LANGUAGE AND THE TRAINING OF THOUGHT
Ringkasan Bahasa Indonesia
John Dewey mengawali bab ini dengan sebuah paradoks mendasar: akar kata logos berarti sekaligus kata (ucapan) dan akal budi (pikiran), menunjukkan hubungan bahasa yang amat erat dengan pemikiran. Namun di sisi lain, "kata, kata, kata" sering dianggap sebagai kesuburan intelektual, kepalsuan berpikir. Tiga pandangan utama tentang relasi bahasa dan pikiran dikemukakan, dan Dewey menganut pandangan ketiga: bahasa bukanlah pikiran itu sendiri, melainkan alat yang mutlak diperlukan untuk berpikir dan mengomunikasikannya. Hal ini karena berpikir berurusan dengan makna, dan makna harus dilekatkan pada sesuatu yang fisik agar dapat ditangkap—sesuatu yang fisik itu adalah tanda (sign) atau simbol.
Bahasa dalam arti luas tidak terbatas pada ucapan dan tulisan. Gerak tubuh, gambar, monumen—apa pun yang digunakan secara sadar sebagai tanda—adalah bahasa. Tanda alami (seperti awan sebagai pertanda hujan) memiliki tiga kelemahan besar. Pertama, perhatian mudah teralih ke wujud fisik tanda itu sendiri, bukan pada maknanya. Contoh: Jika Anda menunjuk makanan pada anak kucing, ia akan melihat jari Anda, bukan makanannya. Tanda alami (jari menunjuk) gagal berfungsi karena nilai fisiknya lebih menarik daripada maknanya. Kedua, kita bergantung pada kejadian alam; kita harus menunggu hingga awan mendung muncul untuk mengingat kemungkinan hujan. Ketiga, tanda alami rumit dan tidak praktis. Tanda buatan (artificial signs), terutama bahasa lisan dan tulisan, mengatasi semua keterbatasan ini. Bunyi dan huruf memiliki nilai fisik yang sangat kecil, sehingga perhatian tidak teralih dari fungsi perwakilannya. Kita bisa memproduksinya kapan pun kita mau, dan bentuknya ringkas, portabel, serta mudah diatur. Tulisan hadir untuk mengatasi sifat sementara dari ucapan.
Dewey kemudian merinci apa yang dilakukan bahasa terhadap makna. Makna individual dipilih, diisolasi, dan dibuat jelas dari kekaburan yang tak berbentuk—ibarat pagar yang memisahkannya. Memberi nama pada sesuatu membuatnya berdiri sendiri sebagai entitas. Kedua, bahasa melabel atau menyimpan makna untuk digunakan di masa depan; meskipun bendanya sudah tidak ada, kata tetap bisa diproduksi untuk membangkitkan maknanya. Ketiga, bahasa menjadi kendaraan yang membawa makna ke situasi baru. Inilah kunci semua penilaian dan inferensi. Bayangkan Anda mengenali awan tertentu sebagai pertanda hujan, tetapi pengetahuan itu hanya berlaku untuk awan dan hujan spesifik itu. Tidak akan ada pertumbuhan kecerdasan, karena Anda tidak bisa menggunakan pengalaman masa lalu untuk mengantisipasi masa depan. Justru karena makna "awan mendung pertanda hujan" telah dilekatkan pada kata, kita dapat membawanya dan menerapkannya pada pengalaman baru.
Selain itu, bahasa mengorganisasikan makna. Kata-kata membentuk kalimat yang menghubungkan makna satu sama lain. Saat kita berkata "Buku itu adalah kamus" atau "Bintik cahaya di langit itu adalah Komet Halley", kita mengungkapkan hubungan logis—klasifikasi dan definisi. Tata bahasa adalah logika tak sadar dari pikiran populer.
Kutipan: "Klasifikasi-klasifikasi intelektual utama yang menjadi modal kerja pemikiran telah dibangun untuk kita oleh bahasa ibu kita."
Penyalahgunaan Bahasa dalam Pendidikan
Seruan para pembaru pendidikan "Ajarkan benda, bukan kata" jika ditafsirkan secara harfiah adalah negasi dari pendidikan, karena akan mereduksi kehidupan mental menjadi sekadar penyesuaian fisik tanpa makna. Namun, impuls di balik seruan ini bukannya tanpa dasar. Ada tiga penyalahgunaan utama bahasa di sekolah.
Pertama, kata yang terlepas dari pengalaman langsung menjadi hampa. Kata adalah simbol hanya jika mewakili makna yang pernah terlibat dalam interaksi langsung kita dengan benda. Memberi makna hanya melalui kata tanpa pengalaman membuat kata kehilangan arti. Lebih parah lagi, ada anggapan bahwa jika ada kata, pasti ada ide. Kenyataannya, baik anak-anak maupun orang dewasa bisa menggunakan rumusan verbal yang tepat tetapi hanya memiliki pemahaman yang paling kabur tentang artinya. Kutipan: Kemampuan mengulangi slogan dan proposisi yang sudah dikenal "memberi kesombongan belajar dan melapisi pikiran dengan pernis yang kedap terhadap ide-ide baru."
Kedua, bahasa bisa menghentikan penyelidikan pribadi. Kemalasan menyebabkan individu menerima ide yang beredar tanpa menguji. Kata-kata orang lain menjadi pengganti pemikiran sendiri. Studi bahasa sering digunakan untuk menghentikan pikiran pada tingkat pencapaian masa lalu dan menggantikan otoritas fakta dengan otoritas tradisi.
