← How We Think

THE NEED FOR TRAINING THOUGHT

Ringkasan Bahasa Indonesia

Ringkasan Bab: "THE NEED FOR TRAINING THOUGHT" – John Dewey

Nilai-Nilai Berpikir

Manusia disebut sebagai "hewan yang berpikir" — berpikir menjadi pembeda esensial antara manusia dan binatang. Namun yang lebih relevan adalah bagaimana berpikir itu penting, karena jawabannya akan menerangkan jenis latihan yang dibutuhkan agar berpikir mencapai tujuannya.

I. Berpikir sebagai jalan keluar dari tindakan impulsif dan rutin

Berpikir memberi satu-satunya cara untuk lepas dari tindakan yang semata-mata impulsif atau rutin. Makhluk tanpa kemampuan berpikir hanya digerakkan oleh naluri dan nafsu, seperti didorong dari belakang. Ia tidak melihat atau meramalkan tujuan tindakannya, maupun akibat dari bertindak dengan satu cara ketimbang cara lain. Ia tidak "tahu apa yang sedang dilakukannya."

Sebaliknya, makhluk yang berpikir dapat menggunakan hal-hal yang hadir saat ini sebagai tanda atau petunjuk bagi hal-hal yang belum dialami. Dengan demikian, ia bisa bertindak berdasarkan hal yang tidak hadir dan yang akan datang. Ia tidak didorong oleh kekuatan naluri atau kebiasaan yang tak disadarinya, melainkan ditarik oleh tujuan yang lebih jauh dan hanya dikenal secara tidak langsung.

Contoh penjelas: Binatang tanpa berpikir bisa masuk ke liangnya saat hujan mengancam karena rangsangan langsung pada tubuhnya. Manusia yang berpikir melihat bahwa awan gelap adalah tanda kemungkinan hujan, lalu mengambil langkah berdasarkan antisipasi itu. Menanam benih, mengolah tanah, menuai gandum — semua adalah tindakan sengaja yang hanya mungkin dilakukan oleh makhluk yang belajar mengesampingkan unsur-unsur pengalaman yang langsung terasa demi nilai-nilai yang diisyaratkan oleh hal-hal itu.

Para filsuf berbicara tentang "buku alam" atau "bahasa alam". Berkat kemampuan berpikir, benda-benda yang ada menjadi bermakna sebagai petunjuk akan hal-hal yang tidak ada. Benda-benda menjadi catatan masa lalu (seperti fosil yang menceritakan sejarah bumi) dan nubuat masa depan (seperti posisi bintang yang meramalkan gerhana). Shakespeare berkata "lidah dalam pepohonan, buku dalam aliran sungai" — ini menggambarkan kekuatan tambahan yang diberikan pada benda-benda ketika ia dihayati oleh makhluk yang berpikir. Dari fungsi penandaan inilah bergantung semua peramalan, perencanaan cerdas, pertimbangan, dan perhitungan.

II. Berpikir memungkinkan peramalan sistematis dengan tanda buatan

Nilai kedua: manusia tidak hanya membaca tanda alam, tetapi juga menciptakan dan menyusun tanda-tanda buatan untuk mengingatkannya pada akibat-akibat serta cara meraih atau menghindarinya. Jika nilai pertama membedakan manusia primitif dari binatang, nilai kedua membedakan manusia beradab dari manusia primitif.

Contoh penjelas: Orang primitif yang kapalnya karam di sungai mungkin mencatat beberapa hal sebagai tanda bahaya di masa depan. Manusia beradab dengan sengaja membuat tanda-tanda semacam itu: ia memasang pelampung peringatan sebelum kecelakaan terjadi, membangun mercusuar di tempat yang ia lihat sebagai titik rawan. Orang primitif membaca tanda cuaca dengan sangat ahli; manusia beradab mendirikan dinas meteorologi yang secara artifisial mengamankan tanda-tanda dan menyebarkan informasi sebelum munculnya tanda yang bisa dideteksi tanpa metode khusus. Orang primitif menemukan jalan di hutan belantara dengan membaca petunjuk samar; manusia beradab membangun jalan raya yang menunjukkan jalan bagi semua orang. Inti peradaban adalah dengan sengaja mendirikan monumen dan peringatan agar kita tidak lupa, dan dengan sengaja menciptakan perangkat untuk mendeteksi datangnya berbagai kemungkinan dan keadaan darurat, untuk menangkal yang merugikan, atau melindungi diri dari dampaknya.

