[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fO5MG9PdT1y7ibc_0GQDVewBJ4MGpDCwFQKWYObLzaJY":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-pagan-tribes-of-borneo-a-description-of-their-physical-moral-and-intellectual-condition-with-some-discussion-of-their-ethnic-relations","The Pagan Tribes of Borneo: A Description of Their Physical Moral and Intellectual Condition, with Some Discussion of Their Ethnic Relations","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},15,"CHAPTER 10",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},14,"CHAPTER 9",{"ordinal":19,"title":20},16,"CHAPTER 11","\u003Ch2>Ringkasan Bab 10: Perang\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Suku Kayan umumnya tidak agresif, kecuali dibandingkan suku Punan yang sama sekali tidak suka perang. Namun, kegagahan mereka dalam perang membuat semua suku lain menghormati atau takut pada mereka. Selama satu abad terakhir, mereka menguasai daerah tengah sungai-sungai besar, mengusir banyak komunitas Klemantan—baik lewat perang maupun dengan cara mengambil alih hutan yang cocok untuk menanam padi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Alasan perang\u003C\u002Fstrong> utama Kayan adalah dua hal, yang kerap digabung: (1) membalas dendam atas cedera yang menimpa anggota suku, dan (2) kebutuhan akan kepala manusia untuk ritual pemakaman. Dendam bisa ditunda bertahun-tahun sampai kepala baru benar-benar diperlukan. Meskipun kepala kering (lama) bisa dipakai untuk mengakhiri masa berkabung, kepala segar lebih diinginkan—terutama jika yang meninggal adalah seorang pemimpin penting.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kayan jarang atau tidak pernah berperang antar-sesama Kayan. Mereka juga tidak menyerang hanya demi kepala atau kesombongan belaka seperti yang sering dilakukan Iban. Perang direncanakan dengan matang, dalam kelompok besar (50–1.000+ prajurit), dipimpin seorang panglima tertinggi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Senjata utama\u003C\u002Fstrong> adalah pedang \u003Cem>parang ilang\u003C\u002Fem> atau \u003Cem>malat\u003C\u002Fem>: bilah baja berat sepanjang ~55 cm, tepi tajam sedikit melengkung, dan sisi dalam bilah sedikit cekung (untuk memudahkan penarikan setelah tebasan). Pedang ini selalu dibawa ke mana-mana, berguna juga untuk menebas semak dan memotong rotan. Senjata kedua adalah tombak: bilah baja rata ~30 cm, gagang kayu ~2 meter, bisa ditusukkan, dilempar, atau digunakan menangkis. Sumpit (berdart beracun) dipakai untuk berburu, bukan untuk perang serius. Ada juga lembing pendek dan batang kayu besi yang dilempar sambil berputar di udara, terutama untuk pertahanan rumah.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Perlengkapan perang\u003C\u002Fstrong> meliputi:\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Topi perang\u003C\u002Fstrong>: anyaman rotan rapat, melindungi tempurung kepala.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Baju perang\u003C\u002Fstrong>: dari kulit kambing, beruang, atau harimau kucing (khusus kepala suku). Menutupi dada dan punggung hingga lutut.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Perisai\u003C\u002Fstrong>: papan kayu lunak berbentuk lonjong (~1,2 m), sisi luar agak cembung membentuk sudut tumpul, sisi dalam cekung dengan pegangan. Diikat rotan agar pedang yang tertancap tidak membelah perisai. Perisai Kayan dicat merah dan hitam tanpa hiasan lain. Suku Kenyah menghias perisai mereka dengan wajah manusia bergaya besar dari lingkaran konsentris dan taring, serta sering ditambahi rambut manusia dari kepala musuh.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Perahu perang\u003C\u002Fstrong> dibuat dari satu batang kayu, panjang hingga ~30 meter (ada yang sampai ~44 m), lebar 1,8–2,1 m di tengah, muat 60–70 orang duduk berpasangan. Kecepatan dayungnya setara dengan dayung beregu universitas.