[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fs2EAIDQoeQKmgSY3gX3mjvYUlkA2Qr8EfSyhSgX6R7A":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-pagan-tribes-of-borneo-a-description-of-their-physical-moral-and-intellectual-condition-with-some-discussion-of-their-ethnic-relations","The Pagan Tribes of Borneo: A Description of Their Physical Moral and Intellectual Condition, with Some Discussion of Their Ethnic Relations","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},10,"CHAPTER 5",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},9,"CHAPTER 4",{"ordinal":19,"title":20},11,"CHAPTER 6","\u003Cp>\u003Cstrong>Ringkasan Bab 5 – Sistem Sosial\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Suku Kayan adalah suku yang homogen dan terdefinisi dengan baik. Meskipun tersebar luas, mereka memiliki bahasa, adat, tradisi, dan keyakinan yang sama. Perbedaan kecil antardaerah tidak lebih besar dari perbedaan antar desa di Inggris. Setidaknya ada 15 sub-suku Kayan, yang namanya memuat kata \u003Cem>UMA\u003C\u002Fem> (berarti desa atau pemukiman). Setiap sub-suku kemungkinan merupakan desa asli sebelum suku tersebut menyebar. Meskipun ada rasa kesukuan yang kuat, setiap desa sepenuhnya independen. Kepala desa hanya akan meminta saran dari kepala desa tetangga untuk urusan penting seperti perang atau pemindahan desa.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Sebuah desa Kayan biasanya terdiri dari beberapa rumah panjang. Setiap rumah dipimpin oleh seorang kepala rumah, namun salah satu dari mereka diakui sebagai kepala desa. Urusan rumah tangga kecil diselesaikan oleh kepala rumah, sedangkan urusan penting seperti perang, perdamaian, atau perselisihan antar rumah dibawa ke kepala desa yang bermusyawarah dengan kepala-kepala rumah lainnya. Hukuman biasanya berupa denda (gong, pedang, atau barang berharga). Kepala desa lebih berperan sebagai arbiter dan mediator, bukan hakim. Ia juga bertanggung jawab atas pengamatan pertanda buruk, pengaturan \u003Cem>MALAN\u003C\u002Fem> (tabu), dan memimpin upacara sosial dan keagamaan. Otoritasnya bergantung pada dukungan opini publik. Jika rakyat tidak puas, mereka bisa pindah dan membangun rumah baru dengan kepala baru. Jabatan kepala bersifat elektif, namun biasanya diwariskan kepada putra yang paling cakap. Jika tidak ada putra dewasa, orang tua yang cakap akan dipilih.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Suku Kenyah memiliki organisasi sosial yang mirip dengan Kayan, tetapi kepala suku Kenyah memiliki wewenang dan pengaruh yang lebih besar. Rakyat bekerja sukarela untuk kepala mereka, dan kepala lebih murah hati serta paternalistik. Ini membuat kohesi komunitas lebih kuat. Di antara suku Klemantan, Murut, dan Dayak Laut, kepala rumah memiliki sedikit wewenang dan lebih berperan sebagai arbiter.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Stratifikasi Sosial\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Tiga strata sosial jelas ada di kalangan Kayan dan Kenyah:\u003C\u002Fp>\n\u003Col>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Kelas Atas:\u003C\u002Fstrong> Terdiri dari keluarga kepala dan kerabat dekatnya. Mereka memiliki properti lebih banyak (barang kuningan, manik-manik, gua sarang burung walet, budak). Mereka dapat dibedakan dari penampilan, sikap, dan pakaian yang lebih bersih dan berharga. Pria kelas atas bekerja di ladang padi, tetapi dibantu budak. Wanita kelas atas juga dibantu budak. Ruangan kepala biasanya di tengah rumah, dan ruangan keluarga kelas atas lainnya bersebelahan. Dalam pertemuan sosial, mereka mendapat peran utama.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Kelas Menengah:\u003C\u002Fstrong> Mayoritas penghuni rumah. Mereka memiliki properti lebih sedikit dan jarang memiliki budak. Suara mereka kurang berpengaruh dalam urusan publik, tetapi beberapa orang yang cakap dan berpengalaman dihargai oleh kepala. Di kelas ini ada spesialis seperti pandai besi, pembuat perahu, atau pemburu kapur barus.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Kelas Bawah:\u003C\u002Fstrong> Terdiri dari budak hasil perang dan keturunan mereka. Mereka diperlakukan dengan baik, dipanggil &quot;Anakku&quot; oleh majikan, jarang dipukul, dan tidak dibedakan dari segi pakaian. Budak diizinkan menikah, dan anak-anak mereka menjadi milik majikan. Beberapa keluarga budak bisa mendapatkan ruangan sendiri dan mulai memperoleh posisi yang lebih mandiri.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Fol>\n\u003Cp>Perkawinan hampir selalu terjadi dalam kelas masing-masing. Perkawinan kelas atas diatur oleh orang tua dan kepala. Jika pemuda kelas atas mencintai gadis kelas menengah tetapi tidak diizinkan menikah, ia bisa hidup bersamanya untuk sementara waktu. Anak-anak dari hubungan ini mungkin mendapatkan beberapa hak istimewa kelas atas. Perkawinan antara kelas menengah dan budak juga terjadi, dan dapat mengarah pada emansipasi budak. Secara keseluruhan, budak diperlakukan dengan baik dan jarang ingin bebas.