CHAPTER 9

Ringkasan Bahasa Indonesia

Ringkasan Bab 9: Kehidupan di Hutan

Semua penduduk Borneo mencari nafkah sebagian dari berburu dan menjerat binatang hutan, tetapi hanya suku Punan yang mengandalkan perburuan sebagai sumber makanan utama. Hasil hutan adalah satu-satunya barang dagangan mereka, selain sagu yang ditanam di beberapa daerah.

Berburu

Babi hutan (Sus barbatus) adalah buruan utama, selain rusa (tiga jenis: rusa besar, kijang, dan plandok/rusa tikus), sapi liar, badak sumatra, biawak, kera, landak besar, dan berbagai mamalia kecil seperti beruang, musang, dan beruang madu. Babi dan rusa paling sering diburu oleh sekelompok pria dengan 4-5 anjing. Anjing mengejar babi hingga babi berbalik menyerang; anjing mengepungnya sampai pemburu datang dan menusuknya dengan tombak. Kadang pemburu dan anjing terluka oleh taring babi. Saat musim buah, babi bermigrasi dalam kawanan besar dan menyeberangi sungai; pemburu menunggu dari gubuk kecil di tepi sungai dan membunuh babi dari perahu.

Kenyah dan Klemantan kadang menangkap rusa dengan jaring (tali rotan kuat yang direntangkan dari pohon ke pohon setinggi 5 kaki di atas tanah, dengan jerat-jerat rotan). Mereka mengepung area yang hampir dikelilingi sungai, lalu menggiring rusa ke arah jaring. Rusa yang terjerat akan ditombak. Babi dan rusa kadang juga dibunuh dengan sumpit, terutama oleh Punan yang merupakan pengguna utama senjata ini.

Sapi liar sangat waspada dan berbahaya. Kadang mereka masuk air dan mudah ditangkap. Punan, yang tidak punya anjing, mengintai badak di jalur menuju kubangan lumpur, menusuknya dengan tombak, lalu melacaknya sampai bisa menusuk lagi atau menggunakan anak panah beracun.

Burung dan kera kebanyakan dibunuh dengan sumpit.

Perangkap

Berbagai perangkap dibuat. Untuk babi dan rusa, perangkap dipasang di celah pagar ladang padi. Terdiri dari tombak bambu yang ujungnya diraut dan dikeraskan di api, dipasang horisontal pada pegas dari batang hijau yang lentur. Pegas ditarik ke belakang dan ditahan dengan pemicu; ketika hewan menyentuh tali pemicu, pegas melepas dan tombak melesat dengan kuat. Ada juga variasi dengan pegas vertikal. Suku Iban punya kebiasaan mengukur tinggi tombak dengan tongkat berukir patung manusia.

Untuk hewan kecil, perangkap jerat adalah yang paling luas digunakan (lihat Gambar 24). Pagar kayu dan semak sepanjang ratusan meter (kadang sampai satu mil) dibuat di hutan, dengan celah setiap 10-20 yard. Di setiap celah dipasang platform kecil dari ranting, dengan jerat dari tali rotan. Ketika burung atau hewan kecil menginjak platform, pemicu lepas dan jerat menarik kakinya ke atas, menggantung korban sampai penjebak datang.

Suku Dayak Laut punya cara unik menangkap burung kuau argus. Burung jantan suka membersihkan tempat tertentu di hutan untuk pamer bulu dan bertarung. Dayak menancapkan potongan bambu tajam vertikal di tanah. Saat burung mencoba membersihkan rintangan, mereka sering melukai leher mereka, lalu lemah karena kehilangan darah dan mudah ditemukan.

Pengumpulan Hasil Hutan

Hasil hutan utama selain buah-buahan adalah getah perca, karet, kapur barus, rotan, lilin lebah dan madu, lemak nabati, sagu liar, damar, serta sarang burung walet. Kelompok kecil pria dan anak laki-laki pergi ke hutan selama beberapa minggu atau bulan, membawa beras, garam, tembakau, alat masak, senjata, dan anjing. Mereka mendirikan kemah sederhana, berpindah-pindah, dan berburu untuk menambah makanan. Ekspedisi ini dianggap menyenangkan dan menguntungkan. Dayak Laut sering melakukan perjalanan jauh hingga ke wilayah suku lain, kadang menimbulkan masalah.

