[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fCf-xgnvGujleqOxqF9FkGp3aa1lvC158x8ZU8JeeDo0":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-odyssey","The Odyssey","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},14,"BOOK X.",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},13,"BOOK IX.",{"ordinal":19,"title":20},15,"BOOK XI.","\u003Ch2>RINGKASAN BAB X: PETUALANGAN DENGAN AEOLUS, LAESTRYGONS, DAN CIRCE\u003C\u002Fh2>\n\u003Ch2>Bagian 1: Pulau Aeolus\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Odysseus dan anak buahnya tiba di pulau Aeolus yang terapung di laut, dikelilingi tembok perunggu. Raja Aeolus (putra Hippotas) tinggal bersama enam putra dan enam putrinya yang saling menikah. Mereka dijamu selama sebulan penuh, dan Odysseus menceritakan kisah jatuhnya Troya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Saat akan berangkat, Aeolus memberi Odysseus sebuah kantong kulit yang berisi semua angin kencang yang berbahaya, sementara angin Zephyrus yang bersahabat dilepaskan untuk mendorong kapal. Kantong itu diikat dengan tali perak.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Setelah sembilan hari berlayar, mereka sudah melihat kampung halaman. Karena kelelahan, Odysseus tertidur dan melepaskan kemudi. Anak buahnya, yang penasaran dan iri, membuka kantong tersebut karena mengira itu berisi harta. Semua angin kencang keluar sekaligus, menerbangkan kapal kembali ke laut lepas.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Mereka kembali ke pulau Aeolus, tetapi raja menolak membantu, berkata: &quot;Pergilah, dasar keparat! Aku tidak boleh menolong orang yang dibenci para dewa.&quot; Mereka pun pergi dengan putus asa.\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kutipan:\u003C\u002Fstrong> &quot;Rare gift! but O, what gift to fools avails!&quot; (Hadiah langka! Tapi apa gunanya hadiah bagi orang bodoh!)\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n\u003Ch2>Bagian 2: Negeri Laestrygons\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Setelah enam hari berlayar, mereka tiba di negeri Laestrygons, kota Lamos. Tempat itu memiliki teluk yang terlindung tebing-tebing tinggi. Sebelas dari dua belas kapal masuk ke teluk, tetapi Odysseus berlabuh di luar.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Odysseus mengirim utusan untuk menyelidiki. Mereka bertemu putri Raja Antiphates di mata air. Sang putri menunjukkan istana, tapi ketika masuk, mereka melihat ratu raksasa setinggi gunung. Sang raja langsung memburu mereka, membunuh satu orang, sementara dua lainnya lari.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Raja memanggil semua raksasa Laestrygon. Mereka melempar batu-batu besar dari tebing ke kapal-kapal yang masuk teluk. Manusia ditombak seperti ikan dan dimakan. Sebelas kapal hancur. Odysseus cepat memotong tali, memanggul dayung, dan kabur bersama satu kapal yang tersisa.\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Ilustrasi:\u003C\u002Fstrong> Bayangkan Anda berada di teluk kecil yang aman, lalu tiba-tiba raksasa-raksasa sebesar gedung muncul dari atas tebing dan melemparkan batu-batu sebesar mobil ke arah kapal Anda. Teman-teman Anda ditangkap dan dimakan hidup-hidup. Itulah yang dialami sebelas kapal Odysseus.\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n\u003Ch2>Bagian 3: Pulau Circe\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Mereka tiba di teluk Aiaia, tempat tinggal Circe, putri Dewa Matahari dan Perse (dari garis keturunan Oceanus). Circe adalah dewi penyihir yang menguasai sihir dan nyanyian.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Setelah dua hari beristirahat, Odysseus memanjat tebing dan melihat asap mengepul dari tengah hutan. Dalam perjalanan kembali ke kapal, ia membunuh seekor rusa jantan besar untuk dimakan anak buahnya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Keesokan paginya, Odysseus membagi anak buah menjadi dua kelompok. Satu dipimpinnya sendiri, satu lagi dipimpin Eurylochus. Mereka mengocok undi, dan Eurylochus yang maju dengan 22 orang.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Ilustrasi:\u003C\u002Fstrong> Di dunia nyata, membagi tim menjadi dua kelompok untuk menjelajah wilayah asing seperti ini mirip dengan prosedur penyelamatan, di mana satu tim maju dan satu tim siaga sebagai cadangan jika terjadi masalah.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Peristiwa di Istana Circe\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Eurylochus dan anak buahnya menemukan istana batu di lembah hutan. Di sekitar istana, serigala gunung dan singa belang berkeliaran—tetapi jinak karena terkena sihir, mereka menjilati kaki para tamu seperti anjing.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Mereka mendengar nyanyian merdu dari dalam. Circe menyambut mereka dan mempersilakan masuk, tetapi Eurylochus curiga dan tetap menunggu di luar.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Circe menyajikan makanan: susu segar, tepung, madu, dan anggur Pramnia. Namun semua telah dicampur ramuan yang menghilangkan ingatan. Begitu mereka makan, Circe mengayunkan tongkat sihirnya dan mengubah mereka semua menjadi babi—hanya pikiran manusia mereka yang tersisa, sementara tubuh mereka menjadi babi. Mereka dimasukkan ke kandang dan diberi makan biji pohon ek.