[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fwcfny13uOX_kvdh_Ezi9a_9-imY9JqMXbicvXLHnD6w":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-pagan-tribes-of-borneo-a-description-of-their-physical-moral-and-intellectual-condition-with-some-discussion-of-their-ethnic-relations","The Pagan Tribes of Borneo: A Description of Their Physical Moral and Intellectual Condition, with Some Discussion of Their Ethnic Relations","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},11,"CHAPTER 6",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},10,"CHAPTER 5",{"ordinal":19,"title":20},12,"CHAPTER 7","\u003Cp>\u003Cstrong>Ringkasan Bab 6: Pertanian\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Bagi hampir semua suku pedalaman Kalimantan (kecuali Punan dan Melanau), padi yang mereka tanam sendiri adalah makanan pokok. Padi menjadi bagian utama setiap kali makan sepanjang tahun, kecuali saat buah hutan melimpah. Jika panen gagal, mereka menggantinya dengan sagu liar, jagung, ubi kayu, dan ubi jalar—meski semua itu dianggap pengganti yang jauh lebih rendah dari nasi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Cara Mengolah Lahan\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kecuali suku Dusun (cabang Murut di Kalimantan Utara) yang belajar membajak dari orang Tionghoa, dan sebagian Kalabit serta Klemantan pesisir yang membajak sawah dengan kerbau (kemungkinan pengaruh dari Filipina atau Indo-Cina), semua suku lain mengolah lahan dengan cara yang sangat sederhana: \u003Cstrong>menebang hutan dan membakarnya\u003C\u002Fstrong> agar abu menyuburkan tanah. Setelah satu kali panen, rumput liar tumbuh subur dan tidak bisa lagi dibakar seperti sebelumnya. Karena itu, lahan harus \u003Cstrong>dibiarkan bera (tidak ditanami) minimal dua tahun\u003C\u002Fstrong>. Dalam masa bera, hutan muda tumbuh cepat dan menekan rumput liar, lalu setelah tiga tahun lahan bisa ditebang dan dibakar lagi untuk ditanami. Tanah yang sama hanya bisa dipakai tiga atau empat kali (dengan jeda 2–4 tahun), lalu hasilnya menurun drastis sehingga mereka beralih ke hutan perawan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cem>Ilustrasi:\u003C\u002Fem> Bayangkan sebuah ladang yang baru dibuka seperti lahan kosong yang subur setelah dibakar. Namun jika terus ditanami tanpa jeda, tanah akan &quot;lelah&quot; dan hasil panen mengecil, jadi mereka harus pindah ke hutan baru.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Karena dalam 12–15 tahun lahan di sekitar desa (radius ~3 mil) habis, seluruh desa pindah ke lokasi baru yang tanahnya subur. Setelah sepuluh tahun atau lebih, mereka bisa kembali ke lokasi lama jika tidak ada bencana (penyakit, kebakaran, serangan). Tanah yang sudah lama bera hampir sebagus hutan perawan, dan lebih mudah ditebang, meski hasilnya tetap lebih rendah.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Proses Bercocok Tanam\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Col>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Memilih lahan:\u003C\u002Fstrong> Setiap keluarga memiliki petaknya sendiri, biasanya di lereng bukit dekat sungai agar drainase baik dan akses mudah.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Menebang pohon:\u003C\u002Fstrong> Pria membersihkan semak, lalu memotong pohon besar dengan kapak kecil di atas panggung setinggi ~15 kaki untuk melewati akar panggung. Dua pria menebang dari sisi berlawanan. Kemudian satu atau dua pohon besar ditebang untuk menumbangkan pohon-pohon lain seperti efek domino. Proses ini sangat cepat (misal pohon diameter 2–3 kaki hanya butuh ~30 menit).\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Pembakaran:\u003C\u002Fstrong> Kayu dibiarkan kering selama beberapa minggu, lalu dibakar dengan memilih hari berangin dan &quot;bersiul untuk angin&quot; agar api semakin besar. Api menyala hebat selama beberapa jam, lalu membara selama beberapa hari. Jika pembakaran kurang sempurna, kayu-kayu ringan ditumpuk dan dibakar lagi.