Ketiga, kata bisa menjadi rangsangan mekanis atau tanda pengganti (substitute signs). Mirip dengan tanda aljabar, kita bisa memanipulasi kata menurut aturan tetap tanpa memikirkan maknanya. Kutipan (Stout): "Sebuah kata adalah alat untuk berpikir tentang makna yang diungkapkannya; sebuah tanda pengganti adalah sarana untuk tidak berpikir tentang makna yang dilambangkannya."
Di ruang kelas, penekanan berlebihan pada keterampilan teknis dan perolehan jawaban benar sering mengubah keuntungan mekanisasi ini menjadi kerugian. Sikap siswa menjadi mekanis, hafalan menggantikan penyelidikan makna.
Penggunaan Bahasa yang Tepat dalam Pendidikan
Pernyataan "bahasa adalah ekspresi pikiran" hanya setengah benar. Motif utama bahasa adalah untuk memengaruhi aktivitas orang lain (melalui ekspresi keinginan, emosi, dan pikiran). Penggunaannya sebagai kendaraan pikiran yang sadar adalah fungsi tersier yang relatif terlambat. John Locke membedakan penggunaan "sipil" (untuk percakapan dan urusan biasa) dan "filosofis" (untuk menyampaikan gagasan tepat).
Kutipan (Locke): "Yang saya maksud dengan penggunaan sipil adalah komunikasi pikiran dan gagasan melalui kata-kata yang dapat menopang percakapan umum dan urusan biasa kehidupan sipil.... Yang saya maksud dengan penggunaan filosofis adalah penggunaannya untuk menyampaikan gagasan yang tepat tentang sesuatu."
Tugas pendidikan adalah mengarahkan bahasa lisan dan tulisan siswa yang awalnya digunakan untuk tujuan praktis dan sosial sehingga secara bertahap menjadi alat sadar untuk menyampaikan pengetahuan dan membantu pemikiran. Ini adalah transformasi yang sulit: jangan sampai mematikan spontanitas yang membuat bahasa hidup, tetapi harus menjadikannya instrumen intelektual yang akurat dan fleksibel. Ada tiga persyaratan.
Memperluas Kosakata. Ini terjadi melalui kontak yang lebih luas dengan benda dan orang, serta dari konteks bacaan. Ada perbedaan antara kosakata aktif (yang digunakan) dan pasif (yang dipahami). Sekolah sering memperkaya kosakata pasif melalui bacaan tanpa memberi kesempatan penggunaan aktif, yang mengakibatkan "penindasan mental". Kosakata yang terbatas, baik karena pengalaman sempit maupun kecerobohan, mempersempit wawasan. Bayangkan seseorang yang selalu menggunakan kata "apa namanya itu" untuk segala sesuatu—pikirannya menjadi kabur dan tanpa diskriminasi. Dewey memperingatkan perbedaan antara kefasihan bicara (volubility) dan penguasaan bahasa.
Ketepatan Kosakata. Makna pertama suatu istilah biasanya umum dalam arti kabur. Contoh: Anak kecil memanggil semua pria "ayah" atau kuda pertama yang dilihatnya disebut "anjing besar". Pertumbuhan menuju ketepatan terjadi ke dua arah: menuju kata yang mewakili hubungan (abstrak) dan kata yang mewakili ciri khas individual (konkret). Beberapa suku Aborigin Australia memiliki nama spesifik untuk setiap tanaman dan hewan di sekitar mereka, tetapi tidak memiliki kata untuk "hewan" atau "tumbuhan". Sebaliknya, filsuf sering hanya memiliki istilah hubungan tanpa istilah konkret. Istilah teknis bersifat relatif; ia digunakan untuk memfiksasi makna secara tepat. Guru sering bergerak antara menjejali jargon yang hampa dan melarang istilah teknis sama sekali (misalnya mengganti "kata benda" dengan "kata nama" dan "pengurangan" dengan "mengambil"). Solusinya adalah memperkenalkannya secara bertahap ketika idenya sudah benar-benar dipahami.
Wacana Berkesinambungan. Setiap kata dalam penggunaan konkret termasuk dalam kalimat, dan setiap kalimat termasuk dalam deskripsi atau penalaran yang lebih besar. Banyak praktik sekolah merusak kesinambungan ini. Guru cenderung mendominasi diskusi, sementara siswa hanya menjawab dalam frasa pendek atau kalimat terputus-putus, yang memiliki pengaruh disintegratif secara intelektual. Pertanyaan analitis yang terlalu rinci, terutama dalam sejarah dan sastra, memecah kesatuan makna, menghancurkan perspektif, dan mereduksi materi menjadi kumpulan fragmen. Yang paling penting, penekanan berlebihan pada menghindari kesalahan (cita-cita negatif) mengalihkan energi dari pemikiran konstruktif menjadi kecemasan. Contoh: Saat menulis karangan, siswa diajari untuk menulis topik sepele dengan kalimat pendek agar tidak salah. Akibatnya, mereka menjadi sadar diri, terkekang, dan pasif, bukannya berkembang dalam kekuatan berpikir konstruktif.
Secara keseluruhan, Dewey menekankan keseimbangan. Bahasa adalah alat paling ampuh untuk pemikiran, tetapi ia harus terus terhubung dengan pengalaman langsung dan digunakan dalam konteks penalaran yang bermakna dan berkesinambungan. Pendidikan harus mentransformasikan bahasa dari alat komunikasi sosial sehari-hari menjadi instrumen intelektual yang presisi dan reflektif, tanpa mengorbankan vitalitas dan spontanitas yang menjadi sumber kekuatannya.