[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fTX9pmx_117v0JdJhoo8I_vLjasyz9zkFE0KF4DuMgmU":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-pagan-tribes-of-borneo-a-description-of-their-physical-moral-and-intellectual-condition-with-some-discussion-of-their-ethnic-relations","The Pagan Tribes of Borneo: A Description of Their Physical Moral and Intellectual Condition, with Some Discussion of Their Ethnic Relations","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},7,"CHAPTER 2",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},6,"CHAPTER 1",{"ordinal":19,"title":20},8,"CHAPTER 3","\u003Cp>SUKU-SUKU PAGAN DI BORNEO tidak memiliki catatan sejarah tertulis, hanya tradisi lisan samar tentang beberapa generasi terakhir. Namun, catatan bangsa lain, terutama Tiongkok, memberikan sedikit cahaya pada masa lalu pulau ini. Pantai-pantai Borneo telah lama dihuni oleh penduduk Muslim berbudaya Melayu, yang sebagian merupakan keturunan pendatang dan sebagian lagi penduduk asli yang memeluk Islam. Sebelum kedatangan Eropa, mereka tunduk pada beberapa kesultanan Melayu, seperti Bruni, Sambas, Pontianak, Banjermasin, dan lainnya. Namun, ada catatan tentang kerajaan yang lebih tua.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Catatan Tiongkok Kuno (Abad ke-6 M):\u003C\u002Fstrong>\nCatatan pertama tentang Borneo adalah deskripsi kerajaan \u003Cstrong>Poli\u003C\u002Fstrong> dari abad ke-6 M. Poli berada di pulau tenggara Kamboja. Penduduknya ahli melempar pisau cakram bergerigi. Hukumannya: pembunuh\u002Fpencuri dipotong tangannya, pezina dirantai kakinya setahun. Mereka berkorban saat bulan mati. Barang dagangan termasuk karang dan burung beo. &quot;Mereka memakai gigi binatang buas di telinga, dan melilitkan kain kapas di pinggang; ... Mereka mengadakan pasar pada malam hari dan menutup muka mereka.&quot; Kemungkinan ini adalah gambaran Bruni kuno di bawah pengaruh Hindu-Buddha, dengan kebiasaan yang masih terlihat pada suku-suku terkait Bisaya hingga kini. Contoh: hingga saat ini, beberapa suku masih melakukan ritual sesaji dengan menghanyutkan rakit, seperti yang disebutkan dalam catatan itu.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kerajaan Puni (Bruni) pada Dinasti Sung (960-1279 M):\u003C\u002Fstrong>\nPuni disebut sebagai kota dengan 10.000 penduduk, bertembok kayu. Istana beratap daun nipah. Prajurit bersenjata tombak dan berbaju zirah tembaga. Mayat dibuang di hutan, dan selama tujuh tahun dilakukan sesaji tahunan. \u003Cstrong>Tahun 977 M\u003C\u002Fstrong>, Raja Hianzta mengirim utusan ke Kaisar Tiongkok. Suratnya ditulis di kulit kayu tipis, mirip buku sihir Batak. \u003Cstrong>Tahun 1082 M\u003C\u002Fstrong>, Raja Sri Maja mengirim upeti lagi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Pengaruh Majapahit dan Malaka (Abad 13-14):\u003C\u002Fstrong>\nBruni bergantian tunduk pada Majapahit (Hindu) dan Malaka (Islam). Pada awal 1300-an, Bruni menjadi bawahan Majapahit. Sekitar 1368, tentara Jawa mengusir perampok Sulu dari Bruni. Belakangan, Bruni beralih haluan membayar upeti ke Malaka.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kunjungan Laksamana Cheng Ho dan Kaisar Tiongkok (Awal Abad 15):\u003C\u002Fstrong>\n\u003Cstrong>1405 M\u003C\u002Fstrong>, Raja Maraja Kali dari Puni mengirim upeti ke Tiongkok, lalu mengunjungi Kaisar pada 1408. Ia meninggal di kota kekaisaran. Putranya, Hiawang, menggantikannya dan berjanji mengirim upeti tiap tiga tahun. Kemungkinan koloni Tiongkok di Borneo Utara, yang memberi nama Gunung Kina Balu (Janda Tiongkok) dan Sungai Kina Batangan, didirikan pada masa ini.