II. DIRECT AND INDIRECT UNDERSTANDING
Ringkasan Bahasa Indonesia
Ringkasan Bab II: Pemahaman Langsung dan Tidak Langsung
Bab ini membahas dua cara utama manusia memahami sesuatu: secara langsung (spontan, tanpa berpikir panjang) dan secara tidak langsung (melalui proses berpikir atau penalaran). Dewey menjelaskan bahwa dalam kehidupan intelektual, kedua cara ini saling terkait dan membentuk semacam gerakan spiral pengetahuan.
1. Dua Jenis Pemahaman
Ketika seseorang mendengar kata “kertas” dalam bahasa yang ia kuasai, ia langsung paham artinya tanpa perlu berpikir. Demikian pula ketika melihat batu, ia langsung mengenalinya. Inilah yang disebut pemahaman langsung—makna dan benda menyatu secara instan. Sebaliknya, jika ia melihat tanda atau goresan aneh pada batu itu, ia tidak langsung paham; ada makna yang tersembunyi dan perlu dicari. Inilah pemahaman tidak langsung—makna dan benda terpisah sementara, dan kita harus merenung atau menyelidiki untuk menangkap artinya.
Dewey mencatat bahwa banyak bahasa memiliki dua kata untuk membedakan mode ini: Yunani gnonai (mengenal langsung) dan eidenai (mengetahui melalui penalaran), Latin noscere dan scire, Jerman kennen dan wissen, Prancis connaître dan savoir. Dalam bahasa Inggris, padanannya adalah to be acquainted with (akrab dengan) dan to know of or about (tahu tentang).
Kehidupan intelektual kita sebenarnya adalah interaksi khusus antara kedua jenis pemahaman ini. Semua pertimbangan (judgment) dan penalaran reflektif berawal dari adanya kekurangan pemahaman—makna yang belum lengkap. Kita merenung agar bisa menangkap makna penuh dari apa yang terjadi. Namun, sesuatu harus sudah dipahami lebih dulu; pikiran harus memiliki bekal makna yang sudah dikuasai, jika tidak, berpikir tidak mungkin terjadi.
Contoh: Seorang ilmuwan yang datang ke daerah baru akan menemukan banyak hal yang tidak ia pahami, sementara penduduk asli mungkin menganggap semuanya biasa saja. Sebaliknya, beberapa orang Indian yang dibawa ke kota besar tetap cuek melihat jembatan atau trem, tetapi terpesona melihat pekerja memanjat tiang untuk memperbaiki kabel. Semakin banyak makna yang kita miliki, semakin kita sadar akan adanya titik-titik buta dan masalah baru. Hanya dengan menerjemahkan kebingungan baru ke dalam hal-hal yang sudah familiar, kita bisa memahami dan memecahkan masalah. Inilah gerakan spiral pengetahuan yang konstan.
Dewey merangkum:
“Kemajuan kita dalam pengetahuan yang sejati selalu terdiri dari dua hal: di satu sisi penemuan sesuatu yang tidak dipahami dalam apa yang sebelumnya dianggap biasa dan jelas, dan di sisi lain penggunaan makna-makna yang sudah langsung dipahami tanpa dipertanyakan sebagai alat untuk memahami makna-makna yang kabur, meragukan, dan membingungkan.”
Tidak ada objek yang begitu akrab sehingga tidak mungkin menimbulkan masalah baru dalam situasi baru. Sebaliknya, tidak ada prinsip yang begitu asing sehingga tidak bisa menjadi akrab setelah direnungkan. Kemajuan intelektual adalah ritme antara pemahaman langsung (secara teknis disebut aprehensi) dan pemahaman tidak langsung (secara teknis disebut komprehensi).
2. Proses Memperoleh Makna
Bagaimana kita membangun gudang makna yang bisa langsung dipahami? Pertanyaan ini sulit dijawab karena kita sudah sangat terbiasa sehingga lupa bahwa dulu makna-makna itu harus dipelajari. Kita langsung melihat kursi, meja, pohon, bintang seolah-olah maknanya sudah melekat pada benda itu sendiri.
Kebingungan adalah awal sebelum keakraban.
