[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$f02ALL_BQVSWJLgrW-CNsGvlDn9FTGS6PlQQqKP2wxBw":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-pagan-tribes-of-borneo-a-description-of-their-physical-moral-and-intellectual-condition-with-some-discussion-of-their-ethnic-relations","The Pagan Tribes of Borneo: A Description of Their Physical Moral and Intellectual Condition, with Some Discussion of Their Ethnic Relations","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},22,"UNGAP ANSWERS",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},21,"BATANG MIJONG SPEAKS",{"ordinal":19,"title":20},23,"CHAPTER 15","\u003Cp>Orang Malanau (salah satu cabang suku Klemantan) memiliki kepercayaan unik tentang jiwa. Setiap orang diyakini memiliki dua jiwa. Setelah kematian, satu jiwa pergi ke langit dan menjadi roh baik yang membantu upacara BAYOH. Jiwa yang lain melakukan perjalanan ke dunia orang mati yang mirip dengan APO LEGGAN milik suku Kayan; perjalanan ini melibatkan penyeberangan sungai di atas sebatang kayu, yang jalannya dipersengketakan oleh makhluk jahat yang melemparkan abu untuk menggoyahkan nyali arwah.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Beberapa orang Malanau (dari Muka) menggambarkan kekuatan lawan ini sebagai anjing berkepala dua bernama MAIWIANG, yang harus ditenangkan dengan hadiah manik berharga. Karena itu, manik berharga diikatkan ke lengan kanan mayat sebelum peti mati ditutup.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Dulu, orang Malanau biasa membunuh beberapa budak di makam seorang kepala suku. Karena diyakini bahwa jika korban mati dengan kekerasan, jiwa mereka tidak akan pergi ke tempat yang sama dengan kepala suku yang mati (sehingga tidak berguna), mereka dibiarkan mati karena terpapar matahari sambil diikat di makam. Sekarang pembunuhan dilarang, mereka mengadakan sabung ayam besar; kematian banyak ayam diyakini sebagai kompensasi atas penghentian pembunuhan tersebut.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kasus terakhir pembunuhan budak saat pemakaman kepala suku terjadi sekitar lima belas tahun lalu di antara Orang Bukit (Klemantan) di wilayah Bruni. Putra kepala suku (Datu Gunong) membeli seorang budak tua di kota Bruni. Budak itu dikurung dalam kandang bambu hingga hari pemakaman, lalu dibunuh—setiap tamu pemakaman melukainya dengan tombak kecil. Kepalanya digantung di makam. Berdasarkan laporan saksi, mereka yang ikut serta terdorong oleh rasa kewajiban, dan kerja sama itu terasa menjijikkan bagi semua.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Pengusiran Roh Jahat\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Suku Kayan dan kebanyakan suku lain menganggap kegilaan sebagai kerasukan roh jahat, tetapi orang Malanau memperluas teori ini ke banyak penyakit lain dan melakukan ritual pengusiran roh yang rumit. (Ini akan dijelaskan di Bab XVI tentang jimat dan praktik magis.)\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kehidupan setelah kematian dianggap tidak jauh berbeda dengan kehidupan ini—bukan kondisi yang lebih baik atau lebih buruk. Mereka yang mati dengan kekerasan diyakini bernasib lebih baik, sedangkan bunuh diri bernasib lebih buruk. Status sosial dan prestise (terutama dari pengambilan kepala dalam perang) terbawa ke alam baka; orang ingin tanda-tanda status itu ikut serta, yang menjadi salah satu alasan tato tubuh. Di kalangan Kayan, tangan pria baru ditato penuh jika ia sudah mengambil kepala; status wanita ditandai oleh kehalusan tato. Kematian tidak terlalu ditakuti atau diinginkan; tetapi orang tua kadang mengaku siap atau ingin mati, meskipun tampak ceria dan cukup kuat.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Reinkarnasi\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Suku Kayan percaya pada reinkarnasi jiwa, meskipun keyakinan ini tidak selaras sempurna dengan kepercayaan akan kehidupan di dunia lain. Jiwa kakek diyakini bisa masuk ke salah satu cucunya; seorang kakek akan berusaha memindahkan jiwanya ke cucu kesayangan dengan memangku cucu itu di atas kepalanya dari waktu ke waktu. Kakek biasanya memberikan namanya kepada cucu sulung, dan memakai kembali nama asli masa kecilnya dengan awalan LAKI. Tidak ada cara untuk mengetahui apakah harapan itu terwujud.