J.H.A.

Ringkasan Bahasa Indonesia

Berikut ringkasan bab-bab tersebut dalam Bahasa Indonesia:

JAPARA, 25 Mei 1899. (I.)

Kartini mengungkapkan kerinduannya yang mendalam untuk berkenalan dengan seorang "gadis modern"—gadis yang bangga, mandiri, dan bersemangat bekerja tidak hanya untuk kebahagiaan sendiri melainkan juga untuk masyarakat. Meskipun ia berkobar-kobar terhadap zaman baru dan secara pemikiran merasa sejalan dengan saudari-saudari kulit putihnya yang progresif di Barat, ia merasa tangannya terikat oleh tradisi-tradisi kuno yang kuat. Ia menggambarkan konflik batinnya dengan menulis, "O! U weet niet wat 't is den jongen, den nieuwen tijd, úw tijd, lief te hebben met hart en ziel, terwijl je nog aan handen en voeten gebonden, vastgeketend bent aan de wetten, gebruiken en gewoonten van je land." (Oh! Anda tidak tahu bagaimana rasanya mencintai zaman muda, zaman baru, zaman Anda, dengan sepenuh hati, sementara tangan dan kaki Anda masih terikat, terantai pada hukum, adat, dan kebiasaan negeri Anda.)

Kartini memperkenalkan dirinya sebagai putri kedua (tertua di antara yang masih hidup) dari Bupati Jepara, dengan lima saudara kandung. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro dari Demak, adalah bupati pertama di Jawa Tengah yang membuka rumahnya bagi peradaban Barat. Semua anaknya mendapat pendidikan Eropa, termasuk ayah Kartini. Semua kakak laki-laki Kartini menempuh pendidikan di H.B.S., dan adik laki-lakinya yang paling tua kini berada di Belanda. Namun, sebagai anak perempuan yang masih terikat adat, pendidikan mereka sangat terbatas.

Pada usia 12 tahun, Kartini "harus masuk kotak"—ia dikurung di dalam rumah, terisolasi total dari dunia luar. Ia menggambarkannya: "Vier lange jaren heb ik tusschen vier dikke muren doorgebracht, zonder ooit iets van de buitenwereld te zien." (Empat tahun yang panjang kuhabiskan di antara empat tembok tebal, tanpa pernah melihat sedikit pun dunia luar.) Ia hanya bisa bertahan berkat bacaan buku-buku Belanda dan surat-menyurat dengan teman-teman Belanda. Pada usia 16 tahun, ia akhirnya diizinkan kembali melihat dunia luar, dan secara bertahap kebebasannya dipulihkan. Tahun lalu, saat penobatan Ratu Wilhelmina muda, orang tua mereka secara resmi mengembalikan kebebasan itu dengan mengizinkan mereka pergi ke ibu kota. Namun, Kartini belum puas; ia mendambakan kemerdekaan sejati, terutama agar tidak dipaksa menikah.

Ia menyatakan bahwa pernikahan di lingkungannya sangat menyedihkan karena hukum dan ajaran agama sepenuhnya berpihak pada laki-laki. Ia juga menyebut dua masalah besar di Hindia: alkohol yang mulai menyebar di kalangan pribumi, dan opium yang ia sebut sebagai "wabah" bagi Jawa, yang ironisnya dilindungi oleh Pemerintah karena merupakan salah satu sumber pendapatan terkaya melalui sistem pachtopium.

Kartini juga menceritakan kegagalannya menggalang dukungan di kalangan bangsanya sendiri untuk Pameran Nasional Pekerjaan Perempuan. Namun, ia berhasil meminta bantuan dari orang-orang Eropa. Ia berduka karena tidak bisa bahasa asing, yang menurutnya disebabkan oleh adat. Usianya baru 20 tahun, dan ia meminta Stella memanggilnya "Kartini" saja, karena orang Jawa tidak memiliki nama keluarga.

