[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fRx36EXhGgwuGeloYyjoGFjVjDrcQ36dZPYzR6q23ZI4":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"self-help-with-illustrations-of-conduct-and-perseverance","Self Help; with Illustrations of Conduct and Perseverance","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},16,"CHAPTER X. MONEY—ITS USE AND ABUSE.",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},15,"CHAPTER IX. MEN OF BUSINESS.",{"ordinal":19,"title":20},17,"CHAPTER XI. SELF-CULTURE—FACILITIES AND DIFFICULTIES.","\u003Ch2>Ringkasan Bab X: UANG—PENGGUNAAN DAN PENYALAHGUNAAN\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Cara seseorang menggunakan uang—mendapatkan, menabung, dan membelanjakannya—merupakan salah satu ujian terbaik kebijaksanaan praktis. Meskipun uang bukan tujuan utama hidup, uang juga bukan hal sepele karena sangat menentukan kenyamanan fisik dan kesejahteraan sosial. Kualitas manusia seperti kemurahan hati, kejujuran, keadilan, dan pengorbanan diri terkait erat dengan penggunaan uang yang benar. Sebaliknya, keserakahan, penipuan, ketidakadilan, dan pemborosan adalah penyalahgunaan uang.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>&quot;Ukuran dan cara yang tepat dalam memperoleh, menabung, membelanjakan, memberi, mengambil, meminjamkan, meminjam, dan mewariskan, hampir bisa menunjukkan manusia yang sempurna.&quot; (Henry Taylor)\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kenyamanan duniawi adalah tujuan yang sah dan setiap orang berhak memperjuangkannya dengan cara yang layak. Usaha untuk sukses dalam hidup adalah pendidikan tersendiri—merangsang harga diri, mengeluarkan kualitas praktis, dan melatih kesabaran serta ketekunan. Pelajaran pengendalian diri—mengorbankan kesenangan saat ini demi kebaikan masa depan—adalah salah satu pelajaran terakhir yang dipelajari seseorang.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Banyak pekerja yang hidup dari tangan ke mulut, menghabiskan upah begitu diterima, sehingga menjadi tidak berdaya dan tergantung pada orang lain yang hemat. Mr. Cobden pernah berkata kepada pekerja di Huddersfield bahwa dunia selalu terbagi menjadi dua kelas: mereka yang menabung dan mereka yang membelanjakan—yang hemat dan yang boros. Semua bangunan besar, pabrik, jembatan, dan kapal dibangun oleh para penabung. Mr. Bright menasihati pekerja di Rochdale bahwa satu-satunya cara aman untuk mempertahankan atau meningkatkan posisi adalah dengan praktik kerja keras, hemat, pengendalian diri, dan kejujuran.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Tidak ada alasan mengapa kondisi pekerja rata-rata tidak bisa berguna, terhormat, dan bahagia. Semangat menolong diri sendiri yang sehat di kalangan pekerja akan mengangkat mereka sebagai kelas, bukan dengan menjatuhkan orang lain, tetapi dengan menaikkan mereka ke standar yang lebih tinggi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Tiga hal utama yang harus diantisipasi adalah pengangguran, sakit, dan kematian. Orang bijak hidup dan mengatur agar penderitaan diminimalkan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi mereka yang bergantung padanya. Uang yang diperoleh dengan benar dan digunakan dengan hemat mencerminkan kerja keras, godaan yang ditolak, dan harapan yang terwujud. Tabungan adalah benteng melawan kemiskinan dan memberi kemandirian.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Contoh:\u003C\u002Fstrong> Bayangkan seseorang yang selalu kekurangan. Ia seperti berada dalam perbudakan—tidak bisa menjadi tuan atas dirinya sendiri, takut menghadapi dunia, dan jika tidak ada pekerjaan, ia tidak bisa pindah ke tempat lain. Sebaliknya, orang yang memiliki tabungan bisa menunggu dengan tenang sampai keadaan membaik.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Untuk mencapai kemandirian, ekonomi sederhana sudah cukup. Ekonomi bukanlah kekikiran, melainkan semangat keteraturan dalam mengurus rumah tangga: pengelolaan, keteraturan, kebijaksanaan, dan menghindari pemborosan. Ekonomi adalah kemampuan menahan kesenangan saat ini demi kebaikan masa depan—akal budi mengalahkan naluri hewani. Ekonomi bisa disebut anak Kebijaksanaan, saudari Pengendalian Diri, dan ibu Kemerdekaan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Hidup sesuai kemampuan adalah esensi kejujuran. Jika seseorang tidak hidup jujur dalam batas kemampuannya, ia pasti hidup tidak jujur dengan memakai milik orang lain. Utang membuat seseorang menjadi budak dan sulit berkata jujur. Dr. Johnson berkata: &quot;Jangan biasakan diri menganggap utang hanya sebagai ketidaknyamanan; kau akan mendapatinya sebagai bencana. Kemiskinan menghancurkan kebebasan dan membuat beberapa kebajikan mustahil dilakukan.