WHAT IS THOUGHT?
Ringkasan Bahasa Indonesia
BAB: APA ITU BERPIKIR?
Bagian 1: Berbagai Pengertian Istilah "Berpikir"
Kata "berpikir" dan "pikiran" begitu sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, namun maknanya sangat beragam dan sulit didefinisikan secara tunggal. Bab ini bertujuan menemukan makna yang konsisten. Dewey menguraikan empat pengertian berpikir, dari yang paling longgar hingga yang paling terbatas.
Pertama, dalam arti paling longgar, berpikir berarti segala sesuatu yang "melintas di kepala kita". Ketika seseorang berkata "saya beri seribu untuk isi pikiranmu", ia tidak mengharapkan sesuatu yang bermutu atau benar. Lamunan, angan-angan kosong, ingatan tak penting, kesan sekilas—semua itu disebut berpikir dalam pengertian acak ini. Dewey mencontohkan seorang pria yang dianggap kurang cerdas ingin dipilih menjadi anggota dewan di kota New England. Ia berkata kepada tetangganya: "Saya dengar kalian tidak percaya saya cukup pintar untuk menjabat. Saya ingin kalian tahu bahwa saya memikirkan sesuatu hampir sepanjang waktu." Ironisnya, inilah berpikir dalam arti paling dangkal.
Kedua, berpikir dibatasi pada hal-hal yang tidak langsung diamati. Ketika seseorang bercerita dan ditanya apakah ia melihat kejadian itu, ia bisa menjawab, "Tidak, saya hanya memikirkannya." Di sini ada unsur ciptaan imajinatif, bukan catatan pengamatan setia. Yang paling penting dalam kategori ini adalah rangkaian peristiwa imajinatif yang memiliki koherensi—seperti cerita yang diarang anak-anak. Cerita-cerita ini mungkin menyerupai pemikiran reflektif karena tersusun rapi, namun tujuannya bukan untuk mencapai pengetahuan atau keyakinan tentang fakta. Mereka ingin menghasilkan cerita yang bagus, bukan pengetahuan. Tujuannya adalah luapan perasaan, meningkatkan suasana hati.
Ketiga, berpikir berarti keyakinan yang didasarkan pada sesuatu—pengetahuan nyata atau yang dianggap nyata, melampaui apa yang hadir langsung. Ini ditandai dengan penerimaan atau penolakan sesuatu sebagai mungkin atau tidak mungkin. Namun dalam tahap ini ada dua jenis keyakinan yang berbeda derajatnya. Pertama, keyakinan yang diterima begitu saja tanpa memeriksa alasannya. Kedua, keyakinan yang diterima karena alasannya telah diperiksa.
Contoh: "Orang dulu berpikir bumi itu datar" atau "Saya pikir kamu lewat rumah." Ini adalah keyakinan, tetapi mungkin diterima tanpa mempertimbangkan dasar yang sesungguhnya. Keyakinan semacam ini tumbuh tanpa sadar—dari tradisi, instruksi, tiruan, atau otoritas. Inilah yang disebut prasangka, yaitu penilaian sebelum penyelidikan.
Keempat, pemikiran reflektif sejati terjadi ketika orang terpaksa mempertimbangkan dasar atau alasan keyakinan mereka serta konsekuensi logisnya. Inilah berpikir dalam arti terbaik dan paling bernilai pendidikan. Dewey memberikan contoh klasik: "Manusia berpikir bumi itu datar sampai Columbus berpikir bumi itu bulat." Pemikiran awal adalah keyakinan yang dipegang tanpa pertanyaan, diperkuat oleh fakta indra yang tampak jelas. Pemikiran Columbus adalah kesimpulan beralasan—hasil studi, pengamatan, penyelidikan bukti, dan perbandingan berbagai hipotesis.
Kutipan: "Aktif, tekun, dan cermat mempertimbangkan setiap keyakinan atau anggapan pengetahuan dalam terang dasar yang mendukungnya, dan kesimpulan lebih lanjut yang cenderung dihasilkannya, merupakan pemikiran reflektif."