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Prosedur Perang\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Perang diputuskan setelah musyawarah panjang antara kepala suku dan tetua. Langkah selanjutnya adalah \u003Cstrong>mencari pertanda\u003C\u002Fstrong> (omen) di hutan atau tepi sungai. Dua laki-laki ditugaskan mengamati suara dan gerakan burung serta hewan tertentu dalam urutan tertentu. Burung \u003Cem>Arachnothera\u003C\u002Fem> (pemakan laba-laba) yang terbang menyebrang sungai sambil berkicau menjadi pertanda awal untuk mendirikan pondok dan tiang omen. Lalu burung \u003Cem>trogon\u003C\u002Fem> (dada merah) dicari; kemudian mimpi (buah melimpah pertanda baik). Puncaknya adalah pengamatan \u003Cstrong>elang\u003C\u002Fstrong> (\u003Cem>Laki Neho\u003C\u002Fem>): elang yang terbang ke kiri hingga hilang dari pandangan dianggap pertanda paling baik. Jika semua berjalan baik, para prajurit berkemah di dekat tempat omen, tidak boleh pulang ke rumah. Sejak meninggalkan desa, banyak pantangan berlaku: tak boleh makan kepala ikan, harus pakai periuk tanah buatan sendiri, api hanya dari gesekan kayu, tak boleh merokok.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Sebelum menyerang, diadakan ritual melewati balok: setiap prajurit yang rela menebas serpihan dari balok dan lewat di bawahnya. Mereka yang tidak mau (karena mimpi buruk atau alasan lain) boleh kembali ke perahu, diejek oleh yang lain. Lalu para pemakai tangan kiri dipisahkan untuk bertugas menyergap musuh.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Penyerangan\u003C\u002Fstrong> biasanya dilakukan saat subuh. Setengah prajurit membawa serutan kering dan obor. Setelah mengelilingi rumah musuh, serutan dibakar dan dilempar ke bawah rumah (panggung). Suasana kacau: teriakan perang, tangisan penduduk, jeritan hewan. Jika rumah terbakar, penyerang berusaha memotong yang melarikan diri. Kayan biasanya \u003Cstrong>berusaha menangkap hidup-hidup\u003C\u002Fstrong> sebanyak mungkin, tidak membunuh sembarangan, meski dalam kegembiraan kadang terjadi pembunuhan tanpa pandang bulu. Kepala musuh yang tewas segera dipotong; mayat dibiarkan. Prajurit Kayan yang tewas tidak diambil kepalanya oleh kawan, mayatnya ditutup ranting.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Setelah berhasil, rombongan kembali cepat ke perahu sambil membawa jarahan (manik-manik, gong, barang kuningan). Pengejaran dari musuh kadang terjadi dan bisa mengakibatkan pertempuran sengit, tetapi biasanya hanya sedikit yang tewas karena hutan lebat memberi banyak tempat sembunyi.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Kepulangan dan Ritual Kepala\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Perahu dihias daun \u003Cem>isang\u003C\u002Fem> (sejenis palem) dan para pemenang menyanyi lagu kemenangan. Kepala yang sedikit dipanggang dibungkus daun dan ditaruh di keranjang. Sesampai di desa, kepala disimpan di gubuk khusus. Anak laki-laki diinisiasi: mereka memegang pedang dan dibantu memukul kepala musuh. Malam pertama dihabiskan berkemah di depan rumah. Keesokan harinya, tiang bambu (\u003Cem>balawing\u003C\u002Fem>) didirikan di dekat patung dewa perang, dan satu kepala digantung di puncaknya. Potongan daging musuh (yang dibawa pulang) ditusuk di tiang-tiang pendek sebagai persembahan kepada elang.