[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fvRCrPpLuoZJjk79SoTk8T7UPZDt2EUVTnjy6Rynwjas":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-odyssey","The Odyssey","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},9,"BOOK V.",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},8,"BOOK IV.",{"ordinal":19,"title":20},10,"ARGUMENT.","\u003Cp>ARGUMEN. KEBERANGKATAN ODISSEUS DARI KALIPSO\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Dewi Pallas dalam dewan para dewa mengeluhkan ditahannya Odisseus di Pulau Kalipso. Karena itu, Merkurius diutus untuk memerintahkan pembebasannya. Tempat tinggal Kalipso digambarkan. Ia akhirnya setuju meskipun dengan berat hati. Odisseus membangun sendiri sebuah kapal dan berlayar. Poseidon menghadangnya dengan badai dahsyat yang menyebabkan kapalnya karam dan ia nyaris mati. Leukothea, dewi laut, membantunya. Setelah melewati bahaya yang tak terhitung, ia akhirnya mencapai daratan di Skheria.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Fajar menyingsing. Para dewa berkumpul di istana Zeus. Pallas mengadukan nasib Odisseus yang tidak adil. Ia menceritakan penderitaan pahlawannya, buaian bidadari Kalipso, dan sihirnya. Ia berkata:\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>&quot;Para raja tidak lagi memerintah dengan lembut, tetapi menghancurkan bangsa-bangsa dengan tongkat besi,&quot; jika Odisseus dilupakan para dewa. &quot;Seorang diri di sebuah pulau... dirantai oleh pesona yang melanggar hukum,&quot; ia mendesah, &quot;dalam pelukan Kalipso.&quot; Tidak ada teman atau kapal untuk membawanya pulang. Sementara itu, &quot;pengkhianat-pengkhianat ganas&quot; menyusun rencana untuk membunuh putra tunggalnya, Telemakhos.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Zeus menjawab bukankah telah ditetapkan bahwa kepulangan Odisseus akan membuat para pengkhianat berdarah? Ia lalu memerintahkan Hermes: &quot;Pergilah kepada bidadari... bawalah perintah ini: Odisseus harus kembali.&quot; Dalam dua puluh hari ia akan tiba di Skheria, tempat para Faiakia yang &quot;setengah dewa, setengah manusia&quot; akan menghormatinya dan mengantarnya pulang dengan &quot;harta yang lebih kaya daripada jarahan Troya.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Hermes terbang ke pulau Kalipso. Gua Kalipso digambarkan indah: ada api dari kayu harum, ia menenun, di luar ada hutan poplar, cemara, pohon anggur dengan buah ungu, empat mata air jernih, dan padang rumput berbunga. &quot;Pemandangan yang, jika seorang dewa memandangnya, ia akan terpesona.&quot; Di pantai, Odisseus duduk menangis, memandang ke laut.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kalipso bertanya kepada Hermes mengapa ia datang. Hermes menjawab: &quot;Atas perintah Zeus... Seorang pria tinggal bersamamu, yang paling menderita. Zeus memerintahkan agar ia segera diizinkan pulang.&quot; Kalipso marah: &quot;Dewa-dewa yang tidak tahu terima kasih!... Apakah aku iri pada dewa-dewa lain? Seorang pria buangan... adalah dosaku untuk mengasihani dan menyelamatkannya.&quot; Namun, ia mengakui, &quot;Kami hanyalah budak Zeus. Ia harus pergi.&quot; Ia berjanji memberi petunjuk.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Hermes pergi. Kalipso menemukan Odisseus yang &quot;sedih dan sendirian di pantai, dengan air mata berlinang.&quot; Ia berkata padanya untuk menebang pohon, membuat rakit, dan pergi. Odisseus curiga: &quot;Beberapa motif lain... membimbing pikiranmu.&quot; Ia meminta Kalipso bersumpah. Kalipso bersumpah demi bumi, langit, dan Styx bahwa niatnya tulus. Mereka lalu masuk gua, makan, dan Kalipso bertanya apakah ia lebih rendah dari istri fana Odisseus. Odisseus menjawab:\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>&quot;Meskipun aku melihat pesonamu jauh di atas objek cintaku yang fana... Aku rindu untuk kembali dan mati di rumah.&quot; Apa pun takdirnya, &quot;aku bisa menderita: kehendak mereka jadi!&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Keesokan paginya, Kalipso memberi Odisseus kapak dan baji. Ia pergi ke hutan, menebang dua puluh pohon, menghaluskan dan menyambungnya, membuat rakit sebesar kapal. Ia memasang tiang, layar, dan kemudi. Empat hari kemudian, pada hari kelima, Kalipso memberinya pakaian, minyak, air, anggur, dan makanan, serta angin sepoi-sepoi. Odisseus berlayar.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Selama tujuh belas malam ia berlayar. Keesokan harinya, daratan Faiakia tampak. Namun, Poseidon melihatnya dari Gunung Solymi. Ia marah: &quot;Apakah kekuasaan di langit begitu tidak menentu?... Apakah amarah kami sia-sia?&quot; Ia mengacungkan trisulanya, mengaduk laut, dan mengerahkan semua angin. Badai dahsyat melanda.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Odisseus putus asa. Ia berkata, &quot;Berbahagia, tiga kali berbahagia, mereka yang gugur di medan perang di Troya!... Nasib memalukan kini menyembunyikan kepalaku yang malang.&quot; Ombak besar menerjang rakitnya, tiang patah, ia terlempar ke laut. Ia berenang kembali ke rakit. Leukothea, dewi laut yang dulu manusia, muncul sebagai burung camar dan berkata: &quot;Tinggalkan rakitmu... berenanglah ke daratan Faiakia... Ikat syal suci ini di dadamu... Segera setelah kau tiba di pantai, buanglah ke laut.&quot; Odisseus ragu-ragu, tetapi ketika rakitnya hancur oleh ombak raksasa, ia melepas pakaian, mengikat syal itu, dan berenang. Poseidon mengejeknya lalu pergi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Pallas menenangkan angin, hanya menyisakan angin utara yang mendorong Odisseus. Selama dua malam dua hari ia terapung, &quot;terengah-engah dalam pelukan maut.&quot; Pada pagi ketiga, laut tenang. Ia melihat daratan, tetapi pantainya penuh tebing dan ombak pecah. Ia nyaris hancur terbentur karang. Ia berpegangan pada batu hingga terkoyak, tetapi ombak menariknya kembali. Ia berenang mencari teluk. Akhirnya, ia menemukan muara sungai. Ia berdoa kepada dewa sungai. Air sungai menjadi tenang dan menerimanya. Ia mendarat, kelelahan. Ia melepas syal Leukothea dan membuangnya ke laut. Ia menemukan tempat tidur dari daun-daun di bawah pohon zaitun. Ia menyelimuti dirinya dengan dedaunan. Pallas menidurkannya dengan mimpi emas.\u003C\u002Fp>\n"]