[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"$fxoRH_CZBgYrEkr0YS52SfU-wIl_WKJuoDRjsRAXqS_o":3},{"work":4,"section":9,"illustrationUrl":12,"canModernize":13,"ejaan":14,"prev":15,"next":18,"variant":7,"html":21},{"slug":5,"title":6,"presentation":7,"spelling":8},"the-pagan-tribes-of-borneo-a-description-of-their-physical-moral-and-intellectual-condition-with-some-discussion-of-their-ethnic-relations","The Pagan Tribes of Borneo: A Description of Their Physical Moral and Intellectual Condition, with Some Discussion of Their Ethnic Relations","ringkasan","eyd",{"ordinal":10,"title":11},8,"CHAPTER 3",null,false,"asli",{"ordinal":16,"title":17},7,"CHAPTER 2",{"ordinal":19,"title":20},9,"CHAPTER 4","\u003Ch2>Ringkasan Bab 3: Gambaran Umum Penduduk Kalimantan\u003C\u002Fh2>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Kemungkinan Penduduk Awal dan Percampuran Ras\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Ada kemungkinan bahwa pada masa lalu Kalimantan dihuni oleh ras Negrito, yang sisa-sisanya masih ditemukan di pulau-pulau sekitar Kalimantan dan Semenanjung Malaya. Saat ini tidak ada komunitas Negrito di Kalimantan, tapi di daerah utara kadang ditemukan individu dengan rambut dan wajah yang menunjukkan campuran darah Negrito.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Penduduk campuran Hindu-Jawa yang menyerbu pantai selatan Kalimantan beberapa abad lalu kemungkinan bercampur dengan penduduk asli, dan darah mereka masih mengalir pada sebagian suku di selatan (misalnya Land Dayak dan Maloh).\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Pedagang Cina yang datang untuk kapur barus, sarang burung, dan rempah-rempah ada yang menetap dan bercampur dengan suku barat laut (misalnya Dusun). Beberapa unsur budaya Cina menyebar luas di Kalimantan. Pedagang Cina juga datang ke barat daya untuk mencari emas, kawin campur, tapi tetap mempertahankan ciri khas mereka. Dalam 50 tahun terakhir, arus masuk Cina sangat cepat karena perdamaian dan keamanan yang dibangun pemerintahan Eropa. Kini mereka membentuk komunitas besar di pusat perdagangan. Beberapa pedagang Cina masuk ke pedalaman dan menikahi penduduk setempat, anak-anak mereka sering menjadi anggota suku ibu.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Di kalangan Muslim di pesisir, banyak yang mengaku keturunan Arab. Masuknya agama Islam sebagian besar karena pedagang Arab, dan banyak orang Arab serta keturunan setengah Arab yang memegang jabatan di bawah Sultan Brunei.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Dalam 50 tahun terakhir, orang India (kebanyakan Kling dari Madras) datang sebagai pedagang kecil atau kuli. Mereka tidak masuk pedalaman atau kawin campur dengan penduduk asli.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Dua Golongan Besar Penduduk\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Selain para pendatang di atas, penduduk Kalimantan terbagi menjadi dua golongan: (1) mereka yang menerima agama Islam dan peradaban (setidaknya secara nominal), dan (2) penduduk pagan. Di Brunei dan pesisir, mayoritas adalah Muslim, tanpa organisasi suku, menyebut diri Melayu (Orang Malayu). Nama ini menunjukkan status sosial, politik, dan agama, bukan kelompok etnis.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Selain &quot;Melayu&quot; yang setengah beradab dan unsur pendatang, semua penduduk asli Kalimantan hidup dalam organisasi suku, dengan budaya dari yang sangat sederhana (Punan nomaden) hingga barbarisme yang cukup maju. Semua suku pagan ini sering disebut Dayak, padahal banyak perbedaan budaya, kepercayaan, adat, serta ciri fisik dan mental.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Mengapa Fokus pada Suku Pagan?\u003C\u002Fstrong>\u003Cbr>Penulis menganggap penduduk Muslim yang beragam etnis dan berbudaya asing kurang menarik bagi antropolog dibanding suku pagan yang kurang dikenal. Oleh karena itu buku ini hanya membahas suku pagan pedalaman, kecuali jika &quot;Melayu&quot; disebut khusus.