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Odysseus Melawan Sihir\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Eurylochus kembali dengan berita buruk. Odysseus bersikeras pergi meskipun Eurylochus merangkak memohon agar ia tidak pergi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Di tengah jalan, Dewa Hermes (Mercury) menampakkan diri dalam wujud manusia. Ia memberi Odysseus tanaman bernama \u003Cstrong>Moly\u003C\u002Fstrong>—akar hitam, bunga putih susu—yang merupakan penangkal sihir. Hermes memberi petunjuk:\u003C\u002Fp>\n\u003Col>\n\u003Cli>Biarkan Circe menyajikan ramuannya, karena Moly akan menetralisir racunnya\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Saat Circe mengayunkan tongkat, cabut pedang dan ancam akan membunuhnya\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Circe akan ketakutan dan menawarkan tempat tidurnya\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Paksa dia bersumpah\u003C\u002Fstrong> dengan sumpah para dewa bahwa ia tidak akan menyakiti atau melucuti senjata Odysseus\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Fol>\n\u003Cp>Odysseus melakukan semua itu. Circe terkejut ramuannya tidak mempan dan mengenali Odysseus sebagai orang yang diramalkan Hermes. Setelah bersumpah, Odysseus naik ke ranjangnya.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Pemulihan Anak Buah\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Odysseus mandi dan diberi pakaian baru. Namun ia tidak mau makan karena sedih memikirkan anak buahnya yang jadi babi. Atas desakannya, Circe membebaskan mereka dari kandang dan mengoleskan ramuan lain.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Semua babi berubah kembali menjadi manusia—bahkan lebih muda, lebih tinggi, dan lebih tampan dari sebelumnya. Mereka memeluk Odysseus dengan tangis haru. Melihat itu, bahkan Circe sendiri ikut menangis.\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kutipan:\u003C\u002Fstrong> &quot;E&#39;en Circe wept, her adamantine heart \u002F Felt pity enter, and sustain&#39;d her part.&quot; (Bahkan Circe menangis, hati adamantinnya \u002F Merasa iba masuk, dan mendukung perannya.)\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n\u003Cp>Odysseus kembali ke pantai. Anak buahnya yang menunggu menyambutnya seperti anak sapi menyambut induk sapi pulang ke kandang. Eurylochus sempat menghasut agar tidak ikut, tetapi Odysseus hampir membunuhnya dengan pedang, dan akhirnya Eurylochus ikut juga.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Bagian 4: Setahun di Pulau Circe\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Odysseus dan anak buahnya tinggal di pulau Circe selama setahun penuh, berpesta setiap hari. Namun, saat musim berganti, anak buahnya mulai gelisah dan mendesak pulang ke Ithaca.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Odysseus memohon kepada Circe untuk menepati janjinya. Circe menjawab bahwa ia tidak menahan mereka, tetapi \u003Cstrong>mereka belum bisa pulang\u003C\u002Fstrong>. Sebelum itu, mereka harus melakukan perjalanan lain: \u003Cstrong>menuju alam kematian (Neraka\u002FUnderworld)\u003C\u002Fstrong> untuk menemui Tiresias, sang nabi buta dari Thebes.\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kutipan:\u003C\u002Fstrong> &quot;Ah, hope not yet to breathe thy native air! \u002F Far other journey first demands thy care; \u002F To tread the uncomfortable paths beneath, \u002F And view the realms of darkness and of death.&quot; (Ah, jangan harap kau bisa hirup udara tanah airmu dulu! \u002F Perjalanan lain yang lebih dulu menuntut perhatianmu: \u002F Menginjak jalan-jalan tak nyaman di bawah sana, \u002F Dan melihat alam kegelapan dan kematian.)\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n\u003Cp>Odysseus sangat terpukul mendengar ini, menangis dan membenci hidup. Namun Circe lalu memberi petunjuk lengkap cara melakukan perjalanan ke alam kematian.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Petunjuk Circe untuk Perjalanan ke Alam Maut:\u003C\u002Fh3>\n\u003Col>\n\u003Cli>Pasang layar, angin utara akan menuntun ke ujung Samudra\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Temukan hutan suram Persephone (pohon poplar dan willow) di tepi sungai\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Berlabuh di teluk sunyi, lalu masuk ke dunia bawah\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Di pertemuan Sungai Pyriphlegethon (api), Acheron (dukacita), dan Cocytus (ratapan), gali lubang sedalam satu hasta\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tuang persembahan: madu, susu, anggur, air, dan taburi tepung\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sembelih domba hitam jantan untuk Tiresias\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Arahkan kepala domba ke arah neraka, lalu berpaling dan melihat ke laut\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Ayunkan pedang untuk mencegah arwah mendekati darah—hanya Tiresias yang boleh minum\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tiresias akan memberi petunjuk masa depan\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Fol>\n\u003Ch2>Bagian 5: Kematian Elpenor\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Keesokan paginya, Odysseus membangunkan anak buahnya. Namun satu orang tewas: \u003Cstrong>Elpenor\u003C\u002Fstrong>, pemuda termuda yang tidak terlalu pintar dan pemabuk. Ia tidur mabuk di atap istana, lalu ketika bangun karena hiruk-pikuk, ia lupa jalan turun dan jatuh dari atap, patah leher, dan mati seketika.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Mereka berangkat ke pantai dengan sedih, membawa dua ekor domba (betina hitam dan jantan) yang secara ajaib sudah disiapkan Circe di kapal—karena dewi bisa bergerak tanpa terlihat.\u003C\u002Fp>\n\u003Chr>\n"]