III. Berpikir memberi objek kualitas dan nilai yang berbeda

Nilai ketiga: berpikir memberikan status dan nilai yang sangat berbeda pada peristiwa dan benda fisik dibandingkan dengan yang dimiliki oleh makhluk yang tidak berefleksi.

Contoh penjelas: Kata-kata di halaman ini hanyalah goresan dan variasi cahaya bagi seseorang yang tidak mengenalnya sebagai tanda linguistik. Bagi yang mengenalinya sebagai tanda bagi hal lain, setiap kata memiliki keunikan tersendiri sesuai makna yang dibawanya. Hal yang sama berlaku pada benda alam. Kursi adalah objek yang berbeda bagi makhluk yang secara sadar melihatnya sebagai kesempatan untuk duduk, beristirahat, atau bercakap-cakap, dibandingkan bagi makhluk yang hanya melihatnya sebagai benda untuk dicium, digigit, atau dilompati. Batu berbeda bagi seseorang yang tahu sejarah dan kegunaan masa depannya, dibandingkan bagi yang hanya merasakannya langsung melalui indra.

Seorang ahli logika Inggris, Mr. Venn, meragukan apakah seekor anjing melihat pelangi, apalagi memahami konstitusi politik negaranya. Anjing tidur di kandangnya saat mengantuk, dan bersemangat saat mencium bau daging — tetapi apakah ia benar-benar melihat rumah sebagai benda dengan segala properti dan relasi tempat tinggal permanen? Ia tidak bisa, kecuali ia mampu menjadikan yang hadir sebagai tanda seragam bagi yang tidak hadir — kecuali ia mampu berpikir. Demikian pula, ia tidak melihat daging sebagai daging kecuali benda itu menyarankan properti tak hadir yang menjadikannya bagian dari hewan tertentu dan diketahui bergizi.

Anak-anak masa kini dengan cepat menganggap sebagai bagian dari objek kualitas-kualitas yang dulu hanya bisa dipahami oleh kecerdasan Copernicus atau Newton.

Kutipan kunci (John Stuart Mill): "Menarik kesimpulan telah dikatakan sebagai urusan besar dalam hidup. Setiap orang setiap hari, setiap jam, dan setiap saat perlu memastikan fakta yang tidak ia amati secara langsung... Pekerjaan hakim, komandan militer, navigator, dokter, petani, hanyalah menilai bukti dan bertindak sesuai... Ini satu-satunya pekerjaan yang tidak pernah berhenti menyibukkan pikiran."

Pentingnya Pengarahan agar Nilai-Nilai Ini Tercapai

Karena berpikir adalah operasi menarik kesimpulan, mendasarkan kesimpulan pada bukti, mencapai kepercayaan secara tidak langsung, operasi ini bisa salah maupun benar. Semakin besar kepentingannya, semakin besar pula dampak buruk bila dilakukan secara keliru.

Kutipan kunci (John Locke): "Tidak ada seorang pun melakukan sesuatu tanpa suatu pandangan yang menjadi alasannya... Pikiran dan gambaran dalam benak manusia adalah kekuatan tak kasat mata yang terus-menerus mengatur mereka... Oleh karena itu sangat penting perhatian besar diberikan pada pengertian, untuk membimbingnya dengan benar dalam pencarian pengetahuan dan dalam penilaian yang dibuatnya."

Jika pada berpikir bergantung semua kegiatan sadar dan penggunaan seluruh kemampuan kita, pernyataan Locke tentang perlunya perawatan adalah pernyataan yang moderat. Kekuatan berpikir membebaskan kita dari tunduk pada naluri, nafsu, dan rutinitas, tetapi juga membuka kemungkinan kegagalan yang tidak dapat dialami binatang yang terbatas pada naluri.

Kecenderungan yang Perlu Diatur Terus-Menerus

Sanksi alami dan sosial yang terbatas

Sampai batas tertentu, kondisi kehidupan biasa — alami dan sosial — menyediakan disiplin yang diperlukan. Anak yang terbakar takut pada api; akibat yang menyakitkan menekankan pentingnya inferensi yang benar. Kondisi sosial juga memberi penghargaan pada inferensi yang benar dalam hal-hal yang penting secara sosial.

