[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$f68sV7-BHxVSjA74LUm5PkpHNDWG0Ok1PqSiiJEF1ai8":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":11,"canModernize":12,"ejaan":13,"prev":14,"next":17,"variant":7,"html":20},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-pagan-tribes-of-borneo-a-description-of-their-physical-moral-and-intellectual-condition-with-some-discussion-of-their-ethnic-relations","The Pagan Tribes of Borneo: A Description of Their Physical Moral and Intellectual Condition, with Some Discussion of Their Ethnic Relations","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},5,null,false,"asli",{"ordinal":15,"title":16},4,"Contents",{"ordinal":18,"title":19},6,"CHAPTER 1","\u003Cp>\u003Cstrong>Daftar Gambar\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Col>\n\u003Cli>Kepala Suku Kayan Muda dengan Pendamping Kelas Menengah (berwarna). GAMBAR DEPAN\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Bruni, ibu kota panggung Sultan Bruni\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Jalur Hutan dekat Marudi, Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Bukit Batu Kapur di Panga, Sarawak Atas\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Gunung Dulit dari Sungai Tinjar\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>(A) Air Terjun Keltie, Gunung Dulit, Sarawak. (B) Suku Kenyah berhenti berkemah untuk malam di Sungai Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sungai Rejang muncul dari wilayah pegunungan tengah\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Ngarai di Sungai Rejang di atas muara Baloi Peh\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sungai Rejang berkelok melalui Perbukitan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sungai Rejang sekitar 300 Mil di atas Muaranya\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Hutan diselimuti lumut tebal di Puncak Gunung Dulit\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Hulu Sungai Rejang\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Di Hulu Sungai Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Lioh Matu (Tempat Seratus Pulau), di Hulu Sungai Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Jeram Fanny di Sungai Pata, Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Dayak Laut atau Iban\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Profil Suku Dayak Laut dari Gambar 16\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Wanita Dayak Laut\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Keluarga Kayan dari Rejang Atas\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Gadis Uma Pliau (Kayan) dari Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Buling, Putra Kepala Suku Kenyah dari Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>(A) Seorang Kayan berambut keriting dari Baram. (B) Aban Tingan, seorang Prajurit Kenyah terkenal, adik Tama Bulan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Klemantan dari Distrik Tinjar, dan seorang Kepala Suku Kayan tua dari Baloi, Laki Bo, memakai hiasan kepala hitam (baris belakang, figur kedua, kiri)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Long Pokun (Klemantan) dari Sungai Tinjar\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kepala Suku Kalabit (Murut) (di tengah) dengan Pengikut, dari Hulu Sungai Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Punan dari Sungai Tinjar\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tama Bulan Wang, Penghulu Kenyah dari Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Gadis Kayan dari Distrik Kotei Atas\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pemuda Dayak Laut dalam pakaian pesta\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Wanita Dayak Laut mengenakan Jas dan Rok yang dihiasi Kerang\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sulau, Istri Kepala Suku Kayan, memamerkan Koleksi Manik-manik Tua yang Berharga\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Wanita Barawan (Klemantan) dari Tinjar\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Bayi Malanau mengenakan Alat untuk membentuk Kepala\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sebuah Rumah Panjang di Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Desa Murik Long Tamala, Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Galeri Rumah Kayan di Long Lama, Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Interior Ruang Tinggal Kayan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kepala tergantung di Galeri Rumah Kayan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Di Bawah Rumah Kayan. Di kiri terlihat Tiang Altar untuk Persembahan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Lumbung Besar tempat PADI disimpan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Rumah Iban\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Galeri Rumah Iban\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tikar duduk Iban. Keranjang benih Iban\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>(B) Kotak tembakau; (C) Piring Kayu untuk menggulung Rokok; (G) Labu untuk kepala sumpit; (P) Pipa tembakau; (FP) Pistol api; (F) Seruling hidung\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Topi Wanita Kenyah. Tawak dan Gong Kayan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Ningka, Guci Dayak Laut tua yang berharga\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Guci gerabah tua yang sangat dihargai oleh semua Suku\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Iban menawar guci tua\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tama Usong, Kepala Suku Kayan terkemuka di Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Aban