Setiap lompatan besar sebuah bangsa didahului oleh lompatan cara berpikir.
Sebelum Jepang membangun pabrik, ia membangun perpustakaan. Generasi Meiji menerjemahkan ribuan karya asing ke bahasa Jepang — bukan supaya bisa dibaca, tapi supaya bisa dipikirkan. Korea membuktikan pola yang sama. China, belakangan ini, mengulanginya dengan skala yang membuat dunia menoleh. Jauh sebelum itu semua, Baghdad menerjemahkan Yunani, Persia, dan India ke bahasa Arab — dan yang lahir bukan arsip, melainkan zaman keemasan.
Mesin boleh diimpor; cara berpikir tidak.
Indonesia pun pernah memulainya. Kebangkitan nasional kita lahir dari bacaan: Kartini yang bertemu Multatuli di atas kertas, generasi STOVIA yang saling meminjamkan buku, polemik-polemik Balai Pustaka dan Pujangga Baru yang mengasah bahasa ini menjadi alat berpikir. Gerakan itu tidak gagal — ia terputus.
Kami percaya keterputusan itu bisa disambung.
Hari ini gagasan terbaik dunia sesungguhnya tersedia — tapi tersedia bukan berarti terserap. Ia ada di rak, dalam bahasa asing, dalam format yang tidak ramah; ia belum ada di kepala. Sebuah gagasan hanya menjadi naluri ketika bisa dipikirkan dalam bahasa sendiri, diperdebatkan di warung dan di ruang kelas, dikutip dan dibantah tanpa harus menoleh ke kamus. Di saat yang sama, kearifan yang tumbuh dari tanah ini justru banyak yang terbuang — ditinggalkan bukan karena terbukti salah, melainkan karena dicap tidak modern, sebelum sempat ditanya apa alasan baik di baliknya.
Dua arah itu yang ingin kami kerjakan. Menghadirkan pemikiran dunia ke dalam bahasa Indonesia sebagai ringkasan yang setia dan utuh konteksnya — bukan terjemahan mentah, bukan potongan tanpa jangkar. Dan menggali kembali teks-teks Nusantara yang nyaris tak tersentuh: karya lama yang telah menjadi milik publik, suara para pemikir Indonesia hari ini. Keduanya diperlakukan sama: kritis, tidak silau pada yang asing, tidak romantis pada yang lampau.
Kemerdekaan mengganti bendera, tetapi tidak sepenuhnya mengganti cara berpikir. Para pendiri bangsa, dengan segala jasanya, dalam banyak hal melanjutkan mesin pemerintahan Hindia Belanda — strukturnya, kebiasaannya, relasi antara yang memerintah dan yang diperintah. Revolusi yang lebih dalam belum pernah benar-benar dikerjakan: revolusi gagasan tentang masyarakat Indonesia sendiri. Dan revolusi itu tidak bisa dikerjakan searah — diturunkan dari atas, atau diimpor mentah-mentah tanpa ditanya cocok-tidaknya dengan batin masyarakat ini. Indokorpus memilih jalan lain: menawarkan gagasan-gagasan dunia yang memang cocok dengan watak dan kebutuhan orang Indonesia, tanpa memaksakan penggantian ideologi secara radikal — lalu mempercayai pembaca untuk mengujinya sendiri.
Yang dulu membutuhkan satu generasi penerjemah, kini bisa dimulai oleh tangan yang jauh lebih sedikit: kecerdasan buatan mengerjakan skala, manusia menjaga kesetiaan. Setiap ringkasan dikurasi, setiap sumber disebut, setiap kutipan berjangkar. Teknologi adalah alatnya — bukan pesannya.
Orang bertanya: kapan giliran Indonesia? Kami menjawab: giliran tidak diberikan; giliran disiapkan. Dan penyiapannya dimulai dari tempat yang sama seperti semua lompatan sebelumnya — dari halaman yang dibaca.
Selamat membaca. Selamat berpikir.