18 Agustus 1899. (I.)

Kartini menanggapi surat Stella tentang gelar kebangsawanan Jawa. Ia tidak memikirkan "kelahiran tinggi", baginya hanya ada dua jenis aristokrasi: "aristokrasi jiwa dan bangsawan budi". Ia kesal sering dipanggil "freule" atau bahkan "prinses" oleh orang Eropa dan menganggapnya konyol. Ia menyatakan bahwa dari dirinya sendiri, ia memutuskan semua formalitas terhadap adik-adiknya, dan di antara mereka berlaku "Vrijheid, gelijkheid en broederschap!" (Kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan!).

Kartini kemudian menjelaskan secara detail etiket Jawa yang sangat rumit dan ketat, terutama yang harus dilakukan oleh orang yang lebih muda terhadap yang lebih tua: berjalan jongkok saat lewat, berbicara dalam bahasa Jawa tinggi, melakukan sembah di setiap akhir kalimat, dan larangan menyentuh kepala yang lebih tua. Sebaliknya, hubungan antara Kartini dan adik-adiknya penuh kasih sayang dan tanpa kekakuan. Ia dibalas oleh Stella karena penguasaan bahasa Belandanya yang baik, dan ia sangat berterima kasih atas simpati Stella terhadap orang Jawa tanpa memandang warna kulit.

6 November 1899 (I.)

Kartini mengucap syukur kepada orang tuanya atas pendidikan bebas yang diberikan. Ia menyadari banyak perjuangan menantinya, tetapi ia merasa tidak bisa kembali ke lingkungan lamanya. Ia membantah tuduhan bahwa pendidikan dari ayahnya adalah sebuah kesalahan. Masalah utamanya adalah nasibnya yang harus menikah dengan pria asing pilihan orang tua.

Ia mengungkapkan kebenciannya pada konsep pernikahan di masyarakatnya, di mana cinta adalah dongeng, dan seorang suami yang sudah menikah dan menjadi ayah bisa secara sah menikah lagi. Ia mengutuk poligami sebagai dosa karena menyebabkan penderitaan bagi sesama. Ia menyesali kenyataan pahit bahwa "geestesadel" (kebangsawanan jiwa) tidak selalu sejalan dengan "karakteradel" (kebangsawanan watak). Keinginan kuatnya adalah untuk bisa mandiri, namun terhalang oleh posisi sosial ayahnya. Ia bersama saudara-saudarinya ingin mengembangkan bakat mereka, namun terkendala biaya dan birokrasi. Sebagai contoh, ia dan adiknya melukis dan menulis, tetapi ia lebih tertarik pada pena. Ia yakin bahwa jika ia menguasai bahasa Belanda dengan sempurna, ia bisa membuka banyak hal tentang dunia pribumi yang masih menjadi misteri bagi orang Eropa.

Kartini menjelaskan bahwa "penjara" yang ia maksud sebelumnya adalah rumah besar dengan halaman luas yang dikelilingi tembok tinggi. Ia pernah memberontak dengan putus asa, namun perlahan tembok itu runtuh berkat bantuan teman-teman Eropanya. Ia menyadari konsekuensi dari semua ini, termasuk pertanyaan-pertanyaan sulit tentang masa depannya, namun ia tetap optimis dan bahkan bercanda bisa menjadi juru masak jika gagal. Ia juga mengkritik orang Belanda yang mencaci Hindia sebagai "negeri kera yang menyebalkan", padahal banyak yang kembali ke Belanda dengan kantong penuh emas.

Menerjemahkan 'Hilda van Suylenburg' ke bahasa Melayu dianggapnya sia-sia. Ia percaya perubahan di dunia pribumi akan datang, meski waktunya belum pasti. Ia juga menyinggung permintaan untuk menulis buku tentang perempuan pribumi, namun ia menolak karena merasa terlalu muda dan kurang pengalaman. Mengenai agama Islam, ia mengaku tidak bisa menceritakannya pada Stella karena larangan agama, dan ia sendiri hanya seorang Muslim karena leluhurnya. Baginya, menjadi baik adalah yang terpenting, dan ia meragukan apakah agama benar-benar sebuah berkah, mengingat banyaknya perpecahan dan pertumpahan darah yang ditimbulkannya.

Sudah paham? Tulis ulang bab ini dengan kata-katamu sendiri. Mulai →