Deng, Kepala Suku Long Wat (Klemantan) dari Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kepala Suku Sebop (Klemantan) berpidato di hadapan Pengikutnya\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kenyah dari Sungai Pata. Laki-laki memakai Topi dan yang berjongkok di kiri adalah kelas atas, lainnya kelas menengah\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Kayan membuat Api dengan Gesekan menggunakan PUSA\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Mayat di Rumah Barawan (Klemantan). Pesta di Rumah Jangan yang belum selesai, Kepala Suku Sebop, pada acara penamaan Anaknya\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Iban menebang Pohon\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Ladang Lirong di Sungai Tinjar\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kayan dari Baloi di Ladang PADI. Tato di Paha terlihat\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Wanita Kenyah beristirahat dari Menyiangi di Ladang PADI\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Wanita Kenyah di Ladang mereka\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kenyah mengukur Panjang Bayangan ASO DO pada siang hari untuk menentukan Waktu menabur PADI\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Wanita Klemantan berpakaian seperti Pria di Festival Panen\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Taman Rumah Kayan, yaitu Area antara Rumah dan Sungai, dengan Pohon Buah dan Lumbung PADI\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Wanita Kayan tua menaiki Tangga Rumah dengan Keranjang berisi Wadah Air\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Galeri Rumah Klemantan (Sebop), Distrik Tinjar\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Buah Hutan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sebuah Desa Klemantan, menunjukkan Tiang Balawing\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kayan membelah Rotan untuk Membuat Tikar\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sekelompok Kayan duduk di Galeri Rumah Panjang\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Menghibur Tamu di Galeri Rumah Klemantan (Barawan)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Lepu Pohun (Klemantan) dari Sungai Tinjar\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>(A) Suku Iban menyiapkan Perahu untuk Perjalanan jauh. (B) Perahu perang Kayan di Baram Bawah\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Perhentian di Batu Pita di Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Memasak Makanan siang di dasar Kerikil, Sungai Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Perahu berlayar ke hulu Sungai Rejang di bawah Air Terjun Palagus\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Mendayung ke hulu Air Terjun Palagus, Sungai Rejang\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>(A) Suku Kenyah menarik Perahu melewati Jeram. (B) Gubuk dibangun di tepi Sungai untuk Berteduh semalam\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Perahu akan menuruni Air Terjun di Long Bukau, Sungai Rejang\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Perahu beratap Tikar Daun di Sungai Dapoi, Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kayan memancing dengan Jala di Sungai Baram Atas\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Memancing dengan Pancing di Air Terjun Tipang di Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pemandangan Khas di hulu Sungai\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pemburu Kenyah bekerja dengan Sumpit\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pemburu Kenyah pulang dengan Anak Babi\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kelompok Pemburu Kayan berkemah untuk malam\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Iban memasang Perangkap untuk Burung Pegar dan Mamalia kecil. Suku Punan di Rumah\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kayan mengerjakan Getah Perca\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>(A) Mengumpulkan Racun Sumpit IPOH. (B) Usong, seorang Pemuda Kayan kelas atas, Putra Tama Usong (Gambar 49)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kenyah mengumpulkan Racun IPOH\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Klemantan membuat Api di Hutan dengan menggergaji sepotong Bambu melintasi yang lain\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Mengajari Pemuda Kayan di hutan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pedang dan Sarung Kenyah dan Kayan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tombak dan Dayung (Kayan dan Klemantan)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Topi perang Kayan dan Kenyah\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Jas dan Topi, Pedang, Pisau, dan Perisai Prajurit Kenyah (berwarna)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Pemuda Murik (Klemantan) dalam Pakaian Perang\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Perahu perang Klemantan mendaki Sungai Baram dekat Marudi\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tiang didirikan di Sungai oleh Suku Kayan untuk menandai Tempat di mana Pertanda baik diamati\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pengintai mengawasi Perahu dalam Kesulitan di Muara Sungai Akar, Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kelompok Perang Iban di Hutan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Rumah Kayan dipagari untuk Perlindungan terhadap Musuh\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Cara Serangan Kenyah\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Wanita Kayan menari, dan membawa di tangan kanan Kepala berhiaskan