[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fFuVlXAQalpAqGapWQgGFe-UVQBen0yAsCRiGZUEoQdI":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-odyssey","The Odyssey","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},21,"ARGUMENT.",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},20,"BOOK XVI.",{"ordinal":19,"title":20},22,"BOOK XVIII.","\u003Cp>Telemachus kembali ke kota dan menceritakan perjalanannya kepada Penelope. Odysseus dibawa oleh Eumaeus ke istana, di mana anjing tuanya Argus mengenali tuannya setelah dua puluh tahun dan mati karena sukacita. Eumaeus kembali ke pedesaan, dan Odysseus tinggal di antara para pelamar. Perilaku mereka digambarkan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Saat fajar, Telemachus bangun, berpamitan kepada Eumaeus, dan memintanya membawa pengemis tua (Odysseus) ke kota untuk mengemis di istana. Odysseus setuju. Telemachus pergi ke istana, disambut Penelope dan para pelayan. Dia menceritakan perjalanannya: ke Pylos menemui Nestor, lalu ke Sparta menemui Menelaus. Menelaus bercerita bahwa Odysseus ditahan oleh Kalipso di sebuah pulau, tanpa kapal untuk pulang. Theoclymenus, seorang peramal, berkata bahwa Odysseus sudah berada di Ithaca dan sedang merencanakan pembalasan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Sementara itu, para pelamar bermain lempar cakram dan tombak di halaman, lalu masuk untuk makan. Eumaeus dan Odysseus berjalan ke kota. Di tengah jalan, mereka bertemu Melanthius, seorang gembala kambing yang sombong. Melanthius menghina Odysseus dan menendangnya, tetapi Odysseus menahan diri. Eumaeus berdoa agar para dewa mengembalikan Odysseus untuk menghukum Melanthius.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Sesampai di istana, Odysseus melihat seekor anjing tua bernama Argus. Anjing itu mengenali tuannya setelah dua puluh tahun, mengibas-ngibaskan ekor, tetapi terlalu lemah untuk mendekat. Odysseus menahan air mata. Argus mati segera setelah melihat tuannya untuk terakhir kalinya.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Telemachus melihat Eumaeus masuk dan menyuruhnya memberi makan pengemis itu. Odysseus masuk sebagai pengemis tua, compang-camping, dan duduk di ambang pintu. Dia mengelilingi para pelamar meminta sumbangan. Semua memberi kecuali Antinous, yang malah melempari Odysseus dengan bangku kaki. Odysseus menahan amarah dan hanya menggelengkan kepala. Para pelamar lain mengecam Antinous karena menyakiti pengemis.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Penelope mendengar kejadian itu dan ingin bertemu dengan pengemis itu, berharap mendapat kabar tentang Odysseus. Eumaeus menyampaikan undangan itu, tetapi Odysseus menunda hingga malam hari, karena takut diganggu para pelamar. Penelope setuju. Eumaeus lalu kembali ke kandang babi setelah berpesan kepada Telemachus untuk berhati-hati.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kutipan kunci:\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>&quot;Anjing itu, yang takdir mengizinkannya melihat tuannya setelah dua puluh tahun berlalu, menatap untuk terakhir kalinya, dan setelah melihatnya, mati; demikianlah selamanya tertutup mata Argus yang setia!&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>&quot;Dia (Odysseus) berdiri, tidak bergerak, seperti batu karang; tetapi menggelengkan kepalanya penuh pikiran, tidak mengeluh lebih banyak, tenang jiwanya, mempertahankan karakternya, dan dalam hati merencanakan pembalasan.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>&quot;Jangan untuk luka itu aku bersedih, tetapi untuk sebabnya. Jika pedang negara menarik kita berperang, atau jika membela yang adil kita terluka, maksud mulia memuliakan bekas luka. Tetapi untuk kemiskinan, betapa berat menderita salah! Kemiskinan membawa cukup banyak derita lain.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n"]