UWE KARTINI.
Ringkasan Bahasa Indonesia
RINGKASAN BAB: UWE KARTINI
Memulai Sekolah dan Menanti Jawaban (4 Juli 1903)
Kartini menulis dalam masa pemulihan dari sakit. Ia dan saudaranya belum menerima jawaban atas permohonan mereka. Setelah sekian banyak perjuangan dan penderitaan, mereka mengira telah cukup berjuang untuk menjadi "pengantin rakyat tercinta." Pemenuhan keinginan terbesar mereka sempat terasa begitu dekat, namun kini kembali menjauh. Kartini menulis, "Stil, niet klagen, niet zuchten, niet weenen. Bidden wil ik, slechts bidden tot in het oneindige..." Ia mengingatkan diri sendiri bahwa penderitaan adalah pendidikan ilahi. Kini gilirannya menerapkan teori yang selama ini ia ajarkan.
Mereka telah memulai sekolah di rumah, seperti yang disarankan suami Nyonya Abendanon, meskipun tanpa akta mengajar. Sekolah itu kini memiliki tujuh murid dan terus menerima permintaan baru. Murid pertama adalah putri seorang ambtenaar saleh. Adiknya yang belum lima tahun ikut serta. Kemudian menyusul putri-putri collecteur dan assistent-collecteur. Bahkan seorang djaksa dari Karimoen Djawa mengirim putrinya untuk tinggal bersama keluarga di sana demi mengikuti pelajaran.
Anak-anak datang empat kali seminggu dari pukul 8.00 hingga 12.30, belajar menulis, membaca, menjahit, dan memasak. Kartini menulis, "Wij onderwijzen niet volgens de kunst, maar zooals wij denken, dat de Javaantjes graag onderwezen willen worden." Kartinah kelak akan mengajar menjahit dan memasak, sementara Soematrie menangani sisanya. Mereka kekurangan buku-buku bacaan Belanda dan Jawa.
Surat kepada Oom (5 Juli 1903)
Kartini berterima kasih atas kiriman "Album Kern." Sekolah mereka sekarang memiliki tujuh murid, dan akan bertambah lagi tiga anak. Semua ini menunjukkan bahwa mereka memenuhi kebutuhan yang telah lama dirasakan. Kartini menulis, "Groot is de zegen, die ons toestroomt van den Vader van Liefde."
Mereka ingin membimbing hati muda yang murni dan membentuk karakter. Kartini memohon doa agar Tuhan memberkati usaha mereka. Usaha propaganda pribadi ternyata lebih berhasil. Seorang murid sekolah dokter pribumi (STOVIA) menitipkan dua keponakan perempuannya untuk dibimbing secara moral. Kartini juga berkorespondensi dengan seorang sepupu muda yang antusias.
Kartini menulis, "Nooit zijn we gelukkiger, dan wanneer wij een ander zedelijk hebben kunnen steunen." Sekolah mereka harus menjadi keluarga besar di mana mereka adalah ibu bagi murid-muridnya. Mereka akan mengajarkan kasih dengan perbuatan dan perkataan. Kartini menyebut buku "Quo Vadis," "Wij beiden" karya Edna Lyall tentang ateis dan Kristen, serta "de Ziel van een Volk" tentang Buddhisme. Ia juga berminat membaca tentang Yudaisme, mungkin dari buku Zangwill "Droomen van het Ghetto."
Berita tentang Beasiswa dan Pertunangan (Juli-Agustus 1903)
Kartini meminta bantuan untuk seorang pemuda bernama Salim, seorang Sumatra dari Riouw yang lulus dengan peringkat pertama dari tiga H.B.S. Ia ingin sekali belajar kedokteran di Belanda tetapi tidak mampu secara finansial. Ayahnya hanya berpenghasilan f 150.
Kartini mengusulkan agar dana f 4.800 yang telah disediakan pemerintah untuk dirinya dan Roekmini—yang tidak jadi mereka gunakan—dialihkan kepada Salim. Ia menulis, "Maak ons gelukkig, door een ander, met dezelfde verlangens, gevoelens en aspiraties bezield als wij, gelukkig te maken." Salim sendiri tidak mengetahui rencana ini.