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Enam Kelompok Utama Suku Pagan:\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Col>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Sea Dayak (Iban)\u003C\u002Fstrong>  \u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Kayan\u003C\u002Fstrong>  \u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Kenyah\u003C\u002Fstrong>  \u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Klemantan\u003C\u002Fstrong>  \u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Murut\u003C\u002Fstrong>  \u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cstrong>Punan\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Fol>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Perkiraan Jumlah Penduduk\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Total penduduk Kalimantan diperkirakan sekitar 3.000.000 jiwa. Rincian:\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>Cina dan keturunan: mungkin lebih dari 100.000\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Melayu dan Muslim pesisir: 300.000–400.000\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>India: mungkin tidak lebih dari 10.000\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Eropa: sekitar 3.000\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sisanya adalah enam kelompok pagan\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Cp>Perkiraan kasar masing-masing kelompok:\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>Klemantan: lebih dari 1.000.000\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kenyah: sekitar 300.000\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Murut: 250.000\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Sea Dayak: 200.000\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Kayan: 150.000\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Punan dan nomaden lain: 100.000\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>Total: 2.000.000\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Chr>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Deskripsi Masing-Masing Kelompok:\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>(1) Sea Dayak (Iban)\u003C\u002Fstrong>\u003Cbr>Kelompok yang paling dikenal orang Eropa karena sifat suka perang dan jumlah besar di Sarawak. Mereka menyebar ke utara Sarawak dari Batang Lupar, masih terus mendesak suku Klemantan yang lebih damai. Paling padat di hilir sungai Batang Lupar dan Saribas, tapi ditemukan hampir di seluruh Sarawak dan hingga Kalimantan utara dan wilayah Belanda.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Ciri fisik: kulit agak gelap (tidak segelap Melayu asli), rambut lebih lebat dan panjang, tubuh proporsional, ekspresi cerah, bibir dan gigi sering rusak karena makan sirih. Sifat: sombong, suka berpakaian mencolok, suka pamer, periang, banyak bicara, suka bergaul, suka humor dan cerita lucu, cenderung membesar-besarkan tapi pada dasarnya jujur, rajin, energik, dan suka merantau. Karena suka merantau, mereka disebut Iban oleh Kayan, dan kini mereka sendiri menggunakan nama itu.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>&quot;Sisi baiknya membuat Iban menjadi teman yang menyenangkan dan pelayan yang berguna. Namun ada sisi lain: mereka kurang menghormati kepala suku, sehingga organisasi sosial kacau; mereka suka bertengkar, licik, dan gemar berperkara; mereka pemburu kepala paling kejam; tidak seperti suku lain, mereka memburu kepala demi kemuliaan dan kesenangan membunuh; dalam mengejar korban, mereka dirasuki kemarahan yang mendorong mereka melakukan pengkhianatan dan kebrutalan paling keji.&quot;  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Bahasa Sea Dayak seragam dengan sedikit perbedaan dialek. Sangat sederhana, hampir tanpa infleksi, tata bahasa simpel, bergantung pada intonasi. Dekat dengan bahasa Melayu.