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Baru setelah itu masa berkabung berakhir: penduduk mencukur rambut, mencabut alis dan bulu mata, mengganti pakaian kulit kayu dengan kain. Jika berkabung untuk kepala suku, salah satu kepala baru dibawa ke makamnya, digantung di tiang di samping makam. Empat hari kemudian, kepala dibawa masuk ke rumah panjang dengan pesta babi dan arak beras. Setiap keluarga mengadakan jamuan. Perempuan kadang menari liar sambil melambai-lambaikan kepala dan menirukan lagu perang pria. Akhirnya kepala digantung di atas perapian utama di galeri rumah, sekitar 1,5–1,8 m dari lantai.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Pertahanan\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Rumah panjang dibangun di tepi sungai, di tanah tinggi atau tanjung, setinggi 3–9 m dari tanah. Tangga sempit yang bisa ditarik. Celah sempit antara dinding galeri dan atap adalah satu-satunya jalan masuk proyektil—sangat sempit sehingga hampir mustahil dimasuki. Jika ada ancaman, pagar pancang setinggi 1,8–2,4 m didirikan di sekeliling rumah, dengan ujung bambu runcing yang dipasang longgar sehingga sulit dipotong atau dicabut. Di sekeliling rumah juga ditancapkan potongan bambu runcing. Perangkap bisa dipasang di sungai: pohon besar digergaji hampir putus, ditahan rotan, dan dijatuhkan ke perahu musuh yang lewat.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Sinyal perang menggunakan \u003Cem>tawak\u003C\u002Fem> (gong besi) dengan irama khas: pukulan cepat meningkat, lalu satu nada panjang, dua pendek—diulang sekali. Sinyal ini diteruskan dari desa ke desa. Ketika terdengar, semua orang pulang dan bersiap.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Jika penyerang terlalu kuat, kadang mereka mengepung rumah dan mencoba membuat penduduk kelaparan. Di masa lalu, rombongan Kayan yang kuat bisa memeras barang kuningan dari pemukiman pesisir yang lebih damai dengan iming-iming keselamatan.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Taktik Khusus\u003C\u002Fh3>\n\u003Cul>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Penyerbuan siang hari\u003C\u002Fstrong>: beberapa kelompok ~25 orang, dengan atap perisai rapat, menyerbu dari berbagai sisi. Pembela melemparkan batang kayu besi runcing ganda yang berputar di udara. Sumpit kadang dipakai untuk pertahanan.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Penyergapan\u003C\u002Fstrong>: jika desa sudah tahu kedatangan musuh, bisa kirim regu untuk menyergap di jalan sulit.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Pertempuran terbuka di sungai\u003C\u002Fstrong>: jarang terjadi. Biasanya duel satu lawan satu, saling ejek, melempar tombak, lalu bertarung jarak dekat dengan pedang. Salah satu pihak biasanya mundur setelah beberapa menit.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Cp>Sejak pemerintahan Eropa (khususnya Sarawak) berdiri, ekspedisi hukuman kadang diperlukan—terhadap Iban dan Klemantan yang sering menyerang semena-mena. Kayan dan Kenyah jarang bermasalah setelah tunduk pada pemerintah. Dalam ekspedisi hukuman, pemerintah mengandalkan kepala suku setia dan pengikut mereka, dengan pengawas pejabat Eropa dan polisi bersenjata. Terkadang pelaku bersembunyi di benteng alam seperti \u003Cstrong>Bukit Batu\u003C\u002Fstrong> (gugusan porfiri setinggi ~460 m) di Rejang, Sarawak. Dua kepala Iban bertahan di sana selama 4 tahun, menantang pemerintah. Benteng itu tidak pernah bisa direbut lewat serangan frontal.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Perbandingan Suku Lain\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kenyah\u003C\u002Fstrong>: taktik lebih agresif, kurang tertarik pada tawanan. &quot;Perang saudara&quot; antar-Kenyah kadang terjadi. Kelompok perang lebih kecil dan lebih cepat bergerak. Mereka lebih mudah berdamai.