[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fnd741UCGvh3gW1uyX0I66cizvIOAZPTPX_wQ7v7KIjo":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-pagan-tribes-of-borneo-a-description-of-their-physical-moral-and-intellectual-condition-with-some-discussion-of-their-ethnic-relations","The Pagan Tribes of Borneo: A Description of Their Physical Moral and Intellectual Condition, with Some Discussion of Their Ethnic Relations","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},32,"Introduction",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},31,"CHAPTER 22",{"ordinal":19,"title":20},33,"WORKS ON ANTHROPOLOGY","\u003Cp>Ringkasan Bab Pengantar (The Pagan Tribes of Borneo)\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Bab ini memaparkan latar belakang penelitian ras dan suku di Borneo berdasarkan Ekspedisi Cambridge ke Sarawak (1899) dan ekspedisi Dr. A.W. Nieuwenhuis ke Borneo Belanda (1894–1900). Dijelaskan bahwa secara umum, penduduk asli (aborigin) mendiami pedalaman, sementara orang Melayu mendiami pesisir, meski batasnya sering kabur karena percampuran. Setidaknya ada dua ras utama di antara penduduk asli: ras Indonesia (dolichocephali—kepala lonjong) dan ras Proto-Melayu (brachycephali—kepala bulat). Orang Melayu sejati (Orang Malayu) adalah cabang khusus dari Proto-Melayu.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Tidak ada bukti kuat adanya orang Negrito atau Melanesia di Borneo. Namun, Nieuwenhuis menemukan sepuluh orang Ulu Ayar dan dua orang Punan berambut lurus dan kulit hitam kebiruan, yang mungkin menunjukkan unsur Pra-Dravidia. Istilah &quot;Indonesia&quot; dipopulerkan oleh Hamy (1877) dan Logan untuk penduduk non-Melayu di Nusantara. Ciri khas ras Indonesia adalah kepala lonjong (dolichocephali), sedangkan Proto-Melayu berkepala bulat (brachycephali).\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Di pedalaman Borneo, ditemukan tiga tipe utama:\u003C\u002Fp>\n\u003Col>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Ulu Ayar (Ot Danum)\u003C\u002Fstrong> – dominan ras Indonesia.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Bahau-Kenyah\u003C\u002Fstrong> – dominan Proto-Melayu, berasal dari Apo Kayan.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Punan\u003C\u002Fstrong> – pemburu nomaden, juga dominan Proto-Melayu.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Fol>\n\u003Cp>Di Sarawak, penulis (Hose &amp; Haddon) mengelompokkan suku-suku menjadi: \u003Cstrong>Punan\u003C\u002Fstrong>, \u003Cstrong>Klemantan\u003C\u002Fstrong> (campuran), \u003Cstrong>Kenyah-Kayan\u003C\u002Fstrong>, \u003Cstrong>Iban\u003C\u002Fstrong> (Dayak Laut), dan \u003Cstrong>Melayu\u003C\u002Fstrong>. Suku Klemantan dianggap berasal dari percampuran ras Indonesia dan Proto-Melayu.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Data antropometri (pengukuran tubuh) menunjukkan:\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Indeks kepala (cephalic index)\u003C\u002Fstrong>:\u003Cul>\n\u003Cli>Ulu Ayar: dolichocephali (median 74,7)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kayan dan Punan: brachycephali (median ~81)\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Tinggi badan\u003C\u002Fstrong>: Kenyah dan Murut tergolong paling tinggi; Kayan, Punan, dan Klemantan lebih pendek. Wanita jauh lebih pendek dari pria.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Warna kulit\u003C\u002Fstrong>: bervariasi dari kayu manis muda hingga cokelat kekuningan.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Cp>Penulis menegaskan bahwa tidak ada satu pun kelompok yang murni ras; semua telah bercampur selama berabad-abad melalui migrasi dari daratan Asia, India, dan Cina. Somatologi (ilmu ukur tubuh) hanya bisa membantu sedikit; tugas utama ada pada etnografi untuk melacak migrasi dan percampuran ini.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Klasifikasi Suku di Sarawak\u003C\u002Fstrong> (menurut Dr. Hose):\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>I. \u003Cstrong>Murut\u003C\u002Fstrong>: Murut, Tagal, Dusun, Kalabit, dll.\nII. \u003Cstrong>Klemantan\u003C\u002Fstrong>:\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>Barat Daya: Land Dayak, Maloh\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tengah: Barawan, Bakatan, dll.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sebop: Malang, Sebop, Lerong, Milanau\nIII. \u003Cstrong>Punan\u003C\u002Fstrong>: Punan, Ukit, Siduan\nIV. \u003Cstrong>Kenyah\u003C\u002Fstrong>: Madang, Long Dallo, Apoh, dll.\nV. \u003Cstrong>Kayan\u003C\u002Fstrong>\nVI. \u003Cstrong>Iban\u003C\u002Fstrong>: Iban (Dayak Laut) dan Sibuyau\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Cp>Penulis juga menjelaskan metode pengukuran (kepala, wajah, hidung, telinga, rambut, kulit, tinggi badan) serta memberikan data rinci setiap kelompok suku, termasuk indeks kepala, bentuk wajah, hidung, mata, telinga, rambut, warna kulit, dan tinggi badan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kesimpulan\u003C\u002Fstrong>: Dua ras utama ada di Borneo: Indonesia (kepala lonjong) dan Proto-Melayu (kepala bulat). Tidak ada suku yang murni. Migrasi dan percampuran telah menghasilkan keragaman suku yang kompleks. Penelitian lebih lanjut diperlukan, terutama dengan pendekatan etnografi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Contoh ilustrasi\u003C\u002Fstrong>: Bayangkan mencampur cat merah dan biru; hasilnya ungu, tapi tidak semua ungu sama—ada yang lebih merah, ada yang lebih biru. Begitu pula suku-suku di Borneo: ada yang lebih dominan ras Indonesia (seperti Ulu Ayar), ada yang lebih dominan Proto-Melayu (seperti Kayan dan Punan), dan banyak yang campuran (seperti Klemantan).\u003C\u002Fp>\n"]