CHAPTER 16
Ringkasan Bahasa Indonesia
Ringkasan Bab 16: Sihir, Mantra, dan Jimat
Sihir dalam kondisi yang relatif terbelakang di kalangan suku Kayan, Kenyah, Punan, Iban, dan Klemantan pedalaman yang suka berperang. Sebaliknya, beberapa suku Klemantan pesisir, terutama Malanau dan Kadayan, mengembangkan sihir dengan cukup tekun.
Suku Kayan tidak menyukai dan menghalangi semua praktik sihir, kecuali yang dilakukan untuk tujuan baik dan telah disahkan adat. Di masa lalu, mereka membunuh siapa pun yang dicurigai menggunakan sihir jahat. Tidak ada dukun sihir yang diakui selain dayong, yang lebih berperan sebagai pendeta dan tabib daripada penyihir. Beberapa dayong menggunakan topeng kasar dari kayu atau tempurung labu pada upacara tertentu, misalnya saat upacara penangkapan jiwa, tetapi tidak saat menjenguk orang yang baru meninggal.
Dukun Iban disebut manang. Mereka lebih banyak jumlahnya dan lebih profesional karena sedikit melakukan pekerjaan lain. Mereka biasanya bekerja dalam kelompok, dan dalam praktiknya unsur penipuan lebih besar daripada dayong Kayan. Ada pula manang bali, yaitu laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan bertingkah seperti perempuan, mengaku mendapat perintah dalam mimpi.
Di kalangan Iban, ada orang yang terkenal jahat karena sihir. Mereka disebut tau tepang (pandai sihir). Mereka diyakini menyakiti orang dengan berbagai cara, mungkin termasuk racun, tetapi seperti praktik sihir di Eropa, kemungkinan besar lebih banyak berada dalam imajinasi masyarakat. Mereka tidak dibunuh seperti di suku Kayan atau Kenyah, tetapi dijauhi.
Sihir Hitam
Praktik sihir yang paling penting adalah untuk membunuh musuh pribadi. Prosedur yang digambarkan dilakukan oleh suku Sebop (Klemantan) pada dasarnya sama untuk semua suku. Pelaku tidak memanggil dukun; ia yang membenci secara diam-diam pergi ke tepi ladang padi, mendirikan tiang penyangga horizontal (batang pra), dan meletakkan patung kecil dari kayu lunak di bawahnya (tegulun kalingai usa — "bayangan tubuh"). Ia membuat api, menggali lubang kecil berisi air yang diwarnai tanah merah (bawang daar — danau darah). Sambil duduk, ia menunggu elang terbang di area yang dibingkai batang pra. Begitu melihat elang, ia berkata, "Beri lemak di mulut Si Anu," lalu memasukkan lemak babi ke mulut patung, mencelupkannya ke danau darah, dan menusuknya dengan tombak kecil. Patung itu lalu dikubur. Jika elang terbang ke kiri, sihir akan berhasil; jika ke kanan, gagal. Mantra panjang diucapkan kepada elang (Bali Flaki) agar korban mati dengan berbagai cara: terbunuh pohon tumbang, tenggelam, sakit, dimakan buaya, dll.
"Proses ini bukanlah tindakan magis atau simpatik langsung, melainkan cara memohon bantuan kekuatan yang lebih tinggi."
Kutukan kadang diucapkan tanpa formalitas di hadapan musuh, dengan gumaman yang membuat efeknya lebih kuat. Contoh sihir khas Iban: ketika seseorang marah karena kotoran dibuang di propertinya, ia mengambil ranting terbakar, menusukkannya ke kotoran itu, dan berkata, "Biarkan mereka menderita sakit perut."
Prosedur Magis untuk Pengobatan
Suku Kayan mengobati penyakit dengan tiga cara: penangkapan jiwa, obat dan aturan hidup, serta pengeluaran penyebab penyakit. Cara terakhir dilakukan oleh dayong, terutama untuk nyeri lokal. Dayong menggunakan tabung pendek dari batang tanaman jahe. Setelah bertanya lokasi sakit, ia memegang pedang berkilat dan bernyanyi mantra panjang yang diulang-ulang dengan refren "Bali Dayong". Penonton ikut bernyanyi. Setelah mencapai keadaan trance, dayong menekan tabung ke kulit, menyedot kuat-kuat, lalu meniupkan pelet hitam kecil ke telapak tangannya. Pelet itu bergerak misterius (disebabkan oleh rambut halus di telapak tangan). Pelet tersebut adalah lilin lebah hitam yang disembunyikan di kuku dayong.
"Seluruh prosedur sangat cocok untuk menghasilkan efek terapi melalui sugesti."
Meskipun ada unsur penipuan, penulis mengingatkan bahwa praktik medis ortodoks juga menggunakan ramuan yang bekerja hanya secara sugestif.
Suku pesisir mengusir wabah dengan membuat patung manusia dari empulur sagu, diletakkan di rakit atau perahu lengkap dengan makanan, lalu dihanyutkan ke laut.
Jika seorang Iban terbukti berbohong besar, pihak yang tertipu melempar sebatang kayu di tempat umum sambil berkata, "Biarkan siapa pun yang tidak menambah tumpukan pembohong ini menderita sakit kepala." Orang lain ikut melempar kayu, sehingga tumpukan itu membesar dan menjadi aib bagi si pembohong.
Semua suku membakar atau membuang rambut yang dipotong, karena rambut musuh digunakan untuk hiasan perisai/pedang; memiliki rambut seseorang dianggap sama dengan mengambil kepalanya.
