[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fptg1tPJpYAmEdEz9AsXwoZHDMuP1w4kaI7Cgxll6b-g":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"self-help-with-illustrations-of-conduct-and-perseverance","Self Help; with Illustrations of Conduct and Perseverance","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},9,"CHAPTER III. THE GREAT POTTERS—PALISSY, BÖTTGHER, WEDGWOOD.",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},8,"CHAPTER II. LEADERS OF INDUSTRY—INVENTORS AND PRODUCERS.",{"ordinal":19,"title":20},10,"CHAPTER IV. APPLICATION AND PERSEVERANCE.","\u003Cp>\u003Cstrong>RINGKASAN BAB III: PARA PEMBUAT TEMBIKAR BESAR—PALISSY, BÖTTGHER, WEDGWOOD\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Bab ini mengisahkan tiga tokoh yang gigih dalam seni pembuatan tembikar: Bernard Palissy (Prancis), Johann Friedrich Böttgher (Jerman), dan Josiah Wedgwood (Inggris). Meski tembikar sudah dikenal sejak zaman kuno, teknik melapisinya dengan enamel (lapisan kaca) sempat hilang. Seni ini dihidupkan kembali oleh Luca della Robbia, seorang pemahat Florentina yang tekun bereksperimen. Namun, tiga tokoh utama inilah yang menunjukkan kegigihan luar biasa.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>1. Bernard Palissy (1510–1590)\u003C\u002Fstrong>\u003Cbr>Palissy adalah pelukis kaca dan pengukur tanah miskin dari Saintes, Prancis. Suatu hari ia melihat cangkir enamel indah buatan Italia—kemungkinan karya Luca della Robbia—dan sejak itu bertekad menemukan rahasia enamel tersebut. Selama \u003Cstrong>16 tahun\u003C\u002Fstrong> ia bereksperimen tanpa henti: memecahkan pot, mencampur bahan kimia, membangun tungku sendiri, hingga kehabisan uang dan kayu bakar. Ia bahkan membakar perabot rumah tangganya saat kayu habis. Istrinya mengira ia gila. Setelah ribuan kali gagal, ia akhirnya berhasil membuat enamel putih.\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>\u003Cem>&quot;Selama dua puluh lima tahun yang lalu, diperlihatkan kepadaku sebuah cangkir tanah liat yang dibentuk dan dilapisi enamel dengan keindahan sedemikian rupa sehingga... sejak saat itu, tanpa mempedulikan bahwa aku tidak memiliki pengetahuan tentang tanah liat, aku mulai mencari enamel, bagaikan orang yang meraba-raba dalam kegelapan.&quot;\u003C\u002Fem> — Bernard Palissy\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n\u003Cp>Setelah sukses, ia dianiaya karena agama Protestan, dipenjara di Bastille, dan meninggal di sana pada usia 78 tahun.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>2. Johann Friedrich Böttgher (1685–1719)\u003C\u002Fstrong>\u003Cbr>Böttgher magang di apotek dan tertarik pada alkimia—seni mengubah logam biasa menjadi emas. Ia sempat dianggap mampu membuat emas, sehingga Raja Prusia dan Elektor Sachsen memperebutkannya. Ia dipenjara dan dipaksa membuat emas. Gagal terus, ia hampir digantung. Namun, seorang ilmuwan menyarankan: &quot;Jika tidak bisa membuat emas, buatlah porselen.&quot; Böttgher bereksperimen bertahun-tahun. Secara tak sengaja, ia menemukan bahwa bubuk rambut wignya mengandung \u003Cem>kaolin\u003C\u002Fem>—bahan utama porselen putih. Pada 1707 ia berhasil membuat porselen keras pertama. Meski begitu, ia tetap dipenjara, diperlakukan seperti budak, hingga meninggal di usia 34 tahun.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>3. Josiah Wedgwood (1730–1795)\u003C\u002Fstrong>\u003Cbr>Wedgwood berasal dari keluarga pembuat tembikar miskin di Staffordshire, Inggris. Ia mulai bekerja sejak usia 11 tahun. Setelah sembuh dari cacar, ia tekun belajar kimia dan bereksperimen. Ia menemukan cara mencampur silika dengan tanah liat merah sehingga menghasilkan bahan putih setelah dibakar—cikal bakal \u003Cem>English earthenware\u003C\u002Fem>. Ia juga berhasil membuat ulang porselen antik dan melukisnya. Berkat kerja kerasnya, industri tembikar Inggris yang tadinya kasar dan kecil berubah menjadi industri besar yang mempekerjakan 20.000 orang.\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>\u003Cem>Kutipan penting dari Vasari tentang Luca della Robbia:\u003C\u002Fem>\u003Cbr>&quot;Tidak ada seorang pun yang menjadi terkenal dalam seni apa pun jika sejak awal tidak belajar menahan panas, dingin, lapar, haus, dan ketidaknyamanan lain; sebab orang yang mengira bisa mencapai kehormatan sambil bersantai dan menikmati dunia adalah keliru—kemajuan dan reputasi diperoleh bukan dengan tidur, tetapi dengan terus-menerus berjaga, bekerja, dan berusaha.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Ilustrasi penjelas:\u003C\u002Fstrong>\u003Cbr>Bayangkan Palissy seperti seseorang yang buta di malam hari dan mencoba meraba-raba mencari satu kunci kecil di dalam gudang penuh jerami—tanpa senter, tanpa petunjuk, hanya keyakinan bahwa kunci itu ada. Itulah yang ia lakukan selama 16 tahun, dengan 300 percobaan gagal, sampai akhirnya ia menemukan enamel putih.\u003C\u002Fp>\n"]