[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$f1HwsQ2LneYrFSkBoPCElJlm0OucjMHbdmWG0toloF9Y":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-pagan-tribes-of-borneo-a-description-of-their-physical-moral-and-intellectual-condition-with-some-discussion-of-their-ethnic-relations","The Pagan Tribes of Borneo: A Description of Their Physical Moral and Intellectual Condition, with Some Discussion of Their Ethnic Relations","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},27,"CHAPTER 18",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},26,"CHAPTER 17",{"ordinal":19,"title":20},28,"CHAPTER 19","\u003Ch2>Ringkasan Bab 18: Masa Kanak-Kanak dan Remaja Suku Kayan\u003C\u002Fh2>\n\u003Ch2>Masa Kehamilan\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Sejak orang tua Kayan mengetahui adanya kehamilan, mereka menjalankan pantangan (MALAN) tanpa henti. Benda dan perbuatan tertentu menjadi LALI (terlarang) bagi mereka. Ibu hamil percaya bahwa anaknya akan menyerupai benda yang menarik perhatiannya saat mengandung (LEMALI), sehingga ia menghindari melihat hal-hal yang tidak menyenangkan, terutama monyet Maias dan monyet berhidung panjang. Ia juga menjalankan pantangan yang melambangkan kesulitan saat melahirkan—misalnya tidak boleh mengikat simpul atau memasukkan tangan ke lubang sempit. Suami menjalankan pantangan ini bahkan lebih ketat dari istri.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Untuk memastikan kehamilan lancar, saat bayi mulai bergerak (quickening) ia mempersembahkan babi kecil dan berdoa kepada Doh Tenangan. Jika terjadi kecelakaan seperti jatuh, doa dan persembahan diulang.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cem>Bayangkan seperti seorang ibu hamil yang sengaja menempel gambar bayi sehat di dinding kamarnya agar anaknya kelak sehat—ini sejalan dengan kepercayaan Kayan bahwa apa yang dilihat ibu mempengaruhi anak.\u003C\u002Fem>\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Proses Kelahiran\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Wanita tua yang ahli (bukan dukun\u002FDAYONG) dipanggil sejak awal kehamilan untuk memeriksa dan memastikan posisi bayi optimal. Pengetahuan mereka dirahasiakan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Saat melahirkan, ibu duduk di kamar yang hanya boleh dimasuki suami dan para pembantunya. Suami disembunyikan di balik layar. Ibu menarik kain yang diikatkan ke atap. Rasa sakit tampak hebat, tapi persalinan biasanya hanya 2-3 jam. Para pembantu sangat khawatir jika bayi &quot;naik ke atas&quot;, jadi mereka mengikat kain ketat di perut bagian atas. Jika plasenta tidak segera keluar, mereka mengangkat pasien dan mengikatkan kepala kapak pada tali pusar agar tertarik ke bawah.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Tali pusar dipotong dengan pisau bambu. Jika bayi tidak langsung menangis, lubang hidungnya digelitik dengan bulu.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Plasenta biasanya dikubur atau dibuang. Jika bayi lahir terbungkus selaput (caul), selaput itu dikeringkan dan ditumbuk menjadi bubuk untuk campuran obat anak di kemudian hari.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Kelahiran Kembar\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Jika lahir kembar, satu dipilih (biasanya laki-laki jika berbeda jenis kelamin), yang lain dibuang di hutan. Alasannya: mereka percaya ikatan simpatik antara kembar membuat masing-masing rentan terhadap celaka yang menimpa yang lain. Kehilangan anak yang sudah besar dianggap musibah besar, tapi mengorbankan bayi baru lahir tidak terlalu terasa. Kebiasaan ini mulai hilang karena pengaruh pemerintah Eropa.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Perawatan Bayi\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Segera setelah lahir, ibu menyusui. Wanita kelas bawah bisa kembali bekerja ringan dalam 24 jam. Selama 17 hari ibu memakai benang di ibu jari dan jempol kaki, dan harus menghindari kerja berat.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>&quot;Ia menggendong bayi hampir terus-menerus selama jam-jam bangun di tahun pertama kehidupannya.&quot; Bayi digendong dalam selempang kayu atau anyaman yang digantung di punggung ibu. Ayah jarang menggendong bayi di tahun pertama, tapi kakek sering menjadi pengasuh setia.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Pantangan untuk Anak\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Orang tua tidak boleh makan atau menyentuh benda yang sifatnya dianggap berbahaya bagi anak, misalnya kulit rusa yang penakut atau kucing hutan. Barang-barang anak tidak boleh hilang, dipinjamkan, atau dijual. Orang asing tidak boleh memegang atau terlalu dekat mengamati anak karena dikhawatirkan menarik perhatian roh jahat (TOH). Jika terjadi kontak tak sengaja, orang asing harus memberi hadiah kecil untuk menangkal bahaya.