Pada 1 Agustus 1903, Kartini mengumumkan perubahan dalam jalan hidupnya: ia akan menikah dengan Raden Adipati Djojo Adiningrat, Bupati Rembang. Kartini menulis, "een flinke, nobele man zal mij terzijde staan in mijn streven, om nuttig werkzaam te zijn voor ons volk." Suaminya telah lebih dahulu berbuat banyak; ia pernah ke Belanda. Mereka akan bersama-sama mewujudkan cita-cita demi kesejahteraan rakyat.
Kartini harus menulis pernyataan menolak kesempatan pendidikan guru dari pemerintah. Roekmini juga menolak karena tidak bisa, boleh, dan mau pergi sendirian. Kartini menyatakan keyakinannya, "Na deze daad is Nederland nog nader tot ons gekomen. Nu zijn we er van overtuigd, dat Nederland wil; Nederland wil het geluk van Indië."
Menuju Rembang dan Kehidupan Baru (Agustus-November 1903)
Banyak orang Jawa menginginkan Kartini menjadi istri bupati. Ia menulis, "Vox populi vox dei." Kartini melihat pernikahannya sendiri sebagai propaganda terbaik bagi pendidikan gadis Jawa. Orang akan melihat bahwa kecantikan dan kekayaan dikalahkan oleh kecerdasan budi dan jiwa.
Bupati Rembang akan datang pada 17 Agustus. Kartini meminta agar anak-anaknya dibawa serta. Ia ingin mencurahkan hidupnya untuk mereka. Kartini menulis, "Die kinderen zijn mijn toekomst; daar wil ik voor leven en werken, en strijden en lijden, als het moet."
Di Rembang ia akan menemukan medan kerja yang luas. Suaminya berjanji akan mendukungnya dengan kuat. Suaminya sendiri telah bertahun-tahun bekerja dalam semangat itu; ia membiayai pendidikan beberapa kerabatnya. Kartini akan berperan sebagai pendidik anak-anak keluarga suaminya.
Mengenai kerajinan tangan, Kartini berencana mengembangkan ukiran kayu dan kerajinan emas di Rembang dengan bantuan Singowirio, pengukir kayu dari Blakang-Goenoeng yang bersedia ikut. Mereka membutuhkan modal untuk membangun bengkel kerja, membeli bahan, dan menggaji para pekerja.
Tanggal pernikahan dimajukan menjadi 8 November 1903 atas permintaan calon suami. Pada 3 November, Kartini menulis bahwa hatinya kini penuh cinta, bukan lagi kepedihan. Ia menulis, "De liefde is het meeste! Zij is het rijkste als zij geeft." Calon suaminya telah lama tertarik padanya; almarhum istrinya sangat ingin berkenalan dengan Kartini. Menjelang wafatnya, sang istri bermimpi berdoa agar ia dan Kartini menjadi sahabat hingga kekekalan.
Pada 7 November 1903, malam menjelang pernikahan, Kartini menulis surat perpisahan singkat kepada Nyonya Abendanon.
Kehidupan di Rembang (Desember 1903)
Surat pertama dari rumah barunya ditulis pada 11 Desember 1903. Kartini menulis, "Ik zegen den dag, waarop ik mijne hand gelegd heb in die van hem, dien de Alvader mij tot reiskameraad door het groote en dikwijls zoo moeilijke leven gewezen heeft." Suaminya mewujudkan semua yang ia cita-citakan tentang kaum bangsawan: menjadi berkat dan pelindung bagi rakyat.
Kedatangan Kartini di Rembang disambut meriah. Seluruh Rembang berpesta; setiap rumah mengibarkan bendera. Rakyat bersukacita karena pemimpin yang mereka cintai berbahagia.
