[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fJzKN7aFSD0v5THSSdTWj3AyNRCqLna0k3Tai6CPGreg":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-odyssey","The Odyssey","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},11,"BOOK VII.",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},10,"ARGUMENT.",{"ordinal":19,"title":20},12,"BOOK VIII.","\u003Cp>Berikut ringkasan Bab VII \u003Cem>The Odyssey\u003C\u002Fem> dalam Bahasa Indonesia yang jelas dan setia:\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>ARGUMEN. ISTANA ALKINOUS.\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Putri Nausikaa kembali ke kota, dan tak lama kemudian Odisseus menyusul. Di tengah jalan ia bertemu Pallas Athena yang menyamar sebagai gadis muda. Athena membimbingnya ke istana dan memberi petunjuk cara menghadap Ratu Arete. Athena lalu menyelimuti Odisseus dengan kabut agar ia bisa berjalan tanpa terlihat oleh penduduk setempat yang dikenal kurang ramah pada orang asing. Istana dan taman Raja Alkinous digambarkan sangat megah. Odisseus sujud di kaki Ratu Arete, lalu kabut lenyap. Semua orang Faiakia kagum dan menyambutnya dengan hormat. Ratu Arete bertanya bagaimana ia bisa mendapatkan pakaian yang ia kenakan. Odisseus menceritakan kepergiannya dari Kalipso dan kedatangannya di negeri Faiakia. Hari itu berlanjut, dan bab ini berakhir dengan malam.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>RINGKASAN ISI\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Odisseus, setelah ditinggal Nausikaa, berjalan menuju kota. Di pinggir kota ia bertemu Athena yang menyamar sebagai gadis pembawa kendi. Athena menawarkan diri menuntunnya ke istana Alkinous, seraya memperingatkan agar Odisseus tidak berbicara dengan penduduk setempat yang terkenal kasar dan tidak suka orang asing. Athena juga menyelimuti Odisseus dengan kabut tebal sehingga ia tak terlihat.\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>\u003Cem>&quot;Mereka adalah bangsa pelaut yang kasar, seperti laut mereka sendiri. Penduduk pulau hanya peduli pada sesama mereka, dan membenci siapa pun yang datang dari negeri asing.&quot;\u003C\u002Fem> (petunjuk Athena, dikutip dan diterjemahkan)\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n\u003Cp>Sesampainya di istana, Athena menjelaskan silsilah keluarga kerajaan: Ratu Arete adalah keturunan dewa laut, sangat dihormati, dan merupakan orang yang paling tepat untuk dimintai pertolongan. Setelah itu, Athena pergi ke Athena.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Odisseus memasuki istana yang sangat megah. Temboknya dari perunggu, pintu dari emas, tiang dari perak. Ada patung anjing emas dan perak di kedua sisi pintu—hasil karya dewa Hephaistos. Di dalam, ada lima puluh dayang yang bekerja menenun atau menggiling gandum. Taman istana seluas empat hektar, dipagari hijau, ditumbuhi pohon-pohon buah yang berbuah sepanjang tahun: apel, delima, pir, zaitun, anggur. Ada dua mata air: satu mengairi taman, satu lagi mengalir ke istana dan kota.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cem>Bayangkan taman yang tak pernah sepi buah: setiap kali satu buah dipetik, buah lain sudah tumbuh menggantikannya—itulah gambaran kemakmuran istana Alkinous.\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Odisseus masuk dengan kabut pelindung, lalu tiba-tiba kabut lenyap. Ia sujud di kaki Ratu Arete dan memohon bantuan untuk pulang ke tanah airnya. Semua bangsawan terpana melihat penampilannya yang gagah.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Penasihat tua Ekheneus menegur raja karena membiarkan tamu duduk di abu perapian. Alkinous lalu mempersilakan Odisseus duduk di sampingnya, menyajikan makanan dan minuman. Setelah jamuan usai, Alkinous berjanji akan mengadakan pertemuan para pemuka keesokan harinya untuk mengatur pengiriman Odisseus pulang. Ia juga bercerita bahwa para dewa sering mengunjungi bangsa Faiakia secara langsung karena mereka hidup benar dan adil.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Odisseus dengan rendah hati menolak anggapan bahwa ia dewa. Ia mengaku manusia biasa yang paling menderita. Ia sangat merindukan istri, anak, dan tanah airnya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Ratu Arete memperhatikan pakaian Odisseus yang ia kenali buatan tangannya sendiri. Ia bertanya dari mana Odisseus mendapat pakaian itu. Odisseus lalu bercerita: ia terdampar di pulau Ogygia tempat tinggal bidadari Kalipso. Ia dipaksa tinggal tujuh tahun, lalu membuat rakit dan berlayar. Dalam perjalanan, kapalnya hancur diterjang badai kiriman Poseidon. Ia berenang ke pantai Faiakia, kelelahan, lalu tidur di hutan. Keesokan harinya ia bertemu Nausikaa yang memberinya pakaian dan makanan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Alkinous sempat heran kenapa Nausikaa tidak langsung mengantar Odisseus ke istana. Odisseus membela Nausikaa, mengatakan ia sendiri yang memilih tidak ikut karena takut menimbulkan prasangka. Alkinous memuji sikap Odisseus dan berharap ia mau menikahi putrinya, tetapi tak akan memaksa. Ia berjanji akan mengantarkan Odisseus pulang dengan kapal cepat, bahkan sejauh Euboia (sebagai contoh kecepatan kapal Faiakia).\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Odisseus berdoa semoga janji Alkinous terkabul. Setelah itu, Ratu Arete menyuruh dayang menyiapkan tempat tidur mewah bagi Odisseus. Odisseus pun tidur nyenyak di serambi istana, sementara Alkinous dan Arete beristirahat di kamar dalam.\u003C\u002Fp>\n"]