Empat Kitab, Seratus Naskah: Gerbang yang Nyaris Terlupakan ke Peradaban Sunda Kuno

Indokorpus (redaksi)

Empat Kitab, Seratus Naskah: Gerbang yang Nyaris Terlupakan ke Peradaban Sunda Kuno

Esai berdasarkan percakapan Bagus Muljadi dengan Dr. Aditia Gunawan — filolog Perpustakaan Nasional, lulusan École Pratique des Hautes Études, Paris — dalam Chronicles #22, "4 Kitab Sunda Kuno: Gerbang ke Peradaban Pasundan".


Cinta pada Kata

Ada disiplin yang seluruh keberadaannya dibangun di atas kesabaran membaca. Namanya filologi. Secara harfiah, kata itu berasal dari philologos — cinta pada kata. Tetapi sebagai ilmu, ia jauh lebih luas daripada kecintaan romantis pada bahasa: filologi adalah ilmu tentang segala bahan tekstual, apa pun yang pernah dituliskan manusia. Ketika seorang filolog menekuni sebuah teks abad ke-8, ia tidak hanya membaca bahasanya. Ia menimbang umur naskahnya, memeriksa bahan tempat teks itu ditulis, memahami seluruh warisan dokumenter itu sebagai satu kesatuan. Teks selalu hadir di dalam dokumen; maka mempelajari teks berarti sekaligus mempelajari benda yang membawanya.

Aditia Gunawan menyebut pintu masuk kerja itu dengan satu frasa yang ia pinjam dari tradisi filologi Barat: "to make the text make sense" — membuat teks itu masuk akal, baik bagi kita yang membaca hari ini maupun bagi orang yang dahulu menuliskannya. Prinsipnya keras: tidak boleh ada satu kata pun yang lolos tanpa diperiksa. Dan memeriksa membutuhkan alat — tata bahasa, kamus, teks pembanding yang sezaman. Di sinilah tragedi sekaligus daya tarik Sunda Kuno bermula: alat-alat itu nyaris tidak ada.

Sebuah Bahasa dengan Kurang dari Seratus Dokumen

Dari sekitar tujuh ratus lebih bahasa yang hidup di Indonesia, hanya belasan yang pernah punya landasan tertulis. Dari yang sedikit itu, Sunda Kuno menempati posisi yang genting. Seluruh dunia hanya menyimpan kurang dari seratus manuskrip berbahasa Sunda Kuno. Prasasti dan inskripsi dari Jawa Barat pra-Islam dan pra-kolonial hanya sekitar tiga puluhan; manuskrip yang benar-benar berbahasa Sunda hanya lima belas. Jumlahkan semuanya, dan seluruh gerbang menuju satu peradaban itu muat dalam kira-kira seratus lima belas dokumen.

Justru kelangkaan itu yang membuat Aditia jatuh cinta sejak pertama kali bekerja di Perpustakaan Nasional pada 2008. Sedikitnya dokumen bukan hanya soal kelangkaan — ia adalah kesulitan metodologis. Tanpa sumber sezaman yang sebanding, seorang peneliti kehilangan buku rujukan untuk tata bahasa, kehilangan kamus, kehilangan pembanding. Konsekuensinya brutal namun jelas: untuk membaca satu teks, seseorang harus membaca semuanya. Seluruh seratus dokumen itu harus dikuasai sekaligus.

Sunda Kuno tidak berdiri sendiri. Ia adalah salah satu dari hanya empat bahasa kuno di Nusantara yang bukti dokumen tertulisnya terselamatkan hingga kini: Jawa Kuno (yang paling melimpah dan termasyhur), Bali Kuno, Melayu Kuno, dan Sunda Kuno. Masing-masing punya nasib dan lintasan sejarah yang berbeda. Melayu Kuno dominan di prasasti-prasasti Sriwijaya; Bali Kuno menguasai prasasti Bali abad ke-8 sebelum digeser Jawa Kuno. Di tanah Sunda, urutannya justru terbalik dari yang kita duga: prasasti dan manuskrip mula-mula ditulis dalam Jawa Kuno. Baru pada abad ke-14 orang Sunda mulai memproduksi dokumennya sendiri, dalam bahasanya sendiri.

