[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fpAaSrdPgtwk2_-AfGcUnwX8as4mc7eSixetzuuomtUw":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-odyssey","The Odyssey","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},13,"BOOK IX.",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},12,"BOOK VIII.",{"ordinal":19,"title":20},14,"BOOK X.","\u003Cp>Setelah berhasil lolos dari jaring-jaring kematian di Troya, Odysseus dan anak buahnya berlayar pulang ke Ithaca. Namun, perjalanan mereka dipenuhi oleh serangkaian bencana yang disebabkan oleh murka para dewa.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kisah Odysseus pada Rakyat Feacia\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Odysseus mulai menceritakan nasibnya. Ia menegaskan bahwa ia adalah putra Laertes, penguasa Ithaca, sebuah pulau yang berbatu namun subur. Meskipun para dewi seperti Kalipso dan Kirke mencoba menahannya, kerinduannya pada tanah air dan orang tuanya tak pernah padam.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>1. Serangan ke Negeri Kikon\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Dari Troya, angin membawa mereka ke Ismarus, negeri Kikon. Odysseus dan pasukannya menjarah kota itu. Ia mendesak mereka untuk segera pergi, tetapi anak buahnya malah berpesta. Keesokan paginya, pasukan Kikon yang lebih besar datang menyerang balas. Dalam pertempuran sengit, enam orang dari setiap kapal tewas. Mereka yang selamat melarikan diri dengan susah payah.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>2. Badai dan Negeri Pemakan Teratai\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Setelah berlayar, Zeus mengirim badai hebat. Selama sembilan hari mereka terombang-ambing di lautan. Pada hari kesepuluh, mereka mendarat di negeri Lotofagi (Pemakan Teratai). Penduduk setempat menyambut mereka dengan ramah dan memberi mereka buah teratai. Siapa pun yang memakannya akan lupa akan kampung halaman dan hanya ingin tinggal di sana selamanya. Odysseus terpaksa menyeret tiga anak buahnya yang sudah kecanduan kembali ke kapal secara paksa.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>3. Negeri Kiklops dan Polifemos\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Latar:\u003C\u002Fstrong> Mereka tiba di negeri Kiklops (raksasa bermata satu). Makhluk-makhluk ini tidak mengenal hukum, pertanian, atau pemerintahan. Mereka tinggal di gua-gua di puncak gunung dan hidup dari hasil alam semata.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Pulau Kambing:\u003C\u002Fstrong> Di dekatnya, ada sebuah pulau tak berpenghuni yang subur, penuh dengan kambing liar. Mereka berlabuh di sana dan berburu, mendapatkan banyak daging. Dari sana, mereka bisa melihat asap dan mendengar suara kambing domba dari negeri Kiklops.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Masuk ke Gua:\u003C\u002Fstrong> Keesokan harinya, Odysseus berlayar dengan satu kapal dan mendarat di dekat sebuah gua besar yang rimbun. Ia memilih 12 orang terbaiknya dan membawa serta sekantong anggur merah yang sangat kuat, hadiah dari Maron (pendeta Apollo).\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Pertemuan dengan Polifemos\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>Gua itu kosong ketika mereka masuk. Di dalamnya, mereka melihat banyak keju, susu, dan kandang domba. Anak buah Odysseus mendesaknya untuk mencuri barang-barang itu dan pergi, tetapi ia menolak. Ia ingin bertemu dengan pemilik gua itu dan berharap mendapat hadiah sebagai tamu.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sore harinya, Polifemos, raksasa yang mengerikan, pulang sambil membawa setumpuk kayu besar. Ia menggiring kawanan dombanya masuk lalu menutup mulut gua dengan batu raksasa yang tak bisa digerakkan oleh dua puluh empat kereta.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Polifemos memerah susu domba-dombanya. Setelah itu, ia melihat Odysseus dan anak buahnya. Ia bertanya dengan suara menggelegak siapa mereka. Odysseus menjawab bahwa mereka adalah prajurit Yunani yang tersesat dan memohon belas kasihan, mengingatkannya akan hukum tentang penghormatan kepada tamu.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Polifemos mengejek: &quot;Kami Kiklops adalah bangsa yang lebih tinggi dari bangsa yang dipelihara oleh Zeus. Kami tidak peduli pada dewa-dewa kalian.&quot; Ia lalu bertanya di mana kapal mereka berlabuh. Odysseus curiga dan menjawab bahwa kapal mereka telah hancur di karang. Ia hanya mengatakan bahwa namanya adalah &quot;Noman&quot; (Tak seorang pun).\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Polifemos langsung menyambar dua orang anak buah Odysseus, membanting mereka ke tanah hingga otak mereka berhamburan, lalu memakan mereka mentah-mentah. Setelah itu, ia tidur.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Rencana Pelarian\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>Odysseus awalnya ingin menusuk jantung raksasa itu saat tidur, tetapi ia sadar mereka tak akan bisa membuka batu sebesar itu sendirian. Ia mengurungkan niatnya.