Daun\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Perahu perang Iban di Sungai Rejang\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pengintai Iban waspada\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kepala Punan diambil oleh Suku Iban\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Wanita Iban menari dengan Kepala Manusia\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pandai besi Kalabit menggunakan Palu batu. Alat peniup lebih sederhana dari yang dijelaskan dalam teks\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Iban membuat Pistol Api\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Rumah Iban dalam proses Pembangunan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Keranjang dan Manik-manik Kanowit (Klemantan)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pisau dan Kapak Kayan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kenyah melubangi Batang Sumpit sebelum mengebornya\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kenyah mengebor Sumpit\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kenyah mengikat Mata Tombak ke Sumpit\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kenyah membuat Anak Sumpit\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kenyah membuat Racun Sumpit\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kenyah membuat Kain Kulit Kayu\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Wanita Iban memisahkan Biji Kapas\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Wanita Iban dengan Roda Pemintal\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Wanita Iban menyiapkan Kain untuk pencelupan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Wanita Iban menenun\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pintu Ukir ke Ruang Aban Jau, Kepala Suku Sebop (Klemantan), Sungai Tinjar\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pintu Ruang di Rumah Sebop (Klemantan). Dua Figur dekat Atas mungkin mewakili Owa-owa\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Ukiran di Dinding Galeri Rumah Long Ulai (Klemantan), Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Haluan Perahu perang Klemantan (Pria itu adalah Iban)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Motif Kenyah diukir pada Kotak Tembakau bambu\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Desain Melingkar dikerjakan pada Kotak Tembakau bambu (Kenyah)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Gambar Arang. Pertama menggambarkan Wanita Bekerja di Lesung PADI; kedua memberi Makan Babi dan Ayam; ketiga meletakkan Mayat di Makam\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Gagang Pedang Kenyah diukir dari Tanduk Rusa\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Manik-manik Tua dipakai oleh Suku Kayan (berwarna)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Selimut (Pua) ditenun oleh Wanita Iban\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Selimut (Pua) ditenun oleh Wanita Iban\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pola Tato di Paha Wanita Kayan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pola Tato pada Wanita Kalabit\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tato Kalabit (Wanita)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Desain Tato\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>,,\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>,,\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>,,\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>,,\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>,,\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>,,\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>,,\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Wanita Kenyah menumbuk PADI (berwarna) GAMBAR DEPAN\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Altar Kenyah menunjukkan batu bulat besar yang dikenal sebagai BATU TULOI. Telur dipersembahkan kepada Burung Pertanda di Hutan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Klemantan (Barawan) memberikan Persembahan Telur kepada Para Dewa\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tiang Balawing di kiri; Tiang Altar Bali Penyalong di kanan dan di tengah Tiang tempat Potongan Daging Musuh yang Dibunuh ditusuk sebagai Persembahan Syukur setelah Perang berhasil, didirikan di depan Rumah Long Pokun (Klemantan)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Patung Kayu didirikan di depan Rumah Kenyah saat mendekati Wabah Kolera\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Patung Kayu Bali Atap, Dewa Kenyah\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tiang Altar didirikan di depan Rumah Klemantan saat kembali dari Perang\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>(A) Tempat Berteduh Sementara untuk Kepala. (B) Galeri Rumah Panjang Kayan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Dayong Kenyah memakai Topeng\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Makam Istri Kepala Suku Long Pata (Klemantan). Cakram putih dulunya dari Kerang, kini Piring Eropa digunakan, dan Perusahaan Jerman memasok Piring Makan dengan dua Lubang yang memudahkan pemasangan Piring\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Makam Kepala Suku Sekapan (Klemantan)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Makam Kuling, Putri Boi Jalong, Kepala Suku Kenyah utama dari Sungai Batang Kayan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Makam Malanau dekat Desa Rejang\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Peti Mati Peng ditempatkan di Tepian Tebing yang menjorok di Sungai Mahakam\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>(A) Tama Bulan mengorbankan Babi kepada Bali