Kerajaan yang Mengabadikan Orang, Bukan Lembaga

Redaksi Indokorpus

Kerajaan yang Mengabadikan Orang, Bukan Lembaga

Esai berdasarkan percakapan Gita Wirjawan dengan Herald van der Linde — Indonesianis, strategist HSBC, dan penulis buku "Majapahit" — dalam Endgame #203, "Bibit Indonesia Muncul di Majapahit".


Orang Belanda yang Pulang ke Pasar Minggu

Herald van der Linde tiba di Indonesia tahun 1990 hampir karena kebetulan: uangnya tidak cukup untuk ke Irlandia, dan seorang teman menyarankan Indonesia. Di feri menuju Lombok ia menolong seorang anak yang sakit; keluarganya memungut dia, membawanya ke Pasar Minggu, dan rencana menginap dua hari menjadi enam bulan. Mereka berpuasa, ia ikut puasa. Mereka tidak berbahasa Inggris, maka ia terpaksa belajar bahasa Indonesia. Bertahun-tahun kemudian, sesudah menjadi analis pasar modal dan menulis buku tentang Jakarta, ia menulis buku tentang Majapahit — dikerjakannya tiga setengah tahun, setiap Sabtu pagi, dengan gembira.

Kenapa Majapahit, bukan Sriwijaya, bukan perang kemerdekaan yang jauh lebih laku di negerinya sendiri? Jawabannya adalah tesis seluruh percakapan ini: "Saya pikir bibit Indonesia munculnya di Majapahit." Untuk mengerti Indonesia — bahasanya, makanannya, orangnya — ia merasa harus mengerti Majapahit lebih dulu. Bung Karno pun, catatnya, terus-menerus memakai Majapahit sebagai rujukan sebelum dan sesudah kemerdekaan.

Satu hal lagi yang ia bawa ke percakapan ini, dan patut dicatat oleh siapa pun yang peduli literasi: ia menulis bukan karena merasa berbakat, melainkan untuk menajamkan pikiran. Kalau sebuah gagasan bisa ia tuliskan dalam satu paragraf, barulah ia yakin telah memahaminya.

Bibit yang Lebih Tua dari Republik

Cerita van der Linde dimulai jauh sebelum Majapahit berdiri. Pada abad ke-8, ketika Borobudur dibangun, Jawa bersinggungan dengan dua peradaban besar sekaligus — Dinasti Tang di Tiongkok dan Abbasiyah di Baghdad. Hindu dan Buddhisme esoterik masuk dari India dan Tiongkok, tetapi yang menarik perhatiannya justru apa yang terjadi setelah itu: orang Jawa tidak sekadar menerima. Agama, barang, dan gagasan itu diindonesiakan — diubah menurut selera dan pikiran sendiri. Bagi van der Linde, identitas Indonesia sudah mulai terbentuk di sana: bukan sesuatu yang datang dari India atau Tiongkok, melainkan hasil olahan sendiri.

Lalu ada detail yang nyaris seperti dongeng tetapi menentukan letak sebuah keraton. Ketika Airlangga membagi kerajaannya untuk dua anaknya pada abad ke-11, seorang pertapa yang diminta menarik garis batas — menurut kisahnya, dengan terbang membawa air suci — tersangkut di sebuah pohon asam. Secara spiritual, pembelahan itu tidak selesai; artinya, wilayah itu masih bisa dipersatukan kembali. Berabad-abad kemudian, di tempat pohon asam itulah keraton Majapahit didirikan. Tempat itu adalah simbol penyatuan.

Di tempat yang sama, pada 21 November 1289 menurut penuturannya, Kertanagara — raja Singasari yang telah menyiapkan diri secara militer dan spiritual — menggelar upacara besar untuk menegaskan bahwa wilayah itu miliknya, satu. Van der Linde melempar spekulasi yang menggoda: mungkin tanggal itulah "tanggal lahirnya Nusantara". Tidak lama kemudian Kertanagara melakukan tindakan yang paling dikenang dari dirinya: memotong kuping utusan Kubilai Khan yang datang menuntut takluk. Ia tahu persis konsekuensinya — armada Mongol pasti datang. Tetapi ia merasa siap, dan tuntutan itu memang di luar batas wajar. Sebuah proyeksi kedaulatan, dibayar dengan nyawanya sendiri ketika Kediri menusuk dari belakang.

Naik Lewat Intrik, Dijaga oleh Perempuan

Sejarah berikutnya berjalan seperti drama politik kelas satu, dan van der Linde memang sengaja menuliskannya begitu — "seperti fiksi, tapi bukan bohong; ini riset." Raden Wijaya, menantu Kertanagara yang kabur ke Madura, memanfaatkan armada Mongol yang datang menuntut balas: ia meminjam tangan mereka untuk menghancurkan Kediri, lalu berbalik menyerang mereka saat pesta kemenangan. Pasukan Mongol pulang dengan tergesa — meninggalkan meriam dan teknologi militer baru yang kemudian menjadi modal kerajaan yang baru berdiri: Majapahit. Kubilai Khan keburu meninggal; Tiongkok sibuk dengan dirinya sendiri. Celah geopolitik itu diambil.