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Keesokan paginya, Polifemos memakan dua orang lagi untuk sarapan, lalu menggiring dombanya keluar untuk digembalakan. Ia menutup pintu gua lagi, mengurung Odysseus dan sisa anak buahnya di dalam.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Odysseus menemukan sebatang kayu zaitun raksasa di dalam gua, sebesar tiang kapal. Ia memotongnya, meruncingkan ujungnya, lalu mengeraskannya dengan api. Ia menyembunyikan kayu itu di bawah tumpukan kotoran.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sore harinya, Polifemos kembali. Seperti biasa, ia memakan dua orang lagi. Odysseus lalu menawarinya anggur. Polifemos sangat menyukainya dan meminta tiga kali isi ulang.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Polifemos, yang sudah mabuk berat, bertanya lagi nama Odysseus. Odysseus menjawab, &quot;Namanaku adalah Noman.&quot; Polifemos lalu berkata, &quot;Baiklah, Noman, inilah hadiahku untukmu: Aku akan memakanmu terakhir, setelah semua temanmu.&quot;\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Polifemos pun tertidur lelap dalam keadaan mabuk. Odysseus dan empat anak buahnya menghanguskan ujung kayu di bara api, lalu menusukkannya langsung ke mata tunggal Polifemos. Mata itu mendesis seperti besi panas yang dicelupkan ke air.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Polifemos menjerit kesakitan. Para Kiklops lain berdatangan dan bertanya dari luar gua, &quot;Ada apa, Polifemos? Ada yang mencuri dombamu atau membunuhmu?&quot; Polifemos menjawab, &quot;Kawan-kawan, Noman membunuhku!&quot; Mereka menjawab, &quot;Kalau tak seorang pun yang menyakitimu, itu pasti hukuman dari Zeus. Berdoalah pada ayahmu, Poseidon.&quot; Lalu mereka pergi.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Pelarian dari Gua\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>Polifemos, yang buta, membuka pintu gua dan duduk di ambang pintu. Ia meraba setiap domba yang keluar untuk memastikan Odysseus tidak lari dengan menungganginya.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Odysseus memiliki ide cemerlang. Ia mengikat tiga ekor domba jantan besar beriringan, lalu mengikat seorang anak buahnya di bawah domba yang di tengah. Ia sendiri memeluk perut domba pemimpin kawanan, yang paling besar, dan bergelayutan di bawahnya.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pagi harinya, ketika domba-domba itu keluar, Polifemos hanya meraba punggung mereka. Ia tidak menyadari bahwa di bawah perut mereka ada manusia. Ketika domba pemimpin lewat, Polifemos bahkan berbicara padanya, &quot;Hai, pemimpinku, kenapa kau paling lambat hari ini? Pasti kau sedih melihat tuanmu buta karena ulah Noman terkutuk itu.&quot;\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Setelah aman di luar, Odysseus dan anak buahnya membawa banyak domba dan kambing ke kapal mereka. Mereka segera berlayar.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Penghinaan dan Kutukan\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>Ketika sudah agak jauh dari pantai, Odysseus berteriak mengejek Polifemos, &quot;Hai, Kiklops! Ternyata kamu bukan lawan yang sepadan. Kamu memakan tamumu, tapi para dewa membalasku!&quot;\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Polifemos marah. Ia mematahkan puncak batu gunung dan melemparkannya ke arah suara itu. Batu itu hampir mengenai kapal dan ombak besar mendorong kapal mereka kembali ke arah pantai. Mereka mendayung sekuat tenaga untuk menjauh.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Ketika sudah dua kali lebih jauh, Odysseus kembali berteriak, meskipun anak buahnya memohon agar ia diam. Ia membuka jati dirinya: &quot;Hai, Polifemos! Jika ada yang bertanya siapa yang membutakanmu, katakan padanya itu Odysseus, putra Laertes, dari Ithaca, perusak Troya!&quot;\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Polifemos meratap. Ia ingat ramalan bahwa seorang bernama Odysseus akan membutakannya. Ia mengira Odysseus adalah seorang raksasa, bukan manusia kecil seperti ini. Ia lalu berdoa kepada ayahnya, Poseidon, &quot;Ayah, jangan biarkan Odysseus pulang ke rumah! Jika ia harus pulang, biarlah ia datang terlambat, sendirian, dengan kapal orang lain, dan dalam keadaan sengsara!&quot;\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Poseidon mendengar doa itu. Polifemos melempar batu lain yang lebih besar, hampir menghantam kapal. Odysseus dan anak buahnya akhirnya selamat dan kembali ke pulau tempat kapal-kapal lain berlabuh.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Di pulau itu, mereka membagi hasil rampasan. Odysseus mempersembahkan domba jantan pemimpin itu kepada Zeus, tetapi Zeus menolak persembahan itu. Zeus sudah berencana untuk menghancurkan semua kapal dan anak buah Odysseus.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Mereka berpesta di tepi pantai hingga malam. Keesokan paginya, mereka berlayar lagi dengan hati gembira karena selamat, namun bersedih karena kehilangan teman-teman mereka.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n"]