CHAPTER 8

Ringkasan Bahasa Indonesia

Ringkasan Bab 8: Kehidupan di Sungai

Semua penduduk Borneo (kecuali suku Punan dan sebagian Murut) sangat bergantung pada sungai sebagai jalur utama. Sungai utama dan cabangnya menjadi jalan raya, bahkan anak sungai kecil dipakai untuk mencapai ladang padi. Jalan setapak di hutan hanya dibuat jika tidak ada sungai atau jika sungai terlalu berliku, misalnya di daerah datar dekat pantai. Di rawa-rawa, batang pohon besar disusun ujung ke ujung untuk membentuk jalan setapak licin yang bisa dilalui orang tanpa alas kaki.

Cara Mendayung dan Berperahu
Dayung digunakan tanpa rowlock (penyangga dayung). Satu tangan memegang dekat bilah sebagai tumpuan, tangan lain mendorong gagang atas yang berbentuk T. Pada perahu kecil, pendayung duduk di buritan dan mendayung hanya di satu sisi. Perahu perang besar memiliki dua pendayung di haluan dan empat di buritan yang bertugas menyetir. Saat perjalanan, awak perahu sering bernyanyi untuk meringankan kerja, dan jika beberapa perahu bersama, mereka berlomba dengan riang sambil berteriak seperti suku Kayan saat berperang.

Naik Melawan Arus dan Turun Jeram
Di hulu sungai banyak jeram dan air terjun. Untuk naik, awak perahu menggunakan galah panjang (8–9 kaki) dengan gerakan serempak atas perintah kapten. Jika arus terlalu deras, beberapa orang turun ke air dan menarik perahu. Saat air sangat deras, mereka menarik perahu dari darat menggunakan rotan panjang. Kapten terus menyemangati dengan makian keras, misalnya “Matei tadjin selin” (semoga kau mati paling mengerikan), yang justru memacu awak.
Turun jeram lebih seru dan menyenangkan. Perahu meluncur cepat di antara batu; juru mudi berdiri memilih jalur, air memercik masuk, dan awak bernyanyi. Air terjun kecil dilewati dengan cepat. Kadang perahu terbalik dan ada yang tenggelam.

Bermalam
Jika tidak sampai di desa, mereka bermalam di perahu yang diatapi tikar atau di tepi sungai dengan gubuk darurat dari ranting dan bambu. Nasi dimasak pagi dan sore, serta saat istirahat tengah hari sekitar satu jam.

Menangkap Ikan
Ikan menjadi makanan penting. Berbagai cara dipakai:

  • Jala tebar (cast net): Jaring bundar berdiameter sekitar 6 yard dengan pemberat di tepi. Dilempar dari perahu ke kolam tenang, setelah sebelumnya melempar batu untuk memikat ikan. Juga dipakai di kaki jeram atau muara anak sungai dengan menggiring ikan.
  • Jaring datar: Dibentangkan melintang sungai dengan pelampung.
  • Jaring wanita: Berbentuk baskom dalam dari rotan, dipakai untuk menangkap ikan sucker di jeram dangkal.
  • Jaring tuas: Jaring segi empat digantung di ujung bambu, diturunkan dan diangkat saat ikan mendekati umpan.
  • Selambo: Pagar bambu di sungai kecil yang mengarahkan ikan ke jaring; nelayan mengangkat jaring saat ikan menyentuhnya.
  • Pancing: Kail biasa dari kuningan (suku Kayan) atau dari duri rotan (suku Kenyah). Umpan ditempatkan di ujung; saat ikan menelan, duri akan mengembang dan mengait.
  • Perangkap bubu: Kerucut bambu dengan katup dalam; ikan masuk tetapi tidak bisa keluar. Variasinya ada yang berbentuk silinder atau kerucut sederhana.
  • Kilong: Pagar tiang spiral di sungai besar atau pantai; ikan masuk ke ruang dalam dan sulit kembali.
  • Perangkap udang: Tabung kulit kayu dengan katup bambu, diumpani kelapa busuk.

Tuba Fishing
Cara paling besar adalah meracuni air dengan getah akar tanaman tuba. Semua penduduk desa bekerja sama. Akar ditumbuk dan dibilas di perahu, lalu airnya dituang ke sungai. Ikan akan muncul ke permukaan dan ditombak atau dijaring. Saat persiapan, kata "tuba" tidak boleh disebutkan, karena dipercaya burung dan kelelawar bisa mendengar dan memberi tahu ikan, sehingga ikan akan memanggil pawangnya (ikan belira) untuk membuat hujan dan menggagalkan racun. Semua rujukan pada ikan harus dengan kalimat tidak langsung, seperti “Daun (artinya ikan) tidak bisa melewati pagar ini.”

Menggelitik Ikan
Pria berdiri di tepi danau di antara rumput untuk menggelitik ikan yang mencari tempat teduh.

Buaya
Buaya banyak di hilir sungai, tetapi tidak diburu kecuali jika ada provokasi, dan hanya orang Melayu yang memburunya. Jika ada yang diterkam, penduduk desa dan desa tetangga akan membalas dengan menombak dasar sungai secara sistematis. Luka tombak jarang langsung mematikan, tetapi bisa meradang karena serangan ikan dan lalat. Perut buaya yang tertangkap diperiksa untuk mencari sisa korban (rambut atau perhiasan). Jika tidak puas, mereka memasang pancing berumpan bangkai, atau meminta bantuan Melayu karena ahli dan punya jampi. Buaya yang tertangkap diperlakukan dengan hormat, dipanggil “laki” (kakek), dan dibiarkan mati dijemur, agar mereka tidak membunuhnya langsung.

Kutipan kunci:
"The main rivers and their principal branches are their great highways, and even the smallest tributary streams are used for gaining access to their PADI fields."
Terjemahan: “Sungai-sungai utama dan cabang-cabangnya adalah jalan raya mereka, bahkan anak sungai terkecil digunakan untuk mencapai ladang padi.”
“It is necessary for a man or boy to bale out the water that constantly enters over the gunwale while the boat makes the passage of a rapid.”
Terjemahan: “Seorang laki-laki atau anak laki-laki harus terus membuang air yang masuk ke perahu saat melewati jeram.”
“While the TUBA fishing is being arranged … great care is taken to avoid mentioning the word TUBA, and all references to the fish are made in oblique phrases…”
Terjemahan: “Saat tuba fishing diatur … sangat berhati-hati untuk tidak menyebut kata tuba, dan semua rujukan pada ikan dibuat dengan frasa tidak langsung.”

Ilustrasi penjelas: Bayangkan perahu yang akan naik jeram—semua awak serempak menancapkan galah ke dasar sungai, sementara kapten berteriak-teriak. Atau saat tuba fishing, warga menghindari kata "tuba" seperti kita menghindari menyebut "hantu" di tengah malam.

Sudah paham? Tulis ulang bab ini dengan kata-katamu sendiri. Mulai →