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Iban\u003C\u002Fstrong>: perang tidak sistematis, disiplin rendah, sering bergerombol besar seperti gerombolan. Tujuan utama: \u003Cstrong>mendapatkan kepala\u003C\u002Fstrong> secara ekstrem—sampai membunuh tuan rumah yang ramah, bahkan merampok kuburan. Perempuan Iban mendorong laki-laki untuk mengayau; kadang calon pengantin diejek jika belum punya kepala. Namun, klaim bahwa pengayauan wajib sebelum menikah \u003Cstrong>tidak benar\u003C\u002Fstrong>. Iban juga menggunakan tombak bergerigi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Klemantan\u003C\u002Fstrong>: secara keseluruhan kurang suka perang. Serangan dalam skala kecil, terutama untuk balas dendam. Satu kepala saja sudah cukup untuk mengakhiri masa berkabung.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Asal-usul Pengayauan\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Penulis mengajukan dua kemungkinan (tidak saling meniadakan):\u003C\u002Fp>\n\u003Col>\n\u003Cli>\u003Cp>\u003Cstrong>Dari hiasan rambut\u003C\u002Fstrong> pada perisai: Awalnya hanya rambut musuh yang diambil untuk menghias perisai bergambar wajah menakutkan. Legenda Tokong (suku Kenyah) mengatakan katak menasihati kepala suku agar \u003Cstrong>tidak hanya rambut, tetapi juga kepala\u003C\u002Fstrong> musuh diambil.\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cp>\u003Cstrong>Dari kurban budak\u003C\u002Fstrong> untuk menemani kepala suku yang mati: Karena budak berharga, para pelayat lebih suka menangkap dan membunuh musuh daripada mengorbankan budak sendiri. Lalu praktik itu berubah menjadi membunuh musuh di medan perang dan membawa pulang kepalanya. Dukungan kuat: Kayan, Kenyah, dan Klemantan kadang membawa kepala baru ke makam kepala suku yang berkabung, menggantungnya di tiang samping kuburan—seolah kepala itu menggantikan budak yang seharusnya dikorbankan.\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Fol>\n\u003Cp>Menurut penulis, kemungkinan pengayauan dibawa ke Kalimantan oleh suku Kayan beberapa abad lalu, lalu diadopsi suku lain.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch3>Soal Penyiksaan\u003C\u002Fh3>\n\u003Cp>Penulis dengan tegas membantah tuduhan bahwa Kayan menyiksa tawanan. Menurut penulis, cerita-cerita penyiksaan sering berasal dari Iban yang sangat memusuhi Kayan dan gemar berkhayal. Memang pernah ada kasus: seorang budak Murut yang membunuh anak kepala suku Kayan di Baram karena hasutan Melayu Brunei, lalu ditikam berkali-kali oleh perempuan Kayan yang marah. Juga ada kasus seorang budak diikat di makam sampai mati karena kepanasan. Namun, ini pengecualian, bukan kebiasaan. Sebaliknya, Kayan pada umumnya \u003Cstrong>memperlakukan tawanan dengan baik\u003C\u002Fstrong> sehingga mereka betah tinggal. Perlakuan kejam seperti itu dipandang buruk oleh Kayan lain—misalnya, desa yang pernah membiarkan budak mati di makam dianggap angker dan garis keturunannya gagal.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Penulis mengingatkan: bahkan jika tuduhan penyiksaan Kayan benar sekalipun, tetap tidak bisa dibandingkan dengan kekejaman bangsa Eropa sendiri yang, meski sudah beragama Kristen, pernah menyiksa dengan cara yang jauh lebih mengerikan secara sistematis atas nama gereja dan negara.\u003C\u002Fp>\n\u003Cblockquote>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kutipan kunci:\u003C\u002Fstrong> &quot;Pembalasan atas cedera dan kebutuhan memiliki kepala untuk digunakan dalam ritual pemakaman adalah alasan utama perang bagi mereka.&quot;\u003Cbr>\u003Cstrong>Kutipan kunci:\u003C\u002Fstrong> &quot;Kayan jarang atau tidak pernah berperang melawan sesama Kayan.&quot;\u003Cbr>\u003Cstrong>Kutipan kunci:\u003C\u002Fstrong> &quot;Kayan pada umumnya memperlakukan tawanan mereka dengan baik sehingga mereka segera merasa puas untuk tinggal di rumah tangga penangkap mereka.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fblockquote>\n"]