugesti, apa yang disarankan mengalahkan benda itu. Maka sikap bermain adalah sikap kebebasan. Seseorang tidak terikat pada sifat fisik benda, dan tidak peduli apakah benda itu benar-benar berarti apa yang dianggapnya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Agar keceriaan tidak berakhir pada khayalan sewenang-wenang dan membangun dunia imajiner di samping dunia nyata, sikap bermain harus berangsur-angsur beralih ke \u003Cstrong>sikap bekerja\u003C\u002Fstrong>. Apa itu bekerja sebagai sikap mental? Bekerja berarti bahwa seseorang tidak lagi puas menerima dan bertindak berdasarkan makna yang disarankan benda, tetapi \u003Cstrong>menuntut kesesuaian makna dengan benda itu sendiri\u003C\u002Fstrong>. Pada perkembangan alami, anak-anak menemukan bahwa permainan pura-pura yang tidak bertanggung jawab menjadi tidak memadai. Fiksi terlalu mudah untuk memberikan kepuasan. Ketika titik ini tercapai, ide yang disarankan benda harus diterapkan pada benda dengan memperhatikan kesesuaian.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>&quot;Bekerja (sebagai sikap mental, bukan sekadar kinerja lahiriah) berarti minat pada perwujudan makna yang memadai dalam bentuk objektif melalui penggunaan bahan dan alat yang tepat.&quot;\u003C\u002Fstrong> Sikap ini memanfaatkan makna yang dibangkitkan dalam permainan bebas, tetapi mengontrol perkembangannya dengan memastikan bahwa makna itu diterapkan pada benda dengan cara yang konsisten dengan struktur benda itu sendiri.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Kesalahan pemisahan tajam antara bermain dan bekerja\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Perbedaan yang biasa dikemukakan: dalam bermain, minat pada aktivitas itu sendiri; dalam bekerja, minat pada produk atau hasil. Pemisahan tajam ini sering memperkenalkan pemisahan palsu antara proses dan produk. \u003Cstrong>Perbedaan sejati bukan antara minat pada aktivitas demi aktivitas itu sendiri vs. minat pada hasil eksternal, tetapi antara minat pada aktivitas yang mengalir begitu saja dari waktu ke waktu vs. minat pada aktivitas yang cenderung ke puncak, ke hasil, sehingga memiliki benang kontinuitas yang mengikat tahap-tahapnya.\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Pemisahan tajam ini tercermin dalam praktik sekolah yang tidak menguntungkan antara taman kanak-kanak dan kelas-kelas selanjutnya. Yang pertama menjadi terlalu simbolis, khayalan, sentimental, dan sewenang-wenang; yang kedua berisi banyak tugas yang diberikan secara eksternal. Yang pertama tidak memiliki tujuan; yang kedua memiliki tujuan yang begitu jauh sehingga hanya pendidik, bukan anak, yang sadar akan tujuan itu.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Kesalahan tentang imajinasi dan kegunaan\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Pertentangan tajam antara bermain dan bekerja sering dikaitkan dengan gagasan palsu tentang kegunaan dan imajinasi. Aktivitas yang diarahkan pada urusan rumah dan lingkungan sekitar direndahkan sebagai &quot;hanya utilitarian.&quot; Konon, membiarkan anak mencuci piring, mengatur meja, memasak, memotong dan menjahit pakaian boneka, membuat kotak yang bisa menampung &quot;benda nyata,&quot; dan membuat mainan sendiri dengan palu dan paku menghilangkan faktor estetis dan apresiatif, serta menundukkan perkembangan anak pada urusan material dan praktis. Sementara itu, mereproduksi secara simbolis hubungan domestik burung dan hewan lain, ayah-ibu dan anak manusia, pekerja dan pedagang, ksatria, tentara, dan hakim dianggap memberikan latihan pikiran yang liberal dan bernilai moral serta intelektual tinggi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Ada beberapa kekeliruan dalam cara berpikir ini:\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>(a) Imajinasi sehat tidak berurusan dengan yang tidak nyata, tetapi dengan realisasi mental dari apa yang disarankan.