CHAPTER 13

Ringkasan Bahasa Indonesia

Orang Kayan percaya mereka dikelilingi oleh banyak kekuatan cerdas yang bisa memengaruhi hidup mereka, baik atau buruk. Sebagian kekuatan itu berwujud hewan, tumbuhan, atau terkait dengan benda alam seperti gunung, batu, sungai, dan gua; sebagian lagi muncul dalam proses seperti guntur, badai, penyakit, pertumbuhan tanaman, dan bencana. Ada yang dibayangkan seperti manusia (antropomorfis), ada pula yang lebih samar. Meskipun demikian, orang Kayan tidak menganggap semua benda mati memiliki jiwa—mereka paham sebab-akibat secara mekanis, terbukti dari keahlian mereka membuat rumah, perahu, senjata, dan perangkap.

Kekuatan spiritual itu dapat dibagi menjadi tiga kelas utama:

  1. Dewa-dewa—berwujud manusia, tinggal di tempat jauh, sangat kuat, dan menjadi objek sikap religius (permohonan, takjub, syukur, harap).
  2. Roh manusia dan hewan—termasuk roh orang hidup dan mati, serta roh dalam hewan omen (pertanda), babi, ayam, anjing, buaya, dsb.
  3. Roh kecil yang tidak jelas—sukar dibayangkan, ada yang jahat ada yang baik; yang paling penting adalah roh yang menempel pada kepala manusia yang digantung di rumah. Sikap terhadap mereka terutama takut, menghindar, dan berusaha menenangkan.

Dewa-Dewa Suku Kayan
Orang Kayan mengenal banyak dewa yang mengawasi bidang-bidang tertentu, misalnya:

  • Toh Bulu – dewa perang
  • Laki Ju Urip, Laki Makatan Urip, Laki Kalisai Urip – tiga dewa kehidupan
  • Laki Balari (dewa guntur/badai) dan istrinya Obeng Doh
  • Laki Pesong – dewa api
  • Anyi Lawang dan Laki Ivong – dewa panen
  • Urai Uka – dewa danau dan sungai
  • Balanan – dewa kegilaan
  • Toh Kiho – dewa ketakutan
  • Laki Katira Murei dan Laki Jup Urip – yang mengantar jiwa ke alam baka.

Di atas semua itu ada Laki Tenangan, dewa paling kuat tanpa fungsi khusus, dianggap baik dan melindungi manusia seperti seorang bapak. Ia memimpin dewa-dewa lain. Istrinya, Doh Tenangan, dipanggil khusus oleh para wanita.

Doa kepada dewa disampaikan melalui jiwa babi atau ayam yang disembelih, sementara api dan asap dipercaya membantu komunikasi dengan dewa. Contoh doa: “Buat anakku hidup… Lindungi kami dari penyakit… Jika aku menempatkan-Mu di atas kepalaku, semua orang memandangku seperti tebing tinggi.”

Di depan setiap rumah Kayan berdiri tiang kayu kasar yang menyerupai manusia. Tiang itu bukan berhala, melainkan altar. Upacara untuk seluruh rumah tangga biasanya dilakukan di depannya. Ada pula altar bambu setinggi 4–5 kaki yang ujungnya dibelah dan diisi telur ayam, dipakai khusus untuk bersyukur setelah sembuh dari sakit parah.

Asal-usul Dewa
Nama banyak dewa minor adalah nama diri yang lazim dipakai orang Kayan, dan gelar Laki adalah panggilan hormat untuk kakek. Ini menunjukkan bahwa dewa-dewa kecil itu mungkin berasal dari leluhur yang dimuliakan. Misalnya, Oding Lahang dianggap sebagai kepala suku besar pendiri ras, dan semua orang Kayan memohon syafaatnya kepada Laki Tenangan. Di kalangan suku Kenyah, roh seperti Tokong, Utong, Pa Balan, Pliban juga dianggap leluhur dan diberi gelar Bali, berbeda dengan kepala suku yang baru meninggal yang hanya diberi awalan Urip. Contoh lain: dewa guntur Kenyah Balingo setara dengan Laki Balari, dan beberapa kepala suku Kenyah mengaku keturunan langsung darinya. Rangkaian ini menunjukkan bahwa dewa-dewa kecil kemungkinan besar berevolusi dari kepala suku termasyhur yang telah meninggal.