Getah perca diperoleh dari banyak jenis pohon. Yang terbaik disebut getah Kayan, dikumpulkan murni. Pohon ditebang, batang dikerat setiap 18 inci untuk mengeluarkan getah, lalu dicampur air garam panas, diuleni, dicetak menjadi lempengan seukuran 1,5 inci tebal, sekitar satu kaki panjang. Dijual di Singapura sekitar £50 per 100 pon.

Karet terbaik (pulut) diperoleh dari tumbuhan merambat yang batangnya bisa mencapai 50-100 kaki. Getahnya diolah mirip getah perca, digulung menjadi bola-bola.

Kapur barus ditemukan di celah batang pohon Dryobalanops aromatica tua yang berlubang. Pohon ditebang, batang dibelah, kristal kapur barus dikumpulkan. Kelompok Kayan biasanya dibantu Punan yang ahli. Ada pantangan lali: tidak boleh bicara dengan orang luar, tidak boleh bicara Bahasa Melayu, dan menggunakan bahasa khusus yang merupakan perubahan dari bahasa Punan. Sebelum mulai, mereka memasang rotan di mulut sungai dan tongkat berumbai di tepi sebagai tanda. Mereka tidak boleh diganggu sampai selesai.

Rotan dikumpulkan dengan memotong pangkal batang lalu ditarik bersama-sama. Setelah dipotong sepanjang 15 kaki, dijemur, lalu diikat menjadi rakit untuk diangkut ke pasar Cina di hilir sungai.

Madu dan lilin lebah didapat dari sarang lebah hutan di pohon tinggi. Pria memanjat dengan tangga dari pasak besi dan bambu, kadang sampai 60-80 kaki. Pada malam hari, mereka menggunakan obor kulit kayu berasap, menggantung kerucut kulit kayu di bawah sarang, mengasapi lebah, lalu memotong sarang. Mereka memakan sepotong sarang berisi ulat, lalu menurunkan kerucut. Madu diperas, lilin dilelehkan dan dicetak jadi bola.

Lemak nabati dari biji pohon engkabong digunakan sebagai makanan, biasanya dioleskan di nasi panas.

Sagu liar banyak digunakan oleh Punan. Batang sagu ditebang, empulurnya dipukul keluar, lalu diolah dengan air oleh perempuan menjadi butiran sagu. Setelah direbus menjadi massa lengket, dimakan dengan sendok bambu, dicelupkan ke kuah daging babi.

Damar dari berbagai pohon dikumpulkan untuk obor, tambal perahu, dan dijual.

Batu bezoat ditemukan di kantong empedu dan usus kera monyet ekor panjang (Semnopithecus). Ada juga jenis coklat lunak dari landak. Keduanya sangat dihargai sebagai obat oleh orang Cina. Kadang ditemukan juga endapan di sekitar ujung anak panah yang patah dan tertinggal di daging kera.

Sarang burung walet adalah hasil hutan terpenting. Ada tiga jenis burung: Collocalia fuciphaga (sarang putih), C. lowii (sarang kehitaman), dan C. linchii (sarang mengandung jerami dan lumut). Sarang terbuat dari zat gelatin transparan yang keluar dari paruh burung. Sarang selalu dibangun di atap dan dinding gua besar. Sarang putih di gua rendah batu pasir; sarang hitam di gua batu kapur tinggi, dicapai dengan perancah bambu setinggi lebih dari 100 kaki. Sarang disapu dengan tongkat berujung spatula besi dan lilin. Sarang putih dipanen tiga kali setahun, sarang hitam dua kali. Hingga tiga ton sarang hitam bisa diambil dari satu gua besar. Setiap gua atau bagiannya adalah milik pribadi yang diwariskan. Sarang hitam dijual sekitar $100 per 100 pon, sarang putih hingga 30-40 shilling per pon.

Kutipan kunci (diterjemahkan):

  • "Semua penduduk Borneo mencari nafkah sebagian dari berburu dan menjerat binatang hutan, tetapi hanya suku Punan yang mengandalkan perburuan sebagai sumber makanan utama."
  • "Ekspedisi seperti itu umumnya dianggap sangat menyenangkan sekaligus menguntungkan."
  • "Sarang-sarang tersebut dijual kepada pedagang Cina — sarang hitam sekitar seratus dolar per seratus pon, dan sarang putih sebanyak tiga puluh atau empat puluh shilling per pon."
Sudah paham? Tulis ulang bab ini dengan kata-katamu sendiri. Mulai →