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>(2) Kayan\u003C\u002Fstrong>\u003Cbr>Tersebar luas di Kalimantan tengah, tinggal di desa-desa besar di bagian tengah sungai-sungai utama kecuali yang mengalir ke pantai utara. Zona mereka terletak antara daerah hilir dan dataran tinggi tengah.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Sifat: suka perang tapi kurang ganas dari Sea Dayak, lebih tenang, konservatif, religius, kurang suka bergaul. Tidak sembarangan bertengkar. Hormat dan patuh pada kepala suku. Sama rajinnya dengan Sea Dayak, agak lambat dalam pikiran dan tubuh, tapi lebih terampil dalam kerajinan tangan dari suku lain. Bahasa Kayan seragam dengan variasi lokal lebih kecil dari bahasa Sea Dayak.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>(3) Kenyah\u003C\u002Fstrong>\u003Cbr>Mendominasi di dataran tinggi sedikit utara pusat Kalimantan (sumber sungai-sungai besar), tapi juga ditemukan di desa-desa tersebar di daerah Kayan. Dekat dengan Kayan dalam adat dan cara hidup, umumnya bersahabat. Mudah dibedakan dari Kayan lewat ciri fisik, mental, dan bahasa.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Secara fisik, mereka yang terbaik di Kalimantan. &quot;Kulit mereka jelas lebih terang dari Sea Dayak atau Kayan. Tubuh sedang, punggung panjang, anggota badan pendek, berotot, bulat; agak gempal tapi anggun dan kuat.&quot;\u003Cbr>Sifat: paling berani dan cerdas; suka bertarung tapi kurang suka bertengkar dibanding Sea Dayak; lebih energik dan mudah gembira dari Kayan; ramah, agak boros, suka bergaul, bersikap menyenangkan; kurang pendiam dan lebih riang dari Kayan; sangat setia dan patuh pada kepala suku; paling jujur dan bisa diandalkan dibanding suku lain, kecuali mungkin Kayan.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Bahasa Kenyah punya banyak dialek yang sangat berbeda sehingga sulit saling mengerti; tapi hampir semua pria (kecuali Sea Dayak) menguasai beberapa dialek dan bahasa Kayan.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>(4) Klemantan\u003C\u002Fstrong>\u003Cbr>Nama ini mencakup sejumlah suku yang menurut penulis berkerabat dekat, tersebar di seluruh Kalimantan, dengan perbedaan bahasa dan adat yang besar. Secara fisik dan mental dekat dengan Kenyah di satu sisi dan Murut di sisi lain. Kurang suka perang dibanding suku-suku di atas, dan banyak menderita karena serangan mereka.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Sifat: hati-hati, cerdas, suka bergaul meski agak penakut; terampil dalam kerajinan tangan, tapi kurang energik dari Kayan dan Kenyah, dan lebih rendah dalam pengerjaan logam, pembuatan pedang, tombak, perahu. Sumpit adalah senjata khas mereka; mereka lebih suka berburu dari suku lain kecuali Punan.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Klemantan ditemukan di seluruh Kalimantan, tapi desa mereka kebanyakan di hilir sungai. Paling banyak di selatan (sebagian besar penduduk Kalimantan Belanda); di utara sedikit, digantikan kerabat dekat mereka, Murut.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>(5) Murut\u003C\u002Fstrong>\u003Cbr>Hanya di Kalimantan utara. Paling mirip dengan Klemantan. Agak tinggi dan ramping, wajah kurang rapi dan menarik dibanding Klemantan, kulit lebih gelap dan kemerahan. Pertanian lebih maju dari suku lain, tapi suka minum tuak (beras). Organisasi sosial longgar, kepala suku sedikit berwenang.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Penulis juga mengelompokkan beberapa suku lain sebagai Murut: Adang (hulu Limbang), Kalabit (hulu Baram), Saban dan Kerayan (hulu Sungai Kerayan), Libun, Lepu Asing (hulu Bahau), Tagal dan Dusun (paling utara), Tring (Sungai Barau dan Balungan di timur).