[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fHuIejNmFzAfSTFbqCjTv7avSmFfVKwTafYmv4k2cMBM":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-odyssey","The Odyssey","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},15,"BOOK XI.",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},14,"BOOK X.",{"ordinal":19,"title":20},16,"BOOK XII.","\u003Cp>Odysseus melanjutkan kisahnya. Ia dan anak buahnya tiba di tanah Cimmeria, negeri yang tak pernah tersentuh matahari, diselimuti kabut gelap abadi. Di sana ia melakukan ritual untuk memanggil arwah orang mati: menggali lubang sedepa, menuangkan campuran susu, madu, anggur, dan air, lalu menaburkan tepung. Ia menyembelih domba hitam sebagai persembahan, dan darah mengalir ke dalam lubang.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Seketika muncullah ribuan arwah—pemuda, gadis, orang tua, prajurit yang terluka—semuanya berteriak ngeri. Odysseus menghunus pedang untuk mencegah mereka mendekati darah sebelum ia bertemu Tiresias. Pertama ia melihat arwah Elpenor, anak buahnya yang mati jatuh dari atap istana Circe karena mabuk. Elpenor meminta dimakamkan dengan layak; Odysseus berjanji akan menunaikannya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kemudian muncullah ibunya, Anticlea, namun ia belum bisa bicara karena belum minum darah. Lalu Tiresias muncul, seorang peramal buta. Setelah meminum darah, ia berkata:\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>“Mengapa, manusia, kau tinggalkan cahaya terang untuk turun ke jalan gelap kesedihan? Dewa apa yang membawamu ke sini, masih hidup, menjadi teman orang mati?”\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n\u003Cp>Tiresias meramalkan bahwa perjalanan Odysseus akan sulit karena murka Poseidon atas kebutaan Polifemus. Ia akan tiba di pulau Thrinakia; jika ia dan anak buahnya menyentuh sapi-sapi milik Dewa Matahari, bencana akan menimpa—semua anak buahnya tewas, hanya Odysseus selamat. Sesampainya di Ithaca, ia akan mendapati rumahnya dipenuhi pelamar yang ingin menikahi istrinya. Odysseus harus membunuh mereka. Setelah itu, ia harus melakukan perjalanan ke pedalaman jauh sampai bertemu orang yang tidak pernah tahu laut, lalu mempersembahkan korban kepada Poseidon. Baru ia bisa hidup damai hingga usia tua dan mati tenang.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Setelah Tiresias pergi, Anticlea minum darah dan akhirnya mengenali putranya. Ia bercerita bahwa Penelope masih setia menanti, Telemachus mengurus kerajaan, dan Laertes hidup dalam kesedihan. Anticlea sendiri mati karena rindu pada Odysseus. Odysseus berusaha memeluk ibunya tiga kali, tetapi ia hanya seperti bayangan atau mimpi. Ibunya menjelaskan bahwa setelah mati, tubuh hancur dan jiwa melayang seperti mimpi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kemudian muncullah para pahlawan wanita: Tyro, Antiope, Alcmene, Megara, Jocasta, Chloris, Leda, dan lainnya. Masing-masing memiliki kisah cinta dan keturunan dengan para dewa. Odysseus juga melihat Phaedra, Procris, Ariadne, dan lainnya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Setelah itu, arwah para pahlawan pria muncul. Pertama, Agamemnon yang menceritakan kematiannya: ia dibunuh oleh istrinya Clytemnestra dan kekasihnya Aegisthus saat baru pulang dari perang. Ia memperingatkan Odysseus untuk tidak terlalu percaya pada istri, meski Penelope setia. Ia lalu bertanya tentang putranya Orestes, namun Odysseus tidak tahu.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kemudian Achilles muncul. Ia mengaku lebih baik menjadi budak di dunia daripada raja di alam mati. Ia bertanya tentang putra dan ayahnya. Odysseus menceritakan kehebatan Neoptolemus di medan perang. Achilles pun pergi dengan bangga.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Ajax masih marah karena kalah dalam perebutan senjata Achilles. Odysseus mencoba menenangkannya, tetapi Ajax diam dan pergi dengan sombong.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Odysseus lalu melihat Minos yang menghakimi arwah, Orion berburu binatang, Tityus yang hatinya dimakan burung nasar, Tantalus yang haus dan lapar namun tak bisa meraih air atau buah, dan Sisyphus yang terus mendorong batu besar ke atas bukit. Ia juga melihat Hercules, yang mengaku pernah menderita berat meskipun anak Zeus.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Odysseus ingin melihat Theseus dan Pirithous, tetapi kaget oleh suara gemuruh dan kerumunan arwah mengerikan. Ia takut Gorgon akan muncul dan mengubahnya menjadi batu, maka ia segera kembali ke kapal. Anak buahnya mendayung pergi, meninggalkan dunia bawah.\u003C\u002Fp>\n"]