CHAPTER 7
Ringkasan Bahasa Indonesia
Sekitar pukul setengah enam pagi, para perempuan menyalakan api dan mengambil air dari sungai. Mereka merebus nasi untuk sarapan dan bekal bagi mereka yang pergi ke ladang atau hutan. Laki-laki kemudian sarapan, baru disusul perempuan dan anak-anak. Setelah sarapan, para penduduk desa berangkat ke ladang padi, berburu, memancing, atau mengumpulkan hasil hutan seperti buah-buahan, getah, rotan, dan bambu. Selama Desember dan Januari, panen buah-buahan hutan sangat melimpah sehingga pekerjaan lain ditinggalkan.
Setelah makan siang, kaum perempuan mulai menumbuk padi. Proses ini berlangsung ramai di sepanjang galeri rumah panjang.
Contoh: Dua perempuan berdiri saling berhadapan di atas lesung kayu besar. Mereka secara bergantian mengangkat dan menghantamkan alu kayu sepanjang sekitar tujuh kaki ke dalam lubang sedalam sembilan inci yang berisi padi. Setelah ditumbuk, padi diayak untuk memisahkan beras dari sekam dan debu.
Sore hari, laki-laki kembali dari hutan atau ladang dengan membawa hasil buruan atau buah-buahan. Semua mandi di sungai sebelum naik ke rumah. Malam hari, setelah makan, para laki-laki berkumpul di galeri untuk bercerita, berdiskusi, atau bermain alat musik seperti seruling hidung. Sekitar pukul sembilan malam, semua orang tidur, kecuali beberapa orang tua yang masih duduk-duduk di dekat api.
Kedatangan Tamu Penting
Seorang kepala suku yang berkunjung akan duduk di perahunya sementara pengikutnya mengumumkan kedatangan mereka. Jika tidak ada pantangan (MALAN) yang melarang, tamu dipersilakan masuk ke galeri. Tuan rumah dan tamu duduk berdampingan tanpa bicara selama beberapa menit. Setelah itu, percakapan dimulai dengan pertanyaan seperti, "Dari mana Anda berangkat hari ini?" Tuan rumah lalu menyembelih babi dan menyiapkan makanan.
Makanan disajikan di galeri dalam satu baris panjang, satu piring untuk setiap tamu. Tamu makan sendirian sementara tuan rumah menyingkir. Setelah selesai, tamu menunjukkan rasa puas dengan bersendawa keras, lalu berkumur-kumur.
Malam harinya, acara dimeriahkan dengan pidato, nyanyian, dan minuman arak beras (BORAK). Tuan rumah pertama-tama mempersembahkan sedikit minuman kepada roh-roh penjaga, lalu meminum sedikit. Tamu utama kemudian diminumkan arak dari cangkir yang disajikan dengan kedua tangan. Tuan rumah berdiri dan menyampaikan pidato pujian, lalu bernyanyi sambil mengayunkan cangkir ke arah tamu. Para pengikut bersama-sama mengulangi kata-kata terakhir dari setiap kalimat dalam paduan suara yang panjang dan merdu. Tamu kemudian membalas dengan pidato dan nyanyian serupa.
Perbedaan dengan Suku Lain
Suku Dayak Laut (Sea Dayak) menerima tamu dengan kurang formal, tanpa menyembelih babi atau menyajikan arak. Mereka menawarkan sirih pinang sebagai ganti rokok. Pada pesta besar, Dayak Laut dan Murut minum lebih banyak dan sering mabuk, sementara suku-suku lain jarang menyalahgunakan minuman keras dan hanya menggunakannya untuk mempererat persahabatan.