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Jiwa manusia juga bisa bereinkarnasi ke tubuh hampir semua hewan, meskipun pendapat tentang ini sangat kabur. Misalnya, orang Kayan percaya bahwa keberatan orang Melayu Muslim terhadap makan babi disebabkan oleh reinkarnasi jiwa mereka ke spesies itu—keyakinan yang agak mengganggu pedagang Melayu.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kaum Skeptis\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Di antara suku Kayan dan lainnya, ada orang skeptis yang kadang menyatakan keraguan tentang dogma yang diterima, meskipun topik ini umumnya dibungkam oleh rasa hormat. Contoh: seorang pria berargumen ia sulit percaya manusia hidup setelah mati, karena jika pria dan wanita masih hidup setelah mati, mereka yang sangat sayang pada anak pasti akan kembali dan terlihat oleh yang hidup. Semua diskusi biasanya diakhiri dengan ucapan, &quot;NUSI JAM?&quot; (&quot;Siapa tahu?&quot;).\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Praktik Pemakaman\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Suku Kenyah memiliki cara pembuangan jenazah yang mirip dengan suku Kayan. Tapi suku Klemantan berbeda: mereka menyimpan peti mati di ruang tamu rumah hingga masa berkabung selesai. Sebuah tabung bambu dari lantai ke tanah mengalirkan cairan pembusukan. Peti mati ditutup rapat dengan lilin dan dihiasi ukiran serta lukisan kayu. Setelah beberapa bulan atau tahun, diadakan pesta tulang; peti dibuka, tulang dibersihkan, lalu dimasukkan ke peti lebih kecil atau guci besar berbentuk telur, yang dibawa ke kuburan desa. Guci diletakkan di ujung atas tiang besar yang dilubangi, atau di ruang kayu besar berisi sisa beberapa orang (biasanya kerabat dekat). Makam sering dihias dengan lukisan kayu rumit.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Karena suku Klemantan tidak bisa membuat guci besar, mereka menggunakan guci buatan Indo-China dan Cina—kemungkinan guci adalah pengganti modern untuk peti kayu kecil. Hanya orang kaya yang mampu membeli guci.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Prosedur lain: beberapa suku Klemantan memasukkan jenazah ke guci beberapa hari setelah kematian. Karena mulut guci terlalu kecil, guci dipecah horizontal dengan cara cerdik: guci direndam di sungai hingga penuh air dan tenggelam, dipegang horizontal oleh dua orang di bawah permukaan air. Orang ketiga memukul dengan kapak di lingkar terlebar guci; setelah dibalik, pukulan kedua di sisi sebaliknya memecah guci menjadi dua, kadang rapi seperti digergaji. Jenazah dimasukkan dengan lutut diikat ke dagu; bagian atas guci dipasang kembali dan disegel lilin. Saat pesta tulang, guci dibuka, tulang dibersihkan, lalu dikembalikan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Cara penguburan guci ini biasa dilakukan suku Murut, lebih umum di bagian utara pulau. Guci yang digunakan umumnya guci tua berharga; tiruan modern murah tidak disukai.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Suku Klemantan meletakkan barang pilihan milik almarhum di dalam makam, tetapi tidak menggantungnya di luar seperti Kayan dan Kenyah.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Suku Dayak Laut (Sea Dayaks)\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Mereka mengubur mayat di tanah, biasanya di kuburan desa di tepi sungai dekat rumah. Mayat dengan barang pribadi dibungkus tikar dan dikubur sedalam sekitar tiga kaki. Tidak biasa disimpan di rumah beberapa hari seperti Kayan; penguburan dilakukan dengan sedikit upacara. Makam orang biasa tidak ditandai, tetapi makam kepala suku mungkin ditandai SUNGKUP: dua pasang tiang kuat di kepala dan kaki, masing-masing berbentuk salib miring, ujung atas diukir. Dua papan lebar di antara tiang membentuk atap makam. Untuk pria sukses dalam bertani atau berperang, tabung bambu ditancapkan ke tanah tepat di atas pangkal hidung mayat; melalui tabung itu mereka berbicara dan menuangkan tuak beras untuk memperkuat permohonan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Suku Dayak Darat (Land Dayaks)\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Suku Dayak Darat di Sarawak atas dan beberapa suku Klemantan di Kalimantan Selatan membakar mayat, atau tulang saja setelah dagingnya rontok. Pembakaran seluruh tubuh hanya dilakukan oleh keluarga kaya; mayat yang tidak dibakar dikubur di tanah.\u003C\u002Fp>\n"]