CHAPTER IX. MEN OF BUSINESS.
Ringkasan Bahasa Indonesia
RINGKASAN BAB IX: MANUSIA BISNIS
Penulis membantah pandangan sempit bahwa pelaku bisnis adalah orang picik dan tidak punya imajinasi. Justru, sekolah bisnis tidaklah sempit—seperti dikatakan Helps, "manusia bisnis yang sempurna hampir sama langkanya dengan penyair besar." Semua pekerjaan halal mulia, baik kerja tangan maupun pikiran. Yang merendahkan bukan profesi, melainkan orangnya sendiri.
Tokoh Besar yang Juga Pelaku Bisnis
Banyak tokoh besar tidak meremehkan kerja bisnis: Thales, Solon, dan Plato berdagang; Shakespeare sukses sebagai manajer teater; Milton menjadi Sekretaris Dewan Negara; Newton sebagai Kepala Percetakan Uang; Ricardo sebagai pialang saham merangkap ekonom. Di masa penulis, Grote (sejarawan Yunani) adalah bankir London, dan John Stuart Mill pensiun dari East India Company dengan reputasi tinggi karena efisiensi kerjanya.
Jalan Sukses: Akal Sehat dan Kerja Keras
Jalan sukses dalam bisnis adalah jalan akal sehat. Kesabaran dan ketekunan sama pentingnya seperti dalam ilmu pengetahuan. Orang Yunani kuno berkata: "Untuk menjadi ahli dalam profesi apa pun diperlukan tiga hal—bakat, belajar, dan praktik."
Kutipan: "Jalan terdekat biasanya adalah jalan paling kotor; dan jika seseorang ingin menempuh jalan paling adil, ia harus berputar sedikit." — Bacon
Pentingnya Usaha Sendiri
Lord Melbourne menasihati agar pemuda tidak diberi tunjangan karena itu merugikan: "Anak muda tidak boleh mendengar bahasa lain selain: 'Kamu harus mencari jalanmu sendiri, dan terserah pada usahamu sendiri apakah kamu akan kelaparan atau tidak.'"
Memulai hidup dengan sedikit modal justru merangsang kerja. Seorang hakim agung berkata bahwa mayoritas pengacara sukses memulai "tanpa satu shilling pun."
Contoh ilustrasi: Seorang arsitek yang pernah belajar di Yunani memulai kariernya dari pekerjaan paling rendah—memperbaiki bangunan rusak. Temannya menemukan dia duduk di atas atap rumah berkeringat, sambil berkata, "Inilah pekerjaan yang pantas bagi orang yang pernah keliling Yunani!" Namun ia tekun, naik perlahan, dan akhirnya mencapai puncak profesinya.
Kegagalan Akibat Kecerobohan Sendiri
Mereka yang gagal sering menyalahkan nasib atau orang lain. Namun pepatah Rusia berkata: "Kemalangan bertetangga dengan kebodohan." Dr. Johnson jujur berkata: "Semua keluhan tentang dunia tidak adil; saya tidak pernah mengenal orang berjasa yang diabaikan; kegagalannya biasanya karena kesalahannya sendiri."
Kualitas Utama Pelaku Bisnis
Perhatian, ketekunan, ketepatan, metode, ketepatan waktu, dan kecepatan adalah kualitas utama. Hal-hal kecil ini penting karena hidup manusia terdiri dari hal-hal remeh.
Ketepatan (Accuracy)
Sangat penting namun jarang diperhatikan. Orang yang tidak akurat tidak bisa dipercaya, pekerjaannya harus diulang.
Metode
Seperti perkataan Pendeta Cecil: "Metode itu seperti mengepak barang dalam kotak; pengepak yang baik bisa memasukkan setengah lebih banyak daripada yang buruk." Cecil hanya mengerjakan satu hal dalam satu waktu, dan tidak pernah menunda pekerjaan.
Ketepatan Waktu (Punctuality)
Louis XIV berkata: "Ketepatan waktu adalah kesopanan raja." Ini membangun kepercayaan. Washington berkata pada sekretarisnya yang terlambat: "Kamu harus ganti jam tangan, atau aku ganti sekretaris."