Soal asal-usul, Aditia meluruskan satu salah paham umum. Bahasa-bahasa Nusantara ini serumpun Austronesia; Sanskerta tidak diserap sebagai struktur, hanya sebagai kosakata. Struktur sintaksis Sunda Kuno pada dasarnya mirip dengan Jawa Kuno, Bali Kuno, Melayu Kuno — dan juga tidak jauh dari bahasa-bahasa modern kita hari ini. Yang membedakan adalah intensitas "sanskritisasi". Di Jawa, penyerapan itu begitu berhasil sehingga — mengutip kamus Jawa Kuno susunan Zoetmulder — sekitar 40% kosakatanya adalah serapan Sanskerta. Bayangkan derasnya kata serapan itu, kira-kira seperti pengaruh bahasa Inggris pada bahasa Indonesia sekarang.

Karena tak ada kanon tata bahasa yang otoritatif untuk Sunda Kuno, interpretasi tidak bisa menutup diri. Justru Jawa Kuno, Sanskerta, dan Melayu Klasik menjadi kunci untuk membaca teks Sunda. Tesis Aditia sendiri memuat glosarium lebih dari lima puluh halaman — mencatat kata-kata yang hanya muncul di teks Sunda atau yang maknanya menyimpang dari Jawa Kuno — sebagai proyek rintisan menuju kamus dan tata bahasa yang lebih kokoh.

Seratus Naskah, Hampir Semua Genre

Meski hanya seratusan, dokumen Sunda Kuno mengejutkan dalam keragaman genrenya. Hampir semua ada: puisi epik dan puisi moral yang didaktik namun disenandungkan; risalah keagamaan mulai dari yang murni ritual sampai perdebatan spekulatif, metafisik, dan mistik; hingga buku-buku manual yang sangat praktis — cara membangun rumah, membuka permukiman, membaca gelagat langit, menafsir tanda sebelum berperang. Ada teks untuk orang awam, ada untuk kalangan agamawan, ada untuk pemimpin politik. Teks tidak lahir di ruang hampa; setiap teks punya fungsi — dibaca sendiri, dibacakan di depan khalayak, atau dipakai untuk kepentingan tertentu.

Dari lautan itu, Aditia memilih empat kitab sebagai pintu gerbang utama dalam disertasinya, karena keempatnya bersifat preskriptif — semacam undang-undang, kitab suci, statuta keagamaan Sunda:

  • Sang Hyang Hayu — yang tertua. Uniknya, kitab ini berbahasa Jawa Kuno, namun hampir hanya ditemukan di wilayah Sunda; di Jawa sendiri naskahnya nyaris tak ada. Ini salah satu kitab Jawa Kuno tertebal — sekitar seratus lima puluh lempir daun, disalin dalam lima belas manuskrip, tanda betapa populernya ia. Isinya sangat sistematis, dari kosmologi hingga metafisika spekulatif tentang moksa, tentang menyatunya jiwa dengan Tuhan. Kalau dalam Islam, inilah kitab tasawuf, kitab makrifatnya. Orang Sunda menyebutnya Watang Ageung — "kitab besar", buku babon yang menjelaskan segala hal tentang ketuhanan. Menariknya, Weda sendiri tak pernah disebut; Watang Ageung-lah yang menempati puncak otoritas dan paling banyak disitir kitab-kitab di bawahnya.
  • Siksa Guru — bila Sang Hyang Hayu adalah makrifat, ini adalah fikihnya: tata cara ritual, etika kepada guru, etika terhadap lingkungan keagamaan. Juga berbahasa Jawa Kuno, juga hanya ditemukan di Sunda. ("Siksa" di sini berarti ajaran atau precept — bukan siksaan; secara harfiah, ajaran dari guru.)
  • Sasana Mahaguru — bukan sekadar level ketiga, melainkan sebuah upaya kompilasi: penulisnya menyarikan Sang Hyang Hayu dan Siksa Guru dari Jawa Kuno ke dalam Sunda Kuno. Inilah, kata Aditia, proses penerjemahan tertua di Nusantara — dari satu bahasa kuno ke bahasa kuno lain. Dua kitab Jawa yang terpisah menjadi satu kitab babon Sunda yang lengkap, dari metafisika sampai tata cara. Sebuah tindakan vernakularisasi yang nyata: saat orang Sunda mulai merasa tiba waktunya mengajarkan agama dengan bahasanya sendiri.
  • Siksa Kandang Karesian — yang paling penting, dan satu-satunya yang masuk UNESCO Memory of the World. Berbeda dari tiga lainnya yang berbicara tentang doktrin, kitab ini menuntun praktik kehidupan sosial orang awam. Sifatnya ensiklopedis: bukan menjelaskan, melainkan mengenumerasi.