Kartini langsung menyayangi anak-anak tirinya. Ia menulis, "Ik vind hier den akker bereid; ik hoef slechts voort te zaaien." Rencana membuka sekolah akan dimulai Januari. Jika Kartini berhalangan mengajar, seorang saudarinya akan menggantikan. Beberapa orang tua telah menawarkan anak-anak mereka untuk dididik.
Mereka berencana membuka sekolah bagi putri pejabat pribumi di rumah, dengan pengajar Eropa dan Kartini sebagai pemimpin utama.
Kunjungan Keluarga Bervoets (16 Desember 1903)
Keluarga Bervoets dari Modjowarno berkunjung. Malam itu, tiba-tiba suami Kartini jatuh sakit parah karena serangan kolik usus. Dokter Bervoets menunda keberangkatannya untuk memberikan pertolongan medis. Keesokan harinya kondisi suami Kartini membaik.
Kartini mengisahkan bahwa almarhum istri pertama suaminya, hingga akhir hayatnya, selalu membicarakan Kartini, menyimpan potretnya, dan ingin sekali bertemu.
Rencana Menulis dan Kerajinan
Suami Kartini ingin agar Kartini menulis buku tentang saga dan legenda Jawa. Ia akan mengumpulkan bahannya dan mereka akan mengerjakannya bersama. Suaminya juga mendukung rencana mengembangkan kerajinan ukir Jepara di Rembang. Sekolah pertukangan bagi pribumi sudah lama menjadi cita-cita suaminya.
Kehamilan dan Kehidupan Sehari-hari (Maret-Juni 1904)
Pada 6 Maret 1904, Kartini mengabarkan bahwa ia hamil; anaknya diperkirakan lahir akhir September. Kartini menulis, "Zoo God het wil, komt tegen het einde van September een Godsgezantje ons reeds mooi leven mooier maken..." Rencana pergi ke Batavia dibatalkan.
Pada 10 April 1904, Kartini menulis kepada teman-temannya di Jena, berterima kasih atas hadiah pernikahan berupa lukisan Thüringerwoud dan foto Jena. Ia menggambarkan kebahagiaannya sebagai istri. Kartini menulis, "Al wat ik heb gedacht, is door hem gedacht, en veel door hem tot daad gemaakt."
Sekolah di Jepara kini memiliki 22 murid di bawah asuhan adik-adiknya. Di Rembang, anak-anak tirinya menjadi murid pertamanya.
Pada 8 Juni 1904, Kartini menggambarkan rutinitas hariannya: pagi bersama anak-anak belajar hingga pukul 12, siang bersama suami, sore bersama anak-anak bermain dan bercerita, malam bercakap-cakap dengan suami. Hari Minggu adalah hari bebas mereka. Jika anak yang dikandungnya perempuan, Kartini berharap ia akan "hidup" sepenuhnya, tidak dipaksa melakukan apa pun yang bertentangan dengan hati nuraninya.
Kartini juga menyinggung fitnah yang diterimanya sebelum menikah. Suaminya tidak pernah memercayai fitnah itu; ia selalu membela Kartini.
Menjelang Kelahiran (Juli-Agustus 1904)
Pada 17 Juli 1904, Kartini menulis bahwa kesehatannya terganggu; ia harus sangat berhati-hati demi bayinya. Ibunya datang dari Pemalang ketika suami Kartini putus asa melihat penderitaannya.
Pada 10 Agustus 1904, Kartini menulis surat terakhirnya. Ia meluapkan kerinduan dan rasa syukur kepada Nyonya Abendanon. Ia menulis, "Waarom toch moeten juist die zielen, die aan elkander verwant zijn, onbereikbaar ver van elkaar gaan."
Kartini juga mengkritik kebijakan pemerintah kolonial yang membebani rakyat kecil, seperti pajak terhadap pemotong rumput yang berpenghasilan 10-12 sen sehari dan pajak 20 sen untuk setiap kambing atau domba yang disembelih. Ia menulis, "Er is o zoo veel schreeuwend onrecht, en iemand, die rechtvaardig is, moet als ambtenaar wèl lijden."
Surat ditutup dengan kalimat perpisahan: "Misschien is dit mijn laatste brief voor u!"