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Menanam:\u003C\u002Fstrong> Abu yang sudah dingin ditanami padi. Pria membuat lubang sedalam ~6 inci dengan tongkat kayu, wanita mengikuti sambil menjatuhkan 3–4 butir benih ke setiap lubang dari keranjang leher. Tidak ada penutupan lubang. Beberapa hari kemudian hujan mulai turun dan benih tumbuh.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Menjaga tanaman:\u003C\u002Fstrong> Setelah menanam, mereka membangun pondok kecil dan alat pengusir hama: bambu setinggi ~8 kaki dipasang setiap 20–30 yard, dihubungkan rotan ke pondok. Wanita atau anak-anak menarik rotan secara bergiliran agar alat bergoyang dan berisik. Ada juga sistem yang memanfaatkan arus sungai untuk menggerakkan bambu (dipelajari dari Klemantan). Pagar kasar setinggi 3–4 kaki dibuat dari bambu atau ranting untuk mengusir babi hutan dan kijang. Penjagaan dilakukan siang-malam sejak padi setinggi ~2 kaki sampai panen selesai.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Penyiangan:\u003C\u002Fstrong> Wanita mencabut rumput liar dengan cangkul pendek sebanyak dua kali, masing-masing berselang sebulan.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Panen:\u003C\u002Fstrong> Semua orang (pria, wanita, anak-anak) ikut memanen dengan pisau kecil di genggaman. Burung gereja (Munia) sulit dihalau, karena itu mereka memanen bulir yang sudah masak. Bulir dijemur di atas platform, lalu diinjak-injak untuk memisahkan biji. Gabah dijemur lagi, lalu diangkut ke lumbung padi di samping rumah dengan sukacita.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Fol>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Penentuan Musim dan Peran &quot;Juru Cuaca&quot;\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Menentukan waktu menanam sangat penting. Di setiap desa ada seorang pria yang menjadi &quot;juru cuaca&quot; (tidak bergelar resmi tapi dihormati). Ia tidak perlu menanam padi untuk dirinya sendiri; desa menyediakan kebutuhannya. Ia mengamati \u003Cstrong>perubahan panjang bayangan matahari tengah hari\u003C\u002Fstrong> dengan alat bernama \u003Cstrong>Tukar Do\u003C\u002Fstrong> atau \u003Cstrong>Aso Do\u003C\u002Fstrong>: sebuah tiang kayu keras tegak lurus di tanah, di atas lahan rata dan berpagar. Tinggi tiang seukuran rentang tangan pembuat ditambah jarak ujung jempol ke jari telunjuk. Bayangan diukur dengan tongkat bertakuk yang disejajarkan dengan lengan kiri dari ketiak ke ujung jari. Takik pada tongkat menandai panjang bayangan pada hari-hari tertentu. Saat bayangan mencapai takik sebatas lengan bawah, itulah waktu terbaik menanam. Waktu lain dianggap membawa risiko hama lebih banyak.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cem>Ilustrasi:\u003C\u002Fem> Bayangkan sebuah tiang di halaman. Setiap hari tengah hari, bayangannya memendek atau memanjang. Juru cuaca menandai panjang bayangan itu dengan takik di tongkat, lalu berdasarkan pengalaman bertahun-tahun, ia tahu takik mana yang menandai musim tanam yang tepat.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Ada pula metode lain: suku Kayan melubangi atap rumah dan mengukur titik cahaya matahari di papan lantai. Suku Klemantan menggunakan bambu berisi air yang dimiringkan ke arah bintang tertentu, lalu tinggi permukaan air yang tersisa menjadi patokan. Suku Dayak Laut (Sea Dayaks) mengamati posisi gugus bintang Pleiades.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Ritual dan Kepercayaan\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Semua proses pertanian diiringi ritual. Sebelum membuka lahan, mereka mencari \u003Cstrong>pertanda baik\u003C\u002Fstrong> (omen). Biasanya babi dan ayam dikorbankan, lalu dua pria berlayar mencari burung laba-laba atau burung\u002F hewan lain. Suara dan penampakan burung-burung tertentu serta kijang (Muntjac) dianggap penting. Jika omen baik, mereka pulang; jika tidak, mereka menunggu dua hari lagi. Selama itu rumah dalam keadaan \u003Cstrong>malam\u003C\u002Fstrong> (pantangan). Setelah omen baik diumumkan, kepala adat menetapkan hari mulai kerja.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Saat menanam, rumah kembali malam selama sehari. Selama padi tumbuh, wanita menggunakan \u003Cstrong>jimat padi\u003C\u002Fstrong> (batu aneh, gading babi, manik-manik, bulu, kristal) yang diwariskan dari ibu ke anak perempuan. Jimat itu dibawa ke ladang dan dikibaskan bersama ayam hidup sambil membaca mantra: &quot;Semoga batangmu baik dan pucukmu baik... hai tikus, larilah ke hilir; hai burung gereja dan hama, pergilah makan padi orang di hilir.