[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$ffrygyGpaLAs3et0aPCG1rXbJsZ_qXlpDfE3S0kh5QYQ":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-chemical-history-of-a-candle","The Chemical History of a Candle","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},13,"SUGAR.",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},12,"LECTURE VI.",{"ordinal":19,"title":20},14,"LECTURE ON PLATINUM.","\u003Cp>\u003Cstrong>Ringkasan Bab &quot;SUGAR&quot; – \u003Cem>The Chemical History of a Candle\u003C\u002Fem> (Michael Faraday)\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Gula tersusun atas 72 bagian karbon, 11 bagian hidrogen, dan 88 bagian oksigen. Jumlah hidrogen dan oksigen ini sama persis dengan perbandingan yang membentuk air (H₂O). Artinya, gula bisa dianggap sebagai 72 bagian karbon dan 99 bagian air. Karbon inilah yang kemudian bergabung dengan oksigen dari udara saat kita bernapas — persis seperti lilin yang terbakar — sehingga menghasilkan panas dan proses hidup lainnya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>\u003Cem>&quot;Gula boleh dikatakan terdiri dari 72 bagian karbon dan 99 bagian air; dan karbon dalam gulalah yang bergabung dengan oksigen yang dibawa udara dalam proses pernapasan — menjadikan kita seperti lilin.&quot;\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n\u003Cp>Faraday mendemonstrasikan hal ini dengan mencampur sirup (mengandung sekitar ¾ gula) dengan minyak vitriol (asam sulfat). Air terserap dan meninggalkan karbon murni berwarna hitam pekat. Jika karbon dalam gula dioksidasi dengan zat pengoksidasi yang lebih kuat dari udara, terjadilah pembakaran — persis seperti di dalam paru-paru ketika oksigen dari udara bertemu karbon.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Jumlah karbon yang diubah dalam pernapasan\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Dalam 24 jam:\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>Manusia mengubah sekitar 7 ons karbon menjadi asam arang (CO₂).\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sapi perah: 70 ons.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kuda: 79 ons.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Cp>Semua hewan berdarah panas mendapat panas tubuhnya dari proses ini. Di London saja, setiap hari terbentuk \u003Cem>5.000.000 pon\u003C\u002Fem> (548 ton) CO₂ hasil pernapasan. Gas ini naik ke udara, lalu diserap oleh tumbuhan untuk tumbuh.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cem>Ilustrasi:\u003C\u002Fem> Bayangkan kita tidak bisa menghirup udara yang sama dua kali karena sudah mengandung CO₂ — namun justru udara &quot;kotor&quot; itulah yang menjadi makanan bagi tumbuhan. Ikan di air pun bernapas dengan oksigen yang larut dari udara dan menghasilkan CO₂ yang sama. Semua makhluk saling bergantung: apa yang merugikan satu pihak justru menyehatkan pihak lain.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Perbedaan &quot;menunggu&quot; pada reaksi\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Ada sifat menarik: karbon (seperti dalam arang atau manuskrip) bisa &quot;menunggu&quot; selama bertahun-tahun tanpa bereaksi dengan udara, sementara timbal atau besi yang halus akan langsung terbakar begitu terkena udara. Contoh: manuskrip kuno Herculaneum yang ditulis dengan tinta karbon masih utuh setelah 1.800 tahun.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Sebaliknya, dalam pernapasan, reaksi antara karbon dan oksigen terjadi \u003Cem>seketika\u003C\u002Fem> begitu udara masuk paru-paru, bahkan pada suhu tubuh yang dingin sekalipun. Demikian pula lilin atau gas dari kompor tidak akan menyala sampai cukup panas — setiap zat punya &quot;suhu tunggu&quot; yang berbeda.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Faraday mengakhiri dengan harapan agar kita bisa seperti lilin: menjadi terang bagi sesama dan menjalankan tugas kepada sesama manusia dengan perbuatan yang jujur dan berguna.\u003C\u002Fp>\n"]