CHAPTER 15
Ringkasan Bahasa Indonesia
Ringkasan Bab 15: Kepercayaan Animisme Terkait Hewan dan Tumbuhan
Suku Kenyah memiliki keyakinan khusus terhadap beberapa hewan, terutama burung-burung pertanda (omen-birds). Yang terpenting di antaranya adalah elang pemakan bangkai ber kepala putih (Haliaster intermedius). Pergerakan elang ini di langit ditafsirkan sebagai petunjuk dalam berbagai urusan penting, terutama perang atau ekspedisi berbahaya. Elang ini disebut dan disapa sebagai Bali Flaki, dan selalu dikonsultasikan secara resmi sebelum rombongan Kenyah bepergian jauh.
Contoh Prosedur Pembacaan Pertanda:
Dalam sebuah catatan, ketika kepala suku Tama Bulan hendak berdamai dengan suku Madang, ia mengikuti ritual adat. Tiga orang duduk di bawah tenda kecil di tepi sungai sambil mengawasi langit. Begitu melihat elang, seorang pria melambaikan anak ayam dan ranting yang disayat-sayat, sambil berdoa agar elang terbang ke kanan. Setelah elang pertama terbang ke kanan, mereka menunggu elang kedua yang harus terbang ke kiri, dan elang ketiga yang harus berputar-putar. Setelah itu, mereka menyembelih ayam dan babi di depan patung kayu Bali Penyalong (dewa tertinggi) sambil memercikkan darah ke patung tersebut. Tama Bulan kemudian berdoa kepada babi yang diikat, memanggilnya "Bali Bouin", memotong lehernya, lalu memercikkan darah campur air ke seluruh peserta. Ritus ini diyakini memberikan perlindungan dari tiga elang itu selama perjalanan.
Kutipan kunci: "Tujuan dari api adalah untuk membawa doa ke surga melalui nyala dan asap yang naik, mirip dengan tiang tinggi yang ditanam di samping patung untuk memudahkan komunikasi dengan roh."
Peran Elang (Bali Flaki):
- Elang tidak dibunuh, kecuali jika mencuri ayam peliharaan (dianggap elang kelas rendah).
- Sebelum menabur atau memanen padi, elang dikonsultasikan.
- Seseorang dapat meminta bantuan Bali Flaki secara pribadi untuk mencelakai musuh: membuat patung kayu, memotong ayam, mengoleskan darah, dan mengubur patung.
- Dalam rumah baru, patung elang bersayap terbentang dipasang sebagai persembahan.
- Wanita yang sakit dapat menggunakan bulu elang sebagai jimat penyembuhan.
Kenyah memandang elang sebagai utusan dan perantara antara manusia dengan Bali Penyalong. Mereka menganggap pertanda baik sebagai dorongan, dan pertanda buruk sebagai peringatan ramah. Seorang Kenyah cerdas berkata bahwa elang mungkin sudah belajar memberi peringatan sendiri tanpa diperintah oleh Bali Penyalong.
Burung Pertanda Lain:
Setelah mendapat pertanda baik dari elang, seorang tokoh penting duduk di tepi sungai dekat api kecil untuk mengamati burung-burung lain:
- Isit (spider-hunter): terbang dari kiri ke kanan dianggap baik. Rombongan akan mendarat, membuat api, dan berdoa.
- Trogan (Harpatces spp.): panggilan tenang dari kiri adalah pertanda baik.
- Kieng (woodpecker): memiliki dua nada; yang satu baik, yang lain buruk. Jika sudah mendapat pertanda baik, mereka berusaha tidak mendengar Kieng.
- Asi dan Ukang: masing-masing memberi peringatan kesulitan atau keberuntungan.
- Telajan (rain-bird): panggilan menandakan keberuntungan atau kesulitan serius.
- Kong (hornbill): suaranya memberi pertanda kecil. Bulu enggang hitam-putih dipakai hanya oleh prajurit berpengalaman; paruh enggang berhelm diukir menjadi anting-anting berharga untuk pria tua atau yang telah memenggal kepala. Tarian meniru gerakan enggang dilakukan hanya untuk bersenang-senang.
Peran Babi:
Babi peliharaan tidak dihormati, tetapi justru sering dihina. Namun, babi memegang peran penting dalam hampir semua upacara keagamaan. Sebelum disembelih, babi selalu diberi penjelasan bahwa ia tidak akan dimakan, melainkan rohnya akan menyampaikan doa kepada Bali Penyalong.
Fungsi terpenting babi adalah memberikan informasi tentang masa depan melalui tanda-tanda pada hatinya.
- Prosedur: Babi diikat, dibawa ke hadapan kepala suku. Kepala suku membakar sedikit bulunya, lalu berdoa sambil menekan pundak babi, memerintahkan roh babi menyampaikan doa. Kemudian babi disembelih, hatinya dikeluarkan, dan sisi bawahnya diperiksa.
- Penafsiran: Lobus kanan hati mewakili pihak yang membunuh babi, lobus kiri mewakili pihak tetangga, dan ujung ekor mewakili pihak ketiga yang jauh.
- Jika tonjolan antara lobus kanan dan kiri tajam, berarti masih ada permusuhan.
- Kantung empedu yang panjang dan melipat menandakan masalah lebih lanjut; yang tenggelam ke dalam hati berarti tidak ada masalah.
- Alur yang jelas di lobus kanan melambangkan jalur air yang lancar.
- Bekas luka di tepi hati melambangkan cedera masa lalu; jika seimbang, berarti perdamaian.
- Bisul atau abses meramalkan kematian cepat salah satu kepala suku.
Kutipan kunci: "Bali Penyalong tidak pernah disapa tanpa penyembelihan satu atau lebih babi, dan tidak ada babi peliharaan yang disembelih tanpa sebelumnya diisi dengan pesan atau doa kepada Bali Penyalong, yang akan dibawa rohnya ke sana."