BOOK IV.
Ringkasan Bahasa Indonesia
RINGKASAN BAB IV: PERTEMUAN DENGAN MENELAUS
Telemakhos dan Peisistratos tiba di Sparta. Raja Menelaos menyambut mereka dengan ramah. Saat itu, Menelaos sedang merayakan pernikahan putrinya, Hermione, dengan putra Akhilles, dan pernikahan putranya, Megapenthes.
Setelah jamuan, Telemakhos memberitahu Menelaos alasan kedatangannya: mencari kabar tentang ayahnya, Odisseus. Menelaos sedih mendengarnya. Ia menceritakan pengalamannya sepulang dari Troya. Ia terdampar di pulau Faros selama dua puluh hari karena angin tidak mendukung.
Di sana, putri dewa laut Proteus, Eidothea, menolongnya. Ia menyuruh Menelaos menyergap ayahnya, Proteus, yang bisa berubah wujud. Menelaos dan tiga anak buahnya berhasil menangkap Proteus meskipun dewa itu berubah menjadi singa, ular, babi hutan, air, dan pohon. Proteus akhirnya menyerah dan memberi petunjuk.
Kutipan: "Setelah melalui berbagai penderitaan dan kesulitan... engkau masih terdampar di pulau tandus ini, tanpa angin yang bersahabat. Wahai yang mengetahui segalanya, katakanlah, dewa mana yang menghalangi jalur laut kami?" (Ini adalah pertanyaan Menelaos kepada Proteus.)
Proteus memberitahu bahwa untuk pulang, Menelaos harus mempersembahkan kurban kepada para dewa di Mesir. Ia juga menceritakan nasib para pahlawan Yunani lainnya:
- Aias Oileus tewas karena kesombongannya menantang dewa.
- Agamemnon dibunuh oleh Aigisthos dan istrinya, Klytaimnestra.
- Odisseus masih hidup, tetapi ditahan di pulau Kalypso.
Kutipan: "Putra Laertes... masih hidup, tetapi tertahan dalam kesengsaraan. Aku melihatnya di gua Kalypso, air mata kesedihan membasahi pipinya. Namun, usahanya sia-sia untuk melawan cinta sang dewi atau melepaskan diri darinya."
Mendengar kabar ayahnya masih hidup, Telemakhos sangat senang. Menelaos kemudian menghadiahinya seekor kuda dan kereta, tetapi Telemakhos menolak kuda karena Ithaca berbatu-batu dan tidak cocok untuk kuda. Ia menerima sebuah piala perak sebagai gantinya.
Sementara itu di Ithaca, para pelamar mengetahui pelarian Telemakhos. Mereka marah dan berencana membunuhnya dalam perjalanan pulang. Antinoos memimpin rencana ini. Mereka menyiapkan kapal dan bersembunyi di pulau Asteris.
Penelope mendengar rencana ini dari Medon, seorang bentara. Ia sangat sedih. Namun, dewi Athena menenangkannya dalam mimpi dengan menyamar sebagai saudarinya, Iphthime. Athena berjanji bahwa Telemakhos akan kembali dengan selamat.
Ilustrasi penjelas: Bayangkan Penelope seperti seorang ibu yang anaknya pergi merantau tanpa pamit. Ia khawatir setengah mati, apalagi saat mendengar ada yang mau mencelakai anaknya. Namun, keyakinan bahwa ada kekuatan baik yang melindungi sang anak, seperti yang disampaikan dalam mimpinya, membuat hatinya sedikit lega.
Para pelamar kini menunggu di pulau Asteris, siap membunuh Telemakhos.