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Setiap orang wajib menghadapi urusan keuangannya dan mencatat pemasukan serta pengeluaran. Duke of Wellington dan Washington sangat teliti dalam urusan keuangan pribadi. Laksamana Jervis, yang pernah menolak tagihan karena tidak punya uang, kemudian mengubah gaya hidupnya, hidup sendiri, mencuci dan menjahit pakaian sendiri, dan berjanji tidak akan pernah menarik wesel tanpa kepastian pembayaran. Ia berhasil dan menjadi perwira tinggi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Banyak orang kelas menengah hidup di luar kemampuan demi &quot;gaya&quot;. Ambisi menjadi &quot;genteel&quot; (berkelas) menyebabkan banyak orang hidup dalam kepalsuan, berutang, dan melakukan penipuan. Sir Charles Napier mengecam perwira yang hidup boros dan berutang, karena &quot;kejujuran tidak terpisahkan dari karakter pria sejati,&quot; dan &quot;minum sampanye atau bir yang belum dibayar, serta menunggang kuda yang belum dibayar, adalah curang.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Pemuda harus belajar berkata &quot;tidak&quot; pada godaan. Hugh Miller, saat bekerja sebagai tukang batu, memutuskan untuk tidak pernah minum alkohol lagi setelah merasa kesulitan membaca buku favoritnya karena mabuk. Keputusan seperti itu sering menjadi titik balik dalam hidup seseorang.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kutipan kunci:\u003C\u002Fstrong> &quot;Kemuliaan sejati berasal dari kemenangan diam-diam atas diri kita sendiri, dan tanpa itu, seorang penakluk hanyalah budak pertama.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Peribahasa seperti &quot;Jaga uang receh, maka uang besar akan menjaga dirinya sendiri&quot; dan &quot;Rajin adalah ibu dari keberuntungan&quot; mengandung kebijaksanaan yang telah teruji waktu. Amsal Salomo penuh dengan nasihat tentang kekuatan kerja keras dan bahaya kemalasan serta pemborosan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Contoh:\u003C\u002Fstrong> Thomas Wright, pekerja pabrik pengecoran di Manchester, berhasil menyelamatkan tidak kurang dari 300 penjahat dari kehidupan kejahatan selama sepuluh tahun. Ia melakukannya dengan gaji tahunan rata-rata kurang dari £100, sambil tetap menghidupi keluarganya dengan nyaman dan menabung untuk masa tua. Ia membagi pendapatannya dengan cermat setiap minggu untuk kebutuhan pokok, sewa, sekolah, dan orang miskin. Ini menunjukkan kekuatan tujuan dan penggunaan uang yang bijak.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Tidak ada aib dalam pekerjaan halal apa pun. Seorang Presiden Amerika, ketika ditanya tentang lambang keluarganya, menjawab &quot;sepasang lengan baju&quot; karena ia pernah menjadi penebang kayu di masa muda. Uskup Flechier, yang dulunya pembuat lilin, menjawab ejekan tentang asal-usulnya: &quot;Jika Anda lahir dalam kondisi yang sama seperti saya, Anda mungkin masih menjadi pembuat lilin.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Energi dalam mengumpulkan uang bisa membuat kaya, tetapi jika hanya untuk menimbun, itu menjadi kekikiran. Cinta uang—bukan uang itu sendiri—adalah akar segala kejahatan. Kekayaan bukanlah bukti nilai moral. Banyak pencapaian besar dunia dilakukan oleh orang miskin: Kekristenan disebarkan oleh orang-orang dari kelas termiskin; pemikir, penemu, dan seniman terbesar umumnya berkecukupan sederhana.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kekayaan sering menjadi hambatan, bukan dorongan. Pemuda yang mewarisi kekayaan cenderung mudah bosan dan tidak memiliki tujuan. Doa Agur adalah yang terbaik: &quot;Jangan beri aku kemiskinan atau kekayaan; beri aku makanan yang secukupnya.&quot; Joseph Brotherton, anggota parlemen yang dulunya anak pabrik, meninggalkan motto: &quot;Kekayaanku bukan terletak pada besarnya milikku, tetapi pada kecilnya kebutuhanku.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Tujuan hidup tertinggi adalah membentuk karakter jantan dan mengembangkan tubuh serta jiwa—pikiran, hati nurani, hati, dan jiwa—sebaik mungkin. Uang adalah kekuatan, tetapi kecerdasan, semangat publik, dan kebajikan moral adalah kekuatan yang jauh lebih mulia. Laksamana Collingwood berkata: &quot;Saya bisa kaya tanpa uang, dengan berusaha menjadi lebih unggul dari segala sesuatu yang hina.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Orang yang hanya kaya tanpa kualitas pikiran, tata krama, atau hati hanyalah &quot;kantong uang&quot;. Orang yang benar-benar berhasil dan berguna di masyarakat bukanlah mereka yang kaya raya, melainkan mereka yang berkarakter mulia, berpengalaman, dan bermoral tinggi. Bahkan orang miskin seperti Thomas Wright, yang memiliki sedikit harta duniawi, bisa memandang rendah orang kaya yang hanya bermodal uang dan tanah.\u003C\u002Fp>\n"]