Contoh penjelas: Tanda musuh, tempat berlindung, makanan, dan kondisi sosial utama harus dipahami dengan benar — ini disiplin yang efektif dalam batas tertentu.

Namun disiplin ini tidak membawa kita melampaui batas yang sempit. Kemampuan logis di satu bidang tidak mencegah kesimpulan berlebihan di bidang lain. Seorang pemburu yang ahli membaca tanda pergerakan hewan akan dengan serius menceritakan cerita paling mengada-ada tentang asal-usul kebiasaan hewan tersebut. Jika tidak ada reaksi langsung dari inferensi terhadap keamanan hidup, tidak ada pemeriksaan alami terhadap penerimaan kepercayaan yang salah.

Tanpa latihan, ada "kredulitas primitif" yang tidak membedakan antara khayalan dan kesimpulan yang masuk akal. Wajah di awan dipercaya sebagai fakta hanya karena sangat jelas tersarankan. Kecerdasan alami bukan penghalang penyebaran kesalahan, dan pengalaman luas yang tidak terlatih bukan penghalang akumulasi kepercayaan palsu yang mengeras. Kesalahan bisa saling mendukung dan menjalin jaringan khayalan yang semakin besar.

Poin penting: Dalam fungsi sugesti, tidak ada perbedaan antara kekuatan kolom air raksa untuk menandakan hujan dan kekuatan isi perut binatang atau terbangnya burung untuk meramalkan nasib perang. Hanya pengaturan sistematis terhadap kondisi pengamatan dan disiplin ketat kebiasaan menerima sugesti yang bisa memutuskan bahwa satu jenis kepercayaan itu keliru dan yang lain benar. Penggantian kebiasaan inferensi ilmiah dengan yang superstisius tidak terjadi karena peningkatan ketajaman indra, melainkan karena pengaturan kondisi di mana pengamatan dan inferensi berlangsung.

Upaya mengklasifikasi sumber kesalahan: Bacon dan Locke

Francis Bacon mengemukakan empat "berhala" (idola) yang menyesatkan pikiran:

  1. Idola suku (tribe): kesalahan yang berakar pada sifat manusia umum, seperti kecenderungan lebih mudah melihat contoh yang menguatkan kepercayaan favorit daripada yang menyangkal.
  2. Idola pasar (marketplace): kesalahan yang berasal dari pergaulan dan bahasa — misalnya mengira ada fakta di mana ada kata, dan tidak ada fakta jika tidak ada istilah.
  3. Idola gua (cave): kesalahan yang khas pada individu tertentu karena temperamen dan kebiasaan pribadi.
  4. Idola teater (theater): kesalahan yang berasal dari mode atau arus umum suatu zaman.

John Locke mengemukakan tiga tipe orang yang berpikir salah:

  1. Mereka yang jarang berpikir sendiri, tetapi melakukan dan berpikir menurut contoh orang lain (orangtua, pendeta, dll.) untuk menghemat kesulitan berpikir.
  2. Mereka yang menempatkan nafsu sebagai pengganti akal, dan tidak mau menggunakan akal sendiri atau mendengarkan akal orang lain selagi sesuai dengan humor, kepentingan, atau partai mereka.
  3. Mereka yang mengikuti akal dengan tulus, tetapi karena kurang "pengertian yang luas, sehat, dan menyeluruh" tidak memiliki pandangan penuh tentang masalah — mereka hanya bergaul dengan satu jenis orang, membaca satu jenis buku, mendengar satu jenis gagasan.

Locke juga menyebutkan pengaruh buruk dari:

  • Prinsip dogmatis yang diterima sejak kecil dan menjadi "standar kebenaran" yang tak tergoyahkan, sehingga bukti indra sendiri pun ditolak jika bertentangan.
  • Hipotesis yang diterima yang membentuk cetakan pikiran sehingga bukti tidak bisa meyakinkan.
  • Nafsu dominan yang mengalahkan probabilitas — seperti dinding lumpur yang menahan tembakan terkuat.
  • Otoritas — "memberikan persetujuan kita pada pendapat umum yang diterima dari teman, partai, lingkungan, atau negara" yang merupakan penyebab kebodohan dan kesalahan terbesar.