William James menggambarkan dunia bayi sebagai “satu gejolak dengung yang besar dan buram” (one great blooming, buzzing confusion). Hal yang sama berlaku ketika orang dewasa menghadapi sesuatu yang benar-benar baru. Di loteng yang asing, segala sesuatu tampak kabur dan campur aduk. Bahasa asing terdengar seperti ocehan yang tidak jelas. Orang desa di jalan kota yang ramai, atau orang yang tak mengerti olahraga saat menonton pertandingan, juga mengalami hal serupa. Semua orang dari ras lain tampak sama bagi pengunjung asing. Hanya perbedaan ukuran atau warna yang kasar yang terlihat saat orang luar melihat sekawanan domba, padahal setiap domba unik bagi gembalanya.
Masalah memperoleh makna adalah bagaimana memperkenalkan (i) kepastian dan perbedaan serta (ii) konsistensi atau kestabilan ke dalam apa yang awalnya samar dan goyah.
Respons praktis menjernihkan kekaburan.
Bayi tidak belajar makna hanya melalui indra, melainkan melalui tindakan. Dengan menggulingkan benda, ia menonjolkan sifat kebulatannya; dengan memantulkannya, ia mengenali elastisitas; dengan melemparnya, berat menjadi ciri yang mencolok. Bukan indra, melainkan reaksi atau penyesuaian respons yang membuat kesan menjadi khas dan berbeda dari kualitas lain yang memicu reaksi berbeda.
Contoh: Anak-anak sering lambat mengenali perbedaan warna. Merah, hijau, biru tidak segera dibedakan secara intelektual karena warna itu sendiri tidak memicu respons yang cukup unik. Namun, ketika putih dikaitkan dengan susu dan gula yang disukai, biru dengan baju kesayangan, maka warna mulai memiliki makna yang khas.
Kita mengidentifikasi berdasarkan kegunaan atau fungsi.
Kita mudah membedakan garu, cangkul, bajak, sekop karena masing-masing memiliki fungsi khas. Sebaliknya, kita mungkin sulit mengingat perbedaan antara serrate dan dentate pada daun, atau antara asam -ic dan -ous, karena perbedaan bentuk dan ukuran kurang terkait dengan fungsi. Variasi bentuk, ukuran, warna memang kini tampak jelas, tetapi justru itulah yang perlu dijelaskan: bagaimana semua itu awalnya memperoleh kejelasan. Jika kita pasif di hadapan objek, semuanya tetap kabur. Perbedaan nada atau intensitas suara mungkin terasa berbeda, tetapi hanya ketika kita mengambil sikap berbeda terhadapnya—atau melakukan sesuatu khusus—perbedaan samar itu bisa ditangkap secara intelektual.
Gambar anak-anak menunjukkan dominasi nilai guna.
Anak menggambar rumah dengan dinding transparan karena yang penting baginya adalah ruangan, kursi, tempat tidur, orang di dalam—bukan perspektif. Asap selalu keluar dari cerobong karena itulah fungsi cerobong. Kaos kaki Natal bisa digambar sebesar rumah atau bahkan lebih besar, karena nilai guna menentukan skala. Gambar-gambar itu adalah pengingat diagramatis dari nilai-nilai, bukan catatan objektif kualitas fisik. Orang dewasa yang belajar melukis sering kesulitan karena kebiasaan penggunaan telah begitu melekat pada makna benda sehingga sulit untuk disingkirkan.
Suara sebagai tanda bahasa.
Bahasa adalah contoh paling jelas bagaimana rangsangan sensorik semata (bunyi) memperoleh kepastian dan kestabilan makna. Ratusan atau ribuan kata kini langsung dipahami, padahal hubungan antara bunyi dan makna itu dibangun secara bertahap melalui pengalaman aktif: kita membuat bunyi, mengamati hasilnya, mendengarkan bunyi orang lain, dan melihat aktivitas yang menyertainya.
Kesimpulan: Keakraban dengan makna berarti kita telah memiliki sikap respons yang pasti terhadap objek, yang tanpa refleksi membuat kita mengantisipasi konsekuensi tertentu. Kepastian ekspektasi mendefinisikan makna; sifatnya yang berulang dan membiasakan memberi makna kestabilan dan konsistensi.