Keempat kitab ini adalah kanon — semacam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru-nya tradisi Sunda. Teks-teks lain mengorbit di sekelilingnya seperti planet; keempat kitab inilah kamus ensiklopedianya, agar pembaca tak tersesat menafsir yang lain.

Orang Sunda masa itu juga mengklasifikasi ajaran mereka sendiri ke dalam tiga jenis siksa, sebuah logika hukum berdasarkan untuk siapa aturan itu ditujukan — berbeda dari logika KUHP warisan kolonial yang membelah hukum menjadi perdata dan pidana. Siksa Kandang (satu kandang menampung banyak ayam) adalah aturan untuk masyarakat umum — paling bawah. Siksa Kurung (satu kurungan untuk satu ayam) untuk masyarakat tertentu, kaum agama, para santri. Dan Siksa Dapur — di sini "dapur" bukan berarti tempat memasak, melainkan akar, pangkal, sumber — memuat aturan paling tinggi tentang ketuhanan dan metafisika.

Ketika Tuhan yang Satu Bersembunyi di Balik Ribuan Dewa

Salah satu temuan paling memikat menyangkut bagaimana teologi Sunda Kuno bekerja. Sekilas teks-teks itu penuh sesak dewa-dewi: sebuah perjalanan ke surga bisa mempertemukan seseorang dengan Dewa A, Dewa B, sampai Dewa Z. Namun selalu, di atas semua itu, ada satu titik tertinggi — satu entitas yang membawahi segalanya. Sinonimnya banyak: Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Wisesa, Purwawisesa. Sifatnya selalu sama: tak bisa dipikirkan, tak bisa dibayangkan — Acintya. Dewa-dewa yang kita kenal hanyalah wujud sakala, manifestasi material dari kuasa; yang tertinggi adalah niskala, yang imaterial, sebuah "oneness".

Struktur inilah yang, menurut Aditia, menjelaskan mengapa masuknya Islam ke Nusantara — terutama ke Jawa — tidak melahirkan kontradiksi yang tajam. Bagus Muljadi menawarkan analogi lintas peradaban: ketika Kekristenan awal masuk ke dunia Yunani yang sudah punya Stoikisme dan Epikureanisme, para rasul harus bergumul dengan konsep yang sudah ada — orang Yunani tak percaya "Tuhan" personal, melainkan oneness, keesaan abstrak. Kekristenan menautkan diri ke situ: yang kalian sebut keesaan itulah Tuhan, yang terefleksi dalam tiga pribadi. Islam pun, saat bertemu warisan Yunani, menyebutnya tauhid.

Di Sunda, mekanismenya serupa. Karena teks Hindu-Buddha lokal sudah memuat gagasan "oneness" tertinggi, pengislaman bisa berlangsung melalui penerjemahan karya sastra tanpa merombak strukturnya. Menerjemahkan sebuah teks Dewa Ruci yang bercorak Buddha cukup dengan mengganti istilah Tuhannya menjadi istilah Islam — dan otomatis teks itu menjadi teks sufi, tanpa mengubah kerangka yang sudah ada. Sinkretisme ini kadang muncul secara harfiah dan mengejutkan: ada teks Siwa yang murni Hindu tiba-tiba menyebut buana Makkah sebagai bagian dari kosmologi langit — surganya para penganut Siwa ditempatkan di langit Makkah.

Namun Sunda Kuno bukan sekadar cermin yang memantulkan tradisi tetangga. Ia punya otentisitasnya sendiri. Disertasi Aditia menyoroti gagasan "cascaded heaven" — perjalanan roh menuju Yang Maha Mulia melewati beberapa tingkat surga. Yang khas: tingkatan itu bahkan spesifik menurut gender, ada surga khusus bagi perempuan yang taat. Dan yang paling menonjol adalah kuatnya unsur feminin. Langit Sunda tidak didominasi laki-laki. Di atas Panca Dewata — lima dewa yang lazim dalam Hindu hingga kini (Iswara di timur, Brahma di selatan, Mahadewa di barat, Wisnu di utara, Siwa di tengah) — masih ada sosok tertinggi bernama Sunan Ambu. Struktur seperti ini, kata Aditia, tidak normatif; ia hanya bisa ditemukan dalam tradisi Sunda Kuno.

