[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fMb_oQn5Hl-nsS7MxN8YRpFP3M8yTmAW8hdp_n1vN3cQ":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-pagan-tribes-of-borneo-a-description-of-their-physical-moral-and-intellectual-condition-with-some-discussion-of-their-ethnic-relations","The Pagan Tribes of Borneo: A Description of Their Physical Moral and Intellectual Condition, with Some Discussion of Their Ethnic Relations","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},19,"CHAPTER 14",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},18,"CHAPTER 13",{"ordinal":19,"title":20},20,"UNGAP SPEAKS","\u003Cp>\u003Cstrong>Ringkasan Bab 14: Gagasan tentang Jiwa, Digambarkan melalui Adat Penguburan, Penangkapan Jiwa, dan Pengusiran Roh\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Orang Kayan memiliki beberapa cara pengobatan penyakit, yang mencerminkan teori penyebab penyakit yang berbeda. Cedera fisik diobati dengan pembedahan. Penyakit umum seperti demam malaria diobati dengan obat. Sakit parah yang tidak diketahui asalnya biasanya dikaitkan dengan roh jahat (TOH) dan diobati dengan cara &quot;mengeluarkan&quot; penyebabnya. Namun, untuk penyakit parah misterius yang mengancam jiwa, teori yang dianut adalah jiwa pasien telah meninggalkan tubuh, sehingga pengobatannya adalah membujuk jiwa untuk kembali.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Penangkap Jiwa (Dayong)\u003C\u002Fstrong>\nPenangkap jiwa profesional (DAYONG) biasanya adalah perempuan yang telah magang dengan dayong senior. Mereka dipanggil melalui mimpi (sering saat sakit). Dayong tidak selalu mengkhususkan diri pada satu panggilan. Keluarga pasien sering memanggil dayong dari desa lain. Jika dayong memutuskan jiwa (BLUA) pasien telah pergi menuju alam kematian, tugasnya adalah jatuh dalam keadaan trance dan mengirimkan jiwanya sendiri untuk menyusul jiwa pasien dan membujuknya kembali.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Upacara Penangkapan Jiwa\u003C\u002Fstrong>\nUpacara dilakukan pada malam hari di galeri rumah panjang. Dayong berjalan mondar-mandir sambil melantunkan doa tradisional, yang dijawab oleh hadirin dengan &quot;BALI-DAYONG&quot; (seperti &quot;Amin&quot; dalam doa Kristen). Dayong menggambarkan perjalanan jiwanya mengejar jiwa pasien. Ketika hampir berhasil, keluarga mendorongnya dengan menambahkan biaya berupa gong atau barang berharga. Dayong kemudian mengambil pedang dan, dengan melihat ke mata pedang yang berkilau, seolah melihat sekilas jiwa yang berkeliaran. Langkah terakhir adalah mengembalikan jiwa ke tubuh. Dayong keluar dari trance dan menunjukkan di telapak tangannya seekor makhluk hidup kecil, atau sebutir beras, kerikil, atau potongan kayu, yang di dalamnya terkandung jiwa yang ditangkap. Benda ini diletakkan di atas kepala pasien dan digosokkan hingga masuk ke kepala. Setelah jiwa kembali, gelang dari daun palem diikatkan di pergelangan tangan pasien untuk mencegahnya kabur lagi. Darah ayam atau babi kemudian dipercikkan ke gelang itu. Dayong lalu memberikan petunjuk tentang pantangan (MALAN) yang harus dipatuhi pasien.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>&quot;Upacara ini jelas melibatkan kebingungan yang aneh antara tindakan simbolis dan deskriptif, yang tidak diatur secara konsisten dengan teori yang jelas tentang sifat jiwa dan hubungannya dengan tubuh, atau tentang sifat pasti dari tugas penangkap jiwa.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Penangkapan jiwa dilakukan dengan cara yang sangat mirip di semua suku di Kalimantan, bahkan oleh suku Punan, meskipun detailnya berbeda.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kematian dan Penguburan\u003C\u002Fstrong>\nJika pasien meninggal, genderang ditabuh untuk mengumumkan kematian. Mayat disimpan di rumah selama beberapa hari (1 malam untuk rakyat biasa, hingga 10 hari untuk kepala suku). Mayat diberi manik di bawah kelopak mata, berpakaian terbaik, dan ditempatkan di peti mati dari batang kayu utuh yang ditutup rapat. Peti mati diletakkan di galeri, dikelilingi harta benda. Api dinyalakan di dekatnya, dan makanan kecil serta tembakau diletakkan untuk jiwa orang mati. Para pelayat menangis keras-keras, terutama saat kedatangan tamu. Pada hari pemindahan mayat, dayong memberi tahu jiwa cara menuju alam baka. Pengikat peti mati dilonggarkan, yang diyakini sebagai saat jiwa meninggalkan tubuh secara definitif. Dua patung kayu kecil (perempuan di kepala, laki-laki di kaki) ditempelkan di peti mati, mungkin sebagai sisa-sisa kebiasaan membunuh budak untuk mengayuh perahu