Di dalam negeri, tokoh yang mengisi panggung adalah Gajah Mada — dan dua perempuan yang jarang mendapat porsi sebesar jasanya. Gajah Mada memulai karier sebagai kepala Bhayangkara, pasukan elite. Ketika Raja Jayanagara yang lemah terancam, ia mengungsikan sang raja, lalu kembali ke ibu kota dan menyebarkan kabar bohong bahwa raja telah mati — semata untuk membaca reaksi orang: siapa yang berduka, siapa yang lega. Dari situ ia tahu persis siapa yang loyal. Belakangan, dalam sebuah adegan yang hanya disaksikan tiga orang di satu ruangan — raja yang sakit, tabib yang dendam, dan Gajah Mada — Jayanagara mati; tabibnya langsung dibunuh, dan satu-satunya cerita yang keluar dari ruangan itu adalah versi Gajah Mada.

Van der Linde menduga dorongan datang dari Gayatri, putri Kertanagara yang paling cerdas, yang mewarisi impian ayahnya untuk mempersatukan wilayah. Gajah Mada adalah alat yang sempurna: cakap, dekat dengan tentara, dan — karena bukan darah bangsawan — tidak akan pernah bisa menjadi ancaman bagi takhta. Sesudah Jayanagara, naiklah Tribhuwana Tunggadewi, ratu pertama dalam sejarah Singasari-Majapahit, yang turun sendiri ke medan perang menumpas pemberontakan Sadeng. "Kita sebenarnya harus berterima kasih kepada beberapa wanita ini," kata van der Linde — Gayatri dan Tribhuwana-lah yang menciptakan stabilitas panjang yang memungkinkan puncak kejayaan di era Hayam Wuruk.

Terlalu Bergantung pada Satu Orang

Justru di puncak itulah kelemahan strukturalnya telanjang. Hayam Wuruk — raja muda yang menyukai seni, tari, dan musik — hidup di bawah bayang-bayang patih yang tiga puluh tahun lebih tua dan jauh lebih dihormati. Orang datang ke keraton bukan untuk bertanya kepada raja, melainkan kepada Gajah Mada. Tragedi Bubat adalah buah paling pahitnya: pernikahan yang seharusnya mempersatukan Sunda dan Majapahit berubah menjadi pembantaian karena sang patih — menurut sumber-sumber Sunda yang, van der Linde mengingatkan, punya biasnya sendiri — bertindak jauh di luar mandat rajanya. Gita Wirjawan menyimpulkannya dengan tajam: patih itu bisa keluar dari batas justru karena tidak ada bangunan kelembagaan yang membatasinya.

Ada satu bukti kecil yang nyaris lucu: sesudah Gajah Mada meninggal, jabatannya tidak diberikan kepada satu orang, melainkan dipecah ke beberapa orang — pengakuan diam-diam bahwa mereka telah membiarkan satu manusia menjadi terlalu penting. Tetapi sudah terlambat. Van der Linde menyebutnya tanpa tedeng aling-aling: mereka membangun kerajaan, tetapi tidak membangun institusi yang bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Begitu orangnya wafat, puncaknya lewat. Seratus tahun berikutnya adalah perang saudara, wilayah-wilayah ujung yang diam-diam berkirim surat sendiri ke Tiongkok, jalur dagang yang berpindah ke pesisir dan Malaka, Sungai Brantas yang mendangkal, Demak yang naik — dan Majapahit yang menonton semuanya tanpa bereaksi. Kalimat van der Linde untuk fase ini layak diingat lama: kalau tidak ikut berubah, "tidak jadi pemimpin, tapi akhirnya jadi penonton."

Gita menambahkan benang merah yang melampaui Majapahit: peradaban-peradaban yang kendor adalah yang "terlalu sibuk mengimortalitaskan seseorang, tapi tidak sibuk mengimortalitaskan institusi." Sulit untuk tidak mendengar gaungnya hari ini.

Mengapa Tidak Ada Revolusi Sains di Majapahit?

