← The Chemical History of a Candle

A CANDLE: THE FLAME—ITS SOURCES—STRUCTURE—MOBILITY—BRIGHTNESS.

Ringkasan Bahasa Indonesia

Dalam kuliah ini, Faraday memilih topik sejarah kimia sebuah lilin karena menurutnya tidak ada jalan yang lebih terbuka untuk mempelajari filsafat alam selain mengamati fenomena fisika lilin. Ia akan berbicara dengan gaya akrab, seolah-olah kepada anak-anak.

"Tidak ada jalan yang lebih baik, tidak ada pintu yang lebih terbuka untuk memasuki studi filsafat alam, selain dengan mempertimbangkan fenomena fisika sebuah lilin."

Bahan dan pembuatan lilin Lilin bisa dibuat dari berbagai bahan. Ada kayu rawa dari Irlandia yang terbakar seperti lilin alami. Lilin komersial ("dips") dibuat dari sumbu katun yang dicelup berulang ke lemak leleh. Ada juga lilin stearin—hasil olahan lemak sapi dengan kapur dan asam sulfat, menghasilkan asam stearat dan gliserin. Bahan lain: lilin sperma (dari paus), lilin lebah, parafin (dari rawa Irlandia), dan lilin dari Jepang.

Cara pembuatan:

  • Lilin cetak: sumbu dipasang dalam cetakan, lemak cair dituang, setelah dingin kelebihan lemak dibuang, lalu lilin dikeluarkan.
  • Lilin lebah tidak bisa dicetak; dibuat dengan menuang lilin cair berulang ke sumbu yang digantung hingga ketebalan yang diinginkan.

Bentuk dan fungsi api Lilin yang indah belum tentu baik. Lilin bergalur, misalnya, malah jelek karena aliran udara tidak merata sehingga lilin meleleh tidak sempurna (guttering). Bentuk lilin yang paling berguna adalah yang paling baik bekerjanya.

Bagaimana bahan bakar sampai ke api? Ketika lilin menyala, terbentuk cawan dari bahan bakar cair di sekitar sumbu. Udara panas yang naik mendinginkan tepi lilin, sehingga hanya bagian dalam yang meleleh. Bahan bakar naik ke sumbu melalui kapilaritas—gaya tarik yang membuat cairan merambat di celah sempit.

Contoh: Bayangkan tangan basah; air merambat naik ke jari meski tidak dicelupkan. Atau, larutan garam berwarna naik perlahan dalam gumpalan garam. Batang tebu juga bisa menyerap minyak dan menyala seperti lilin.

Sifat uap dan bentuk api Jika lilin ditiup dengan hati-hati, uap bahan bakar masih bisa dinyalakan kembali dengan api kecil. Api lilin berbentuk lonjong, lebih terang di atas, lebih gelap di dekat sumbu. Ada arus udara panas yang naik dan menarik api ke atas. Faraday menggunakan bayangan lilin untuk memperlihatkan arus ini.

"Batu permata apa yang bisa bersinar seperti api?"

Api yang hidup dan lidah api Api besar (seperti dalam permainan snapdragon—kismis dalam brandy yang dinyalakan) memperlihatkan lidah-lidah api yang bergerak cepat. Ini karena aliran udara yang tidak rata memecah api menjadi banyak bentuk yang silih berganti. Api seperti itu sebenarnya terdiri dari banyak "lilin kecil" yang menyala sendiri-sendiri.

Faraday menutup dengan mengingatkan bahwa ketika suatu hasil terjadi, kita harus bertanya: "Apa penyebabnya? Mengapa terjadi?" Itulah cara menjadi filsuf.

Sudah paham? Tulis ulang bab ini dengan kata-katamu sendiri. Mulai →