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Keluarga\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Hanya sedikit pria yang memiliki lebih dari satu istri. Poligami jarang terjadi dan tidak disukai. Inses dilarang keras, dengan derajat kekerabatan yang dilarang mirip dengan masyarakat Barat (ibu, saudara perempuan, anak perempuan, bibi, keponakan). Sepupu pertama boleh menikah tetapi tidak direstui. Prakarsa pacaran hampir selalu dari pemuda. Ia akan mengunjungi gadis itu di malam hari, bermain alat musik, atau menyanyikan lagu cinta. Jika gadis itu menyukainya, ia akan memberinya rokok yang diikat dengan cara khusus. Jika hubungan berlanjut, keluarga pemuda akan memberi tahu kepala desa. Jika disetujui, pemuda memberikan gong atau manik berharga sebagai tanda keseriusan. Pertanda baik dan buruk diamati dengan saksama sebelum pernikahan. Jika pertanda buruk, pernikahan ditunda setahun. Setelah menikah, pasangan tinggal di rumah mertua selama 1–3 tahun, lalu pindah ke rumah sendiri. Perceraian jarang terjadi di kalangan Kayan, tetapi bisa terjadi karena perselingkuhan, penelantaran, atau kesepakatan bersama. Perceraian lebih mudah di kalangan Dayak Laut.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Adopsi\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Adopsi cukup umum, terutama karena pasangan mandul sangat ingin memiliki anak. Mereka biasanya mengadopsi anak kerabat, tetapi bisa juga anak budak. Beberapa suku Klemantan melakukan upacara simbolis di mana wanita yang mengadopsi duduk dalam posisi melahirkan dan anak didorong dari belakang di antara kedua kakinya, seolah-olah ia baru lahir. Orang tua sulit mengakui bahwa anak itu adopsi karena mereka menganggapnya seperti anak kandung.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Nama\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Anak tidak diberi nama sampai usia 3-4 tahun, untuk menghindari perhatian roh jahat. Nama pertama jarang dipakai seumur hidup; sering diubah setelah sakit parah atau kecelakaan agar roh jahat tidak mengenali. Setelah anak pertama lahir, orang tua dipanggil &quot;Bapa (nama anak)&quot; dan &quot;Ibu (nama anak)&quot;, nama asli mereka hampir dilupakan. Jika anak pertama meninggal, ayah mendapat gelar \u003Cem>OYONG\u003C\u002Fem>; jika istri meninggal, \u003Cem>ABAN\u003C\u002Fem>; jika saudara laki-laki meninggal, \u003Cem>YAT\u003C\u002Fem>; jika saudara perempuan meninggal, \u003Cem>HAWAN\u003C\u002Fem>. Kakek mendapat gelar \u003Cem>LAKI\u003C\u002Fem>. Istilah kekerabatan sedikit dan digunakan secara longgar. \u003Cem>PARIN IGAT\u003C\u002Fem> berarti sepupu atau kerabat segenerasi. \u003Cem>PANAK\u003C\u002Fem> berarti anak-anak dari orang tua yang sama. \u003Cem>BAKIS\u003C\u002Fem> adalah teman karib.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Warisan\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Harta dibagi antara janda dan anak-anak. Seorang pria tua sering membagi hartanya sebelum mati untuk mencegah pertengkaran. Janda mewarisi peralatan rumah tangga dan menjadi kepala rumah. Gong, senjata, perahu dibagi rata di antara putra. Manik-manik, kain, dan barang kecil lainnya dibagi di antara putri. Budak laki-laki untuk putra, budak perempuan untuk putri. Gua sarang burung walet dan pohon lebah dibagi di antara semua anak. Anak yang merawat orang tua di hari tua biasanya mewarisi barang berharga.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kesatuan Rohani Rumah Tangga\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Anggota rumah tangga tidak hanya terikat oleh tempat tinggal dan kerja sama, tetapi juga oleh perlindungan rohani dari burung-burung pertanda yang melindungi seluruh rumah. Karena itu, sulit bagi satu keluarga untuk pindah dari rumah lama, dan rumah tangga enggan menerima anggota baru. Jika ada yang bersikeras pindah, ia dikenakan denda dan harus meninggalkan struktur rumahnya. Keluarga baru yang diterima biasanya hanya tinggal di beranda sampai rumah baru dibangun.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kutipan kunci: \u003Cem>&quot;Suku Kayan merupakan suku atau bangsa yang terdefinisi dengan baik dan homogen... semua terikat oleh perasaan bersama terhadap nama suku, reputasi, tradisi, dan adat istiadat.&quot;\u003C\u002Fem> \\\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cem>&quot;Secara keseluruhan, kepala desa lebih berperan sebagai arbiter dan mediator yang memberikan kompensasi kepada pihak yang dirugikan, daripada sebagai hakim.&quot;\u003C\u002Fem> \\\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cem>&quot;Adopsi tidak jarang terjadi. Keinginan untuk memiliki anak, terutama anak laki-laki, bersifat umum dan kuat.&quot;\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Ilustrasi penjelas:\u003C\u002Fstrong> Bayangkan seperti ini: Seorang pemuda Kayan yang jatuh cinta pada gadis dari kelas menengah, tetapi tidak diizinkan menikah karena perbedaan kelas, bisa hidup bersama gadis itu untuk sementara. Jika ia kemudian menikahi gadis kelas atas yang telah diatur, ia harus meninggalkan gadis kelas menengah itu dan anak-anak mereka. Anak-anak ini mungkin tetap diakui memiliki beberapa hak istimewa dari ayahnya, meskipun status mereka ambigu. Ini menunjukkan bagaimana sistem kelas bekerja dalam kehidupan sehari-hari.\u003C\u002Fp>\n"]