&quot; Jika hama membandel, ayam disembelih dan darahnya dipercikkan ke tanaman.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Wanita sendirilah yang memetik bulir pertama. Jika dalam perjalanan ke ladang mereka menjumpai ular, laba-laba, kelabang, kaki seribu, atau burung tertentu, mereka harus pulang dan berdiam sehari semalam; jika tali keranjang putus, tunggul tumbang, atau terdengar suara burung laba-laba, mereka juga harus pulang. Hal ini dipercaya untuk menghindari sakit atau kematian.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Peran Wanita dalam Budaya Padi\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Wanita memegang peran utama dalam ritual dan pekerjaan budidaya padi. Mereka memilih dan menyimpan benih, serta menyimpan pengetahuan tentang padi. Padi dianggap memiliki &quot;jiwa&quot; atau &quot;roh&quot;, dan wanita dianggap memiliki kedekatan alami dengan tanaman yang subur. Wanita kadang tidur di ladang saat padi tumbuh, mungkin untuk meningkatkan kesuburan diri atau padi, meskipun mereka enggan membicarakan hal ini.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Festival Panen\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Setelah semua padi terkumpul, rumah kembali malam selama sepuluh hari. Kemudian festival dimulai dengan \u003Cstrong>persiapan benih\u003C\u002Fstrong> untuk musim berikutnya. Wanita memilih padi terbaik, mencampurnya dengan sedikit benih dari tahun-tahun sebelumnya yang disimpan dalam keranjang khusus. Keranjang ini tidak pernah dikosongkan; secuil padi lama dicampur ke yang baru, lalu segenggam campuran ditambahkan ke stok lama. Tujuannya agar kontinuitas &quot;jiwa padi&quot; terjaga dari generasi ke generasi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cem>Kutipan kunci:\u003C\u002Fem> &quot;Sementara mencampur benih lama dengan yang baru, wanita itu memanggil jiwa padi agar benih berbuah lebat dan tumbuh kuat, serta memberkati kesuburannya sendiri.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Acara lain: wanita yang melahirkan setahun terakhir membuat mainan anyaman berisi nasi untuk anak-anak yang berebut di galeri. Empat kumbang air ditangkap dan diletakkan di air dalam gong; seorang tua menafsirkan gerakan mereka sebagai ramalan panen mendatang dan memohon kepada \u003Cstrong>Laki Ivong\u003C\u002Fstrong> (dewa panen) agar membawa jiwa padi ke rumah. Air tebu dituang ke air itu, wanita meminumnya, lalu kumbang dikembalikan ke sungai.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Setelah ritual, suasana berubah menjadi \u003Cstrong>pesta pora\u003C\u002Fstrong>. Wanita membuat bantalan nasi ketan hitam dan mengoleskannya ke wajah dan tubuh pria. Pria membalas. Ini adalah karnaval tahunan di mana pelanggaran ringan dimaafkan. Mereka minum \u003Cstrong>burak\u003C\u002Fstrong> (tuak dari padi baru), makan nasi dan babi, menari (tari solo meniru kera\u002Fhornbill\u002Fikan, atau tarian kelompok seperti \u003Cem>lupa\u003C\u002Fem>, \u003Cem>kayo\u003C\u002Fem>, \u003Cem>lakekut\u003C\u002Fem>, \u003Cem>lupak\u003C\u002Fem>), dan menyanyi. Ada juga tari \u003Cem>Departure of the Spirit\u003C\u002Fem> yang dramatis menggambarkan kematian dan kebangkitan dengan air kehidupan—kadang membuat penonton menangis.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kesimpulan\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Bagi suku-suku di Kalimantan, pertanian padi bukan sekadar kegiatan teknis, tetapi sangat terkait dengan \u003Cstrong>kepercayaan spiritual dan ritual\u003C\u002Fstrong>. Wanita memegang peran sentral, dan pengamatan alam serta omen sangat menentukan kesuksesan. Sistem tebang-bakar dan rotasi lahan menunjukkan adaptasi terhadap lingkungan hutan tropis yang lembap dan subur tetapi cepat terkuras. Seluruh siklus pertanian dijalani dengan penuh kegembiraan, terutama saat panen yang merupakan puncak perayaan kesuburan dan kehidupan.\u003C\u002Fp>\n"]