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Penamaan Anak\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Anak biasanya menerima nama pertama antara usia 2-3 tahun. Upacara dilakukan setelah panen berhasil. Untuk setiap anak dibuat patung kecil Laki Pesong (dewa pelindung anak). Ayah atau kerabat membunuh anak ayam atau babi kecil, lalu menggergaji rotan pada patung sampai putus. Jika potongan rotan tidak sama panjang, nama disetujui; jika sama panjang, nama ditolak dan dicoba nama lain.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Nama ini dipakai sampai anak menjadi orang tua, lalu diganti dengan nama anaknya dengan awalan &quot;Taman&quot; (bapak) atau &quot;Tinan&quot; (ibu). \u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Masa Kanak-Kanak\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Anak bermain bebas di sekitar rumah, mandi di sungai, mengejar babi dan ayam. Anak laki-laki sekitar usia 3 tahun dilubangi cuping telinganya dengan paku bambu. Selama tahun-tahun ini, anak laki-laki pertama kali memukul kepala musuh yang baru dipenggal sebagai langkah awal menjadi prajurit.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Permainan utama: gasing kayu, layang-layang, panahan, gulat, melempar tombak tiruan, dan lomba lari. Di dalam rumah, anak-anak bermain &quot;api berantai&quot; dengan bara—siapa yang memegang bara saat padam disebut &quot;ABAN LALU&quot; (duda\u002Fjanda).\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Masa Remaja\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Sekitar usia 10 tahun, anak laki-laki mulai memakai cawat (pakaian pertama). Anak perempuan memakai cawat sejak 2-3 tahun lebih awal. Anak laki-laki mulai ikut ayah dalam ekspedisi panjang mencari hasil hutan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Pendidikan terjadi secara alami—anak belajar dari percakapan orang dewasa, peribahasa, dan teguran. Hukuman fisik jarang. &quot;Seorang tua memperingatkan anaknya tentang akibat buruk yang mungkin timbul dari perilakunya, dan ketika akibat itu terwujud, ia berkata, &#39;Nah, apa yang saya katakan?&#39; dan menambahkan dengusan penuh cemoohan yang mematikan.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Tato dan Inisiasi\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Anak perempuan mulai ditato di paha, kaki, tangan, dan lengan bawah sekitar usia 10 tahun, berlangsung bertahap karena sakit. Cuping telinga diregang dengan cincin hingga mencapai tulang selangka.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Anak laki-laki sekitar usia 15 tahun mulai tidur di galeri bersama para bujangan. Mereka belajar alat musik seperti KELURI (sejenis bagpipe dari labu dan bambu) dan SAPEH (gitar dua senar).\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Upacara Menuju Kedewasaan\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Tidak ada upacara inisiasi yang rumit. Syarat menjadi anggota masyarakat sepenuhnya adalah memukul kepala musuh untuk kedua kalinya (biasanya antara usia 8-15 tahun). Jika tidak ada kepala yang baru, bisa dipinjam dari rumah tangga sahabat. Sebelum upacara ini, seorang pemuda tidak boleh ikut perang.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Mutilasi\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Pemuda Kayan melakukan penusukan melintang pada kelenjar penis dan memasukkan batang pendek dari tulang atau kayu keras yang dipoles.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Pernikahan\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Pemuda biasanya menemukan pasangan di rumahnya sendiri atau rumah lain. Jika menghamili pacar, ia bertanggung jawab menikahinya sebelum melahirkan. Pernikahan diadakan setelah panen padi, namun sering ditunda karena pertanda buruk.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Upacara pernikahan melibatkan:\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>Utusan pengantin pria membawa hadiah ke orang tua pengantin wanita\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Simulasi pertempuran antara rombongan pengantin pria dan pembela di kamar pengantin wanita\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pembacaan hati babi; jika baik, dilanjutkan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Dukun (DAYONG) memerciki semua hadirin dengan darah babi\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pasangan berjalan delapan kali di atas deretan gong\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Cp>Setelah menikah, pengantin pria tinggal di rumah mertua selama beberapa tahun sebelum membawa istrinya ke rumah sendiri. Jika istri anak tunggal kepala suku, suami bisa menetap permanen dan menggantikan mertua sebagai kepala.\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Penentuan Usia\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Kayan kesulitan menyebut usia pasti. Ibu menghitung mundur dengan mengingat nama tempat panen setiap tahun. Lelaki tua mungkin hanya ingat bahwa saat gerhana besar ia mulai memakai cawat, atau saat suara gunung Krakatau meletus ia mulai &quot;mencari tembakau&quot; (mencari pasangan).\u003C\u002Fp>\n\u003Ch2>Catatan Khusus\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>Disebutkan bahwa di suku Kalabit, inisiatif dalam percintaan diambil oleh perempuan—hal yang tidak biasa di kebanyakan budaya.\u003C\u002Fp>\n"]