CHAPTER 11
Ringkasan Bahasa Indonesia
Ringkasan Bab 11: Kerajinan Tangan
Bab ini menguraikan berbagai kerajinan tangan suku-suku di pedalaman Kalimantan, dengan fokus utama pada suku Kayan sebagai perajin paling terampil.
Pengerjaan Besi Pengerjaan besi adalah kerajinan terpenting bagi suku Kayan. Mereka sangat terampil membuat pedang malat yang terkenal. Pengetahuan tentang besi kemungkinan sudah mereka miliki sebelum masuk ke Kalimantan, dan Kayan diyakini sebagai pengrajin besi pertama di sana, yang kemudian diikuti suku lain dengan tingkat keberhasilan berbeda. Dewasa ini, besi diperoleh dari batangan impor, namun 30 tahun lalu bijih besi dari sungai masih digunakan. Proses peleburan (smelting) menggunakan tungku arang dengan bantuan piston bellows (alat tiup) yang unik: empat silinder kayu dengan piston berbulu, dioperasikan dua orang duduk di atas panggung, menghasilkan tiupan angin ke tungku. Setelah logam dingin, diperoleh gumpalan besi atau baja.
Pembentukan logam (forging) dilakukan dengan bantuan tungku arang dan piston bellows (kadang hanya dua silinder). Landasan dan palu awalnya dari batu, kini dari besi. Produk tertinggi adalah bilah pedang malat. Prosesnya: batang baja pendek dipanaskan dan ditempa hingga berbentuk khas (cekung di satu sisi, cembung di sisi lain). Beberapa bilah dihias dengan tonjolan melengkung yang dipotong dan dibentuk dengan pahat panas. Dua metode pengerasan (tempering): (1) memanaskan bilah lalu mencelupkannya ke air saat panas redup; (2) meletakkan bilah dingin di atas batang besi panas untuk mengontrol perubahan warna. Pengrajin Kayan ahli menilai kekerasan baja dari warna permukaan. Bilah juga sering dihias dengan ukiran dan tatahan kuningan. Proses pengasahan bertahap: batu pasir, batu asah halus, lalu daun keras yang mengandung silika.
Selain pedang, pandai besi juga membuat pisau, mata tombak, cangkul, beliung kecil, batang bor sumpitan, landasan, palu, pahat, dan kikir kasar.
Pengerjaan Kuningan Barang kuningan sangat dihargai. Satu-satunya barang kuningan buatan lokal (selain dari sub-suku Maloh) adalah anting-anting berat wanita, dibuat dengan cetakan tanah liat atau batu. Suku Maloh (sub-suku Klemantan) terkenal sebagai pekerja kuningan. Mereka membuat korset kuningan untuk wanita Iban, pinset, anting, dan barang kecil lainnya, dengan bahan baku dari barang kuningan impor.
Piston Api (Fire Piston) Alat ini untuk membuat api, dicetak dari logam oleh suku Iban. Terdiri dari silinder kuningan/timah dengan piston kayu yang pas. Piston ditumbuk ke dalam silinder, memampatkan udara dan memanaskannya hingga membakar sumbu (dari sabut aren) di dasar silinder. Silinder dicetak dengan menuang logam cair ke dalam ruas bambu, dengan batang besi di tengah untuk membentuk lubang.
Pembuatan Perahu Suku Kayan adalah pembuat perahu yang terampil. Perahu perang terbesar bisa mencapai panjang 100 kaki (kadang 150 kaki). Dasarnya adalah sebatang pohon utuh yang dibentuk dan dilubangi dengan api dan beliung. Kayu terbaik adalah aroh (Shorea) dan ngelai (Afzelia palambanica). Proses: pohon ditebang, batang dipotong dan dilubangi hingga setebal 5 inci, lalu ditarik ke sungai (bisa dengan kerek). Setelah diluncurkan, dilubangi lagi dengan api (dibakar, dikerok). Saat masih panas, diberi ganjal untuk membuka sisi perahu hingga lebar 6-7 kaki. Ketebalan diukur dengan pasak kayu yang ditandai. Setelah itu, dipasang bangku, papan sisi (gunwale), dan balok ujung haluan dan buritan. Haluan sering dihias ukiran kepala buaya atau anjing. Seluruh proses didahului dengan pencarian pertanda baik. Perahu kecil dibuat serupa, dengan haluan dari balok utuh yang tidak dibuka. Untuk kebutuhan mendesak, perahu darurat dibuat dari kulit kayu yang dilipat dan diikat rotan. Suku Kayan dianggap pembuat perahu terbaik, meski beberapa suku Klemantan hanya membuat kano kecil dan membeli perahu dari suku lain. Dayung dibuat dari kayu besi, satu bagian.