\u003C\u002Fstrong> Latihannya bukanlah pelarian ke khayalan murni, melainkan metode untuk memperluas dan mengisi apa yang nyata. Bagi anak, aktivitas rumah tangga di sekitarnya bukanlah perangkat utilitarian untuk mencapai tujuan fisik; mereka mencontohkan dunia yang penuh misteri dan janji, sama seperti semua kegiatan orang dewasa yang dikaguminya. \u003Cstrong>Terlibat di dalamnya berarti melatih imajinasi dalam membangun pengalaman yang bernilai lebih luas dari apa pun yang telah dikuasai anak.\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>(b) Pendidik kadang mengira anak bereaksi terhadap kebenaran moral atau spiritual besar, padahal reaksi anak sebagian besar bersifat fisik dan sensoris.\u003C\u002Fstrong> Anak memiliki kemampuan dramatisasi yang kuat, dan penampilan fisik mereka mungkin tampak (bagi orang dewasa yang dipenuhi teori filosofis) seolah-olah mereka terkesan dengan pelajaran kesatriaan, pengabdian, atau kemuliaan, padahal anak-anak sendiri hanya sibuk dengan rangsangan fisik sesaat. \u003Cstrong>Mensimbolkan kebenaran besar yang jauh di luar jangkauan pengalaman anak adalah mustahil, dan mencobanya hanya mengundang kecintaan pada stimulasi sesaat.\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>(c) Sama seperti penentang bermain dalam pendidikan selalu menganggap bermain sebagai hiburan belaka, penentang aktivitas langsung dan berguna mengacaukan pekerjaan dengan kerja paksa.\u003C\u002Fstrong> Orang dewasa mengenal kerja yang bertanggung jawab dengan konsekuensi finansial serius, sehingga mereka mencari hiburan dan relaksasi. Kecuali anak-anak telah bekerja untuk upah sebelum waktunya atau terkena dampak pekerja anak, tidak ada pembagian seperti itu bagi mereka. Apa pun yang menarik bagi mereka, menarik secara langsung. \u003Cstrong>Tidak ada pertentangan antara melakukan sesuatu untuk kegunaan dan untuk kesenangan.\u003C\u002Fstrong> Bukan hal yang dilakukan, melainkan kualitas pikiran yang masuk ke dalam pelaksanaannya yang menentukan apa yang utilitarian dan apa yang tidak terkekang serta edukatif.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Bagian 3: Pekerjaan Konstruktif\u003C\u002Fh2>\n\u003Ch3>Pertumbuhan historis ilmu pengetahuan dari pekerjaan\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Sejarah budaya menunjukkan bahwa pengetahuan ilmiah dan kemampuan teknis umat manusia berkembang, terutama pada tahap awal, dari \u003Cstrong>masalah fundamental kehidupan\u003C\u002Fstrong>. Anatomi dan fisiologi tumbuh dari kebutuhan praktis menjaga kesehatan dan aktivitas; geometri dan mekanika dari kebutuhan mengukur tanah, membangun, dan membuat mesin penghemat tenaga; astronomi terkait erat dengan navigasi dan pencatatan waktu; botani tumbuh dari kebutuhan pengobatan dan pertanian; kimia terkait dengan pewarnaan, metalurgi, dan industri lainnya. Sebaliknya, industri modern hampir seluruhnya merupakan ilmu terapan; tahun demi tahun, domain rutinitas dan empirisme kasar dipersempit oleh penerjemahan penemuan ilmiah ke dalam penemuan industri. Trem, telepon, lampu listrik, mesin uap—dengan segala konsekuensi revolusionernya bagi pergaulan dan kendali sosial—adalah buah sains.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Kemungkinan intelektual dari pekerjaan sekolah\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Fakta-fakta ini penuh signifikansi edukatif. Sebagian besar anak cenderung sangat aktif. Sekolah juga telah mengambil—sebagian besar dari alasan utilitarian, bukan edukatif murni—sejumlah besar aktivitas yang biasa dikelompokkan di bawah pelatihan manual, termasuk kebun sekolah, tamasya, dan berbagai seni grafis.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>&quot;Mungkin masalah pendidikan yang paling mendesak saat ini adalah mengatur dan menghubungkan mata pelajaran ini sehingga menjadi alat untuk membentuk kebiasaan intelektual yang waspada, tekun, dan produktif.&quot;\u003C\u002Fstrong> Bahwa mereka menyentuh\u003C\u002Fp>\n"]