PREFACE
Ringkasan Bahasa Indonesia
Ringkasan Bab "PREFACE" – The Chemical History of a Candle (Michael Faraday)
Dari obor pinus primitif hingga lilin parafin, terdapat jarak yang sangat lebar—sebuah kontras besar. Cara manusia menerangi rumahnya pada malam hari menjadi tanda langsung tingkat peradabannya. Berbagai sumber penerangan masa lalu memiliki cerita masing-masing: bitumen cair dari Timur Jauh yang menyala dalam wadah tanah bakar; lampu Etruska yang bentuknya indah namun kurang efektif; lemak paus, anjing laut, atau beruang yang memenuhi gubuk suku Eskimo atau Laplander dengan bau daripada cahaya; lilin besar di altar gemerlap; serta deretan lampu gas di jalan-jalan kita. Semua itu, seandainya bisa berbicara, akan menghangatkan hati kita dengan kisah bagaimana mereka melayani kenyamanan, kecintaan pada rumah, kerja keras, dan pengabdian manusia.
Di antara jutaan pemuja dan pengguna api pada zaman purba, pasti ada yang merenungkan misteri api; mungkin beberapa pemikiran tajam telah menebak mendekati kebenaran. Renungkan betapa lama manusia hidup dalam kebodohan tanpa harapan, dan bahwa kebenaran baru diketahui dalam kurun waktu yang bisa ditempuh seumur hidup satu orang.
Rantai penalaran ditempa atom demi atom, mata rantai demi mata rantai. Beberapa mata rantai yang dibuat terlalu cepat dan lemah telah putus, lalu digantikan dengan yang lebih baik. Namun kini fenomena-fenomena besar sudah diketahui—garis besarnya tergambar dengan benar dan kokoh, dan para seniman ulung sedang mengisi sisanya. "Anak yang menguasai kuliah-kuliah ini tahu lebih banyak tentang api daripada Aristoteles." (kutipan)
Kini lilin itu sendiri digunakan untuk menerangi tempat-tempat gelap di alam; sumbat tiup dan prisma menambah pengetahuan kita tentang kerak bumi. Namun obor haruslah datang terlebih dahulu.
Di antara para pembaca buku ini, sebagian kecil mungkin akan mengabdikan diri untuk menambah khazanah pengetahuan: Pelita Sains harus menyala. "Alere flammam." (peliharalah nyala api)
Ilustrasi penjelas: Bayangkan sebuah obor kayu pinus yang berasap dan redup dibandingkan lilin parafin yang bersih dan terang. Perbedaan itu tidak hanya soal terang-gelap, tetapi juga mencerminkan sejauh mana manusia telah menguasai ilmu dan teknologi—seperti perbedaan antara zaman batu dan zaman modern.