Bagian 2: Faktor Utama dalam Berpikir
Meskipun ada empat jenis, batas antaranya tidak tegas. Untuk memahami faktor inti, Dewey mengajak kita melihat kasus sederhana antara pemeriksaan bukti yang cermat dan aliran fantasi tak bertanggung jawab.
Bayangkan seseorang berjalan di hari yang hangat. Langit cerah saat terakhir dilihat, tetapi tiba-tiba ia merasa udara lebih dingin. Ia berpikir mungkin akan hujan, lalu menengadah melihat awan gelap, lalu mempercepat langkah.
Apa yang bisa disebut berpikir di sini? Berjalan atau merasakan dingin bukanlah berpikir—itu aktivitas. Yang dipikirkan adalah kemungkinan hujan. Udara dingin adalah fakta yang diamati, dan dari situ terlintas sesuatu yang tidak diamati: awan dan hujan. Di sini, udara dingin menandakan atau mengindikasikan hujan.
Ini berbeda dengan ketika kita melihat awan dan membayangkan bentuk wajah manusia—kita tidak percaya wajah itu benar-benar ada. Tidak ada pemikiran reflektif. Sebaliknya, kemungkinan hujan adalah kemungkinan nyata. Kita menganggap udara dingin sebagai dasar untuk percaya pada hujan.
Fungsi satu hal menandakan atau mengindikasikan hal lain, dan mendorong kita mempertimbangkan sejauh mana hal itu bisa dijadikan jaminan keyakinan, inilah faktor utama dalam semua pemikiran reflektif. Sinonimnya: menunjukkan, menandakan, meramalkan, mewakili, mengandung arti, memberi petunjuk.
Refleksi berarti sesuatu dipercayai (atau tidak dipercayai) bukan karena dirinya sendiri, melainkan melalui sesuatu lain yang menjadi saksi, bukti, jaminan, dasar keyakinan. Ketika kita benar-benar merasakan hujan, itu langsung dialami. Namun ketika kita menyimpulkan bahwa hujan telah turun dari rumput basah, atau akan hujan dari kondisi udara—itulah inferensi. "Saya pikir begitu" berarti saya belum tahu begitu. Keyakinan inferensial selalu mengandung unsur dugaan.
Definisi berpikir untuk penyelidikan ini: Operasi di mana fakta-fakta yang ada menyarankan fakta-fakta lain (atau kebenaran) sedemikian rupa sehingga menimbulkan keyakinan pada fakta kedua atas dasar atau jaminan fakta pertama.
Bagian 3: Unsur-Unsur dalam Pemikiran Reflektif
Setiap operasi reflektif mengandung dua subproses: (a) keadaan bingung, ragu, atau ragu-ragu; dan (b) tindakan pencarian atau penyelidikan untuk mengungkap fakta lebih lanjut yang menguatkan atau menolak keyakinan yang disarankan.
(a) Pentingnya ketidakpastian. Dalam contoh pejalan kaki, kejutan udara dingin menimbulkan kebingungan dan menunda keyakinan—setidaknya sesaat. Kejadian yang tak terduga ini menjadi masalah yang perlu dijelaskan. Dewey mengakui bahwa menyebut perubahan suhu sebagai "masalah" mungkin terdengar dipaksakan, tetapi jika kita memperluas arti "masalah" pada apa pun—betapapun sepele—yang membingungkan pikiran sehingga membuat keyakinan tidak pasti, maka ada masalah sungguhan di sini.
(b) Penyelidikan untuk menguji. Memutar kepala, mendongak, mengamati langit adalah aktivitas untuk menemukan fakta yang akan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pendinginan mendadak. Fakta awal membingungkan, tetapi menyarankan kemungkinan awan. Tindakan melihat adalah upaya mencari tahu apakah dugaan itu benar. Meskipun terlihat otomatis, ini adalah tindakan penelitian. Tujuannya mengonfirmasi atau menyangkal keyakinan yang disarankan.