Apakah dengan begitu Sunda Kuno adalah sebuah "agama"? Bila kita memakai definisi Émile Durkheim — agama sebagai penyatuan sistem kepercayaan dan praktik — maka jawabannya ya. Tetapi Aditia hati-hati agar kita tidak terjebak pengertian agama masa kini. Ia menulis "Sundanese religion" dengan makna spesifik: agama orang-orang Sunda pada abad ke-15, bukan "agama Sunda" sebagai denominasi. Coraknya jelas Saiwa (pemujaan Siwa sebagai yang terkuat), namun dihuni sosok-sosok lokal. Salah satu jejaknya yang indah: pengarang Siksa Kandang membuka teks dengan tiga salamNamah Siwaya (agama Siwa), Namo Buddhaya (agama Buddha), dan Namo Jiwa Paripurna (penghormatan bagi leluhur, jiwa yang telah mangkat dengan sempurna). Penghormatan kepada Siwa, Buddha, dan nenek moyang sekaligus.

Bahasa yang Lurus, Watak yang Terus Terang

Ada satu ciri Sunda Kuno yang berimplikasi jauh melampaui linguistik: teks-teksnya tidak mengenal undak-usuk basa — tingkatan bahasa halus-kasar yang begitu rumit dalam bahasa Sunda Priangan sekarang. Sistem berjenjang itu, kata Aditia, sesungguhnya pengaruh yang datang belakangan dari Mataram di Jawa. Sunda Kuno berbicara langsung, mirip bahasa Indonesia hari ini. Jejaknya masih hidup di masyarakat Badui, dan bahkan dalam bahasa Sunda Banten yang oleh telinga Priangan terdengar "kasar" — padahal justru merekalah yang mempertahankan kelurusan Sunda Kuno.

Dari sini muncul spekulasi menarik tentang watak. Jika bahasa memengaruhi kepribadian bangsa, maka ketiadaan hierarki sapaan membuat orang Sunda menyampaikan pesan lebih literal, lebih eksplisit, tanpa harus berhitung dulu dengan siapa ia bicara. Ada pula hipotesis antropologis lama: masyarakat Sunda cenderung peladang yang berpindah-pindah, bukan pesawah yang menetap. Peladang punya lebih sedikit waktu berinteraksi dengan tetangga, sehingga tak mengembangkan sistem komunikasi yang berlapis-lapis rumit — ngobrol seperlunya, langsung ke pokok. Keterusterangan itu bahkan tampak dalam sastra: carita pantun Sunda bukanlah pantun Melayu, melainkan puisi epik tentang tokoh — berima, tetapi langsung, tanpa bahasa berbunga-bunga yang melingkar-lingkar seperti kakawin Jawa Kuno atau hikayat Melayu lama.

Membaca Kosmos, Membaca Tanah

Kosmologi Sunda membayangkan alam dalam tiga bagian yang harus terus seimbang: dunia atas (bersufiks loka), dunia tengah tempat manusia, dan dunia bawah (bersufiks tala) — masing-masing tujuh tingkat, seperti tungku nasi yang melebar ke atas dan sarang lebah yang menjorok ke bawah. Yang menggugah bukan geometrinya, melainkan etikanya. Jika para pemuja moksa hanya mengurus jalan ke atas, siapa yang mengurus yang di bawah? Ada pendeta khusus — Bujangga — yang bertugas menjaga keseimbangan dunia bawah, tempat tinggal buta dan kala. Dan sikap terhadap makhluk-makhluk itu bukanlah pengusiran. Di Barat mungkin disebut eksorsisme; di Sunda, tugasnya justru menyenangkan dan menghibur — memanjakan si buta agar ia baik kepada manusia dan harmoni alam pulih. Sebuah pendekatan yang jauh lebih rekonsiliatif ketimbang perang antara malaikat dan iblis. (Bagus mengaitkannya dengan kosmologi Bugis dalam La Galigo, yang oleh Prof. Nurhayati Rahman dibaca sebagai keseimbangan antara dunia bawah laut dan atas laut — sebuah etika lingkungan bahari.)