Jimat
Jimat digunakan luas oleh semua suku, paling sedikit oleh Kayan. Setiap rumah memiliki setidaknya satu ikat jimat yang disebut siap aioh oleh Kenyah, yang paling mementingkannya. Ikat ini milik seluruh rumah tangga, biasanya berisi rambut dari kepala musuh, gigi buaya, bilah pisau upacara, kristal, gigi babi aneh, bulu ayam, kapak batu, dan daun lontar upacara.
"Ikat ini merupakan milik paling berharga dari rumah tangga, bahkan lebih berharga daripada kepala musuh."
Tidak seorang pun boleh menyentuhnya; menyentuhnya dianggap sangat parit (melanggar adat dan berbahaya). Fungsinya membawa keberuntungan dan kemakmuran, terutama dalam perang.
Beberapa orang menyimpan siap pribadi kecil, diperoleh melalui mimpi. Jika mimpi baik, benda itu menjadi siap; jika buruk, ditolak. Siap khusus ada untuk berburu (dicelupkan darah buruan) dan untuk melindungi dari senjata api.
Suku Iban menggunakan jimat pribadi bernama pengaroh, lebih beragam daripada siap. Mereka juga memiliki empugau, ikat hitam di keranjang dekat kepala musuh, yang dianggap sebagai kepala monster setengah manusia. Setelah diperiksa, ternyata empugau adalah kelapa besar berkulit serabut yang diberi topeng wajah kasar.
Mantra Cinta
Suku Kayan dan Kenyah tidak menggunakan mantra cinta, lebih mengandalkan musik dan daya tarik pribadi. Suku Iban menggunakan biji wangi (buah balong) yang diletakkan di bawah bantal wanita atau dikalungkan. Suku Klemantan menggunakan minyak wangi (sangkil) yang diselundupkan ke pakaian wanita. Yang banyak berhubungan dengan Melayu menggunakan kertas dengan pola tertentu.
Pantangan dan Pemurnian
Semua suku memiliki banyak pantangan terhadap benda, terutama makanan. Misalnya, tidak boleh menyentuh atau mendekati hewan tertentu, bahkan tidak boleh makan dari wadah yang pernah dipakai memasak daging hewan tersebut. Pelanggaran diyakini menyebabkan sakit: sakit kepala, batuk kronis, disentri, batuk darah.
Jika seorang Kenyah melanggar atau curiga terpengaruh, ia melakukan pemurnian (lemawa). Pagi-pagi ia turun ke sungai dengan ayam, pedang, ranting, dan tanaman berduri (atat) yang dibentuk cincin. Ia berdiri di dalam cincin, menunggu burung Isit (pemburu laba-laba) bersahut, lalu berdoa panjang memohon kesembuhan. Kepala ayam dipotong, darahnya dioleskan. Cincin diangkat delapan kali sambil disiram air. Ia lalu berdiri di atas pedang dan berdoa lagi.
Pada suku lain, pemurnian dilakukan dengan diludahi oleh kepala suku.
Eksorsisme (Bayoh)
Ritual pengusiran setan paling rumit dilakukan oleh suku Malanau, yang disebut bayoh. Mereka percaya banyak roh: Ula Gemilang (dewa laut yang baik), Adum Girang (roh laut), Raja Duan (berkuasa atas matahari), dll. Kegilaan disebabkan roh jahat yang merasuki manusia.
Seorang wanita (jarang pria) yang sakit jiwa atau kerasukan didorong menjadi dukun obat. Ia menjalani ritual bayoh selama beberapa malam. Jika sembuh, ia dianggap diterima sebagai pengusir setan.
Ritual bayoh dilakukan malam hari. Ruangan dihias dengan tatal putih, kain putih, dan bunga pinang. Model perahu diletakkan di luar jendela. Lilin lilin lebah dipasang. Nasi warna-warni, berondong, air, sirih, tembakau disajikan untuk roh. Gendang dan gong dibunyikan terus-menerus selama berjam-jam hingga semalaman, kadang seminggu penuh.
Dukun (biasanya 1-3 wanita) mulai menari dan bernyanyi dalam bahasa kuno. Pasien duduk di bawah kerucut anyaman yang diputar hingga ia mencapai kegilaan. Dukun berputar dalam kerucut hingga pingsan, lalu dipulihkan dengan kipasan bunga pinang. Puncaknya adalah kesurupan massal.
Menurut penjelasan, roh jahat kecil datang karena tertarik musik, lalu memanggil roh yang lebih kuat. Roh itu naik ke perahu model dan masuk ke rumah. Dukun bertanya, "Mengapa kau panggil aku?" Roh menjawab, lalu jika setuju membantu, ia memanggil roh jahat dalam pasien untuk pergi. Jika tidak berhasil, malam berikutnya roh lain dipanggil. Jika tujuh malam gagal, bayoh dihentikan dan obat dicoba lagi.
Dukun bekerja untuk bayaran. Kadang upacara megah dengan ayunan rotan, kain indah, dan tujuh lilin, tujuh tempat sirih, tujuh pembawa tombak. Jika Ula Gemilang sendiri dipanggil, ia bisa menuntut hadiah mahal; jika ditolak, dukun pingsan dan pasien putus harapan.
"Perlu dikatakan bahwa para wanita memerankan pantomim dengan sangat terampil, menjadi 'kerasukan' pada waktu yang tepat."
Ritual ini mungkin menyembuhkan melalui sugesti. Selain itu, bayoh menjadi kesempatan sosial dan perjamuan yang populer di kampung.