Pembangunan Rumah Rumah Kayan biasanya dipakai 12 tahun, kadang 30-40 tahun. Mereka membangun rumah panggung dengan tiang kayu besi besar. Empat baris tiang menopang: satu baris depan, satu baris belakang, dan dua baris tengah. Tiang didirikan dengan tripod dan tali rotan. Balok lantai dan atap dipasang dengan sistem lubang dan pasak. Rangka atap dari balok, usuk, reng, dan sirap kayu besi. Lantai dari papan tebal (30-40 kaki panjang, 2-3 kaki lebar, 3-4 inci tebal) yang dipindahkan dari rumah lama. Dinding pemisah antara galeri dan ruang keluarga dibuat dari papan vertikal. Setiap keluarga bertanggung jawab atas bagiannya sendiri; janda dibantu tetangga. Pembangunan juga didahului pertanda baik; pertanda buruk bisa menyebabkan rumah ditinggalkan. Suku Iban membangun rumah lebih ringan karena jarang tinggal lama (3-4 tahun), dengan lantai bambu. Beberapa suku Klemantan membuat rumah lebih jelek, dan yang terburuk adalah rumah Punan yang baru menetap.
Kerajinan Kayu Lainnya Selain perahu dan rumah, kerajinan kayu lainnya adalah perisai (lihat bab 10) dan sarung pedang (parang) dari dua bilah kayu keras yang dilas dengan rotan, sering diukir. Piring dari kayu besi (kini hampir diganti tembikar Eropa) dulunya umum, dengan bentuk dan hiasan ukiran atau tatahan cangkang/tembikar.
Anyaman, Tikar, dan Topi Anyaman terutama dari rotan, dikerjakan oleh wanita (pria membantu mengumpulkan bahan). Rotan dibelah tipis (1/16 - 1/4 inci). Baskom penting: tempat padi, tas punggung, keranjang ikan, wadah pakaian, penampi, keranjang air. Tikar utama: tikar duduk, tikar besar untuk tamu, tikar penampi padi, tikar tidur. Anyaman rapat, pola silang dua-dua. Suku Kayan jarang menghias, tapi suku lain menggunakan rotan celup hitam (dari tanaman tarum dan lumpur) untuk motif. Tikar lampit dari rotan tebal yang diikat dengan tali. Suku Kanowit, Tanjong, Kalabit, dan Punan membuat anyaman bermotif rumit, termasuk celup merah (dari biji rotan). Topi anyaman bundar besar dari daun palem, dibuat wanita. Daun ditekan kering, dipotong segitiga, dijahit dua lapis (atas dan bawah bersilang), diberi pelek rotan dan hiasan logam/kain di tengah. Suku Melanan dan Land Dayak juga pandai membuat topi. Kayak dan Kenyah juga membuat kopiah dan ikat kepala dari anyaman rotan halus. Topi perang dibuat dari rotan setengah inci.
Pembuatan Sumpitan Sumpitan adalah hasil kerajinan terbaik. Dibuat oleh Kayak, Kenyah, dan Punan (jarang Iban dan Klemantan). Kayu terbaik dari pohon jagang yang keras dan lurus. Batang sepanjang 8 kaki, dikupas hingga silinder 3-4 inci, dipasang vertikal, lalu dibor dengan batang besi panjang (9 kaki) yang ujungnya seperti pahat. Seorang pria memukul-mukul batang besi ke kayu, sementara asisten menuang air agar serbuk terapung. Pengeboran memakan waktu sekitar 6 jam. Setelah itu, lubang sumpitan sengaja dibuat sedikit melengkung agar bisa menahan beban mata tombak. Kelengkungan dicapai dengan membengkokkan batang kayu saat masih mentah. Permukaan luar dihaluskan, bilah tombak dipasang di ujung dengan rotan, dan dipasang penunjuk arah dari kayu kecil. Bagian dalam dipoles dengan rotan panjang, bagian luar dengan kulit ikan pari lalu daun emplas sebagai penghalus.