Dari kosmologi, percakapan turun ke tanah — secara harfiah. Ada teks bernama Warugan Lemah (warugan = bentuk tubuh, lemah = tanah): sebuah manual topografi. Sebelum membangun, orang Sunda memeriksa kontur tanah, mirip feng shui tetapi dengan tekanan pada kemiringan lahan. Tanah yang menurun ke utara disebut Talaga Hangsa (telaga dan angsa — alam dan manusia yang harmonis) dan tergolong baik. Yang menurun ke barat disebut Banyu Metu, ke timur Purbatapa, dan ke selatan Ambek Pataka — yang terakhir ini paling buruk. Yang menakjubkan adalah bahasanya: teks tidak pernah menyebut "longsor". Ia berbicara dalam idiom moral-sosial — tanah Talaga Hangsa "mendatangkan kasih sayang orang lain", sementara Ambek Pataka "menyebabkan orang lain menyakiti hati".

Lalu datang kejutan yang membuat percakapan ini istimewa. Bagus Muljadi — seorang ilmuwan matematika numerik — membawa sebuah jurnal ilmiah sekuler, Geoscience Letters, yang memuat studi peneliti dari Western Michigan University tentang kerawanan longsor di Bogor, Jawa Barat. Hasilnya: dari observasi, lereng yang menghadap selatan paling banyak mengalami longsor (delapan belas kejadian), disusul timur laut, timur, lalu barat daya — dengan angka menurun berturut-turut. Lereng utara paling aman. Persis seperti yang dikatakan Warugan Lemah berabad-abad sebelumnya: Talaga Hangsa (utara) paling baik, Ambek Pataka (selatan) paling buruk.

Mengapa ini bukan sekadar kebetulan? Karena, kata Bagus, tebakan di antara empat arah bukanlah lemparan koin lima puluh-lima puluh. Dan kalibrator model ilmiah itu — data longsor modern — sama sekali tidak berhubungan dengan sumber yang dikalibrasinya. Sebagai orang yang membangun model matematis, Bagus tahu betul: sebuah model hanya sebaik data yang mengkalibrasinya, dan ketika kalibrator yang independen ternyata mengonfirmasi model yang ditulis ratusan tahun lebih dulu, itu adalah "kebetulan langka" yang tak mungkin direkayasa. Aditia menambahkan tafsir yang menyejukkan: pengarang Warugan Lemah tidak menulis artikel ilmiah, tetapi ia mengumpulkan fakta sejarah — pengalaman generasi demi generasi tentang tanah mana yang celaka — lalu memadatkannya menjadi manual. Ini bukan takhayul; ini proto-pengetahuan hasil akumulasi pengalaman empiris yang transmisinya kemudian terputus.

Bagus melengkapinya dengan paralel dari Yogyakarta: pengetahuan turun-temurun tentang hubungan Gunung Merapi dan Laut Selatan, yang kelak dikonfirmasi ketika kapal riset membawa gravimeter pada 1960-an menemukan jalur magma yang tumpang tindih dengan sumbu filosofis Merapi–Laut Selatan, dan ketika episentrum gempa 2006 ternyata berada di sekitar Sungai Opak. Pengetahuan semacam inilah, kata Bagus, yang sayang jika kita singkirkan begitu saja hanya karena bentuknya bukan sains modern.

Tujuh Tingkat Hukum dalam Satu Paragraf

Barangkali temuan paling menggetarkan tersembunyi dalam satu paragraf Siksa Kandang: sebuah strata hukum berjenjang tujuh tingkat, tugas para ahli hukum yang disebut para tanda, dari yang terendah ke tertinggi:

  1. Acara — adat istiadat, custom.
  2. Adigama — hukum sakral yang tertulis dan terkodifikasi (setara KUHP hari ini).
  3. Guru Gama — ajaran guru agama.
  4. Tuha Gama — ajaran para tetua, sesepuh.
  5. Sat Mata — kesepakatan dua pihak, mediasi; moral kolektif, semacam perjanjian bermaterai.
  6. Surakloka — dari sorak: ekspresi ketidaksetujuan yang disuarakan khalayak, aspirasi publik. Yang di Barat disebut civil disobedience punya ruang resmi di sini, tidak dianggap gangguan terhadap status quo.
  7. Wicara — proses peradilan; forum yang menghadirkan hakim, saksi, dan tersangka. (Kata "bicara" masih dipakai pada era kolonial.)