Pertanyaan Gita yang paling menggelitik: Borobudur selesai pada abad ke-9 — lalu mengapa kejayaan Majapahit tidak menghasilkan lompatan sains dan konstruksi besar? Jawaban van der Linde mengejutkan karena masuk akal secara politik. Demi merangkul para pemuka Buddha dan Hindu menjelang konfrontasi dengan Kubilai Khan, Kertanagara memberi wilayah-wilayah status bebas pajak dan izin membangun candi sendiri-sendiri. Hasilnya: ratusan candi kecil tersebar dari Kediri sampai Blitar — dan tidak ada satu pun tantangan sebesar Angkor Wat yang memaksa orang menemukan teknologi baru. Stabilitas politik dibeli, tetapi tanpa disadari harganya adalah hilangnya challenge yang biasanya melahirkan penemuan. Sebuah pelajaran yang nyaris terlalu relevan: masyarakat yang tidak menantang dirinya sendiri tidak akan berinovasi.

Meski begitu, ada satu candi yang oleh van der Linde diangkat sebagai simbol: Candi Jago dekat Malang — bagian bawahnya Hindu, atasnya Buddha, menghadap gunung dengan jejak rasa animis. Satu bangunan untuk beberapa keyakinan. Toleransi bukan jargon di Majapahit; ia tertulis di batu. Itulah, katanya, kekuatan Majapahit yang sesungguhnya — dan pelajaran Indonesia untuk dunia: tiga ratusan suku yang bisa hidup bersama.

Tiga Kerentanan yang Masih Kita Kenal

Mengapa Majapahit — dan menurut keduanya, Indonesia — begitu mudah di-divide and conquer? Gita menawarkan tiga hipotesis yang disepakati van der Linde: kepemimpinan yang tidak menyatukan; kesejahteraan yang tidak terdistribusi; dan kognisi yang tidak terdistribusi. Masyarakat yang sejahtera dan bernalar sulit diadu domba, karena punya alat untuk membaca perubahan. Majapahit tidak memilikinya — terlalu sibuk dengan politik keluarga untuk melihat dunia bergeser.

Dari sini percakapan melompat ke masa kini tanpa terasa dipaksakan. Vietnam, yang baru selesai perang tahun 1975 dan dulu belajar menanam padi dari Indonesia, kini menempati peringkat ke-13 dunia dalam skor PISA; Indonesia ke-69. Van der Linde bercerita tentang asisten rumah tangganya di Hong Kong — perempuan cerdas kelahiran pegunungan dekat Solo yang, begitu diberi kursus, pulang membangun bisnisnya sendiri. Gita merangkumnya dalam satu kalimat yang pantas menjadi kebijakan negara: "Talenta itu universal, tapi peluang enggak universal." Tugas institusi — kata kunci itu lagi — adalah menguniversalkan peluang.

Membaca Sejarah sebagai Latihan Nalar

Bagian penutup percakapan ini adalah pembelaan paling meyakinkan untuk belajar sejarah — bukan sebagai hafalan tanggal yang dilupakan sesudah ujian, melainkan sebagai latihan berpikir kritis. Kita tidak punya bukti seratus persen bahwa Gajah Mada membunuh Jayanagara; kisah Bubat hanya sampai kepada kita lewat pena orang Sunda yang berkepentingan. Justru di situlah nilainya: sejarah memaksa kita menimbang sumber, mencurigai bias, membangun konjektur yang jujur tentang batas pengetahuan kita — otot yang sama yang kita butuhkan setiap kali linimasa media sosial menyodorkan kemarahan instan yang belakangan terbukti bohong.

Kisah penemuan kembali Majapahit sendiri adalah bukti bahwa ingatan bangsa bisa hilang dan ditemukan lagi. Raffles berkeliling Jawa pada awal abad ke-19 mendengar nama "Majapahit" tanpa tahu apa itu, lalu menyuruh seorang juru peta Belanda, Wardenaar, mengukur reruntuhan Trowulan. Peta itu masuk koper dan hilang — sampai tahun 2008, ketika sejarawan yang penasaran melacaknya dan menemukannya di British Museum. Bersama Nagarakretagama yang ditemukan kembali lebih dulu, potongan-potongan itu perlahan mengembalikan Majapahit ke dalam kesadaran kita.

Van der Linde menulis bukunya sebagai gate opener — pintu masuk agar orang tertarik melihat candinya, membaca buku berikutnya, atau bahkan tidak setuju dengannya. Semangat yang sama yang menggerakkan perpustakaan ini: sejarah dan gagasan bukan untuk dipajang, melainkan untuk dibaca, digugat, dan dijadikan bahan berpikir. Dan nasihat menulisnya berlaku untuk kita semua, bukan hanya calon penulis buku: kalau ingin benar-benar memahami sesuatu, duduklah dan tuliskan. Tidak ada alat penajam pikiran yang lebih baik dari itu.


Tonton percakapan lengkapnya di kanal Endgame (Gita Wirjawan): "Bibit Indonesia Muncul di Majapahit" — Herald van der Linde, Endgame #203. Kutipan-kutipan pendek di esai ini diambil dari transkrip episode tersebut dengan penyuntingan ringan untuk keterbacaan.