Kesimpulan: Sumber kesalahan tidak hanya dari kecenderungan alami individu (ketergesa-gesaan, kesombongan, kepentingan diri), tetapi juga dari kondisi sosial yang menanamkan dan mengukuhkan kebiasaan berpikir yang salah melalui otoritas, instruksi sadar, dan pengaruh setengah sadar dari bahasa, tiruan, simpati, dan sugesti. Pendidikan harus tidak hanya melindungi individu dari kecenderungan keliru dalam dirinya, tetapi juga meruntuhkan prasangka yang terakumulasi selama berabad-abad.

Regulasi Mengubah Inferensi menjadi Bukti

Berpikir, secara harfiah, adalah inferensi — satu hal membawa kita pada gagasan dan kepercayaan tentang hal lain. Inferensi melibatkan lompatan, loncatan, melampaui apa yang diketahui secara pasti menuju sesuatu yang diterima berdasarkan jaminan dari yang diketahui. Kecuali jika seseorang idiot, ia tidak bisa tidak membiarkan segala hal menyarankan hal lain, dan cenderung mempercayai yang disebutkan berdasarkan yang hadir.

Kutipan kunci: "Yang penting adalah bahwa setiap inferensi harus merupakan inferensi yang teruji; atau (karena sering tidak mungkin) bahwa kita harus membedakan antara kepercayaan yang bertumpu pada bukti teruji dan yang tidak, dan karenanya waspada tentang jenis dan derajat persetujuan yang diberikan."

Karena lompatan ke sesuatu yang tidak diketahui tidak bisa dihindari, perhatian pada kondisi terjadinya lompatan itu menjadi sangat penting untuk mengurangi bahaya langkah salah dan meningkatkan kemungkinan mendarat dengan benar.

Perhatian semacam itu terdiri dari pengaturan:

  1. Kondisi di mana fungsi sugesti terjadi.
  2. Kondisi di mana kredit diberikan pada sugesti yang muncul.

Inferensi yang diatur dengan dua cara ini membentuk bukti (proof). "Membuktikan" berarti menguji, mencoba. Tamu yang diundang ke pesta pernikahan meminta maaf karena harus membuktikan (menguji) lembu-lembunya. Pengecualian dikatakan membuktikan aturan — artinya pengecualian menyajikan kasus ekstrem yang menguji penerapan aturan dengan cara paling keras. Jika aturan tahan terhadap ujian seperti itu, tidak ada alasan untuk meragukannya lebih lanjut.

Fakta bahwa inferensi pada umumnya adalah fungsi yang sangat berharga tidak menjamin kebenaran inferensi tertentu. Inferensi mana pun bisa tersesat. Yang penting adalah bahwa setiap inferensi harus merupakan inferensi yang teruji, atau setidaknya kita membedakan antara kepercayaan berdasarkan bukti teruji dan yang tidak.

Peran pendidikan: Meskipun bukan tugas pendidikan untuk membuktikan setiap pernyataan atau mengajarkan setiap informasi, tugasnya adalah menumbuhkan kebiasaan yang mendalam dan efektif untuk membedakan kepercayaan teruji dari sekadar pernyataan, dugaan, dan opini; mengembangkan preferensi yang hidup, tulus, dan berpikiran terbuka untuk kesimpulan yang didasarkan secara benar; serta menanamkan metode penyelidikan dan penalaran yang sesuai dengan berbagai masalah yang muncul.

Betapa pun banyaknya pengetahuan seseorang sebagai informasi dan kabar angin, jika ia tidak memiliki sikap dan kebiasaan seperti itu, ia tidak terdidik secara intelektual. Ia tidak memiliki dasar disiplin mental. Karena kebiasaan ini bukan pemberian alam (betapa pun kuatnya bakat untuk memperolehnya), dan karena keadaan kebetulan lingkungan alam dan sosial tidak cukup untuk memaksakan perolehannya, tugas utama pendidikan adalah menyediakan kondisi yang memungkinkan pengembangannya. Pembentukan kebiasaan ini adalah Pelatihan Pikiran (Training of Mind).

Sudah paham? Tulis ulang bab ini dengan kata-katamu sendiri. Mulai →