3. Konsep dan Makna
Kata “makna” adalah istilah sehari-hari, “konsep” atau “gagasan” lebih teknis. Namun, pada dasarnya tidak ada yang baru: setiap makna yang cukup terindividualisasi untuk langsung dipahami dan digunakan, dan yang diikat oleh kata, adalah sebuah konsep. Secara linguistik, setiap kata benda umum membawa makna; kata benda khusus atau kata benda dengan “ini” atau “itu” merujuk pada benda yang mewujudkan makna tersebut. Berpikir menggunakan dan memperluas konsep—artinya kita menggunakan makna dalam penalaran, dan penggunaan itu juga mengoreksi dan memperluas makna.
Konsep itu standar.
Orang yang berbeda dapat membicarakan objek yang sama meskipun objek itu tidak hadir secara fisik, dan mereka mendapatkan bahan keyakinan yang sama. Orang yang sama dalam momen berbeda merujuk pada objek yang sama. Pengalaman indrawi, kondisi fisik, kondisi psikologis bisa berbeda, tetapi makna yang sama dipertahankan. Jika pound berubah beratnya secara sewenang-wenang, dan penggaris berubah panjangnya saat kita gunakan, kita tidak bisa menimbang atau mengukur. Demikian pula jika makna tidak stabil, kita tidak akan bisa berpikir secara konsisten.
Fungsi konsep:
- Identifikasi – Memungkinkan kita mengenali sesuatu yang belum dikenal.
Contoh: Bintik cahaya baru di langit. Tanpa konsep, itu hanya titik terang. Dengan konsep, kita bertanya: asteroid? komet? matahari baru? nebula? Setiap konsep memiliki ciri khas yang dicari melalui penyelidikan. Akhirnya bintik itu diidentifikasi sebagai komet. - Suplementasi – Setelah teridentifikasi, semua pengetahuan tentang komet (lintasan, struktur) dibaca ke dalam objek itu, meskipun belum teramati.
- Sistematisasi – Konsep komet bukanlah sesuatu yang terisolasi; ia bagian dari keseluruhan sistem astronomi: matahari, planet, satelit, nebula, meteor, debu bintang. Semua konsep ini saling terkait, dan ketika bintik cahaya diidentifikasi sebagai komet, ia segera menjadi anggota penuh dalam kerajaan keyakinan ini.
Dewey mengutip anekdot Darwin: Ketika muda, ia menemukan cangkang tropis di lubang kerikil dan memberi tahu ahli geologi Sidgwick. Sidgwick berkata bahwa cangkang itu pasti dibuang seseorang, karena jika benar-benar tertanam di sana, itu akan menjadi bencana bagi geologi—akan meruntuhkan semua yang diketahui tentang endapan permukaan di Midlands yang bersifat glasial. Darwin heran karena Sidgwick tidak gembira dengan penemuan menakjubkan itu. Ia pun menyadari bahwa “ilmu pengetahuan terdiri dari mengelompokkan fakta sehingga hukum-hukum umum atau kesimpulan dapat ditarik darinya.” Ini menunjukkan bagaimana konsep ilmiah membuat sistematisasi menjadi eksplisit.
4. Apa yang Bukan Konsep
Konsep bukan residu.
Ada pandangan keliru bahwa konsep diperoleh dengan mengambil banyak objek berbeda, menganalisis sifat-sifatnya, lalu membuang yang berbeda dan menyisakan yang sama. Misalnya, dari banyak anjing (Fido, Carlo, Tray) kita mengambil warna, ukuran, bentuk, jumlah kaki, rambut, organ pencernaan, lalu menyisakan sifat umum seperti “berkaki empat” dan “dijinakkan.” Ini tidak benar.
Sebaliknya, anak mulai dengan makna yang ia peroleh dari satu anjing yang ia lihat, dengar, dan pegang. Ia membawa harapan tertentu dari pengalaman itu ke pengalaman berikutnya. Ia cenderung mengasumsikan sikap antisipatif setiap kali ada petunjuk. Misalnya, ia mungkin menyebut kucing sebagai “anjing kecil” atau kuda sebagai “anjing besar.” Namun, ketika sifat-sifat yang diharapkan tidak terpenuhi, ia terpaksa membuang beberapa ciri dari makna “anjing” dan menekankan ciri lain. Makna itu terus didefinisikan dan diperhalus saat ia menerapkannya pada anjing lain. Anak tidak mulai dengan banyak objek jadi lalu mengekstrak makna umum; ia mencoba menerapkan pengalaman lama untuk memahami yang baru, dan melalui proses asumsi dan eksperimen yang terus-menerus, konsepnya menjadi kokoh dan jelas.