Anak sumpitan (dart) dibuat dari kayu nibong atau sagu liar, panjang ~9 inci. Ujungnya diberi silinder gabus empuk yang diameternya pas dengan lubang sumpitan. Racunnya dari getah pohon ipoh (Antiaris toxicaria), dipekatkan dengan pemanasan hingga menjadi pasta cokelat keunguan. Untuk hewan besar, ujung anak sumpitan diberi pelat logam segitiga untuk menampung racun lebih banyak (dulu dari kayu keras atau batu). Tempat anak sumpitan (quiver) dari ruas bambu, dilengkapi kait untuk ikat pinggang. Anak sumpitan disimpan dengan ujung menghadap ke bawah. Gabus cadangan disimpan dalam labu kecil.
Tembikar Pembuatan tembikar kini hampir punah karena impor. Dulu, Kayak, Kenyah, Iban, dan sebagian Klemantan membuat periuk tanah liat sederhana berbentuk telur untuk memasak nasi. Proses: tanah liat diuleni, dibentuk dengan batu di dalam dan papan di luar, dijemur, lalu dibakar. Permukaan bisa dihaluskan dengan resin panas. Hanya satu bentuk (berbagai ukuran), biasanya dibawa dalam keranjang rotan longgar.
Pembuatan Kain Kulit Kayu Kain tradisional dari kulit kayu (terutama kumut, ipoh, ara liar). Lapisan serat di bawah kulit kayu dipukul dengan kayu hingga lunak. Potongan dijahit dengan jarum dan benang melintang serat agar tidak robek (dulu dengan alat penusuk).
Pertenunan, Pemintalan, dan Pencelupan Kain Suku Kayak, Kenyah, dan sebagian Klemantan tidak menenun, meski Kayak mengaku dulu pernah menenun. Kini hanya Iban, Murut, dan sedikit Klemantan yang menenun — satu-satunya kerajinan di mana suku Iban unggul. Caranya mirip dengan Melayu, kemungkinan dipelajari dari mereka. Bahan: kapas yang ditanam sendiri. Biji dipisahkan dari serat dengan alat giling sederhana. Benang dipintal dengan roda tangan. Pencelupan dilakukan sebelum menenun untuk menghasilkan motif. Benang lungsin (memanjang) direntangkan di bingkai. Bagian yang ingin tetap warna asli dibungkus rapat dengan daun kedap air, lalu celup ke pewarna. Setelah kering, bungkusan dibuka. Proses diulang untuk warna kedua (misal merah dari kulit kayu samak, ungu dari daun tarum). Wanita Iban menghafal pola dan membungkus benang tanpa panduan. Alat tenun sangat sederhana: benang lungsin diikat ke batang atas yang tetap, ujung bawah diikat ke batang yang diikatkan ke pinggang penenun, sehingga dia bisa meregangkan benang. Penenun duduk di tanah dan mengatur benang pakan (melintang) dengan tangan.
Ilustrasi Penjelas: Bayangkan proses pembuatan malat seperti seorang pandai besi yang memanaskan sebatang besi pendek lalu memukulnya berulang kali hingga pipih dan melengkung membentuk bilah pedang. Setelah dingin, ia mengasahnya di batu hingga tajam. Ini analogi sederhana untuk menggambarkan kerja keras dan keterampilan yang dibutuhkan.
Kutipan Kunci: "Pengerjaan besi menuntut keahlian khusus yang hanya dikuasai oleh relatif sedikit orang. Namun di setiap desa Kayan terdapat dua atau tiga orang atau lebih pandai besi terampil..." (terjemahan dari kalimat tentang smiths di setiap desa) "Pedang malat adalah produk tertinggi pandai besi Kayan." (terjemahan bebas dari "The peculiarly shaped and finely tempered sword-blade, MALAT, is the highest product of the Kayan blacksmith.") "Sumpitan mungkin adalah hasil kerajinan terbaik dari penduduk asli Kalimantan." (terjemahan dari "The blow-pipe or SUMPITAN is perhaps the finest product of native Bornean craftmanship.")