Namun, belum ada bukti serupa untuk Laki Tenangan selain gelar Laki. Nama Tenangan mungkin berasal dari kata Kayan tenang (benar, asli), sehingga bisa berarti “dia yang benar atau mahatahu”—tapi ini hanya spekulasi. Kemungkinan konsep dewa tertinggi dipinjam dari orang Melayu Muslim dianggap kecil, karena orang Kayan hanya sedikit berhubungan dengan mereka, sementara suku Sea Dayak yang lebih banyak berhubungan justru hampir tidak memiliki konsep itu.

Dewa-Dewa Suku Kenyah
Kepercayaan Kenyah mirip dengan Kayan. Mereka juga mengenal dewa tertinggi Bali Penylong dan beberapa dewa minor:

  • Bali Atap – melindungi rumah dari penyakit dan serangan; patungnya berdiri di gangway dengan tombak dan perisai.
  • Bali Utong – membawa kemakmuran.
  • Bali Urip – dewa kehidupan; tiang altarnya biasanya dimahkotai gong.
  • Balingo – dewa guntur.
  • Bali Sungei – makhluk seperti naga di dasar sungai, menyebabkan pusaran dan tenggelam; ditakuti.

Bali Penylong beristri Bungan. Bali Flaki, burung elang bangkai, adalah burung omen utama untuk perang. Tiang altar untuknya kadang dihiasi patung elang di atasnya. Penulis menduga bahwa burung omen ini lambat laun menonjol sehingga mengaburkan dewa perang asli yang bahkan namanya sudah dilupakan.

Pelengkap khas altar Kenyah: tanaman Dracaena berdaun merah dan batu bulat besar (batu tuloi) yang dianggap milik rumah secara turun-temurun. Batu itu dipercaya tumbuh besar dan bergerak sendiri saat bahaya, serta dibawa dengan upacara ketika pindah rumah.

Spekulasi tentang Perkembangan Konsep Makhluk Tertinggi
Penulis berpendapat bahwa konsep Makhluk Tertinggi yang baik hati mungkin dikembangkan sendiri oleh suku pedalaman seperti Kenyah dan Kayan, bukan dipinjam. Bali Penylong kemungkinan adalah dewa perang yang ditinggikan karena perang sangat penting bagi mereka. Dalam masyarakat yang terbiasa tunduk pada kepala suku, mudah bagi satu dewa untuk menjadi yang utama. Kebaikan dewa tertinggi adalah konsekuensi logis: dewa perang tampak baik hati bagi pemenang, dan hanya pemenang yang bertahan. Konsep ini juga mendorong kejujuran dan keadilan dalam komunitas.

Penulis sadar ini spekulatif, tetapi meyakini bahwa konsep Makhluk Tertinggi bisa muncul relatif cepat dalam kondisi menguntungkan (suku suka perang, makmur, tunduk pada kepala kuat) dan bisa cepat memudar jika kondisi sosial berubah, menyisakan hanya pada sedikit individu—seperti yang terlihat pada suku Iban atau Aborigin Australia.

Mengenai dewa perang Kayan Toh Bulu yang tampak bertentangan dengan gagasan Laki Tenangan sebagai dewa perang yang ditinggikan, penulis menjelaskan bahwa Toh Bulu hanyalah dewa kecil. Toh berarti roh minor, Bulu berarti bulu; mungkin ia hanyalah roh bulu burung enggang yang menjadi lencana keberanian, bukan dewa perang yang sesungguhnya. Dengan demikian, dewa perang asli bisa saja ditinggikan menjadi Laki Tenangan, sementara Toh Bulu tetap sebagai roh kecil.

Pada Kenyah, proses serupa diduga telah mengangkat Bali Penylong (dewa perang asli) menjadi Makhluk Tertinggi, dan Bali Flaki (utusan khususnya) hampir menggantikan posisi dewa perang. Kenyah tidak memiliki dewa perang khusus, sehingga penjelasan ini dirasa perlu.

Dewa-Dewa Suku Klemantan
Dewa mereka lebih banyak dan samar, sistemnya lebih kacau. Mereka mungkin meminjam dari suku tetangga yang lebih kuat. Banyak patung manusia dibuat; sebagian disimpan di dalam rumah (mungkin dewa asli), sebagian di luar (mungkin dewa pinjaman).