Nilai Waktu
Waktu yang hilang tak tergantikan. Satu jam terbuang sehari, jika digunakan untuk perbaikan diri, akan membuat orang bodoh menjadi bijak dalam beberapa tahun. Nelson berkata: "Saya berutang semua kesuksesan hidup karena selalu seperempat jam lebih awal."
Ilustrasi: Seorang petani yang rajin bisa membeli tanah yang dulu disewanya dari tuan tanah pemalas yang bangkrut. Ketika ditanya rahasianya, ia menjawab: "Kamu duduk diam dan berkata 'Pergi', saya bangun dan berkata 'Datang'; kamu berbaring menikmati tanah, saya bangun pagi dan mengurus bisnis."
Contoh Kepemimpinan: Napoleon dan Wellington
Napoleon: Memiliki daya imajinasi dan perhatian pada detail. Saat di Finkenstein (1807), ia mengatur pergerakan tentara, persediaan sepatu dan roti—namun di saat sama mengatur ulang pendidikan Perancis, merancang anggaran, dan berkorespondensi dengan Sultan Turki.
Wellington: Jenderal yang juga manusia bisnis ulung. Di India ia membangun disiplin tentara; di Semenanjung Iberia ia harus mengatur sendiri persediaan makanan (bahkan berdagang gandum) karena Inggris tidak memasok. Ia memperhatikan detail sepatu, tenda, dan biskuit tentara.
Ia juga jujur: ketika di Perancis, ia membayar semua utangnya—bahkan petani Perancis lebih percaya berlindung di garis pertahanan Inggris daripada tentara negaranya sendiri.
Kutipan: "Tidak ada yang lebih agung atau lebih mulia dari pengakuan ini: prajurit tua ini, setelah 30 tahun mengabdi, sang jenderal pemenang yang memimpin pasukan besar di negeri musuh, takut pada krediturnya!" — Jules Maurel
Kejujuran: Kebijakan Terbaik
"Kejujuran adalah kebijakan terbaik" terbukti setiap hari. Pembuat bir terkenal menuangkan karakter ke dalam birnya; tukang batu Hugh Miller "menaruh hati nuraninya di setiap batu yang dipasang."
Baron Dupin berkata bahwa kejujuran adalah penyebab utama kesuksesan Inggris: "Kita bisa sukses sementara dengan penipuan, tetapi sukses permanen hanya dengan kebalikannya. Jika warga Inggris kehilangan kebajikan ini, kapal dagangnya akan lenyap dari lautan."
Kejujuran dalam Perdagangan
Perdagangan menguji karakter dengan keras—kejujuran, pengendalian diri, keadilan. Betapa sedikitnya penggelapan di antara begitu banyak uang yang dipercayakan pada pegawai, ini sangat terhormat bagi sifat manusia.
Memang ada penipu dan pemalsu barang, tapi ini pengecualian. Mereka mungkin kaya tetapi tidak punya hati yang tenang. Uang hasil curang biasanya hanya berkilau lalu meletus.
Kutipan: "Meskipun orang jujur mungkin tidak cepat kaya seperti orang tidak jujur, namun suksesnya lebih sejati, diperoleh tanpa kecurangan."
Teladan: David Barclay
Sebagai contoh manusia bisnis yang mulia disebut David Barclay (cucu Robert Barclay). Ia memimpin perusahaan dagang besar namun mengundurkan diri karena menentang perang dengan Amerika. Kata-katanya sama berharganya dengan tanda tangan. Lord North mengakui memperoleh lebih banyak informasi dari Barclay daripada dari siapa pun.
Setelah pensiun, ia mendirikan rumah industri di Walthamstow. Ketika mewarisi perkebunan di Jamaika dengan budak, ia menghabiskan £10.000 untuk membebaskan mereka dan memindahkan mereka ke Amerika Serikat. Ia juga membagikan kekayaannya kepada kerabat selama hidupnya, bukan setelah mati—membantu mereka memulai usaha yang kemudian menjadi perusahaan besar London.
Tokoh seperti itu—jujur, dermawan, dan berprinsip—pantas menjadi teladan bagi pelaku bisnis sepanjang masa.