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Masuknya Islam dan Raja Alak ber Tata (Akhir Abad 15):\u003C\u002Fstrong>\nIslam masuk ke Bruni melalui tokoh Alak ber Tata, yang kemudian bergelar \u003Cstrong>Sultan Mohammed\u003C\u002Fstrong>. Ia adalah seorang Bisaya. &quot;Tanda utama martabat kerajaannya adalah sebuah chawat (cawat) besar, yang ketika ia berjalan dibawa oleh delapan puluh orang, empat puluh di depan dan empat puluh di belakang.&quot; Ia menaklukkan Sarawak dan daerah lain, menghentikan upeti ke Majapahit. Ia masuk Islam di Johore, mendapat gelar Sultan dan istri putri Sultan. Ia digantikan oleh saudaranya Akhmad (menantu kepala Tiongkok), lalu oleh seorang Arab dari Taif yang menikahi putrinya. Jadi, wangsa kerajaan Bruni berasal dari tiga sumber: Arab, Bisaya, dan Tiongkok.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Puncak Kejayaan Bruni: Sultan Bulkiah (Nakoda Ragam):\u003C\u002Fstrong>\nSultan Bulkiah adalah tokoh paling heroik. Ia menaklukkan Sulu dan Borneo timur, bahkan merebut Manila. Upeti mengalir. Istrinya adalah putri Jawa. Dari perkawinan mereka dengan penduduk setempat, konon lahirlah suku Kadayan. Setelah kematiannya, para bangsawan bertengkar dan mendirikan kota Bruni yang di atas panggung sekarang.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kunjungan Pigafetta (1521):\u003C\u002Fstrong>\nPada 1521, Pigafetta, pencatat pelayaran Magellan, mengunjungi &quot;Bornei&quot;. Ia menggambarkan kemegahan istana, raja bergajah, berpakaian sutra Tiongkok, memiliki artileri. Ini adalah catatan Eropa pertama yang baik.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kemunduran dan Campur tangan Eropa:\u003C\u002Fstrong>\nKekuasaan Bruni terus menurun. Perang saudara memicu campur tangan Portugis dan Spanyol, meski tidak menaklukkan, namun menguras kekuatan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Belanda\u003C\u002Fstrong>: Tiba di Bruni 1600, kemudian mendirikan pabrik di Sambas. Di Banjermasin, Belanda memperoleh monopoli pada 1747. Pada 1785, setelah membantu menggulingkan sultan yang kejam, Belanda memperoleh kedaulatan atas Banjermasin. Ini menjadi dasar klaim Belanda atas dua pertiga Borneo.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Inggris\u003C\u002Fstrong>: Pada 1763, Sultan Sulu menyerahkan wilayah di Borneo utara kepada East India Company. Pada 1773, pemukiman di Balambangan dibentuk, tetapi direbut Sulu tahun berikutnya.\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Pembajakan\u003C\u002Fstrong>: Pada akhir abad 18, perompakan merajalela. Setelah beberapa kapal Inggris hilang dan awaknya dibunuh, Angkatan Laut Inggris memperingatkan bahwa pergi ke sungai Bruni adalah &quot;KEHANCURAN PASTI&quot;. Selama 40 tahun, petunjuk ini tertera di peta.\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Cp>\u003Cstrong>James Brooke dan Rajah Sarawak (1841):\u003C\u002Fstrong>\nPada 1839, \u003Cstrong>James Brooke\u003C\u002Fstrong>, seorang pemuda Inggris, berlayar ke Sarawak. Daerah itu memberontak melawan bangsawan Bruni yang kejam. Brooke membantu paman Sultan, Muda Hasim, memadamkan pemberontakan, dengan syarat ia sendiri diangkat sebagai gubernur dan Rajah Sarawak. Pada \u003Cstrong>24 September 1841\u003C\u002Fstrong>, ia diakui sebagai Rajah. Ia kemudian mendapatkan pengakuan resmi dari Sultan Bruni pada 1842. Sarawak kemudian berkembang hingga seluas hampir 60.000 mil persegi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>British North Borneo Company (Akhir Abad 19):\u003C\u002Fstrong>\nPada 1877, Mr. Alfred Dent membeli hak kedaulatan atas Borneo utara dari Sultan Bruni dan Sulu. Perusahaan ini mendapat piagam kerajaan Inggris pada 1881 dan mulai memerintah dan membangun kawasan itu. Pada 1888, Sarawak dan British North Borneo resmi menjadi protektorat Inggris. Pada \u003Cstrong>1906\u003C\u002Fstrong>, Sultan Bruni sendiri menempatkan diri di bawah perlindungan Inggris. Dengan demikian, seluruh pulau Borneo berada di bawah kendali Eropa.\u003C\u002Fp>\n"]