CHAPTER 17
Ringkasan Bahasa Indonesia
Bab ini mengumpulkan mitos, legenda, dan cerita binatang dari berbagai suku di Borneo yang diturunkan secara lisan. Cerita-cerita ini biasanya dibawakan oleh penutur andal, terutama orang tua, dan sering didengar sambil duduk di sekitar perapian. Mitos bervariasi antar daerah karena pengaruh warna lokal, dan hanya sedikit yang dikenal oleh semua suku. Berbeda dengan mitologi klasik atau Kristen, mitos di Borneo hanya sedikit terkait agama; dewa jarang muncul, dan cerita disampaikan tanpa rasa kagum atau kewajiban. Cerita-cerita ini lebih bersifat estetis dan sastra, mirip dengan fabel binatang. Sulit membedakan mitos dan dongeng karena keduanya tidak langsung mempengaruhi kehidupan praktis, sehingga kepercayaan terhadapnya jarang diuji.
Contoh: Dalam cerita kelelawar yang menyampaikan berita rencana orang meracuni sungai, penduduk bertindak sesuai cerita, menunjukkan bahwa kadang mitos mempengaruhi perilaku.
Berikut ringkasan beberapa cerita yang mewakili:
1. Mitos Penciptaan Kayan (diringkas) Awalnya hanya ada batu tandus. Hujan menghasilkan lumut, cacing dan kumbang kotoran membuat tanah. Gagang pedang dari matahari menjadi pohon besar, dan tumbuhan menjalar dari bulan bergabung dengannya. Dari persatuan ini lahir manusia pertama, Kaluban Gai dan Kalubi Angai, yang tidak sempurna (kaki dan tubuh bagian bawah hilang). Daun pohon menjadi burung dan serangga, buah menjadi hewan berkaki empat, getah menjadi babi dan ayam. Manusia pertama melahirkan keturunan yang menjadi nenek moyang berbagai suku. Suku Kayan, Kenyah, dan Klemantan mengaku dari Oding Lakang; suku Sebop dan Punan dari Tokong. Tokong dikaitkan dengan pengenalan pengayauan: katak menasihatinya memotong leher musuh, dan setelah melakukannya, padi tumbuh subur dan kemakmuran meningkat.
2. Kisah Lafang (Long Kiput) Lafang, pemuda Long Kiput, dipersunting putri Palai (rasi bintang Pegasus). Ia naik ke langit, tetapi kesulitan mengikuti adat setempat: ia makan dengan jari, bukan jarum; saat menebang pohon, ia memotong dengan kapak alih-alih meletakkan kapak di pangkal pohon sehingga pohon tumbang sendiri. Akibatnya, pohon menimpa dan memotong lengan kirinya. Lafang memutuskan pulang ke bumi. Istrinya memberi tebu dan pisang (sebelumnya tidak dikenal manusia), lalu menurunkannya dengan tanaman menjalar. Mendengar tangisan bayi, ia ingin kembali, tetapi tidak diizinkan. Di bumi, ia menanam tebu dan pisang dengan hati-hati walaupun diperintahkan hanya melempar, sehingga hasilnya tetap berkualitas rendah. Lafang mati di bumi, tetapi rasi bintangnya melintas di langit sebagai pengingat.
3. Kisah Usai (Klemantan) Menurut orang Long Kiput, bintang adalah lubang di langit akibat akar pohon di dunia atas. Dahulu langit dekat bumi, tetapi raksasa Usai secara tidak sengaja memukul langit dengan palu, sehingga langit menjauh. Usai mencari istrinya yang tenggelam saat bendungannya jebol. Ia menyusuri sungai Baram, menemukan pakaian istrinya di beberapa tempat, dan terus berjalan. Air sungai semakin dalam, lalu dangkal lagi, hingga ke laut. Ia berhenti di Miri, tempat penduduk setempat menganggapnya pohon besar. Mereka memotongnya, Usai pun terluka dan mengatakan, "Di mana kepalaku jatuh, orang akan banyak pengetahuan; di mana kakiku, orang akan bodoh." Ia jatuh, ribuan Miris tewas, dan ini menjelaskan mengapa orang kulit putih dan Cina pandai, sementara orang Borneo bodoh (menurut pengomentar). Nyamuk dulu sebesar ayam, lalu dipotong kecil-kecil hingga sekarang.
