← The Odyssey

BOOK III.

Ringkasan Bahasa Indonesia

RINGKASAN BUKU III: WAWANCARA TELEMAKHUS DENGAN NESTOR

Telemakhus, dipandu oleh Pallas yang menyamar sebagai Mentor, tiba di Pylos saat fajar. Di pesisir, Nestor dan putra-putranya sedang mempersembahkan kurban kepada Poseidon—sembilan ekor sapi jantan dibagi di sembilan tempat, masing-masing dihadiri lima ratus orang.

Setelah turun ke darat, Pallas—yang masih menyamar sebagai Mentor—menasihati Telemakhus agar tidak malu bertanya tentang nasib ayahnya. Telemakhus awalnya ragu karena merasa belum cukup dewasa, tetapi Pallas meyakinkannya bahwa "Tidak ada yang tidak berhasil dalam perjalananmu, yang lahir dengan pertanda baik dan dengan surga sebagai temanmu."

Pisistratus, putra Nestor, menyambut mereka dan mempersembahkan anggur. Pallas berdoa kepada Poseidon, lalu memberikan anggur kepada Telemakhus. Usai jamuan, Nestor bertanya asal-usul dan tujuan mereka. Telemakhus menjawab bahwa ia mencari kabar tentang ayahnya, Odysseus, yang nasibnya tidak diketahui sejak kejatuhan Troya.

Nestor menceritakan kembali kepulangan mereka dari Troya dengan sedih. Ia mengingat banyak pahlawan yang gugur: Ajax, Akhilles, Patroklus, dan Antilokhus (putranya sendiri). Ia menceritakan bagaimana perselisihan timbul antara Agamemnon dan Menelaus tentang waktu keberangkatan. Akibatnya armada terpecah. Odysseus dan Nestor sendiri berselisih pendapat, dan Nestor memutuskan pulang lebih dulu. Ia tidak pernah mendengar kabar Odysseus setelah itu.

"Betapa banyak penderitaan di laut! Di mana dalam kegelapan mencari mangsa kami berlayar tanpa takut; Akhilles memimpin jalan."

Nestor juga menceritakan kematian Agamemnon: sepulang dari Troya, Agamemnon dibunuh oleh Aigisthus yang berselingkuh dengan istrinya, Klytaimnestra. Tujuh tahun Aigisthus berkuasa, lalu Orestes, putra Agamemnon, membalas dendam dengan membunuh Aigisthus dan ibunya.

Ilustrasi: Bayangkan seorang raja yang pulang dari perang panjang, lalu dikhianati oleh orang kepercayaannya sendiri di rumah—inilah yang terjadi pada Agamemnon. Orestes kemudian menjadi contoh anak yang membalaskan kehormatan ayahnya.

Telemakhus terinspirasi oleh kisah Orestes dan berharap bisa melakukan hal serupa terhadap para pelamar yang merajalela di istananya di Ithaka. Namun ia pesimis ayahnya masih hidup. Pallas menegurnya: "Hanya kematian yang tidak bisa dihindari semua orang, dan segala sesuatu mungkin bagi Surga kecuali ini."

Nestor menyarankan Telemakhus pergi ke Sparta menemui Menelaus, yang baru saja kembali dari pengembaraan panjang dan mungkin tahu lebih banyak tentang Odysseus. Ia menawarkan kereta, kuda, dan putranya Pisistratus sebagai teman perjalanan.

Saat matahari terbenam, Pallas—yang masih menyamar sebagai Mentor—ingin kembali ke kapal, tetapi Nestor bersikeras mengundang mereka menginap di istana. Pallas setuju, lalu tiba-tiba berubah wujud menjadi elang dan terbang. Semua yang melihat takjub, dan Nestor menyadari bahwa tamunya adalah dewi Athena sendiri.

Keesokan paginya, Nestor dan keluarganya mempersembahkan sapi jantan bertanduk emas untuk Athena. Setelah upacara, Telemakhus dimandikan oleh Polykaste (putri bungsu Nestor), lalu berpakaian rapi. Mereka menyantap jamuan, lalu Telemakhus dan Pisistratus naik kereta dan berangkat ke Sparta. Mereka menginap di Pherae, rumah Diokleus, dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya hingga malam tiba.

Sudah paham? Tulis ulang bab ini dengan kata-katamu sendiri. Mulai →