Penyalong. (B) Balari, seorang Kenyah, mengorbankan Ayam kepada Bali Penyalong\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Kayan mengisi Babi dengan Pesan untuk Para Dewa\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kayan mendiskusikan Hati Babi\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Patung Rangkong dibuat oleh Suku Iban untuk digunakan di Upacara\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sekelompok Kenyah. Di Puncak Tiang terlihat Patung Elang, Bali Flaki\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kepala Musuh dihias oleh Suku Kayan dengan berbagai Jimat\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Patung Buaya, dan Rumah disediakan untuk Roh yang bantuannya dimohon oleh Suku Malanau pada Upacara Bayoh\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Patung Kayu Buaya, dan Hiasan digunakan pada Upacara Bayoh oleh Suku Malanau\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kelompok Campuran Anak Laki-laki Kenyah dan Klemantan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Wanita Sekapan (Klemantan) menggendong Anak dalam Ayunan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Anak Laki-laki Iban mandi. Pagar untuk Perlindungan terhadap Buaya\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>(1) Pistol Api. (2) PUSA, digunakan untuk membuat Api saat penamaan Anak Kayan. Figur mewakili Laki Pesong\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Kayan bergulat\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tarian yang hampir menyerupai beberapa Perkembangan Eropa terkini dari Seni\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Kayan menari\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pelajaran Ukir Kayu (Kenyah)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pernikahan Iban\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Punan dari Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kepala Suku Punan tua\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kepala Suku Punan dari Tinjar\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Punan dari Bok (Baram)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Ukit bertato dari Distrik Rejang\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Perkemahan Punan di Sungai Dapoi\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Punan mengerjakan Sagu liar\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Punan mengerjakan Kamper\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Ibu dan Anak Punan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tumbuhan menjalar digantung di muara Sungai anak untuk Melarang Siapa pun naik ke Sungai itu.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kait Kuningan dan Gagang Pedang dikirim oleh Tama Kuling kepada Residen Baram sebagai Simbol Perdamaian\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Kayan dari Sungai Mahakam\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Wanita Kayan dari Sungai Mahakam, Kalimantan Timur\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Wanita Orang Bukit (Klemantan), Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Profil Wanita di Gambar 187\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Long Pokun (Klemantan) dari Sungai Dapoi, Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pemuda Lirong (Klemantan) dari Sungai Tinjar\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Wanita Lirong (Klemantan) dari Sungai Tinjar\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Seorang Wanita Kajaman (Klemantan) Kelas Atas\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pria Dayak Darat (Klemantan) dari Sarawak Atas\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>(A) Gadis Dayak Darat dari Distrik Sadong. (B) Dayak Darat dari Sarawak Atas\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Wanita Iban, Distrik Rejang\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Benteng kecil di Kanowit, Distrik Rejang\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Benteng di Claudetown (Marudi), dengan Regu Pasukan yang membentuk Garnisun\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pintu masuk Benteng baru di Marudi, Distrik Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Ruang Sidang di Benteng Baram\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sungai Silat turun dari Usun Apo menuju Baram, Jalan Raya antara Kalimantan Timur dan Barat\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Pria Kenyah bertopeng pergi menemui mantan Musuh dengan Tawaran Perdamaian\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Topeng Klemantan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Tama Kuling (ALIAS Boi Jalong), Kepala Suku Kenyah utama dari Distrik Batang Kayan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Desa Tama Kuling (Kenyah) di Tana Puti, Distrik Batang Kayan\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Suku Madang (Kenyah) pada Perdamaian di Marudi (1899)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Perdamaian besar di Marudi (1899), Distrik Baram, antara Suku Kayan, Kenyah, dan Klemantan dari Kalimantan Timur dan Barat\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Perlombaan Perahu perang di Marudi selama Pertemuan Perdamaian (1899)\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kelompok Kepala Suku Kenyah dari Batang Kayan dalam Perjalanan mengunjungi Rajah Sarawak di Kuching, sebelum Perdamaian di Baram pada tahun 1901\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Instruksi Akhir dari Residen Divisi Ketiga Sarawak kepada Kelompok Kayan yang akan menyerang Benteng Pember\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Fol>\n"]