Roh-Roh Kecil (Toh)
Ini adalah roh kelas ketiga yang samar, tidak berwujud tetap, dan pada umumnya ditakuti. Nama generiknya adalah Toh. Yang terpenting adalah roh yang dikaitkan dengan kepala manusia kering yang digantung di setiap rumah. Roh ini bukan roh pemilik kepala asli, melainkan roh yang tinggal di sekitar kepala. Jika tidak dirawat atau dilanggar adat, roh itu bisa marah—gigi kepala bergemeretak, kepala bisa jatuh sendiri.

Kepala diperlakukan dengan upacara: dikeringkan, diasapi, lalu diarak dengan sorak perang ke tiang altar. Ayam dan babi dikurbankan, darah dipercikkan. Setelah itu kepala digantung di atas perapian utama, lalu diberi minuman borak dan lemak babi sebagai sajian. Roh kepala dianggap memakan sari makanan. Api selalu dijaga agar kepala hangat dan kering. Hanya orang tua yang boleh menyentuhnya; anak-anak dilarang karena bisa menyebabkan kegilaan.

Meskipun ditakuti, roh kepala tidak sepenuhnya jahat—kehadiran mereka dipercaya membawa kemakmuran, terutama panen yang baik. Jika rumah kehilangan kepala karena kebakaran, mereka akan meminta kepala atau pecahannya dari rumah lain dan memasangnya dengan upacara.

Contoh: Saat pindah rumah, jika jumlah kepala terlalu banyak (lebih dari 20–30), beberapa kepala ditinggalkan di gubuk jauh dengan api yang dijaga beberapa hari. Setelah api padam dan hujan masuk, roh kepala menyadari mereka ditinggalkan dan berusaha mengejar, tetapi gagal karena selang waktu dan cuaca. Dengan itu orang Kayan percaya mereka terhindar dari kegilaan akibat kemarahan roh.

Selain kepala, toh juga menghuni hampir semua tempat: sungai, hutan, gunung, gua, laut, bahkan kuburan. Mereka mudah tersinggung dan bisa menyebabkan kematian, penyakit (terutama kegilaan), kecelakaan, gagal panen, dan segala macam musibah.

Contoh:

  • Saat membuka hutan untuk ladang padi, beberapa pohon sengaja dibiarkan berdiri di tempat tinggi agar toh setempat tidak tersinggung karena kehilangan tempat istirahat. Kadang pohon itu ditinggalkan hanya dengan cabang atas atau diberi palang dengan daun tergantung.
  • Anak kecil sangat rentan terhadap toh. Nama tidak diberikan sampai usia 2–3 tahun agar tidak menarik perhatian mereka. Jika orang terkemuka menyentuh bayi, ibunya akan mengikatkan beberapa manik di pergelangan bayi “untuk mempertahankan bau rumahan” sehingga toh tidak tertarik.
  • Orang tua yang sering kehilangan anak akan memberi nama seperti Tai (kotoran) atau Jaat (jahat) supaya anak luput dari perhatian toh.
  • Jika seseorang dicurigai menjadi perhatian toh, ia membuat tanda jelaga di dahi: garis vertikal di tengah dan garis horizontal di atas alis, untuk menyulitkan toh mengenalinya. Tanda ini terutama dipakai saat pergi jauh.

Contoh: Di kalangan Sea Dayak, bayi baru lahir kadang diletakkan dalam perahu kecil dan dihanyutkan, sementara orang tua berdiri di tepi memanggil roh jahat untuk mengambil bayi itu sekarang jika memang akan mengambilnya, agar mereka tidak kehilangan anak setelah besar nanti. Jika bayi ditemukan selamat, ia dibawa pulang dengan keyakinan bahwa ia akan “dibiarkan hidup.”

Toh di wilayah sendiri dianggap lebih jinak karena sudah dikenal; di wilayah asing semua serba tidak pasti. Karena itu, saat anak laki-laki memasuki sungai asing untuk pertama kali, diadakan upacara: seorang

Sudah paham? Tulis ulang bab ini dengan kata-katamu sendiri. Mulai →