orang mati. Seekor ayam hidup diikatkan pada salah satu patung. Peti mati diturunkan ke tanah, bukan melalui tangga rumah, untuk menyulitkan hantu kembali. Peti mati diangkut dengan perahu ke kuburan di tepi sungai. Di kuburan, peti mati diletakkan di celah tiang kayu besar (sebanding dengan status sosial). Senjata, pakaian perang, dan barang pribadi digantung di makam. Pelayat kemudian memurnikan diri dengan air yang diperciki dayong, dan melewati celah tiang V (NYRING) sambil meludah dan berseru, &quot;Jauhkan kejahatan&quot; (BALI JAAT). Api ditinggalkan menyala di samping struktur ini. Seluruh rombongan kembali ke desa secepatnya, berhenti hanya untuk mandi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Masa Berkabung\u003C\u002Fstrong>\nMasa berkabung berlangsung lama sesuai status sosial orang yang meninggal. Tanda berkabung termasuk memakai pakaian dari kulit kayu atau yang dikuningkan dengan tanah liat, membiarkan rambut tumbuh, dan tidak memakai perhiasan. Semua hiburan dihindari. Masa berkabung hanya dapat diakhiri secara resmi dengan upacara yang melibatkan kepala manusia. Di daerah di mana perburuan kepala telah ditekan, kepala lama dipinjam dari desa lain. Segera setelah kepala dibawa ke rumah, masa berkabung berakhir dengan kegembiraan umum.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Menggugat Hantu\u003C\u002Fstrong>\nJika ada perselisihan tentang pembagian harta warisan, hantu orang mati dapat dipanggil oleh dayong dalam upacara yang disebut DAYONG JANOI. Sebuah rumah-rumahan kecil disediakan dengan makanan dan minuman. Dayong memanggil jiwa orang mati untuk masuk ke rumah jiwa itu. Setelah beberapa waktu, dayong mengumumkan bahwa makanan telah habis, yang dianggap sebagai bukti kehadiran hantu. Dayong kemudian menyampaikan kehendak hantu tentang pembagian harta, berbicara sebagai orang pertama. Petunjuk ini biasanya diikuti. Terkadang, uji kehadiran hantu dilakukan dengan meletakkan piring air dan gelang kerang. Jika benang kapas berhasil melewati gelang itu, itu dianggap sebagai bukti kehadiran hantu.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Gagasan tentang Kehidupan Setelah Mati\u003C\u002Fstrong>\nJiwa orang mati diyakini berjalan kaki melewati hutan hingga mencapai puncak pegunungan. Dari sana, ia melihat cekungan sungai besar, LONG MALAN, yang terbagi menjadi lima distrik, masing-masing untuk cara kematian yang berbeda:\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Apo Leggan\u003C\u002Fstrong>: untuk mereka yang mati karena usia tua atau penyakit.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Bawang Daha\u003C\u002Fstrong> (danau darah): untuk mereka yang mati kekerasan (perang atau kecelakaan). Mereka hidup nyaman tanpa bekerja dan memiliki istri arwah wanita yang meninggal saat melahirkan.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Ling Yang\u003C\u002Fstrong>: untuk mereka yang tenggelam, yang memiliki semua harta yang hilang di air.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Tenyu Lalu\u003C\u002Fstrong>: untuk jiwa bayi yang lahir mati.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Tan Tekkan\u003C\u002Fstrong>: untuk bunuh diri, yang hidup melarat hanya makan akar dan buah hutan.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Cp>Jiwa harus menyeberangi sungai LONG MALAN melalui jembatan batang kayu tunggal (BITANG SEKOPA) yang terus digoyang oleh penjaga bernama MALIGANG. Jiwa yang dalam hidupnya telah mengambil kepala manusia akan menyeberang tanpa kesulitan. Jika tidak, ia akan jatuh dan dimakan belatung atau ikan besar (PATAN), sehingga hancur.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Di banyak desa Kayan, ada cerita tentang orang yang diyakini mati lalu hidup kembali, biasanya karena pingsan selama berhari-hari. Orang-orang ini biasanya menceritakan pengalaman mereka berjalan menuju alam kematian, tetapi diusir kembali oleh MALIGANG.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Keyakinan tentang alam baka serupa di semua suku, meskipun nama tempat berbeda. Suku Madang memiliki versi yang mirip, dengan peta yang digambar oleh seorang kepala suku.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Suku Punan menambahkan detail: seekor burung enggang besar (RHINOFLAX VIGIL) duduk di ujung jembatan dan berusaha menakut-nakuti jiwa agar jatuh ke mulut ikan besar. Di seberang sungai, seorang wanita bernama UNGAP dengan kuali dan tombak bisa membantu jiwa jika diberi hadiah. Manik-manik atau kerikil dimasukkan ke lubang hidung mayat Punan untuk dipersembahkan kepada UNGAP.\u003C\u002Fp>\n"]