[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fB5LO0kqyJa5AuxJzrkVXVIqrkO9uhqxKymHz_RvyXYs":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"self-help-with-illustrations-of-conduct-and-perseverance","Self Help; with Illustrations of Conduct and Perseverance","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},10,"CHAPTER IV. APPLICATION AND PERSEVERANCE.",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},9,"CHAPTER III. THE GREAT POTTERS—PALISSY, BÖTTGHER, WEDGWOOD.",{"ordinal":19,"title":20},11,"CHAPTER V. HELPS AND OPPORTUNITIES—SCIENTIFIC PURSUITS.","\u003Ch2>Ringkasan Bab IV: Penerapan dan Ketekunan\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Bab ini menekankan bahwa hasil terbesar dalam hidup biasanya dicapai melalui cara sederhana dan penggunaan kualitas biasa seperti akal sehat, perhatian, ketekunan, dan kerja keras. Keberuntungan sering dianggap buta, tetapi sebenarnya keberuntungan lebih sering berpihak pada orang yang rajin. Banyak orang besar justru tidak percaya pada kekuatan genius semata; mereka menganggap genius sebagai kesabaran, kemampuan untuk terus berusaha, atau &quot;kekuatan menyalakan api sendiri.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Ilmuwan dan Filsuf\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Newton mencapai penemuan luar biasanya dengan &quot;selalu memikirkan&quot; masalah itu dan terus-menerus menekuni subjeknya hingga terbuka menjadi terang. Ia berkata bahwa jasanya kepada publik semata-mata karena industri dan pemikiran sabar. Kepler juga mengalami bahwa pemikiran tekun melahirkan pemikiran lebih lanjut.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Buffon mendefinisikan genius sebagai &quot;kesabaran.&quot; Meskipun dianggap biasa-biasa saja saat muda, ia mengatasi kemalasannya dengan bantuan seorang pelayan yang memaksanya bangun pagi. Ia bekerja setiap pagi pukul 9–2 dan sore 5–9 selama 40 tahun. Ia menulis ulang &#39;Epoques de la Nature&#39; sebanyak 11 kali sebelum puas.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Sastrawan dan Penulis\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Sir Walter Scott melatih kebiasaan kerjanya di kantor pengacara, bahkan sebagai juru tulis salinan. Ia bangun pukul 5 pagi, menyalakan api sendiri, dan bekerja sebelum sarapan. Ia berprinsip bahwa sastra harus menjadi tongkat, bukan penopang—ia harus mencari nafkah dari bisnis, bukan dari sastra.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>John Britton lahir di gubuk miskin, bekerja sebagai buruh gudang anggur, lalu menjadi juru tulis dengan gaji 15 shilling seminggu. Dalam kondisi miskin, ia membaca di tempat tidur karena tak bisa membeli api. Akhirnya ia menulis 87 buku, termasuk karya monumental &#39;Cathedral Antiquities of England&#39;.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Samuel Drew, awalnya anak nakal, pencuri kebun, dan penyelundup. Ia nyaris tenggelam dalam operasi penyelundupan. Setelah diselamatkan, ia berubah menjadi serius. Ia belajar membaca dan menulis lagi, meletakkan buku di depan saat makan. Ia menulis &#39;Essay on the Immateriality and Immortality of the Human Soul&#39; sambil masih bekerja sebagai tukang sepatu. Ia selalu mengutamakan kejujuran dalam usaha.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Penemu dan Penjelajah\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>George Stephenson bekerja memperbaiki lokomotif selama 15 tahun sebelum menang di Rainhill. Watt mengerjakan mesin kondensasi selama 30 tahun.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Austen Layard, awalnya juru tulis di kantor pengacara London, berhasil menggali ribuan pahatan kuno di Niniwe selama bertahun-tahun dengan kesabaran luar biasa. Penemuan ini mengungkap sejarah yang hilang selama ribuan tahun dan mengukuhkan catatan Alkitab.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Tokoh Lain\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Joseph Hume, seorang dengan kemampuan biasa tetapi ketekunan luar biasa. Setelah menjadi kaya di India, ia masuk Parlemen selama 34 tahun dan terus memperjuangkan reformasi meskipun sering dikalahkan dan ditertawakan. Motonya: &quot;Ketekunan.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Carey, misionaris anak tukang sepatu, bekerja bersama Ward (anak tukang kayu) dan Marsham (anak penenun). Mereka mendirikan perguruan tinggi, menerjemahkan Alkitab ke 16 bahasa, dan menabur benih reformasi moral di India. Carey pernah berkata, &quot;Saya hanya seorang tukang tambal sepatu.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Ilustrasi Ketekunan\u003C\u002Fh2>\n\u003Cul>\n\u003Cli>Seekor laba-laba mengajarkan Timour untuk terus berusaha meskipun gagal.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Audubon kehilangan 200 gambar burungnya dimakan tikus, tetapi ia pergi ke hutan dan menggambar ulang dengan lebih baik dalam tiga tahun.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Carlyle harus menulis ulang seluruh volume pertama &#39;French Revolution&#39; karena manuskripnya dibakar oleh pembantu rumah tangga.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Ch2>Kutipan Kunci\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>&quot;Rich are the diligent, who can command Time, nature&#39;s stock! and could his hour-glass fall, Would, as for seed of stars, stoop for the sand, And, by incessant labour, gather all.&quot; — D&#39;Avenant\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>&quot;Allez en avant, et la foi vous viendra!&quot; — D&#39;Alembert\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>&quot;Genius is patience.&quot; — Buffon\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Kesimpulan\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Bab ini menegaskan bahwa ketekunan dan kerja keras adalah kunci utama kesuksesan, jauh lebih penting daripada bakat semata. Orang yang tekun akan mengalahkan mereka yang hanya berbakat tetapi tidak memiliki &quot;karunia untuk bertahan.&quot; Seperti pepatah: &quot;Siapa yang berjalan perlahan, berjalan jauh.&quot; Menunggu dengan sabar sambil bekerja dengan gembira adalah rahasia sukses. Cheerfulness dan ketekunan adalah sembilan persepuluh dari kebijaksanaan praktis.\u003C\u002Fp>\n"]