Contoh klasik: persimpangan jalan. Seseorang yang bepergian di daerah asing sampai di persimpangan jalan. Tanpa pengetahuan pasti, ia berhenti dalam keraguan. Jalan mana yang benar? Hanya ada dua pilihan: mengambil jalan secara buta dan mengandalkan keberuntungan, atau menemukan dasar untuk memutuskan. Jika ia memikirkan, ia akan menyelidiki fakta lain—mengingat-ingat atau mengamati lebih lanjut. Ia mungkin memanjat pohon, mencoba satu arah lalu arah lain, mencari tanda-tanda, petunjuk, indikasi. Ia ingin sesuatu seperti papan penunjuk jalan atau peta. Refleksinya bertujuan menemukan fakta yang bisa memenuhi fungsi itu.
Situasi ini bisa digeneralisasi: Berpikir dimulai dari situasi "persimpangan jalan"—situasi yang ambigu, menimbulkan dilema, menawarkan alternatif. Selama aktivitas berjalan mulus, atau imajinasi melayang bebas, tidak ada panggilan untuk refleksi. Kesulitan atau hambatan dalam mencapai keyakinan membuat kita berhenti. Dalam ketidakpastian, kita secara metaforis memanjat pohon—mencari sudut pandang yang lebih luas untuk melihat fakta tambahan.
Kutipan: "Tuntutan untuk memecahkan kebingungan adalah faktor yang menstabilkan dan mengarahkan seluruh proses refleksi."
Jika tidak ada masalah yang harus dipecahkan, aliran gagasan berjalan acak (tipe pertama). Jika aliran dikendalikan hanya oleh kesesuaian emosional (tipe kedua). Namun pertanyaan yang harus dijawab menetapkan tujuan dan mengarahkan arus gagasan ke saluran tertentu. Setiap kesimpulan yang disarankan diuji relevansinya terhadap masalah. Kebutuhan meluruskan kebingungan juga mengontrol jenis penyelidikan yang dilakukan. Masalah menetapkan tujuan berpikir, dan tujuan mengendalikan proses berpikir.
Bagian 4: Rangkuman
Asal-usul berpikir adalah kebingungan, keraguan, atau kesulitan. Berpikir bukan pembakaran spontan; tidak terjadi begitu saja "atas prinsip umum". Ajakan umum kepada anak (atau orang dewasa) untuk berpikir, tanpa adanya kesulitan nyata dalam pengalamannya yang mengganggu keseimbangannya, sama sia-sianya dengan nasihat untuk mengangkat diri sendiri dengan tali sepatu.
Saran dan pengalaman masa lalu. Setelah menghadapi kesulitan, langkah berikutnya adalah munculnya saran jalan keluar—pembentukan rencana sementara, teori yang menjelaskan keanehan, solusi masalah. Data yang ada tidak bisa memberikan solusi; hanya bisa menyarankannya. Sumber saran adalah pengalaman masa lalu dan pengetahuan sebelumnya. Jika seseorang pernah mengalami situasi serupa, saran yang tepat akan muncul. Namun jika tidak ada pengalaman analog, kebingungan tetap menjadi kebingungan belaka. Mendorong anak berpikir tanpa pengalaman relevan sama sekali sia-sia.
Penyelidikan dan pengujian. Jika saran langsung diterima begitu saja, kita mendapatkan pemikiran tidak kritis—refleksi minimal. Merenungkan, merefleksikan, berarti berburu bukti tambahan, data baru yang mengembangkan saran dan menguatkannya atau menunjukkan ketidakrelevannya. Perbedaan utama antara pemikiran baik dan buruk terletak di sini. Cara termudah adalah menerima saran yang tampak masuk akal untuk mengakhiri ketidaknyamanan mental. Pemikiran reflektif selalu agak merepotkan karena melibatkan mengatasi kelembaman yang cenderung menerima saran begitu saja; melibatkan kesediaan menahan kondisi kegelisahan mental.
Kutipan: "Pemikiran reflektif, singkatnya, berarti penundaan keputusan selama penyelidikan lebih lanjut; dan penundaan itu cenderung agak menyakitkan."
Faktor terpenting dalam melatih kebiasaan mental yang baik adalah memperoleh sikap menunda kesimpulan dan menguasai berbagai metode mencari bahan baru untuk menguatkan atau menyangkal saran awal. Mempertahankan keadaan ragu dan melakukan penyelidikan yang sistematis dan berkepanjangan—inilah inti berpikir.