Yang membuat Bagus terpukau adalah urutannya. Perhatikan bahwa Sat Mata — moral kolektif — ditempatkan di atas Adigama, hukum tertulis. Ini bukan susunan sembarangan. Bila hukum tertulis diletakkan paling tinggi, ia mati, "terpahat di atas batu". Tetapi moral kolektif terus berkembang, sehingga sistem hukum bisa beradaptasi dengan zaman. Kontrasnya tajam dengan warisan yang kita pakai sekarang: hukum Indonesia adalah turunan Belanda, yang turunan Prancis pasca-Revolusi dan kodifikasi Napoleon — sistem Civil Law yang menaruh statuta tertulis di puncak. Bagus mengingatkan bahwa dalam Common Law Inggris, "mencuri" bukan sekadar mengambil milik orang lain secara melanggar hukum, melainkan mengambilnya "secara tidak jujur" — dan "tidak jujur" itu ukuran moral kolektif yang terus didefinisikan ulang menurut zaman (sebuah warisan pemikiran empirisme David Hume). Logika Sunda Kuno, tanpa sadar, memilih watak yang sama luwesnya.

Di puncak segalanya: wicara, ucapan. Dan di sinilah kritik paling tajam terhadap masa kini mengalir. Bagi orang Sunda, ucapan berstatus tertinggi karena kejujuran benar-benar disakralkan; sekali seseorang berdusta, ia langsung masuk daftar hitam. Kata Sunda warah bahkan berevolusi dari makna "ucapan" menjadi "ajaran" — sebab ajaran pada mulanya adalah perkataan. Ada idiom Sunda bahwa kualitas manusia diukur dari ucapannya; sepupunya di Jawa berbunyi ajining diri saka lathi — harga diri seseorang terletak pada lidahnya. Betapa jauh kita dari itu, keluh Bagus, ketika ketidakjujuran hari ini dipertontonkan tanpa malu, ketika seseorang bisa berkata A hari ini dan B esok pagi di muka publik seolah tak terjadi apa-apa.

Tanah yang Feminin, Kerja yang Sakral

Ketika percakapan beralih ke isu ekstraksi mineral — dari tambang nikel Raja Ampat hingga dilema abadi bahwa tanpa penambangan manusia tak beranjak dari zaman batu — Aditia menunjukkan bahwa Sunda Kuno mengenal pertambangan, tetapi dengan skala dan kesadaran yang berbeda. Ada istilah pandai untuk pengolah logam: pandai besi, pandai gelang, pandai emas; bahkan baju zirah untuk berperang. Penambangan pasti ada — tetapi untuk kebutuhan praktis, bukan eksploitasi destruktif.

Kuncinya ada pada bagaimana tanah dipahami. Tanah itu feminin — Ibu Pertiwi, berpasangan dengan Ayah Angkasa, warisan tradisi Weda. Ada Dewi Sri, istri Wisnu yang turun memberi kesuburan dan padi. Sifat feminin itu membuat perlakuan terhadap tanah menjadi sakral. Di Badui, orang tak boleh mencangkul tanah — harus dengan tangan, hati-hati; genting dari tanah liat pun dilarang, sebab tanah yang berada di atas kepala sama dengan mengubur diri. Lebih dalam lagi: dalam kesadaran itu, aktivitas sehari-hari — menenun, berladang — bukan sekadar mengisi jadwal, melainkan ibadah dan aktualisasi diri menuju moksa. Bila hidup dimaknai demikian total, eksploitasi mustahil terjadi. Bagus menutup bagian ini dengan sebuah keresahan yang layak direnungkan: kiblat etika lingkungan dunia masih Barat — Aldo Leopold dan seterusnya — sementara Indonesia menyimpan potensi epistemik yang belum digali tentang cara hidup berdampingan dengan alam.

