[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fb0N5V1wFF-w0lXY1plb2tAVuXx_b8hHrE7ThYc6pLR8":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"self-help-with-illustrations-of-conduct-and-perseverance","Self Help; with Illustrations of Conduct and Perseverance","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},5,"INTRODUCTION TO THE FIRST EDITION.","\u002Fillustrations\u002Fgutenberg-935\u002F5",false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},4,"PREFACE.",{"ordinal":19,"title":20},6,"CHAPTER I.","\u003Cp>Buku ini lahir dari pengalaman pribadi penulis sekitar lima belas tahun sebelumnya. Saat itu ia diminta memberi ceramah untuk kelas malam yang dibentuk oleh beberapa pemuda dari kalangan paling sederhana di sebuah kota di utara Inggris. Mereka berkumpul pada malam musim dingin untuk saling mengajar dan memperbaiki diri. Pertemuan pertama diadakan di kamar pondok salah satu anggota, lalu pindah ke taman saat musim panas, belajar di luar ruangan mengelilingi sebuah gubuk kecil. Kalau cuaca buruk, hujan membubarkan mereka. Menjelang musim dingin, mereka nekat menyewa ruangan besar kumuh yang dulu dipakai sebagai rumah sakit kolera sementara—tempat yang tidak disewa orang karena dianggap masih membawa penyakit. Tanpa gentar, mereka menyewanya, memasang bangku dan meja kayu, lalu memulai kelas. Sekitar seratus pemuda, termasuk beberapa pria dewasa, bergabung dan saling mengajar: membaca, menulis, berhitung, geografi, bahkan matematika, kimia, dan beberapa bahasa asing.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Mereka kemudian ingin mendengarkan ceramah. Penulis diundang untuk &quot;berbicara sedikit&quot; kepada mereka. Ia terkesan dengan semangat swadaya yang luar biasa. Ia menyampaikan dorongan dan contoh-contoh orang lain yang berhasil, serta menekankan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan setiap orang di masa depan terutama bergantung pada diri mereka sendiri—pada rajin membina diri, disiplin, dan pengendalian diri—dan di atas segalanya, pada pelaksanaan kewajiban individu secara jujur dan lurus, yang merupakan kemuliaan karakter pria. Nasihat ini tidak baru, sudah setua Amsal Salomo, tetapi disambut baik. Para pemuda terus maju dengan tekun, dan setelah dewasa banyak yang menjadi orang terpercaya dan berguna di berbagai bidang. Bertahun-tahun kemudian, seorang mantan murid—kini menjadi majikan dan sukses—mengunjungi penulis dan berterima kasih, mengaitkan sebagian keberhasilannya dengan semangat yang ditanamkan waktu itu.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Sejak itu, penulis semakin tertarik pada topik swadaya. Ia mulai menambahkan catatan dari ceramah-ceramahnya dan mencatat hasil bacaan, pengamatan, dan pengalaman hidup di waktu senggang malam hari. Salah satu contoh paling menonjol dalam ceramah awal adalah George Stephenson, sang insinyur; minat pada kisahnya mendorong penulis untuk menulis biografi Stephenson. Buku ini ditulis dengan semangat yang sama, meskipun sketsa karakter di dalamnya tidak sedetail biografi—lebih berupa potret setengah badan, hanya menyorot fitur-fitur mencolok. Penulis menyerahkan buku ini kepada pembaca dengan harapan bahwa pelajaran tentang kerja keras, ketekunan, dan pembinaan diri di dalamnya akan berguna, mendidik, dan menarik.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cem>London, September 1859.\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>Kutipan kunci: &quot;kebahagiaan dan kesejahteraan mereka sebagai individu di kemudian hari harus bergantung terutama pada diri mereka sendiri—pada rajin membina diri, disiplin, dan pengendalian diri—dan di atas segalanya, pada pelaksanaan kewajiban individu yang jujur dan lurus, yang merupakan kemuliaan karakter pria.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n"]