\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>(6) Punan\u003C\u002Fstrong>\u003Cbr>Termasuk Punan sejati, Ukit, dan kelompok kecil lain yang tersebar. Satu-satunya suku yang tidak tinggal di desa tepi sungai. Mereka hidup dalam kelompok kecil (20-30 orang) yang mengembara di hutan. Setiap kelompok biasanya terdiri dari kepala suku dan keturunannya. Mereka tinggal beberapa minggu atau bulan di satu tempat (biasanya karena ada sagu liar), di tempat berlindung sederhana dari ranting dan daun, lalu pindah, tapi dalam satu wilayah seperti cekungan anak sungai besar.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Ditemukan di pedalaman Kalimantan, sulit ditemui karena bersembunyi di dalam hutan. Tidak seperti suku lain, mereka tidak menanam padi, tidak membuat perahu, tidak bepergian di sungai. Hidup dari berburu dengan sumpit, mengumpulkan buah hutan, dan menukar hasil hutan dengan suku yang menetap.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Secara fisik mirip Kenyah: bertubuh baik, kuat, kulit kuning sangat terang, fitur wajah rapi. Mental: sangat pemalu, penakut, pendiam. Tidak pernah menyerang secara terbuka, tapi membalas dendam dengan serangan sembunyi-sembunyi menggunakan sumpit dan anak panah beracun.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kerajinan mereka hanya membuat keranjang, tikar, sumpit, dan alat pengolah sagu liar; dalam hal itu mereka sangat ahli. Semua barang lain (kain, pedang, tombak) diperoleh dari barter dengan suku lain. Tidak punya upacara pemakaman; jenazah ditinggalkan begitu saja di tempat perlindungan. Mereka bernyanyi dan melantunkan lagu-lagu sedih atau ratapan dengan keahlian khas yang memukau. Bahasa mereka khas, tapi tampaknya berkerabat dengan bahasa Kenyah dan Klemantan.\u003C\u002Fp>\n\u003Chr>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Pendekatan Penulisan Buku\u003C\u002Fstrong>\u003Cbr>Penulis akan menjelaskan setiap bab dengan memberikan gambaran selengkap mungkin tentang suku Kayan, lalu menambahkan perbedaan adat dan budaya utama dari suku-suku lain. Jika mendetailkan setiap suku dengan semua variasi lokal, buku ini akan terlalu panjang. Kayan adalah yang paling homogen, konservatif, dan khas; kepercayaan, adat, dan seni mereka paling kaya dan menarik; banyak adat dan seni mereka diadopsi tetangga atau berasal dari mereka.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Ciri Fisik Umum Semua Suku Pagan\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Secara fisik tidak ada perbedaan besar. Semua bertubuh sedang. Warna kulit dari cokelat sedang hingga krem pucat (seperti kopi susu). Rambut hitam atau cokelat tua, umumnya lurus, kadang bergelombang atau hampir keriting.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Wajah hampir semua menunjukkan ciri Mongoloid dalam berbagai tingkat: tulang pipi lebar, mata sipit, lipatan kelopak mata di dekat hidung, janggut jarang. Pada sebagian orang ciri ini sangat samar. Hidung bervariasi, biasanya lebar di lubang hidung, sering agak terangkat ke depan. Namun beberapa orang, terutama Kenyah, punya hidung mancung dan berbentuk baik. Di antara semua suku, terutama Kenyah, Punan, dan Klemantan, kadang terlihat individu dengan fitur Eropa yang sangat rapi.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>&quot;Meskipun secara fisik semua suku ini memiliki banyak kesamaan, setiap suku memiliki kekhasan yang jelas bagi pengamat berpengalaman, sehingga ia dapat dengan mudah menentukan kelompok mayoritas individu; dan pengakuan semata-mata dari penglihatan tentu dipermudah oleh perbedaan kecil dalam pakaian dan hiasan yang khas untuk setiap kelompok.&quot;\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Ciri Khas Masing-Masuk Suku:\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cul>\n\u003Cli>\u003Cp>\u003Cstrong>Kenyah asli\u003C\u002Fstrong>: Kulit seperti krim kental dengan sedikit kopi. Rambut dari sedikit bergelombang hingga keriting, tidak terlalu lebat atau panjang. Tubuh hampir tanpa rambut; rambut wajah dicabut (termasuk alis dan bulu mata) — praktik ini umum pada semua suku pedalaman kecuali Sea Dayak. Tinggi sekitar 160 cm, berat sekitar 62 kg. Anggota badan pendek dibanding badan. Badan berkembang baik, persegi. Otot bulat. Gerakan cepat, kuat, tahan kerja keras. Kepala agak bulat, wajah lebar tapi berbentuk baik. Ekspresi berani dan terbuka.