[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fit1XSHIXdGLXY0d1aU_HAsgwDj7x6eVM0PiEhtULmlY":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-odyssey","The Odyssey","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},16,"BOOK XII.",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},15,"BOOK XI.",{"ordinal":19,"title":20},17,"BOOK XIII.","\u003Cp>\u003Cstrong>RINGKASAN BAB XII: PARA SIREN, SCYLLA, DAN CHARYBDIS\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Setelah kembali dari dunia orang mati, Odysseus dan krunya singgah di pulau Aiaia (tempat tinggal Kirke). Mereka membangun tiang peringatan untuk Elpenor yang tewas. Kirke kemudian muncul dan memberi peringatan tentang bahaya di depan: para Siren, Scylla, dan Charybdis. Ia juga memperingatkan agar jangan menyentuh ternak Dewa Matahari (Helios) di pulau Thrinakia.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Bahaya Siren\u003C\u002Fstrong>\nOdysseus mengikuti petunjuk Kirke: ia menyumbat telinga krunya dengan lilin, lalu meminta mereka mengikatnya di tiang kapal agar ia bisa mendengar nyanyian Siren tanpa bisa mendekat. Saat kapal lewat, para Siren bernyanyi merayu. Odysseus ingin bebas, tapi krunya justru mengikatnya lebih erat. Setelah suara Siren menghilang, mereka membuka sumbat telinga dan melepaskan ikatan Odysseus.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cem>Contoh:\u003C\u002Fem> Bayangkan seseorang yang sangat ingin mendengar lagu indah tapi tahu itu berbahaya. Ia minta teman-temannya mengikatnya supaya tidak bisa mendekat ke sumber lagu itu, meskipun hatinya tergoda.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Scylla dan Charybdis\u003C\u002Fstrong>\nKapal memasuki selat sempit. Di satu sisi, ada Scylla—monster berkepala enam dengan gigi tiga baris, siap menerkam enam orang. Di sisi lain, ada Charybdis—pusaran air raksasa yang tiga kali sehari menelan lalu memuntahkan laut. Odysseus memerintahkan kapal menjauhi Charybdis dan mendekati Scylla, karena lebih baik kehilangan enam orang daripada tenggelam semua. Saat melewati Scylla, monster itu menyambar enam awak kapal terkuat dan memakan mereka hidup-hidup. Odysseus menyaksikan pemandangan paling mengerikan dalam hidupnya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Pulau Thrinakia (Ternak Dewa Matahari)\u003C\u002Fstrong>\nKapal tiba di pulau Thrinakia. Odysseus mengingatkan krunya untuk tidak menyentuh ternak Helios. Namun angin kencang membuat mereka terdampar di pulau itu selama sebulan. Persediaan makanan habis, dan Eurylokhos menghasut kru untuk menyembelih ternak dewa. Mereka melakukannya meskipun dagingnya mengeluarkan suara mengerikan saat dipanggang. Dewa Helios marah dan mengancam akan menyinari dunia orang mati jika tidak dihukum. Zeus pun berjanji akan membalas.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Bencana Kapal dan Akhir Kisah\u003C\u002Fstrong>\nBegitu kapal berlayar, Zeus mengirim badai dahsyat. Semua awak tewas tenggelam kecuali Odysseus yang berpegangan pada lambung kapal yang hancur. Ia terseret kembali ke pusaran Charybdis, tetapi selamat dengan berpegangan pada pohon ara. Kapalnya dimuntahkan kembali, ia menaikinya dan hanyut selama sembilan hari. Pada hari kesepuluh, ia tiba di pulau Ogygia tempat tinggal bidadari Kalypso. Di sanalah ia bercerita kepada Raja Alkinoos tentang semua pengalamannya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>&quot;Kemudian sembilan hari panjang aku mengarungi laut yang lebih tenang, terangkat oleh ombak dan terdorong angin. Lelah dan basah kuyup, aku tiba di pesisir Ogygia saat matahari kesepuluh tenggelam ke lautan. Di sana, di taman harum Kalypso, aku beristirahat dan kegembiraan menghibur waktu-waktu itu.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Demikianlah akhir dari kisah pengembaraan yang disampaikan Odysseus.\u003C\u002Fp>\n"]