Tritantu: Trias Politika yang Mendahului Montesquieu

Bagian ketiga disertasi membahas kedudukan pertapa dalam struktur sosial, dan di sini muncul konsep Tritantu — tiga benang (tantu = benang) yang mengikat dan menstabilkan dunia. Ketiganya adalah Prabu (kekuasaan politik, raja), Rama (tetua yang mengurus pertanian dan perdagangan), dan Resi (kalangan agamawan dan pertapa). Sebuah pembagian kekuasaan tiga poros — trias politika ala Sunda — yang, sebagaimana ditandaskan dengan bangga dalam percakapan, mendahului Montesquieu sekitar tiga ratus tahun.

Pembagian itu bahkan tercermin dalam senjata. Siksa Kandang menyebut hanya tiga golongan yang berhak menyandang senjata: Prabu dengan golok dan keris; Rama, sang petani, dengan kujang — yang kini menjadi lambang Kota Bogor dan Jawa Barat; dan Resi dengan pisau pangot, pisau raut untuk menggores lontar. Elite ini yang menentukan nasib orang banyak, masing-masing menjaga keseimbangan di ranahnya: keilmuan dan keagamaan (Resi), kekuasaan (Prabu), ekonomi (Rama).

Relasi di antara mereka dipetakan dengan halus. Rama kadang berada di bawah arahan Prabu, tetapi Resi berdiri lebih selevel — ada persaingan sekaligus saling menghormati antara penguasa dan agamawan. Cerita Parahyangan merumuskannya dalam metafora yang indah: Prabu ngagurat batu (menggores batu — keputusannya harus tegas dan tak bergeming), Rama ngagurat lemah (menggores tanah — menetapkan batas wilayah dan pembagian ekonomi), dan Resi ngagurat cai (menggores air — harus supel, mengalir masuk ke semua kalangan, mewadahi semua). Jejaknya masih hidup di Badui dalam tiga kampung dalam — Tangtu Telu: Cikertawana, Cikeusik, dan Cibeo.

Pesan etisnya konsisten: masing-masing harus profesional di bidangnya. Bila Rama melompat-lompat ke ranah lain, "dunia tidak akan benar". Aditia dan Bagus lalu membaca dunia hari ini melalui lensa ini. Cina, kata Bagus, efektif menjaga batas tegas antara politik (Prabu) dan bisnis (Rama) — ketika Jack Ma dianggap melampaui batas menuju ranah kekuasaan, ia "menghilang" berbulan-bulan. Sebaliknya, kaburnya batas Prabu–Rama tampak pada kedekatan lalu keretakan Elon Musk dan Donald Trump. Yang lebih pelik lagi adalah ketegangan Prabu–Resi, konflik abadi antara kuasa dan ilmu. Aditia mencemaskan gejala ini dalam penulisan sejarah Indonesia dan dalam lembaga seperti BRIN: sejarah adalah ranah Resi, disiplin ilmu, dan ia harus berhati-hati ketika mulai masuk ke dalam patronase Prabu. Menariknya, ia menemukan bahwa di Jawa Kuno ada kawi haji, penyair keraton yang dikomisi raja untuk menulis Desawarnana/Nagarakertagama — tetapi di Sunda Kuno, ia tidak menemukan patronase semacam itu. Tak satu pun pengarang Sunda menyatakan karyanya ditulis atas perintah raja. Kaum Resi Sunda tampak independen; merekalah yang menyusun Siksa Kandang Karesian yang mengatur masyarakat umum.

Cerita Parahyangan bahkan melontarkan kritik politik yang tajam terhadap raja yang mencoba beralih menjadi resi — kecenderungan raja pandita (mandito rojo), menarik diri ke hutan bertapa dan sesekali "turun gunung". Sang pengarang mengecam raja Sunda yang, ketika kerajaan diserbu Cirebon dan Demak dan Pajajaran di ambang kehancuran, malah berlagak berpuasa dan bertapa seperti resi — melarikan diri dari tanggung jawab politiknya sebagai Prabu. Sebuah kritik yang bergema hingga citra "turun gunung" para pemimpin kita di era modern.

Mata Rantai yang Hilang

Semua kekayaan ini membawa pada pertanyaan yang murung namun penting: mengapa kita nyaris melupakannya? Aditia menunjuk sebuah celah menganga dalam historiografi Sunda — jurang antara abad ke-15 dan kebangkitan pemikir Sunda seperti Haji Hasan Mustapa pada abad ke-19–20. Selama berabad-abad di antaranya, tak lahir lagi karya kanonik yang khas Sunda seperti Siksa Kandang.