4. Kisah Simpang Impang (Iban) Saat banjir besar, hanya seorang wanita, seekor anjing, tikus, dan beberapa hewan kecil selamat di puncak gunung. Wanita itu menghasilkan api dengan menggosokkan tanaman menjalar ke kayu (pertama kali). Ia kawin dengan tanaman itu dan melahirkan Simpang Impang, anak setengah manusia (satu lengan, satu kaki, satu mata). Simpang Impang menemukan padi yang disembunyikan tikus, lalu ditabur ke hutan oleh roh angin. Ia menuntut padi itu kembali ke roh angin. Dalam perjalanan, ia melewati pohon yang lelah dipatuk burung, danau yang tersumbat emas, serta tebu dan pisang yang ingin bercabang. Di rumah roh angin, mereka bertanding menyelam, lompat, dan melewati sumpit—Simpang Impang dibantu hewan (ikan, sapi liar, semut). Akhirnya ia membakar rumah angin, dan angin menawari kompensasi: menjadikannya manusia utuh. Simpang Impang menyampaikan pesan-pesan tadi; angin menjawab bahwa tebu dan pisang tidak bercabang karena manusia sering melanggar adat (menyebut mertua atau berjalan di depan mereka).
5. Fabel Kancil dan Kura-kura (Kenyah) Plandok (kancil) dan Kelap (kura-kura) mencari buah. Kancil membantu kura-kura naik pohon, lalu buah dijatuhkan. Kura-kura tidak bisa turun dan dilempar kancil hingga jatuh keras. Orang rumah mendengar dan mengejar mereka. Kancil kabur, kura-kura bersembunyi di bawah daun. Orang menemukannya dan ingin membakarnya, tetapi kura-kura pura-pura setuju karena "waktu dibakar sebelumnya hanya setengah". Orang ingin memerasnya di alat gula, kura-kura juga setuju karena "waktu diperas hanya satu sisi". Akhirnya mereka melemparnya ke sungai—kura-kura senang karena itu rumahnya. Orang hendak meracuni sungai dengan tuba, tetapi kelelawar memberi tahu kura-kura, yang bersembunyi di antara batu dangkal. Orang tak sengaja memukul punggung kura-kura saat menumbuk tuba, lalu mengurungkan niat karena air naik. (Ini menjelaskan mengapa orang Kenyah bicara dalam perumpamaan saat meracuni sungai.)
6. Kisah Ikan Belira (Kenyah) Ikan- ikan mengeluh sering ditangkap lewat racun sungai. Mereka ingin dayong (dukun) yang bisa membuat hujan agar racun tak bekerja. Semua menolak kecuali Belira, dengan syarat setiap ikan memberinya satu tulang. Itulah kenapa Belira punya banyak tulang.
7. Kisah Anak Bodoh (Klemantan) Saleh dan ayahnya pergi ke ladang. Saleh salah memahami perintah: ia menaruh periuk terbalik di atas api sehingga air memadamkan api. Saat kapak ayahnya rusak, Saleh pulang mengambil kapak baru, tetapi ia kehilangan mata kapak di sungai dan menandai tempatnya dengan menakik perahu—padahal perahu sudah bergerak. Ibunya memberi kapak baru. Di ladang, ayahnya menyuruhnya memetik buah; Saleh malah mengikat keranjang ke pohon dan mengaku memikul seluruh pohon sambil melihat awan untuk mengukur kecepatan jalan.
8. Fabel Moral (Barawan tentang Sebop) Kera Kra dan kodok Raong duduk di bawah batang kayu saat hujan, mengeluh kedinginan. Mereka sepakat besok akan menebang pohon kumut dan membuat jubah dari kulit kayu. Namun, keesokan harinya matahari bersinar, mereka bermain dan berjemur, dan terus menunda-nunda. Setiap malam mereka kedinginan lagi, setiap pagi mereka menunda. Hingga sekarang mereka masih duduk di hujan dan menangis "Kr-r-r-h" dan "Hoot-toot-toot." (Pesan: menunda-nunda hanya membawa akibat buruk berulang.)
Kutipan Kunci: "Mitos-mitos ini diceritakan dengan semangat yang sama dan pada kesempatan yang sama seperti cerita binatang... dan dapat dikatakan bahwa mitos-mitos ini dipertahankan oleh motif estetis atau sastra murni, bukan motif religius atau ilmiah."