Konsep bersifat umum karena penggunaannya, bukan karena bahannya.
Keumuman tidak terletak pada kumpulan sifat yang sama dari banyak individu, melainkan pada penerapan makna untuk memahami kasus baru. Kumpulan sifat dari satu juta objek hanyalah inventaris, bukan gagasan umum. Satu ciri mencolok yang ditemukan dalam satu pengalaman, lalu digunakan untuk membantu memahami pengalaman lain, sudah menjadi umum dalam arti sebenarnya. Sintesis bukanlah penambahan mekanis, melainkan penerapan sesuatu yang ditemukan dalam satu kasus untuk membawa kasus lain ke dalam barisan.
5. Definisi dan Organisasi Makna
Makhluk yang tidak bisa memahami sama sekali setidaknya terlindung dari kesalahpahaman. Namun, manusia yang mendapatkan pengetahuan melalui inferensi dan interpretasi terus-menerus terancam salah paham. Sumber utama kesalahan adalah ketidakjelasan makna. Makna yang kabur membuat kita salah memahami orang lain, benda, dan diri sendiri. Makna yang ambigu menyebabkan distorsi. Makna yang salah tetapi jelas masih bisa dilacak dan disingkirkan. Tapi makna yang kabur terlalu seperti agar-agar untuk dianalisis dan terlalu lembek untuk mendukung keyakinan lain. Ketidakjelasan adalah dosa logis asli—sumber sebagian besar akibat intelektual buruk.
Intensi dan Ekstensi.
Makna harus jelas, terpisah, tunggal, dan homogen. Nama teknis untuk makna yang terindividualisasi adalah intensi. Proses untuk mencapai unit-unit makna (dan menyatakannya) adalah definisi. Intensi dari istilah “manusia”, “sungai”, “benih”, “kejujuran”, “modal”, “mahkamah agung” adalah makna yang secara eksklusif dan khas melekat pada istilah-istilah itu. Uji kejelasan suatu makna adalah apakah ia berhasil menandai kelompok benda yang mewujudkannya dan membedakannya dari kelompok lain, terutama yang bermakna mirip. Makna “sungai” harus bisa menandai Rhone, Rhine, Mississippi, Hudson, Wabash, meskipun berbeda tempat, panjang, kualitas air, dan tidak boleh menyarankan arus laut, kolam, atau anak sungai. Penggunaan makna untuk menandai dan mengelompokkan berbagai eksistensi inilah yang disebut ekstensi.
Definisi mengemukakan intensi, sedangkan pembagian (atau kebalikannya, klasifikasi) menguraikan ekstensi. Intensi dan ekstensi, definisi dan pembagian, saling berkaitan. Makna sebagai ekstensi akan hampa jika tidak menunjuk pada objek; objek akan terisolasi jika tidak dikelompokkan berdasarkan makna khas yang mereka tunjukkan. Definisi dan pembagian memberi kita makna yang terindividualisasi dan menunjukkan kelompok objek mana yang dirujuk. Inilah fiksasi dan organisasi makna. Semakin jelas makna dari sekumpulan pengalaman dan semakin berfungsi sebagai prinsip untuk mengelompokkan pengalaman itu, maka kumpulan itu menjadi ilmu pengetahuan. Definisi dan klasifikasi adalah tanda ilmu, berbeda dari tumpukan informasi yang tidak berhubungan atau kebiasaan yang bekerja tanpa kita sadari.
Tiga jenis definisi:
- Denotatif (menunjuk) – Diperlukan untuk kualitas indra (warna, suara, rasa) dan kualitas emosional/moral. Orang buta tidak bisa memahami arti “merah” tanpa pengalaman melihat. Makna “kejujuran”, “simpati”, “takut” harus dipahami melalui pengalaman langsung. Reformasi pendidikan selalu menuntut kembali ke pengalaman pribadi. Bahkan orang paling terlatih pun harus mengalami langsung suatu kualitas untuk memahami hal baru.
- Ekspositori – Jika sudah ada gudang