Konteks kolonial memperdalam luka itu. Ketika Belanda datang ke Priangan yang subur, orang Sunda seolah menjadi "kelinci percobaan pertama" bagi sistem-sistem eksploitatif — cultuurstelsel konon mula-mula diujicobakan di wilayah Cirebon dan Priangan sebelum disalin ke daerah lain. Dan yang tragis: sejak sekitar abad ke-18, tak ada lagi yang bisa membaca naskah Sunda Kuno. Ketika sarjana Belanda Netscher pertama kali menemukan naskah-naskah tua itu dan bertanya siapa yang bisa membacanya, tak seorang pun sanggup. Tradisi itu sudah mati — Belanda menemukannya seperti menemukan peradaban yang telah lama padam. Aditia menduga: boleh jadi eksploitasi kolonial berlangsung tanpa perlawanan justru karena orang Sunda sendiri sudah kehilangan akar kearifan yang bisa menyadarkan mereka.

Bagus menawarkan paralel yang menenangkan sekaligus menggetarkan: dalam tradisi Yahudi pun ada masa "kegelapan" dua-tiga ratus tahun setelah Maleakhi, ketika "Tuhan tidak lagi berbicara" — tak ada kanon, tak ada karya monumental, sebuah jeda panjang yang membuat orang bertanya-tanya apa yang terjadi. Namun Aditia menolak istilah "zaman kegelapan" untuk Sunda dalam nada seram: mungkin kita hanya belum menelitinya. Jawa punya keraton yang relatif menjaga kesinambungan; Sunda tidak punya penjaga keraton — Banten hancur lebur karena perlawanan sengit terhadap Belanda, sementara Cirebon lebih bercorak Jawa.

Yang Hilang adalah Ingatan Kita

Sebagai penutup, Bagus mengajukan pertanyaan yang selalu sulit bagi seorang ilmuwan: apa kontribusi warisan Sunda bagi Indonesia menghadapi dunia global? Aditia menjawabnya dengan kejujuran yang jarang. Mengutip Edwin Wieringa, ia menolak beban "kontekstualisasi" yang kerap dituntut dari peneliti. Tugas seorang filolog bukanlah memaksakan agar Warugan Lemah dipakai pemerintah untuk tata kota; tugasnya adalah membaca — membuka literatur yang kaya itu selebar-lebarnya. "Silakan gunakan bagi siapa pun yang memerlukannya," katanya, sebagaimana orang Eropa bebas mengangkat mitologi lama mereka menjadi film Thor. Yang ia harapkan hanyalah agar kerja itu strategis bagi kehidupan kita sekarang, dalam kerangka yang ia sebut literasi kebangsaan.

Dan di sinilah percakapan ini menemukan catatan indahnya. Menanggapi jargon "reinventing Indonesia" — menemukan atau mendefinisikan ulang Indonesia — Aditia menawarkan pembalikan yang menghantam:

Apakah Indonesia itu hilang, atau kita hanya lupa menaruhnya? Dia ada di situ — di manuskrip, di prasasti, di candi, di gua-gua. Kita saja yang tak mau menengoknya. Yang hilang adalah ingatan kita, bukan barangnya, bukan masa lalunya.

Masa lalu itu tetap ada. Penelitinya ada, buku-bukunya banyak. Yang belum kita lakukan hanyalah memperpanjang ingatan dengan membaca. Empat kitab, seratus naskah, seratus lima belas dokumen — sebuah gerbang yang selama ini terbuka, menunggu bangsanya cukup sabar untuk cinta pada kata.


Catatan: Esai ini adalah rangkuman editorial atas percakapan Chronicles #22 (kanal Bagus Muljadi) bersama Dr. Aditia Gunawan. Kutipan langsung disarikan dan diberi atribusi; teks lengkap transkrip disimpan hanya untuk keperluan riset internal sesuai kebijakan hak cipta Indokorpus (tier C). Untuk pendalaman, rujuk disertasi Aditia Gunawan tentang Sang Hyang Hayu, Siksa Guru, Sasana Mahaguru, dan Siksa Kandang Karesian, serta karyanya tentang Warugan Lemah.*