\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cp>\u003Cstrong>Kayan\u003C\u002Fstrong>: Kulit lebih gelap dengan warna kemerahan. Kaki tidak terlalu pendek, tapi tubuh kurang proporsional, anggun, dan aktif dibanding Kenyah. Fitur kurang rapi, lebih kasar dan berat. Ekspresi serius, pendiam, hati-hati.\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cp>\u003Cstrong>Murut\u003C\u002Fstrong>: Kulit hampir sepucat Kenyah, sedikit lebih kemerahan. Ciri paling khas: kaki panjang dan betis rata — sangat kontras dengan Kenyah. Kaki panjang membuat postur di atas rata-rata. Intonasi bicara agak merengek, sedangkan Kenyah bicara tajam dan terputus-putus.\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cp>\u003Cstrong>Klemantan\u003C\u002Fstrong>: Lebih bervariasi karena kelompok kurang homogen. Secara kasar menunjukkan semua transisi dari tipe Kenyah ke Murut. Pada umumnya kurang berotot dan aktif dari Kenyah. Di antara mereka, arah lubang hidung ke atas dan ke depan paling terlihat.\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fli>\n\u003Cli>\u003Cp>\u003Cstrong>Punan\u003C\u002Fstrong>: Tipe yang khas. Kulit lebih terang dari Kenyah, dengan warna kehijauan. Proporsi baik, anggun, berotot, fitur sering sangat rapi dan menyenangkan. Ekspresi biasanya sedih dan sangat waspada serta penakut. Meskipun hidup nomaden tanpa rumah, mereka tampak cukup makan dan bersih, lebih jarang terkena luka dan penyakit kulit yang sering merusak suku lain (terutama Murut, Kayan, Sea Dayak).\u003C\u002Fp>\n\u003C\u002Fli>\n\u003C\u002Ful>\n\u003Chr>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Tempat Tinggal dan Mata Pencaharian\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Semua suku kecuali Punan tinggal di desa-desa di tepi sungai. Jumlah penduduk desa dari 20-30 orang hingga 1.500 lebih. Rata-rata desa sekitar 30 keluarga (200-300 orang). Setiap desa dipimpin kepala suku. Beberapa desa satu suku biasanya berdekatan di sepanjang sungai, tapi tidak ada suku yang mengklaim wilayah eksklusif. Kecuali Sea Dayak, desa-desa dari berbagai suku bisa bercampur. Pemisahan desa Sea Dayak karena sifat mereka yang suka berkhianat sehingga tidak disukai tetangga dan perlu dukungan kelompok besar.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Mata pencaharian utama: menanam padi. Ditambah beternak babi dan ayam (di utara juga kerbau), berburu, memancing, mengumpulkan hasil hutan (getah perca, karet, rotan, kapur barus, sagu). Hasil hutan ditukar atau dijual ke pedagang Melayu dan Cina.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>\u003Cstrong>Migrasi dan Kepercayaan\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Tidak ada catatan tertulis. Tradisi sejarah dan migrasi samar. Tidak ada organisasi politik formal, hanya ikatan longgar antar desa untuk pertahanan dan penyerangan. Ikatan ini kadang diperkuat oleh pribadi kepala suku tertentu.  \u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Contoh: Tama Bulan (gambar 27), kepala suku Kenyah di anak sungai Baram, yang bekerja sama dengan pemerintah Rajah Sarawak dan mempercepat penegakan hukum di daerah itu.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Setiap desa adalah komunitas merdeka. Tidak ada desa yang menetap di satu tempat lama (15, 10, atau bahkan lebih pendek). Mereka pindah ke lokasi baru, sering jauh. Dua alasan utama migrasi: (1) mencari tanah perawan untuk pertanian; (2) wabah atau bencana yang membuat mereka percaya tempat itu kekurangan kekuatan spiritual yang baik.\u003C\u002Fp>\n\u003Cp>Kepercayaan animisme merajalela. Mereka percaya dikelilingi kekuatan spiritual baik dan buruk. Beberapa menjelma pada makhluk liar (terutama burung), beberapa tampak dalam proses alam: pertumbuhan padi, banjir, g\u003C\u002Fp>\n"]